
Tepat waktu istirahat siang, sekretaris Alex berdiri di depan ruang ICU dengan tubuh tegap dan kaca mata hitamnya. Ketimbang disebut sekretaris, Alex mungkin lebih pantas disebut asisten karena dirinya yang multifungsi dalam bertugas. Sofia yang melihat kedatanganya segera menghampirinya dengan berlari kecil kerahnya.
"Selamat siang nyonya." sapanya sopan.
"Ada apa anda kemari?"
"Tuan menunggu anda dimobil.”
" Maksudmu Nando?"
"ya."
"Bukannya tadi sopir yang akan menjemputku selepas makan siang?"
"Tuan ingin makan siang bersama anda."
"Tapi saya sedang bertugas sekretaris Alex. Tolong mengertilah. Saya ini pegawai pemerintah yang harus taat aturan." protes Sofia. Sesungguhnya dia merasa tidak enak hati dengan rekan-rekannya yang bertugas, apalagi dia pegawai baru disana.
"Pergilah dokter Sofia. Kami disini baik-baik saja. Bukannya anda sudah mendapatkan ijin?" kata dokter Maya, seorang dokter senior yang selalu satu shift dengannya.
"Tapi dok...."
"Lihat, disini kondusifkan?"
Belum sempat menjawab, seorang kurir makanan cepat saji dari brand ternama datang menenteng tas besar dikedua tangannya.
"Lho...apa ini? kelihatannya kami tidak memesan makanan hari ini?" tanya dokter Maya heran. Pasalnya mereka memang baru saja masuk waktu istirahat hingga belum sempat memesan makanan.
"Ini pesanan dari tuan Fernando satria Hutama untuk ruang ICU. Mohon diterima dokter." jawab sang kurir.
"Ohh...ini untuk kami dokter Sofia?" Dokter Maya masih berusaha memastikan. Sofia hanya menatap tajam Alex, meminta jawaban.
"Benar dokter, tuan muda memberikan ini khusus untuk yang bertugas disini."
"Ahh ya ampuuunn...masuk..masuk pak. Tolong letakkan dimeja sana ya. Dan dokter Sofia, terimakasih banyak. Sampaikan juga rasa terimakasih kami pada suami anda."
"hmmm...sama-sama dokter, kalau begitu saya permisi dulu." Sofia segera meletakkan stetoskop dan peralatannya dilokernya, mencuci tangan lalu menenteng tasnya keluar ruangan yang tiba-tiba riuh rendah dengan ucapan terimakasih padanya.
"Kenapa tuan Nando menyusul kemari sekretaris Alex?" tanya Sofia seraya berjalan cepat di depan Alex yang terus mengekorinya.
" Anda bisa tanya sendiri pada tuan nanti nyonya."
" Bukannya kamu bilang akan makan siang bersama? bagaimana kau bisa jadi pelupa?"
"Anda sudah tau jawabnya, kenapa masih bertanya?"
" Kau ini...." sungut Sofia kesal. Alex segera membukakan pintu untuknya.
"Kenapa datang kemari mas?" tanya Sofia to the point.
"Kita makan bersama."
"Mas...jangan selalu bertindak semaumu. Kau taukan aku ini...."
"Kau sudah mengatakanya tadi pagi."
"Lalu...kenapa kau..."
"Aku ingin makan siang bersama, dirumah."
"Kan bisa lain hari saat aku tidak ada shift pagi mas."
"Aku ingin hari ini."
"Mas, aku ini bekerja dan punya tangung jawab."
"Kalau begitu berhentilah bekerja. Aku bisa memenuhi kebutuhanmu tanpa kau harus bekerja Sofia." Seketika amarah Sofia tersulut.
"Bukannya kita sudah berkomitmen dari awal jika aku masih bisa tetap bekerja walau kita sudah menikah?"
"Aku ingin kau berhenti bekerja."
"tidak!" protes Sofia keras. Menjadi seorang dokter adalah impiannya. Menjadi pegawai negeri sipil juga cita-citanya. Bagaimana sekarang Fernando menyuruhnya berhenti bekerja? pria yang duduk disampingnya ini seolah tidak menghargai perjuangannya sama sekali.
Disampingnya, Fernando hanya terdiam. Pandangannya lurus kedepan seolah menembus isi kepala Alex yang sedang mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.
"Baik jika itu maumu. Terserah kau saja." hanya itu yang terlontar dari bibirnya sebelum dia membuka pintu dan melangkah pergi meninggalkan Sofia dan Alex yang masih memarkirkan kendaraannya.
Sofia turun dengan hati-hati dengan perasaan campur aduk. Apa yang dia lakukan tadi? marah-marah tanpa sebab tanpa memberi kesempatan pada Nando untuk bicara. Berlahan dia masuk ke dalam rumah. Elle yang masih bergelayut manja dileher papanya spontan melepasnya dan berlari menghampirinya.
"Mama....terimakasih sudah mau pulang dan menemaniku." katanya riang. Sofia melirik Nando yang berbalik menuju ruang kerjanya. Tak ada lagi percakapan diantara mereka.
"El sudah makan?" gadis kecil itu menganggguk riang.
"hmmmm..berarti ini waktunya tidur siangkan?" lagi-lagi kepala kecil itu mengangguk.
"Ok, mama mandi lalu sholat dulu. Nanti mama temenin Elle tidur ya." Elle bersorak girang lalu berlari lebih dulu ke kamarnya. Apa bocah itu benar-benar kurang kasih sayang hingga hanya ditemani tidur saja membuatnya sangat gembira? ahh...hati Sofia tiba-tiba melemah. Sofia menuju kamarnya lalu membersihkan dirinya sebelum pergi ke kamar Elle.
Berada di kamar Elle membuatnya sedikit terhibur. Putri sambungnya itu terlihat bahagia saat dia membacakan sebuah cerita tentang putri dan pangeran impiannya hingga dia tertidur pulas dalam senyuman. Sofia sendiri lupa berapa lama dia ikut tertidur pulas disamping Elle yang selalu memeluk lehernya penuh kasih.
Adzan asharlah yang membangunkannya. Disampingnya, Elle masih tertidur pulas dan Sofia tidak ingin membangunkannya karena memang Elle butuh banyak istirahat. Wanita muda itu beringsut bangun dari tidurnya dengan pelan, takut Elle terbangun karenannya. Perutnya terasa lapar karena melewatkan makan siangnya tadi.
"selamat sore nyonya." sapa Maria yang sudah ada di depan kamar Elle kala dia membuka pintu.
"Selamat sore juga Maria. Elle masih tidur. Maukah kau menemaniku makan?"
"Akan saya hangatkan dulu sayurnya nyonya."
"Tidak perlu Maria. Biarkan saja. Saya bukan tipe manja jika kau lupa." tukas Sofia tersenyum.
"Apa tuan sudah makan?"
"Saya kurang tau nyonya. Tapi dari tadi tuan belum keluar dari ruang kerjanya."
"hmmm baiklah, aku akan mengantarkan makan siang yang tertunda untuknya." Sofia mengurungkan niatnya untuk makan karena ingat Nando juga belum makan dari tadi siang. Dia memutuskan membawa nampan makanan ke ruang kerja.
Tanpa mengetuk pintu dia masuk ke ruangan luas yang terkesan lengang itu.
"Mas, ini makan siangmu. Kau pasti belum makan." tak ada sahutan. Nando masih berdiri didepan jendela dengan menyilangkan kedua tangannya.
"Mas...."
"Pergilah."
"Kau sudah melewatkan makan siangmu mas..."
"keluar!" Sofia hanya terdiam. Nando kembali dingin seperti saat pertama kali mereka bertemu. Tanpa berkata apapun Sofia keluar. Tak ada lagi rasa lapar diperutnya. Dia memilih pergi ke taman, menenangkan diri.
Malamnya, Nando tak juga keluar dari ruang kerjanya hingga makan malam usai. Pria itu juga sudah mengunci ruangannya dari dalam hingga Sofia atau siapapun tidak bisa masuk ke sana. Tak ada jawaban saat dia ataupun Elle mengetuk pintu kamarnya.
Sofia hanya bisa menunggunya dikamar, berharap suaminya masuk dan beristirahat. Tapi harapan tinggal harapan. Nando tak juga kembali ke kamar mereka hingga Sofia tertidur menunggunya menjelang fajar. Hampir jam tujuh pagi saat dia terjaga dan melompat dari tempat tidurnya. Rasa kantuk masih menyerangnya kala terdengar langkah beberapa orang dilantai bawah. Rasa penasaran membuatnya segera keluar untuk memastikan siapa yang datang.
"Ehmm..siapa dibawah Maria?"
"Orang kantor nyonya."
"Pagi-pagi begini? tuan sudah berangkat?"
"Sudah tadi pagi-pagi sekali."
"Lalu kenapa mereka kemari?"
"Tuan menyuruh mereka mengambil berkas disini. Tuan Alex belum sempat ke kantor karena masih mengantarkan tuan muda. Nanti tuan Alex yang akan mengurus perusahaan dan rumah ini selama tuan pergi."
"pe...pergi? pergi kemana?" tanya Sofia terbata. Maria menatapnya bingung.
"Nyonya tidak tau?" Sofia hanya menggeleng lemah. Nando memang tidak mengatakan apapun padanya.
" Tuan muda menyusul tuan dan nyonya besar ke Inggris."
"Inggris?" beo Sofia. Dia terlihat terkejut.
"be...berapa lama?"
"Saya kurang tau nyonya. Tapi sepertinya lama karena nona kecil sudah dititipkan pada nyonya Bella tadi pagi sebelum tuan berangkat." Tubuh Sofia melemah sebelum luruh dan terduduk dilantai yang dingin.