Dear Husband

Dear Husband
Ratu Rubah



Langkah gemulai Amanda larsons begitu menarik perhatian para pegawai di Hutama grup yang berlalu lalang disepanjang koridor. Wanita itu dengan percaya dirinya berlanggak-lenggok menuju lift yang membawanya ke lantai teratas gedung itu. Usahanya mencatut nama sang papa Roy larsons tak sia-sia. Dia tak harus bersusah payah membuat janji dengan sang tuan muda pewaris kerajaan bisnis Hutama itu. Tinggal sebut nama sang papa, dan semuanya beres.


Alex langsung berdiri dari kursinya saat Amanda tiba dilantai khusus presedir dan dirinya itu. Wajahnya menjadi garang.


"Hey, minggir! jangan halangi jalanku!" bentak Amanda saat melihat Alex berdiri menghalangi pintu. Pria itu hanya tersenyum miring. Dia sudah mendapatkan laporan dari resepsionis dilantai dasar jika wanita pengacau itu akan keruangan Fernando.


"Anda mau apa kemari? tuan muda sedang sibuk."


"Itu bukan urusanmu! kau hanya sekrestarisnya, sedang aku calon istrinya." ujar Amanda penuh percaya diri. Alex tak menanggapi namun tetap berdiri menghalangi pintu. Dibanding menanggapi Amanda, dia malah mengenang saat-saat Sofia membantingnya dengan amat mudah, membuatnya tersenyum geli. Aahh..andai Amanda tau jika dia juga menantu Hutama walau Bella hanya keponakannya. Dia juga pemilik A&S , kantor pengacara terkenal yang menangani ribuan kasus setiap harinya. Amanda terlalu buta untuk tau semuanya.


"Apa senyum-senyum? Kau naksir padaku? Maaf, seleraku bukan sekretaris tak punya apa-apa sepertimu. Minggir!!" sentak Amanda sambil mendorong Alex keras. Sebenarnya hal mudah mengatasi Amanda, dorongannya juga tak akan sanggup menggeser sekretaris tampan itu dari tempatnya berdiri. Tapi sebuah perintah membuatnya harus menyingkir dari sana.


Amanda melenggang masuk tanpa mengetuk pintu. Tanpa diperintah dia langsung duduk dan menyilangkan kakinya di depan Fernando yang acuh saja melihat kedatangannya. Pria itu malah sibuk dengan laptopnya, tak melirik sedikitpun kulit paha putih mulus yang terpampang jelas di depannya karena Amanda hanya mengenakan rok mini saja. Baginya sekarang kulit putih bukan lagi seleranya. Fernando lebih menyukai warna eksotis milik Sofia dibanding putih sepucat mayat itu.


"Ada apa datang kemari?" tanya Nando datar.


"Bisakah kau bicara lebih lembut pada wanita honey? aku kesini untuk memberikan penawaran padamu." jawab Amanda genit. Sekarang bukan hanya pahanya yang terekspose, tapi juga dadanya yang menyembul keluar karena dia sengaja melepas kancing atasnya. Lagi-lagi Nando acuh, membuat Amanda kesal. Tak ada seorang lelakipun yang bisa menolak pesonanya. Tapi pria di depannya itu malah tenang-tenang saja.


"Itu tidak perlu."


"hmmm baiklah." Amanda menekan ponselnya dan mengirimkan pesan video ke ponsel Fernando dengan senyum liciknya.


"Lihat dulu honey." bisiknya pelan namun sangat menjijikkan bagi Fernando. Mau tak mau dia memutarnya.


Hampir saja Fernando tersedak saat melihat adegan dewasa divideo itu. Pasangan mesum itu.....astaga. Dia dan Amanda! Mata Fernando melotot karenanya.


"Honey kuharap kau tidak melupakannya karena aku masih bisa merasakan milikmu seperti masih tertinggal didalam sana. Besar dan aaahh..."


"Diam kau ******!" bentak Nando sangat emosi.


"Aku hanya ingin membuat kesepakatan denganmu honey. Nikahi aku atau ...video ini akan tersebar kemana-mana. Bukan hanya repurtasimu yang akan berubah jelek, tapi perusahaan ini akan hancur."


'"Kau mencoba memfitnahku?" geram. Itu yang dirasakan Nando saat melihatnya. Bukan dia yang sedang bercinta dengan Amanda disana. Postur tubuh dan wajahnya mungkin sama, tapi itu bukan dirinya. Dia yakin itu hanya editan.


"Kurasa itu tidak perlu nona Amanda larsons...karena aku ada disini." suara lembut itu seketika membuat Amanda pias. Sofia keluar dari ruangan khusus Fernando dibalik rak besar dengan gamis merah mudanya yang tampak mempesona. Nyonya muda Hutama itu tampak anggun dengan jilbab putih beraksen kupu-kupu warna warni itu.


"Kau ..ada disini?" tanyanya grogi. Dia tak menyangka akan bertemu Sofia disana. Setahunya Sofia masih dalam fase cuti hamil hingga akan lebih banyak dirumah dari pada mengikuti suaminya.


"Ya. Ini kantor suamiku. Apa ada yang salah jika aku ikut?" tanyanya balik dengan nada sehalus mungkin


"Tidak juga. Aku hanya mencium ada ketakutan akan kehilangan suami hinggan mau-maunya istri kurang kerjaan sepertimu ikut ke kantor sepertimu." sudah tau salah tapi masih bisa mengejek orang lain. Sofia jadi ragu soal otak di kepala Amanda.


"Aku istri yang baik, maka kewajibanku adalah menjaga suaminku dari calon pelakor seperti anda." ucap Sofia masih dengan senyum simpulnya. Dia sudah menduga jika Amanda akan ke kantor suaminya hari itu, maka dia meminta ikut ke kantor bersama baby Rafa yang sudah dia tidurkan di kamar khusus dadynya. Terbukti, firasatnya benar.


Sofia mengambil ponsel dari tangan Nando dan melihat videonya. Rupanya Amanda lupa jika dia seorang dokter dengan tingkat kecerdasan diatas rata-rata. Melihat dua manusia tanpa busana bukan hal aneh baginya. Dia bahkan terbiasa melihat anggota tubuh para pasiennya saat sedang bertugas. Matanya menyipit menatap video panas itu.


"Sampah memang hanya bisa menciptakan sampah." sindir Sofia pedas. Amanda mendelik karenanya. Padahal tadi dia sangat berharap Sofia histeris atau minimal menangis. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Wanita itu bersikap amat tenang dan seolah mengejeknya.


"Pergilah." usir Sofia dengan wajah dingin.


"Kau menghinaku dengan mengusirku wanita sombong!"


"Pergilah selagi aku berbaik hati membiarkanmu pergi." sambungnya dingin. Sedang Namdo seolah tak peduli. Dia hanya terus fokus pada laptopnya. Hanya kadang-kadang melirik istrinya saja. Selebihnya ....kerja.


"Dasar sombong! akan kusebarkan video ini dimedia agar kau tau jika aku tak main-main." ancam Amanda keras.


"Lakukan saja dan kita akan lihat siapa pemenangnya. Aku atau...penjaja cinta sepertimu."hanya senyum tipis khas wanita golongan atas yang angkuh hadir di bibir Sofia. Mencibir.


"Wanita brengsek. Kupastikan mulai sekarang kau tidak akan hidup tenang." ancam Amanda lalu beranjak dari sana. Baru dua langkah berjalan kala tiba-tiba tubuh berbalut pakaian kurang bahan itu ambruk dilantai.


"Keparaaaaattt!!" teriaknya nyaris memecahkan gendang telinga. Bagaimana tidak marah, Sofia sengaja memasang kaki menghalangi langkahnya atau lebih tepatnya menjegal langkahnya hingga jungkir balik kelantai. Tapi bukannya menolong, dokter cantik itu malah memasang ekspresi tak berdosa yang amat menyebalkan dimata Amanda.


"Ohh ya ampun nona Larson..apa yang terjadi pada anda. Mari saya bantu berdiri nona." katanya berpura-pura simpati seraya mengulurkan tangan yang langung ditolak Amada keras. Lebih baik tak bisa banguns sekalian jika harus ditolong rubah betina di depannya tanpa dia sadari jika dirinya malah ratu rubah yang amat licik.