
"Jangan pergi Sofia." lirih Fernando seraya memegang tangan Sofia yang hendak beranjak dari sisinya.
"Aku harus menyiapkan tempat tidur agar kau bisa beristirahat dengan nyaman." Balas Sofia yang ingin bergerak cepat membuka kamar utama di lantai satu. Kamar dimana dia tinggal saat melahirkan Rafa dulu. Dia tak mungkin menyuruh orang membawa suaminya ke lantai atas dimana kamarnya berada karena itu hanya akan merepotkan saja. Tapi Fernando enggan melepaskan cekalan tangannya hingga Sofia memberi isyarat pada perawat yang masih setia berdiri di dekatnya untuk mendorong kursi roda suaminya. Sekarang dialah yang gantian memegang infusnya. Setelah meletakkan infus pada tiangnya, Sofia mempersilahkan sang perawat keluar.
"Mari kubantu ke tempat tidur." tawarnya pada Nando yang masih saja memegangi tangannya. Pria tampan rupawan itu mengangguk. Berlahan dia berdiri dan melangkahkan kakinya ke ranjang. Tubuhnya memang masih terasa amat lemas sekarang, tapi dia sama sekali tak ingin melewatkan moment saat istrinya pulang ke rumah mereka.
Sofia segera menyelimuti Fernando, membenarkan letak infusnya dan menyuntikkan obat yang dibawakan Shandy dari rumah sakit tadi pada selang infusnya. Shandy dan Fransisca masuk tepat saat dia menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa kau masih pusing kak?" tanya Shandy pada Fernando. Hampir saja calon profesor itu tertawa kala melihat tangan Nando yang berusaha menggapai tangan istrinya, namun tak mendapatkan respon karena Sofia sedang serius menatap ke arahnya juga mertuanya.
"Hhmmm ya." Lucu bukan? tadi di rumah sakit pria itu terus merengek agar diperbolehkan pulang dengan berbagai alasan juga ancaman khas seorang tuan muda yang hidup dimanja sejak belia. Dan sekarang? tuan muda menggelikan ini malah berlagak alim dengan hanya berdehem saat ditanya.
"Sofia, sebenarnya kak Nando belum boleh pulang karena kondisinya yang belum stabil. Tapi dia terus memaksa dan menyatakan jika kau yang menjamin dia pulang karena kau istrinya. Rumah sakit mengijinkan dia rawat jalan asal kau selalu mengawasi dan memantaunya selama 24 jam penuh." Sofia menegakkan tubuhnya, menatap Shandy dan Fransisca bergantian.
"Tapi sore ini aku harus kembali ke Jogya Shan. Kami sudah pesan tiketnya." Sofia memang berniat segera kembali. Terlalu lama di Jakarta hanya akan membuatnya mengenang masa lalu.
"Sofia...jangan pergi." Lagi dan lagi kalimat itu yang keluar dari bibir Fernando. Kalimat datar tanpa nada memohon sama sekali. Kalimat yang entah apa maunya.
"Tapi aku harus tetap ke Jogya Shan, masih....."
"Pergilah Sofia..aku tidak akan menahanmu lagi, bawa anak-anak kita beserta dirimu. Aku memang pria yang tak pernah berarti bagimu. Yang kulakukan hanya menyakiti perasaanmu bukan. Maafkan aku untuk semua kesalahan baik yang kusengaja ataupun tidak. Sekali lagi maaf...kau...kau juga berhak bahagia. Pergilah, kejar kebahagiaanmu." lirih Fernando dengan wajah sayu. Mata sang tuan muda berkaca. Setetes air mata jatuh tepat saat dia menutup matanya rapat, mencoba tidur dan melupakan semuanya.
"Tolong tinggalkan aku sendiri. Aku berjanji akan baik-baik saja." lanjutnya lagi. Matanya terasa amat berat karena efek obat tidur yang disuntikkan Sofia tadi. Tapi sungguh, luka dan rasa kehilangan yang amat mendalamlah yang membuatnya ingin tertidur selamanya. Dalam hati dia terus melafazkan doa, memohon agar izrail segera menjemputnya. Agar luka hati ini tak ada, agar pedih ini tak terasa. Sudah cukup dia kehilangan banyak hal dalam hidupnya. Cinta pertama yang menghianatinya, harta benda dan kesuksesan yang dibanggakannya, juga....kehilangan istri yang paling dicintainya, anak-anak yang disayanginya dengan sepenuh jiwa dan raga. Ahh...andai bunuh diri tidak dilarang agama......
"Baiklah Fernando, suster akan berjaga di depan pintu kamarmu nak. Panggil dia jika kau butuh sesuatu." Fransisca menunduk sedih. Sebagai seorang ibu dia memang tak tega pada putranya. Tapi dia tau, bukan dirinya yang dibutuhkan sang putra. Tapi wanita muda yang berdiri tegak dihadapannya sekarang ini. Dia hanya ingin tau, seberapa besar wanita ini akan mencintai putranya yang sudah berada diambang kehancuran. Fernando bahkan tak akan bisa memanjakannya lagi dengan harta benda karena masih harus berjuang menyetabilkan perusahannya yang morat-marit saat ini. Fransisca juga ingin tau apa yang akan dipilih menantunya...tetap tinggal dan menenemani Fernando dengan segala kondisinya atau kembali ke Jogya, menikmati tiap kebebasan dan kemewahan dari semua yang dia kirimkan.
Mata Fernando terpejam kuat saat mendengar langkah kaki ketiganya keluar dari kamarnya juga suara pintu yang tertutup kembali. Setelahnya hanya sepi, sesepi hantinya. Ingin bergerak tapi tubuhnya sudah terasa amat lemah. Membuka matapun dia tak bisa. Hanya kantuk yang terus menyerangnya. Lagi dan lagi bertetes-tetes air mata berjatuhan tanpa bisa dia seka. Bahkan saat sudah berada dialam mimpipun hanya rasa sakit dan putus asa yang dia rasakan.
Sebuah tangan terulur menyeka tiap buliran air mata itu dan menggantikannya dengan tetesan lain yang berjatuhan dari kelopanya juga. Ya, dia menghapus air mata suaminya juga air matanya yang bersatu disana. Sofia menangis menatap kesedihan suaminya.
"Istirahatlah hubby...aku akan menjagamu." lirihnya seraya mengecup kening Fernando dengan segenap kerinduan. Jemarinya terus membelai kepala pria itu layaknya seorang ibu yang menidurkan putranya.