
Hari yang panjang untuk seorang Fernando. Seharian ini dia merelakan Sofia dan Rafa untuk terus bersama. Berjalan-jalan atau melakukan apapun sesuai keinginan dua saudara itu. Dan Nando? Pria tampan itu menghabiskan harinya diruang kerjanya. Menyelesaikan tumpukan berkas yang harusnya dia kerjakan esok hari. Padahal ini hari libur, hari istimewanya bersama keluarga kecilnya. Tapi tak apalah dia kerjakan sekarang, toh dia juga bisa bersantai kapanpun dia mau. Lagi pula tak setiap hari Sofianya bisa berkumpul dengan adik-adiknya. Ahh...angannya pulang kampung tiba-tiba menyeruak direlung sukma. Sejak lahir, Rafa belum pernah berjumpa kakek neneknya di kampung. Nanti, jika ada waktu senggang dia akan memboyong keluarga kecilnya itu kesana.
Ponselnya berdering beberapa kali. Nando seolah tak peduli karena masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Hingga beberapa deringan berikutnya, dengan agak malas, dia meraih benda pipih itu, melihat layar yang menampakkan nama sekretaris Alex disana. Enggan dia mengangkat teleponnya.
"Ya Lex..."
"Apa kau sedang sibuk kak?" tanya sang sekretaris ragu. Dia cukup tau jika ini hari minggu. Waktu yang sangat private bagi Fernando. Tapi mau bagaimana lagi?
"Ada apa?" balas Nando sambil mengrenyitkan dahinya heran. Tak biasanya adik iparnya itu menelepon dihari libur, dengan suara yang mengambang pula.
"Jika kau ada waktu, bisakah kita...ehmm pergi mancing berdua?" kembali bertanya dengan nada gamang.
"Memancing?" ulang Nando lirih.
"Ehm...maksudku jika kau bersedia dan sedang ada waktu bersantai ala laki-laki."
"Bukan ide buruk. Jemput aku setengah jam lagi."
"Kau serius?" Alex kembali memastikan pendengarannya. Dia tau Nando bukan tipe pria yang suka mengulang perkataannya. Tapi demi apapun dia dibuat terkejut karena reaksi dan jawawabnnya. Telepon randomnya akhirnya mendapat sasaran yang tepat. Paahal seluruh kontak diponselnya sudah dia hubungi seluruhnya untuk diajak mancing bersama. Tapi hasilnya...semua menolak. Mungkin hukum karma karena diapun jarang punya waktu dengan teman. Nandolah orang terakhir yang dihubungi walau tebakannya adalah penolakan. Tampaknya dewi fortuna sedang berpihak padanya saat ini.
"Cepat kemari sebelum aku berubah pikiran." sentak Nando mengejutkan Alex yang masih terkaget diseberang sana.
"Siaapp tuan muda." dan telepon ditutup sepihak.
Sama seperti Alex yang langsung berlari pontang panting mengambil peralatan pancingnya dan bergegas ke mobil, Nandopun tak kalah heboh dengan berlari kecil ke kamarnya, berganti pakaian santai. Kaos lengan pendek dipadu celana selutut yang dia kenakan makin mengukuhkannya menjadi mantan duda most wanted yang jadi incaran para wanita. Jangan lupakan kacamta hitam yang menangkring manis dihidung mancungnya. Perfect.
"Bik...." panggil Nando kala sampai dianak tangga terakhir. Bi Mimi yang hendak menuju dapur berhenti seketika.
"Ya tuan muda."
"Jika nyonya pulang bilang saya sedang ada acara di luar. Saya tidak bawa ponsel." jelasnya sebelum setengah berlari keluar rumah. Bel yang dibunyikan Alex seolah memanggilnya agar berlari secepat cheetah.
Bi Mimi hanya mengangguk paham. Dalam hati tak habis pikir. Bagaimana bisa suami istri yang selalu lengket saat hari libur itu bisa punya acara sendiri-sendiri? tapi melihat keceriaan dua majikannya itu membuatnya sedikit lega.
Sofia turun dari mobil mewah keluarga Hutama setelah pak Mun membuka pintu untuknya. Rafa yang memang sangat doyan tidur seolah tak mau tau kesibukan momynya dan memilih meringkuk manis dalam dekapan hangat sang ibu. Aldi yang turun lebih dulu darinya segera membantu sopir keluarga itu untuk mengangkat beberapa paperbag dari dalam mobil untuk dibawa masuk ke rumah.
"Bawa masuk ke kamarmu, Di. Istirahatlah, nanti kita makan malam bersama." kata Sofia yang khusus membelikan beberapa pakaian untuk salah satu adik kembarnya itu. Aldi mengangguk, mencium sekilas si gembul lalu masuk ke kamar tamu. Rasa penat setelah seharian belanja dan keliling Jakarta bersama sang kakak membuatnya ingin segera rebahan di kamar.
"Selamat sore nyonya." sapa bi Mimi mendekat.
"Mereka semua dibelakang nyonya. Apa nyonya butuh Maria untuk mengurus tuan kecil?"
"ehm...tidak. Biar Rafa sama saya saja. Mungkin dia rindu dadynya." tukas Sofia dengan senyum terkembang.
"Maaf nyonya, tuan sedang tidak ada di rumah."
"Kemana bik?" seketika Sofia ingin tau. Tidak biasanya suami tampannya itu keluar rumah dihari minggu. Tak mengabarinya pula.
"Saya tidak tau nyonya. Tadi tuan hanya pesan agar saya memberitau nyonya jika beliau ada acara diluar dan tuan tidak bawa ponsel."
"Acara diluar? tak bawa ponsel? apa maksudnya?" gumam Sofia dengan dahi berkerut.
"Saya kurang tau nyonya."
"Hmmm baiklah..kami ke kamar dulu ya bik. terimakasih infonya." sahut Sofia sambi menggendong Rafa ke kamarnya. Otaknya terus berpikir keras.
Berbagai pikiran terus silih berganti dikepala Sofia saat malam tiba dan Fernando belum juga pulang . Ponselnya masih tergeletak di meja kamar mereka. Tak ada yang mencurigakan didalamnya. Hanya beberapa email dan laporan juga chat pendek beberapa orang yang merupakan kolega bisnisnya. Sofia menghela nafasnya. Alex....ya, dia satu-satunya orang yang menghubungi suaminya terakhir kali. Penuh semangat, dia mendial nomer adik iparnya itu.
Lagi-lagi kekecewaan bergelayut dibenaknya saat ponsel Alex juga tak bisa dihubungi. Anehnya Bella juga tak bisa. Sofia maklum, ini hari libur. Alex dan keluarganya juga berhak atas liburan mereka. Mau bertanya pada mama mertuanya juga takut membuat heboh satu keluarga Hutama. Pasti mama papanya akan berpikir jika mereka ada masalah.
Jam makan malam tiba. Ragu, Sofia turun menuju meja makan. Bi Sarla dan bi Mimi sudah menata makanan di meja. Maria sibuk dengan Rafa yang terus bergerak aktif dan tertawa lucu dibawah pengamatan Aldi yang terus menatap gadis cantik dihadapannya. Ya, meskipun tergolong muda, tapi dia amat cekatan dan bertanggung jawab pada tugasnya. Maria memang tak begitu cantik, namun aura keibuan dan kedewasaan seolah melekat kuat dalam dirinya.
"Eehmmm!!" dehem Sofia membuat Aldi kaget. Buru-buru dia mengalihkan pandangannya pada sang kakak.
"Kakak mulai kapan ada disana?" tanyanya gugup.
"Sejak kau memperhatikan Maria. Laki-laki harus menjaga pandangannya, Di. Jika tak sanggup maka menikah adalah solusi."
"Memangnya boleh??"
"Sesuai syariat lebih cepat lebih baik, apalagi kau sudah mampu untuk menikah bukan?"
"Tapi aku......"
"Berpikirlah dulu. Menikah itu untuk selamanya. Saat kau memilih teman hidupmu maka kau mempercayakan hidupmu padanya. Pilihlah wanita yang tepat karena dia bukan hanya akan jadi istrimu, tapi juga ibu anak-anakmu." nasihat Sofia dalam. Aldi hanya mengangguk mengiyakan. Sesekali dia masih mencuri pandang pada Maria yang terus tertawa kecil melihat tingkah Rafa. Hatinya menjadi sejuk.