
"Aku akan membuatmu tetap menjadi milikku Sofia, kau milikku!" desis Fernando yang tengah menindih tubuh Sofia kuat hingga sama sekali tidak bisa bergerak. Tangannya sudah menjamah setiap inci tubuh istri cantiknya itu nyaris tanpa sisa. Yang ada dalam dirinya hanyalah menguasai Sofia, membenamkan miliknya pada inti Sofia bila perlu menghamilinya hingga seluruh dunia tau wanita ini hanya miliknya.
"Hentikan, lepaskan!" semakin Sofia berontak, semakin kasar Nando memperlakukannya. Beberapa kali pula dia membuat tanda kepemilikan disana sini, menggigit dada Sofia hingga lagi-lagi membuat wanitanya merintih kesakitan. Dia benar-benar mengunci tubuh Sofia hingga kahabisan tenaga.
"Aku membencimu Fernando." lirih Sofia dengan air mata berderai dipipinya, membuat nafsu sang tuan muda surut seketika. Entah perasaan apa yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Sesak, sakit dan sedih. Air mata itu membuatnya merasa menjadi lelaki paling jahat di dunia. Air mata itu begitu melukainya dengan sangat. Nando bangkit dan meremas kepalanya kuat. Kenapa dia menjadi semarah dan seliar tadi? Hal yang tak pernah dia lakukan pada Emma walau semarah apapun dia pada wanita ular itu. Saat Emma ketahuan hamilpun dia hanya bersikap biasa saja. Bisa dibilang dia jijik berdekatan dengannya lagi. Tapi pada Sofia? rasa tidak rela saat dia bersama pria lain membuatnya kalap. Sungguh dia tidak rela wanitanya berpaling apalagi meminta cerai seperti katanya tadi.
"Maaf." dibawanya Sofia yang masih sesenggukan dalam pelukannya dan mengecup keningnya lembut.
"Maafkan aku sayang." bisiknya lagi seraya menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjang mereka. Tak ada lagi nafsu dalam dirinya. Yang tersisa hanya perasaan sayang dan ingin melindungi istrinya yang terlihat tak berdaya karena ulahnya.
"Sofia jawab permintaan maafku sayang." katanya memohon.
"Aku tak seberharga itu bagimu." balas Sofia datar sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sakit, hanya rasa itu yang tersisa direlung hatinya. Dia hanya sang gagak buruk rupa yang bermimpi mengejar cinta seekor merak rupawan yang sama sekali tidak mau tau perasaanya. Sekeras apapun dia berjuang, yang dia dapatkan hanya rasa lelah dan penghinaan.
Dia dan Fernando...dua manusia berbeda yang dipertemukan takdir dalam sebuah pernikahan tanpa pondasi yang jelas. Apa tak terlalu halu bagi wanita biasa sepertinya bersuamikan milyarder tampan yang bahkan bisa menikahi wanita manapun selain dirinya. Harusnya dia sadar, harusnya dia tau diri dan menghilang sejak dulu kala. Kenapa baru sekarang dia sadar bahwa langit dan bumi tidak pernah bisa bersatu. Dia saja yang terlalu bermimpi dan menuruti keinginan orang lain. Mungkin Maya dan Rosa benar, dia juga berhak bahagia.
"Diammu sudah menjelaskan jawabanmu mas. Aku memang tak pernah berarti dihidupmu." gumam Sofia membuat suara Fernando tercekat ditenggorokan. Pelan, dokter cantik itu turun dari pembaringan dan membungkus tubuh polosnya di dalam selimut tebal sebelum melangkah keluar.
Pilu yang dia rasakan kian meraja. Lupakan sejenak permintaan mertua dan semua iparnya untuk bertahan menajalani pernikahan aneh ini bersama Nando, dia benar-benar sangat lelah dan ingin menyerah. Isak tangis kembali memenuhi ruang kamarnya. Berkali-kali dia mengucap istigfar, memohon kesabaran dan jalan keluar terbaik dalam pernikahannya dari yang maha kuasa.
Sofia masih tenggelam dalam kesedihannya. Biarlah malam ini dia tumpahkan semua kesedihan dalam tangisan panjangnya. Bagaimanapun dia tetap wanita biasa yang ditakdirkan lemah. Entah berapa lama dia menangis hingga tertidur meringkuk dalam selimutnya tanpa menyadari sesosok pria memasuki kamarnya.
"Kau tak tau betapa sakitnya hatiku melihat tangisanmu Sofia." bisiknya lalu memeluknya erat seakan tak mau terlepas. Dibelainya pipi si wanita sebelum memutuskan terlelap bersamanya.
Kicauan burung membangunkan tidur Sofia yang sangat nyenyak dan hangat. Jangankan matahari, adzan subuh saja sudah dia lewatkan hingga bangun kesiangan. Saat membuka mata, hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan seseorang yang sangat dia rindukan.
"kenapa mimpi ini begitu nyata Tuhan...." bisiknya dalam hati.
"Kau sudah bangun sayang?" suara serak Nando membuatnya sadar jika pria itulah yang memeluknya erat hingga sesiang ini. Berlahan Sofia melepaskan dirinya dari Fernando yang juga meregangkan tubuhnya. Tangannya terasa kebas karena semalaman Sofia memakainya untuk bantal. Tapi itulah kebahagiaan yang dia nantikan. Sebulan tidur sendirian membuatnya tau apa arti seorang pasangan.
"Kenapa tidur disini?" tanya Sofia datar sambil berdiri disisi tempat tidur, menjaga jarak dari Fernando.
"Karena kau istriku."
"Kita tidak sedekat itu."
"Tapi mulai sekarang aku ingin begitu. Aku tidak mau tidur terpisah darimu."
"Kau harus belajar sendiri seperti dulu."
"Apa maksudmu?"
"Sudah kubilang aku tidak akan menceraikanmu, sampai kapanpun!" teriaknya kalap dan langsung menghampiri Sofia.
"Kumohon mas....lepaskan aku. Apa salahku padamu hingga kau menempatkan aku dalam dilema seperti ini? Jika kau tidak bisa mencintaiku, maka lepaskan aku. Aku tidak akan meminta apapun darimu juga tidak akan menyapamu saat kita tak sengaja bertemu. Aku akan menganggap kita tidak pernah saling kenal. Kumohon....ceraikan aku." dan tanpa Nando kira, Sofia sudah berlutut dikakinya, kembali terisak membuat hatinya kembali terasa sangat sakit.
"Uhukk..uhukk...." Nando mengira Sofia hanya terbatuk kecil, namun saat secepat kilat istrinya itu berlari ke kamar mandi, perasaannya langsung tidak enak. Diikutinya Sofia dengan langkah panjang.
"Hooekk...hooeekk...."
"Sayang kau kenapa?" tanyanya gugup saat Sofia muntah-muntah tanpa sebab. Berlaha dia mengurut tengkuknya yang terasa lembab dialiri keringat dingin. Tanpa rasa jijik, Nando mengelap bibirnya dan membersihkan bekas muntahan istrinya lalu menggendong tubuh lemah itu ke atas ranjang.
Sangat cekatan pria tampan itu mencari kotak obat dan mengoleskan minyak kayu putih di perut, leher dan telapak kaki Sofia lalu menyelimutinya.
"Diam disini dan jangan kemana-mana sayang." katanya lalu berlari cepat ke dapur, meminta pelayan membuatkan minuman hangat.
"Hey anak nakal, mau kemana kamu?" tanya mama Sisca yang melihat putranya berjalan gugup membawa gelas minuman ditangannya.
"Ke kamar Sofia ma, dia tidak enak badan. Nanti jika Sam datang, suruh dia langsung ke kamar Sofia."
"Kenapa memanggil dokter Sam? bukanya Sofia juga dokter?"
" Orang sakit tidak akan bisa mengobati dirinya sendiri meski dia seorang dokter mom." jawab Fernando gusar namun membuat senyum terbit diwajah cantik mama Sisca.
"Kau terlihat sangat cemas. Katanya kau tak peduli padanya? biarkan saja pelayan yang merawatnya. Kau pergilah bekerja, jangan hiraukan dia." kata Fransisca sambil menyeruput teh hijau favoritnya. Nando menjadi sangat kesal karena perkataan sang mama.
"Kenapa mom bilang begitu? bagaimanapun dia istriku mom!" sergahnya tidak terima.
"Hanya istri diatas kertas."
"Dia istriku mom, dan selamanya akan begitu."
"Oohh ya?? aku jadi geli mendengarnya. Istri tapi tidur terpisah dan diabaikan."
"Mom!!" pekik Nando makin kesal lalu memilih pergi dari sana.
๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ๐บ
Yang lagi nunggu updatean Nando-sofia.... maaf ya readers, baru up satu bab saja. Authornya lagi kurang enak badan efek kecapekan mengumpulkan sebongkah berlian demi masa depan yang masih terhalang angsuran๐คฃ๐คฃ๐คฃ Insyaallah besok up rutin lagi ya....
Salam sayang selalu๐๐๐๐๐