
"Selamat sore tuan." sapa bik Rin dan seoran pelayan bernama Ken yang berdiri di dekat pintu masuk dengan seragam pelayan mereka. Nando mengangguk lalu meneruskan langkahnya.
"Apa nyonya sedang sibuk?" akhirnya dia bertanya juga. Nando hanya merasa heran, tidak biasanya Sofia menghilang dan tidak menyambutnya seperti biasa. Walau pernikahan mereka identik dengan simbiosis mutulisme, namun baik Nando ataupun Sofia tidak pernah melupakan kewajiban masing-masing. Apalagi Sofia, wanita itu selalu turun tangan sendiri untuk mengurus suami dan anaknya. Alangkah berbedanya dia dengan Emma yang selalu sibuk dengan diri dan penampilannya.
Nando adalah pria normal yang tertarik pada kecantikan seorang Emma. Daya pikatnya sebagai mantan model dan brand ambassador produk terkenal dari perusahaanya membuatnya menjadi punya banyak fans dan follower. Dia juga most wanted dikalangan model dan artis papan atas kala itu. Mungkin saat itu dirinya adalah pria beruntung yang bisa mendapatkan cinta sang diva dan mengikatnya dalam tali suci pernikahan. Hari-hari mereka dilewati dengan penuh kemesraan layaknya pengantin baru. Emma adalah dambaan setiap pria.
Sesuai janjinya, setelah menikah Emma berjanji meninggalkan dunia model yang sudah melambungkan namanya dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Katakanlah Fernanando pria yang sangat egois. Dia tidak ingin ada orang lain yang melihat kecantikan istrinya, dia hanya akan membingkainya dalam istananya yang luas dan mewah. Emma menuruti dan melakukan permintaan Nando. Wanita mana yang tidak suka dimanjakan dan dipuja bagai seorang dewi?? selain tampan rupawan, Nando juga pewaris gurita bisnis keluarga yang kekayaanya tak habis dimakan tujuh turunan.
Tak ada gading yang tak retak..kebahagiaan mereka tiba-tiba sirna saat Ella hadir dirahim Emma. Nando yang begitu bahagia dengan kehadiran buah hatinya terlalu antusias kala itu, hal yang berbanding terbalik dari Emma yang bersikeras ingin menggugurkan kandungannya. Instingnya sebagai model tentu saja menolak kehamilan yang akan membuat bentuk tubuhnya menjadi berlemak dan jauh dari proporsional. Hal yang amat dia takuti.
Pertengkaran demi pertengkaran terus mereka jalani hingga Elle lahir kedunia. Jangankan menyusui, menggendong putrinya saja dia tidak mau. Jadilah Elle anak papa dan putri asuh para pembantu dan penghuni rumah itu. Semua kebagian jatah mengawasi Elle karena Nando sama sekali tidak mau menambah baby sitter yang note bane orang asing. Elle kecil bahkan jadi penghuni ruang kerjanya dilantai paling atas karena Nando ingin mengurus putrinya tanpa bantuan orang lain.
Saat Nando bersusah payah mengatur jadwal kerja dan merawat putrinya, Emma malah sibuk diluaran dengan teman-teman sosialitanya seakan tak mau tau keadaan putrinya. Nando memilih diam setelah berulang kali menegur istrinya namun selalu diabaikan. Diam adalah hal terbaik yang bisa dia lakukan. Mengadu pada orang tua dan kakaknya sama saja dengan bunuh diri karena sejak awal mereka sudah tidak setuju dengan pernikahannya karena tau sepak terjang Emma didunia model. Dia bukan hanya seorang model, tapi juga wanita panggilan kelas atas. Tapi lagi-lagi cinta sudah membutakan mata dan hati Fernando yang tetap mempertahankan sang istri meski wanita itu selalu menguras keuangannya untuk berfoya-foya.
Bagaimana dengan Elle? gadis kecil itu terus menerus mendekati sang mama untuk sekedar disapa atau dibelai lembut seperti anak-anak lain. Tapi Emma bukan tipe ibu seperti impiannya. Bukan wanita itu yang memeluk atau menghiburnya saat menangis, tapi dia justru membuat Elle manangis tanpa harus berinisiatif membuatnya berhenti atau tersenyum lagi. Elle yang menyedihkan.
"Tidak tuan.Sepertinya nyonya sedang beristirahat dikamar." jawab bik Ken.
"Apa dia menemani Elle?" telisik Nando.
"Tidak tuan. Nona kecil berada dikamarnya sendiri bersama Maria." Sekarang Nando mengerutkan keningnya. Tidak biasanya Elle mau jauh-jauh dari Sofia, apalagi sejak mereka memilih sekamar bertiga.
"Ada apa?" kali ini Nando melihat wajah-wajah resah para pelayannya yang sepertinya sangat gelisah karena sesuatu hal.
"Rin." sentak Nando begitu ruangan terasa hening karena tak satupun yang mau menjawab pertanyaannya. Instingnya langsung bekerja.Ada yang tidak beres dirumahnya.
"sa...saya tuan."
"katakan apa yang terjadi!"
"Baiklah, kalian boleh pergi." semua pelayan mengangguk hormat lalu pergi dari hadapan Nando. Pria itu bergegas ke kamarnya.
Membuka pintu, didapatinya Sofia yang duduk di sofa dengan tangan masih memegang ponsel pemberian Nando beberapa minggu lalu. Tatapan mata mereka bertemu.
"Elle sudah tau semuanya." ucap Sofia datar. Nando mendudukkan dirinya di sisi sofa yang lain, membuat Sofia sedikit beringsut untuk memberi ruang padanya.
"kau sudah mengatakannya?"
"bukan aku tapi....iissshhhh..." belum sempat meneruskan kalimatnya, tangan kekar Nando sudah lebih dulu mencengkeram rahangnya kuat. Seolah tangan itu ingin meremukkan kepalanya. Saat mendongak, Sofia melihat kilatan kemarahan yang sarat akan kekejaman pada pria ini. Tubuh Sofia bergetar, tanpa sadar dia bergidik ngeri.
"Apa salah Elle padamu hingga kau tega menghancurkan perasaannya? Aku hanya memintamu menjadi ibu sambungnya untuk sementara waktu, tapi kenapa kau menghancurkan dia? kau menyakiti putriku, itu sama saja seperti kau menyakitiku!" bentak Nando keras dengan suara mengelegar. Sofia menutup matanya rapat. Seumur hidup dia belum pernah dibentak atau diperlakukan kasar oleh siapapun. Keluarganya walau bukan orang kaya tapi sangat harmonis dan penuh cinta. Sebulir air mata jatuh kepipinya.
" Simpan air mata buayamu itu dokter! sekali lagi kau buat Elle manangis maka orang tua dan adik-adikmu yang akan menanggung akibatnya." ancam Fernando dengan wajah bengisnya. Seketika mata Sofia terbuka lebar. Sekuat tenaga ditepisnya tangan Nando kasar, membuat pria itu menggeram marah.
"Dengarkan aku Fernando satria hutama...bukan aku yang mengatakannya pada Ellemu tapi ..."
"diam kau wanita ular!!" lagi, Nando memangkas penjelasannya tanpa ampun. Pria ini...walau punya akal tapi berubah bodoh karena dibutakan rasa sayangnya pada Elle tanpa mau mendengarkan penjelasan orang lain.
"Kuberi kau satu kesempatan. Seminggu ini, buat Elle menjadi seperti semula atau kau akan tau akibatnya!"
"kau mau menceraikan aku?"
"itu terlalu mudah bagimu! aku tidak akan pernah menceraikanmu agar kau tau bagaimana rasanya tersiksa dalam sangkar emasku. Dari dalam sini kau akan melihat apa yang akan kulakukan pada keluargamu Sofia." desis Nando penuh ancaman.
"Lakukan apa yang kau mau, karena aku juga akan melakukan apa yang kumau hingga kau bosan dan menceraikan aku!"
"jangan bermimpi untuk itu Sofia...."