Dear Husband

Dear Husband
Bertemu Edward



Alex mengekori langkah panjang Fernando menyusuri koridor rumah sakit dibawah naungan perusahaan Hutama itu. Siapa sangka, dokter Edward juga membuka praktik dirumah sakit yang sebagian besar sahamnya adalah milik keluarga Hutama itu. Nando baru tahu setelah menghubungi dokter spesialis terbaik itu. Sang dokter menjelaskan jika selain berpraktik dirumah sakit milik umum milik pemerintah, dia juga dokter tetap dirumah sakit Hutama bhakti milik keluarga Fernando. Jadilah mereka membuat janji bertemu disana.


Langkah Nando berhenti di ruang kerjanya yang terbilang mewah. Rumah sakit itu memang bertaraf internasional dengan kenyamanan plus hingga setiap ruangan didesain laksana rumah hunian dengan kesan mewah. Alex mengetuk pintu dan membukakannya untuk sang tuan muda begitu ada sahutan agar mereka masuk dari dalam.


Dokter Edward berdiri dari kursinya dan menjabat tangan Fernando hangat. Dia segera mempersilahkan keduanya duduk. Nando mengambil tempat, sedangkan Alex berdiri dibelakangnya. Dalam peraturan Hutama memang melarang sekretarisnya duduk kecuali atas perintah atasannya.


"Jadi bagaimana tentang donor mata untuk anak saya Elle dokter?" Nando yang terbiasa to the point memang tidak bisa berbasa-basi, Edward tau pasti itu. Orang sesibuk Fernando memang hanya bicara secara formal dan tepat sasaran.


"Donornya sudah siap. Saya tinggal memeriksa putri anda saja lalu segera melakukan operasi tuan muda."


"Kapan anda bisa memeriksa Elle?"


"Secepatnya."


"Hari ini?"


"Jika anda berkenan, saya disini hingga sore hari. Anda bisa datang dilurar jam itu dengan mengabari saya terlebih dahulu tuan."


"Itu tidak perlu dokter. Sebentar lagi asisten saya akan mengantar Elle kemari."


"Itu lebih baik tuan muda. Putri anda sungguh beruntung karena mendapat donor mata secepat itu. Dokter Sofia yang merekomendasikannya pada saya. Dia dokter potensial yang dengan penuh ketulusan bersedia menggantikan tugas dokter lain untuk dikirim ke pedalaman."


"Dia istri saya." sahut Nando cepat. Tiba-tiba dia menjadi tidak suka saat istrinya disebut orang lain, apalagi oleh Edward. Pria itu walaupun tidak punya tubuh athletis seperti dirinya, tapi bisa dibilang tampan untuk ukuran seorang pria.


"owwhh..maafkan saya. Tapi dia memang tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai nyonya muda Hutama tuan. Anda beruntung memiliki istri yang cantik dan baik hati sepertinya." Edward terlihat sedikit terkejut akan perkataan sang tuan muda. Tapi tidak ada kebohongan dimata pria blasteran super tampan bermata biru laut itu. Tidak ada untungnya juga jika pria itu membohonginya. Dia yakin, semua orang yang bekerja di rumah sakit plat merah tempatnya bekerja akan merasa kaget jika tau dokter sederhana namun bersahaja itu adalah menantu keluarga Hutama, istri Fernando satria Hutama yang bahkan lebih dari mampu untuk membuatkanya sepuluh rumah sakit elite tanpa dia harus bersusah payah bekerja dibawah tekanan. Benar-benar wanita sederhana, juga suami yang menghormati pekerjaan istrinya.


" Terimakasih atas pujian anda. Sementara menunggu Elle, saya akan ke atas sebentar. Saya akan menemui anda lagi begitu putri saya tiba nanti." Nando memutuskan menunggu kedatangan Elle diruangan presedir dilantai atas sembari memeriksa laporan rumah sakit itu. Mungkin setelah selesai nanti, Elle juga sudah sampai disini.


"silakan tuan muda." Nando berdiri dari duduknya lalu menuju pintu keluar. Alex mengangguk hormat pada Edward lalu menyusul sang tuan keluar dari sana. Lagi, dia mengekori langkah panjang sang majikan.


Elle dan Maria tiba disana satu jam kemudian. Sopir yang mengantar mereka memilih menunggu diluar, hanya Elle dan Maria saja yang masuk. Alex sudah berdiri dipintu masuk dan membawa mereka menuju ruangan dokter Edward dilantai dua.


"Om Alex , apa papa ada disana?"


"ya nona kecil, papa anda sudah bersama dokter disana." Mereka melewati antrian panjang para pasien lalu masuk ke dalam ruangan. Maria yang diperintahkan menunggu diluar segera mencari tempat duduk diantara antrian panjang itu.


Edward dengan telaten memeriksa kondisi mata Elle ditemani sang papa yang sepertinya ikut tegang hari itu.


"Bagaimana dokter?"


"Lusa saya akan mengoperasi Elle tuan muda."


"Kenapa tidak besok saja? terlalu lama menunggu hingga lusa."


"hmmm baiklah."


"Sebaiknya Elle langsung masuk ke unit rawat inap saja."


"Kenapa tidak besok saja? toh operasinya baru lusa." dokter Edward menarik nafas, orang kaya memang bisa mengatur semuanya menjadi lebih mudah.


"Baiklah jika itu keinginan anda. Besok bawa Elle jam tujuh pagi kesini."


"Kami tidak akan terlambat." tegas Nando. Siapa yang meragukan kedisiplinan putra Hutama itu? semua orang tau dia pria yang sangat disiplin pada siapapun, juga dirinya sendiri.


"Kalau begitu terimakasih atas kerja samanya dokter, kami permisi." ketiganya pergi dari sana. Elle bergelayut manja dalam dekapan tangan kokoh sang papa.


"Kita langsung pulang." titah Nando. Jadilah mereka satu mobil, sedang Maria naik mobil yang mengantarnya tadi menguntit dibelakangnya.


"Pa.."


"hmmmm"


"Aku mau bicara sama mama."


"Jam segini mama pasti masih sibuk El."


"Sebentar saja pa, El kangen mama." rengek gadis kecil itu manja. Tak mau membuatnya sedih, Nando meraih ponselnya lalu mendial nomer Sofia. Lama tidak diangkat, pada panggilan video kedualah istrinya itu baru mengankat telepon. Disana terpampang wajah jelita dengan dandanan sederhana ciri khas dirinya yang berdiri diantara lalu lalangn para petugas medis dan pasien yang keluar masuk ruangan itu. Terlihat keadaan disana sangat kacau. Pasti istrinya itu sedang sibuk, namun masih melunangkan waktu mengangkat teleponnya.


"Asalamualaikum." sapanya ramah dengan senyum terkembang. Deretan gigi putihny yang rapi dan bersih menarik perhatian Fernando yang terpaku menatapnya.


"Walaikumsalam..Elle ingin bicara denganmu." kata Nando singkat lalu menyorotkan kamer pada Elle yang masih dalam mode tatapan kosong.


"Mama..terimaksih untuk semuanya. Lusa El dioperasi. Doakan El ya ma. El ingin melihat wajah mama." Diseberang sana mata Sofia berkaca. Disekanya ujung matanya agar air mat itu tidak terjatuh ke pipi. Semua tidak luput dari perhatian Fernando.


"Syukurlah Nak, mama senang mendengarnya. Mama pasti berdoa untukmu. El anak yang hebat dan kuat kok."


Dari arah belakangnya, datang seorang dokter senior dan perawatnya yang langsung menggodanya.


"Siapa dok? pacar ya? ohh gadis cantik. adik ya dok?" tanyanya saat melihat wajah Nando dan Elle disana sambil mengulum senyum.


"Bukan, ini anak dan suami saya." jawab Sofia tenang.


"benarkah? cantik, mirip papanya." celutuk mereka. Sofia mengangguk hormat sebelum mereka berlalu.


Anak dan suami?? ada yang berdesir disudut hati Nando. Wanita didepannya ini mengakui jika Elle putrinya dengan sangat tenang dan percaya diri, sesuatu yang tidak pernah dilakukan Emma semasa hidupnya. Dan apa tadi? suami? ahhh..hati Nando berbunga.