Dear Husband

Dear Husband
Ke Kantor



"Maaf, anda mau kemana nyonya?" tanya Maria yang berpapasan dengan Sofia didepan pintu ruang kerja Nando. Nyonya muda Hutama itu mendekap stopmaf berisi surat ijin dari kampus di dadanya. Walau sudah berpakaian rapi, Sofia masih mengenakan sandal rumahannya karena masih harus menyiapkan makan pagi dan menemui Nando untuk meminta ijinnya.


"Aku mau menemui suamiku Maria. Apa dia ada di dalam?"


"Sepertinya tuan sudah berangkat dari jam 5 pagi nyonya."


"hhhhhh????? jam 5? kenapa mas Nando berangkat sepagi itu?" gumam Sofia heran. Selama menikah dengannya Nando tidak pernah berangkat sepagi itu. Dia akan ke kantor tepat waktu. Paling pagi juga berangkat pukul 7.


"Apa dia ada pekerjaan tambahan hingga terlalu sibuk?"


"Saya kurang tau nyonya."


"Lalu sekretaris Alex? apa dia sudah datang?" Nando memang selalu berangkat bersama Alex dan sopirnya.


"Tuan berangkat sendiri nyonya." Lagi-lagi Sofia diliputi rasa heran. Ada apa sebenarnya? suaminya itu selalu pulang larut malam dan berangkat pagi-pagi sekali. Apa dia masih marah dengan kejadian waktu itu hingga berniat menghindarinya?


"Berarti dia belum sarapan."


"Iya nyonya."


"Baiklah. Aku akan ke kantornya dan membawakan sarapan untuknya. Sekalian aku ada perlu dengannya." sahut Sofia lalu berjalan menuju dapur diikuti Maria. Tangannya dengan cekatan maraih kotak bekal dan mengisinya dengan bubur ayam hangat yang baru saja dia masak sebelum mandi tadi beserta pernik-perniknya. Sofia tersenyum puas saat menyelesaikan pekerjaanya dan mempercantik tampilan buburnya dengan sedikit selada.


"Panggilkan pak Mun ya Maria. Katakan agar mengantarku ke kantor tuan muda." perintah Sofia lembut.


"Baik nyonya." Maria berjalan menuju ruang khusus pekerja bersamaan dengan Sofia yang menuju kamarnya untuk mengambil tas dan mengganti sandalnya dengan sepatu kerja. Sepuluh menit kemudian dia sudah turun dan bersiap berangkat.


"Apa anda sudah memberi tau tuan jika akan ke kantor nyonya?" tanya pak Mun begitu mereka memasuki halaman kantor yang luas. Bangunan berlantai etah berapa itu berdiri menjulang ke langit dan nampak megah. Dalam hati Sofia takjub...sangat takjub. Suaminya adalah pemilik kantor ini. Pantas saja pria itu begitu populer dan punya kekuasaan serta pengaruh besar dimanapun. Dia bukan pria biasa jika diluar rumah.


"Apa itu perlu pak? saya istrinya. Apa harus minta ijin dulu?"


"Bukan itu maksud saya nyonya. Maafkan saya, tapi pernikahan nyonya dan tuan kemarin sangat tertutup. Belum ada karyawan kantor yang tau kecuali tuan Alex dan petinggi perusahaan. Saya takut mereka bersikap kurang ajar pada anda nyonya." jelas pak Mun panjang lebar. Sofia hanya manggut-manggut sambil mempertimbangkan banyak hal.


"Saya akan menelepon sekretaris Alex saja pak. Saya takut menganggu mas Nando jika mendadak telepon." yang sebenarnya Sofia sangat tidak enak hati pada Nando. Dia tau Nando masih marah padanya. Dia tidak ingin Nando menolak kedatangannya karena masih marah. Padahal dia butuh tanda tangan dan persetujuan sang suami siang ini.


Pak Mun hanya mengiyakan. Sofia sudah turun dan berjalan menuju lobi tanpa menunggu pria paruh baya itu selesai memarkirkan kendaraanya. Beberapa kali dia mencoba menelepon sekretaris Alex, tapi tetap saja ponsel sang sekretaris sibuk. Mungkin dia menelepon seseorang. Sofia menghembuskan nafasnya kasar. Tiba-tiba bayangan resepsionis kantor yang bersikap galak pada tamu atau istri bos yang tidak dia kenal seperti di novel-novel membayang dipelupuk matanya. Nekat, dia berjalan tegak menuju pintu utama.


"Selamat pagi bu, ada yang bisa kami bantu?" sapa seorang gadis muda yang Sofia tau pasti mereka resepsionis kantor ini.


"Saya ingin bertemu tuan Fernando." jawab Sofia sopan, sesopan sapaan resepsionis tadi.


"Apa anda sudah membuat janji?" tanyanya balik.


"Belum nona, tapi saya ada keperluan mendadak dengannya." Resepsionis itu meneliti sekejap penampilan Sofia dari atas ke bawah.


"Tunggu sebentar bu, saya akan menelepon sekretaris CEO untuk menyampaikan kedatangan anda. Boleh saya tau nama anda bu?" tanya sang resepsionis kembali tak kalah sopan.


"Baik, silahkan ibu menunggu disana. Nanti saya akan mengabari ibu begitu telepon kami tersambung." Katanya seraya menunjuk sofa panjang didekat pintu masuk. Sofia mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Rupanya bayangannya tentang seorang resepsionis judes dan galak seperti dinovel-novel itu tak berlaku dikantor ini. Semua pegawai termasuk satpam yang membukakan pintu kaca tadi juga bersikap sangat ramah walau saat ini penampilannya lebih mirip seorang mahasiswi dari pada pekerja kantor, apalagi seorang calon dokter spesialis karena sneaker putih dan tas punggung yang dikenakannya. Walau semua yang dikenakannya adalah barang dari brand terkenal, siapapun pasti tidak menyangka jika dirinya adalah istri CEO.


"Permisi bu, anda dipersilahkan menunggu kedatangan tuan Alex sebentar lagi. Beliau berkenan menjemput anda." suara halus resepsionis tadi memecah lamunan dalam diam Sofia yang masih menatap takjub sekeliling ruangan luas yang ditata apik dan elegan itu.


"Hmmm baik. Terimakasih mbak."


"Sama-sama bu, saya permisi." katanya seraya menengkupkan kedua tangan di dada.


Sebentar kemudian pintu lift terbuka. Sekretaris Alex berjalan gagah menuju kearah Sofia yang juga sudah berdiri dari duduknya. Bagaimanapun dia dikantor, sikap formal juga mesti dia berikan disana. Sekretaris tampan itu memberi hormat padanya.


"Selamat pagi nyonya. Mari ikut saya keruangan tuan muda. Beliau sudah menunggu anda diruangannya." katanya penuh hormat. Sofia segera berjalan lebih dulu kearah lift sesuai isyarat Alex yang menyuruhnya berjalan duluan.


"Terimakasih mbak." katanya seraya tersenyum ramah saat melewati meja resepsionis. Gadis muda tadi mengangguk membalas senyumannya.


"Sama-sama ibu...."


"Jaga sikapmu Tara. Dokter Sofia adalah nyonya muda Hutama. Istri tuan muda Fernando. Panggil dia nyonya muda." perintah Alex tegas. Resepionis bernama Tara itu langsung salah tingkah dan berulang kali menundukkan tubuhnya meminta maaf karena ketidak tahuannya. Untung saja dia bersikap sangat sopan tadi. Sofia hanya tersenyum lalu segera masuk ke dalam lift. Ngomong-ngomong....nyonya muda?? ah...wanita tadi benar-benar sopan dan rendah hati padanya yang hanya pegawai rendahan dikantor itu. Dia juga sabar mrenunggu tanpa protes sesuai intruksinya. Selain terlihat sederhana dan sangat bersahaja dibalik kecantikan alaminya, ternyata dia juga seorang dokter. Ahh...kali ini selera bosnya sudah sangat berubah. Hilang sudah istri bos yang angkuh, sombong, berpakaian minim dan dandanan topeng monyet yang taunya hanya minta uang pada suaminya saat ke kantor itu. Ah....Tara benar-benar kagum.


Lift terbuka dilantai 12, ruang kerja Nando dan sekretaris Alex serta para asisten khusus saja. Sofia mengikuti Alex yang sudah membukakan pintu ruangan dan menutupnya kembali. Disana, Nando duduk dikursinya dengan tatapan mengarah padanya.


"Duduklah. Apa apa kemari?" tanyanya dingin. Rupanya keramahan para karyawan dibawah bertolak belakang dengan sikap sang tuan yang sangat dingin dan to the point.


Sofia menarik nafas dan duduk dikursi tamu di depannya. Rupanya begini perlakuan seorang suami pada istrinya jika dikantor. Sangat formal. Tangannya membuka resleting tasnya dan mengeluarkan kotak makan ukuran besar dan meletakkannya dimeja Fernando.


"Apa ini?" tanyanya sambil mengerutkan dahi, heran.


"Aku membawakan sarapan untukmu. Kau berangkat pagi-pagi sekali hingga tak sempat sarapan."


"Ini meja kerja, bukan tempat makan. Letakkan saja disana." Wajah Sofia memerah. Perkataan Fernando begitu ketus padanya. Jika tidak ingat dia harus meminta ijin dan butuh tanda tangannya, dia pasti akan memilih pergi dari pada menghadapi tuan angkuh itu. Mau tidak mau dia memindah kotak makan dan botol minuman hangat ke meja lain yang dikelilingi sofa empuk lalu kembali duduk dihadapan Nando.


"Aku butuh ijinmu." hanya kata itu yang dia ucapkan karena dadanya sudah sedikit sesak. Dia mengulurkan stopmaff pada Nando. Pria itu membuka dan membacanya.


"Tidak!"


"Apa maksudmu?" tanya Sofia heran.


"Aku tidak mengijinkanmu ikut program itu." kata Nando tegas sambil melemparkan stopmaf itu ketempat sampah. Dada Sofia terasa sangat sesak. Amarahnya membuancah seiring wajahnya yang berubah merah.


"Apa alasanmu tidak mengijinkan aku ikut?" tanya Sofia dengan nada tinggi.


"Pokoknya tidak boleh!" sentak Nando dingin.


"Baik jika kau tak mengijinkan. Aku tidak akan memaksamu tuan Fernando. Aku sadar posisiku yang bukan siapa-siapa bagimu. Kau memang tidak ingin aku lulus cepat karena aku hanya tawananmu. Lupakan dan terimakasih." Setitik air mata jatuh seiring kepergian Sofia yang setengah berlari pergi dari sana.