
"Apa momy mengusirku?" tanya Nando berapi. Sungguh emosinya sudah dibikin memuncak oleh ulah momynya. Feansisca menegakkan kepalanya, angkuh.
"Bukan kau...tapi anak itu."
"Sama saja mom. Kau tau aku tidak mungkin....."
"Itu mungkin Fernando." ucap Fransisca. Tangan sang nyonya besar kembali terulur menyerahkan selembar kertas dihadapan putranya.
"Yayasan?" gumam Nando membaca nama yayasan besar yang dinaungi keluarganya di singapura. Tak tanggung-tanggung, momynya bahkan mendirikan yayasan besar itu dan mengurusnya dengan cermat. Seluruh pengurusnya bahkan langsung melapor padanya, bukan asisten atau sekretarisnya. Bisa dikatakan itu yayasan besar yang menjamin tiap penghuninya.
"Pa...aku tidak mau pa, Elle mau tetap sama papa." rengek gadis kecil itu lebih manja membuat Fransisca menyeringai marah.
"Sayang, kau akan tetap bersama papa. Diamlah, papa harus bicara dengan oma." bisik Nando memberi pengertian sambil berusaha melepaskan pelukan Elle yang membuatnya risih.
"Beneran pa, Elle sayang papa." pekiknya sambil kembali berusaha mencium papanya sebelum sebuah tangan membekap mulut sang gadis dan menariknya kasar menjauh dari wajah Fernando.
"Mom!!" pekik Nando saat menyadari tangan sang mama yang sudah melakukannya. Tak tanggung-tanggung, bekas tangan Fransisca tertinggal diwajah kebulean Elle hingga gadis kecil itu meringis sakit.
"Sarla...bawa tissu basah kemari." teriak Fransisca membuat Sarla berlari tergesa dengan tissu basah ditangannya.
"Ini nyonya besar." Dan Fransisca mengambilnya, mengusap tangannya hingga beberapa lembar seolah dia baru terkena kotoran lalu membuangnya dengan ekspresi jijik.
"Oma...aku ini bukan...."
"Stop memanggilku oma bocah kecil! kau bukan cucuku. Sekali lagi kau panggil aku oma maka kupastikan wajah jelekmu itu akan habis tak bersisa." Bentak Fransisca galak. Sekarang dia sudah kehilangan kesabarannya. Terlalu lama bicara. Dia tak sedang bernegosiasi tapi menguji tingkat emosi.
"Dan jika sekali lagi kau berani mencium anakku...kupastikan juga seluruh gigimu akan rontok tak bersisa." kecamnya tak berperasaan. Tatapannya kembali pada Fernando.
"Bawa dia pergi."
"Aku akan mengambil Rafa."
"No!! Rafa akan bersama momynya."
"Tidak bisa mom...dia putraku."
"Hak asuh anak dibawah tujuh belas tahun ada pada ibunya."
"Siapa bilang?? Dia dokter yang punya penghasilan. Mencukupi kebutuhan anak tak harus mewah. Yang penting dia hidup layak, tak kekurangan dan bisa sekolah. Tak pernah disebutkan standartnya dalam undang-undang." tegas Fransisca.
"Momy dimana Sofia..kami harus bicara. Ini hanya salah paham." Kali ini suara Nando melemah. Dia tak bisa membayangkan jika harus kehilangan semuanya. Istri, anak-anak, perusahaannya, orang tua dan saudara-saudaranya karena harus bertindak bodoh menuruti nuraninya.
"Kau punya tangan dan kaki bukan? bahkan kekuasaan mutlak atas Hutama grup yang bisa kau gunakan mencarinya. Cari saja jika kau bisa."
"Bagaimana aku bisa mencarinya jika kekuasaan momy melindunginya. Fair mom!! Yang Nando katakan benar. Kekuasaan Fransisca melebihi dirinya. Bisa jadi istrinya dilarikan keluar negeri, hingga dia kesulitan mencari. Mengharapkan Alex membantunya? Sama saja dengan mengharap hujan jatuh dimusim kemarau. Mereka semua sudah bersekongkol. Tiba-tiba tangisan Rafa terdenger. Nando sontak berlari memasuki rumah, mencari-cari keberadaan putranya. Rupanya tadi Rafa terbangun karena mendengar suaranya dan bersikeras ingin ikut dadynya, namun dihalangi Maria sesuai perintah Fransisca.
"Rafa ini dady nak...cup...cup...diamlah." ucap Nando lembut mencoba menenangkan putrnya. Rafa segera memeluk lehernya erat seolah takut kehilangan. Hati Nando teriris karenanya.
"Ayo ikut dady." ajaknya lalu beranjak keluar rumah. Fransisca hanya membiarkan keduanya keluar. Nando segera menggandeng Elle bersamanya. Dia tak peduli meski kehilangan segalanya.
"Lex...anak bodoh itu sudah masuk jebakanku. Siapkan kamera pengintai dan tempatkan orang-orangmu disekitar tempat tinggal cucuku. Aku tidak ingin cucuku kenapa-napa." kata Fransisca saat Alex keluar dari ruang kerja Fernando. Rupanya sedari tadi pria itu sudah berada disana bersama Bella.
"Ada seseorang yang sengaja memberitau Elle tentang kisah percintaan mamanya dan kak Nando mom." lapor Bella berbisik.
"Kau tau orangnya?" balas Fransisca datar.
"Ya.Dia yang membuat anak itu terobsesi pada kak Nando."
"Itu hanya salah satu faktor Bel. Anak itu memang sudah punya watak menyimpang." tekan Fransisca dengan wajah masam. Semua kejadian ini seolah membuatnya amat kecewa.
"Mungkin begitu mom. Apa tidak sebaiknya kita bawa dia ke psikolog? Elle masih bisa kita selamatkan jika dia dipisahkan dari kak Nando." usul Bella, sementara Alex sudah menelepon beberapa anak buahnya sebelum beranjak pergi. Tampaknya dia harus cepat kembali ke kantor sebelum Fernando kembali.
"Psikolog? apa itu harus Bel?" Fransisca mengerutkan keningnya. Bagaimanapun dia masih punya nurani. Dia masih sangat menjaga masa depan Elle. Dia tak ingim suatu saat Elle di cap gila atau punya orientasi menyimpang oleh masyarakat yang hanya tau sedikit cerita tentangnya.
"Harus mom."
"Tapi rasanya Fernandolah yang wajib kita bawa ke psikiater. Anak itu sudah kembali terbelenggu dengan masa lalunya."
"Mom...kak Nando hanya menjalankan janjinya, bukan terperangkap pada masa lalunya. Mom tidak akan pernah tau jika dia juga mengkhawatirkan kak Sofia." Ulas Bella. Hanya dia dan Alex yang tau, betapa Nando sedang berada dalam dilema sekarang.
"Kita lihat saja nanti Bel."
"Tentu mom."