
"Jangan sentuh istriku Sam!" teriak Nando keras saat tangan dokter Sam meraba nadi Sofia. Dokter tampan keturunan Tionghoa itu hanya tersenyum sinis selaras dengan mama Sisca yang juga melakukannya. Ya, sang mama mertua tak tega juga akhirnya. Rasa khawatir pada keadaan menantunya memaksanya ikut masuk kesana. Dia dengan setia duduk manis memantau drama pagi itu dengan ekspresi berubah-ubah.
"Sam hentikan!" kali ini Nando benar-benar menampik tangan Sam kasar.
"Bagaimana aku bisa memeriksanya jika tak boleh menyentuhnya bodoh!" decihnya kesal. Sudah dua kali memeriksa Sofia dan hasilnya dia tetap melihat perlakuan dan aturan yang sama. Tidak boleh menyentuh istrinya. Apa dia pikir Sam adalah ahli teleraba yang bisa memerriksa tanpa menyentuh benda? dokter Sam benar-benar dibuat emosi karenanya.
"Kenapa tidak kau periksa sendiri saja istrimu itu." ketus mama Sisca yang juga tak tahan melihat sikap keras kepala putranya. Kali ini Nando yang mulai terpancing emosi melotot tajam kearah mereka bedua.
"Kalau begitu mulai hari ini kau dipecat. Aku akan cari dokter lain untuk istriku!" sergahnya dikuasai emosi. Baik dokter Sam, Sisca ataupun Sofia sama-sama terhenyak. Nando terlalu berlebihan pagi itu. Yang salah dia..yang emosi juga dia.
"Mana bisa begitu!!!" teriak mama Sisca dan dokter Sam bersamaan. Tapi Nando bersikap cuek saja. Keputusannya mutlak. Tak ada yang bisa menghalanginya karena semua urusan rumah sakit ada dibawah naungannya. Bahkan tangan besi Teguh Hutamapu tidak akan bisa menembus keputusan Nando. Kali ini dokter Sam yang dibuat salah tingkah. Dipecat dari Hutama adalah mimpi buruk bagi para dokter dan tenaga medis. Dimana mereka bisa dapat pekerjaan dengan gaji besar dan promosi besar jika dipecat dari sana. Sesaat tatapan memohonnya diarahkan pada Sofia yang masih terdiam.
"Mas, kau terlalu berlebihan." protes Sofia kemudian saat ruangan itu menjadi hening. Nando menghampirinya, duduk disisi ranjang dan mengelus punggung tangannya.
"Dia tidak sopan padamu." katanya dengan suara sangat lembut. Untuk kedua kalinya mama Sisca dan dokter Sam dibuat melotot pada tingkah polah sang tuan muda. Barusan saja galaknya seperti induk macan yang baru melahirkan, sekarang malah seperti kucing kecil yang manja dan menggemaskan. Lihatlah dia yang bersikap sangat manis seraya tersenyum lembut menatap mata istrinya.
"Tidak sopan bagaimana? semua dokter pasti melakukannya. Bagaimana perasaanmu jika aku diperlakukan begitu oleh pasangan pasienku?"
"Aku akan menghajar orangnya sampai tak bisa berjalan normal." sentak Nando kembali dalam mode marahnya. Sofia mengelus lengannya.
"Sudah, biarkan dokter Sam melakukan tugasnya. Aku tidak mau dokter lain selain dia ."
"Sayang tapi ...."
"Diperiksa dia atau tidak sama sekali." skak matt. Nando terlihat sangat kesal karenanya. Perkataan Sofia walau sangat lembut tapi terasa mengintimidasi dirinya dalam dilema sulit yang sama-sama tak diinginkannya. Tapi mengingat tangis Sofia semalam, dia mau tak mau memutuskan.
"Lakukan tugasmu Sam. Kali ini kau selamat." katanya dingin membuat senyum Sam terbit. Kini dia tau siapa orang yang harus dimintai tolong jika dirinya terkena masalah. Pawang macan galak itu adalah istri lembutnya. Hanya dia.
"Kapan terakhir kali kau datang bulan dokter?" tanya Sam hati-hati. Nando mendengus kesal.
"Pertanyaan macam apa itu? kau bukan suaminya. Dasar dokter bodoh!! aku menyuruhmu memeriksanya, bukan menanyai masalah tamunya."
" diam kau tuan muda bodoh!" sergah Sam tak mau kalah. Nando benar-benar menganggu konsentrasinya.
Sam kembali memeriksa Sofia meski mendapat tatapan horor dari Nando yang terus-terusan mendampingi istrinya dari jarak dekat. Sama sekali tak ada kata-kata yang keluar dari mulut pedasnya. Beberapa kali melakukan tanya jawab yang menjemukan menurut Nando, akhirnya sang dokter menyelesaikan sesi periksanya.
"Bagaimana keadaan istriku?" tanya Nando penasaran.
"Sofia sedang tidak baik-baik saja."
"Apa maksudmu? istriku kenapa?" buru Nando sambil turun dengan cepat dari tempat tidur.
"Istrimu akan mengalami pembengkakan perut setiap harinya hingga beberapa waktu kedepan."
"Sam...katakan dokter mana yang bisa mengoperasinya! datangkan dia berapapun biayanya!!"
"Oprasi hanya akan berakibat buruk baginya teman."
" Lalu apa yang bisa kulakukan untuk menyembuhkan Sofia Sam?" keluhnya dengan wajah sangat sedih.
"Mencintainya. Apa kau bisa?" sambung Sisca santai seolah tidak terjadi apa-apa. Masih duduk sangat santai ditempatnya dengan senyum terbentuk sempurna, berbanding terbalik dengan Nando yang sangat sedih dengan air mata menggenang disudut matanya. Bayangan kehilangan Emma saja masih mengahantuinya, dia tidak akan sanggup kehilangan Sofia.
"Mom..jangan bercanda. Aku serius!"
"Momy juga serius. Hanya itu yang bisa menyelamatkan istrimu."
"Mana ada obat seperti itu mom?" Nando melihat ke arah mamanya geram. Bisa-bisanya sang mama mencibir dan membuat lelucon saat hatinya sedang tidak baik-baik saja.
"Memang itu obatnya." hampir saja Nando memukul Sam jika tak melihat wajah serius dokter tampan sahabatnya itu.
"Ya. Aku akan mencintai Sofia jika hanya itu yang bisa menyembuhkannya Sam." putusnya kemudian.
"Sebaiknya begitu karena mulai sekarang kau harus lebih intens menjaganya juga Hutama junior dalam perutnya." kata Sam sambil merapikan peralatannya dan memasukkannya dalam tas kerja.
"Hutama junior?" tanyanya membeo.
"Ya. Istrimu sedang hamil lima minggu.Jaga dia dan calon keponakanku dengan baik. By the way...selamat ya." kata dokter Sam yang secara spontan merangkul sahabatnya itu. Nando menangis haru dan membalas memeluk Sam erat.
"Terimakasih Sam." bisiknya penuh haru. Sam menepuk bahunya lalu berpamitan pulang.
"Mulai sekarang jaga menantu dan calon cucu momy. Momy tidak akan mengampunimu jika terjadi sesuatu pada mereka anak nakal." perintah mama Sisca yang terlihat sangat bahagia. Berulang kali senyum lebar terbit diwajahnya yang masih cantik.
"Sayang, mulai sekarang jangan terlalu capek. Panggil momy kalau ada apa-apa oke?" kata Sisca sembari mengelus pucuk kepala menantunya penuh kasih sayang. Sofia hanya mengangguk saat mertuanya menasehati panjang lebar soal kehamilannya. Wanita paruh baya itu begitu antusias pada calon cucunya itu. Dia bahkan beberapa kali menggerutu kesal kala teleponnya diabaikan sang suami nun jauh disana. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin berbagi kebahagiaan keluarga mereka dengan Teguh Hutama. Dengan kesal akhirnya Sisca berpamitan keluar dan memilih menuju taman, meninggalkan pasangan itu berdua saja dikamar.
"Terimakasih." kata Nando serak. Rasa haru masih menyelimuti pria tampan itu. Beberapa kali bahkan dia mengusap sudut matanya yang berair sebelum mendekati Sofia dan mengenggam tangannya.
"Kau tau betapa bahagianya aku sayang? terimakasih sudah mau mengandung calon anakku." dan Sofia juga meneteskan air matanya, jangankan mengalami...membayangkan dia dalam moment inipun dia tidak mampu. Mereka berpelukan dalam haru.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Selamat siang readers...Salam MERDEKA!!!!