Dear Husband

Dear Husband
Yang Sebenarnya



"Mama Sofia, kaukah itu?" Elle yang mendengar langkah kaki memasuki rumah besar bertanya antusias. Senyum yang terkembang di bibirnya berangsur sirna manakala dia hanya mendengar suara langkah kaki papanya. Semenjak menjadi buta, indra pendengarannya memang menjadi sangat tajam.


"Dimana mama Sofia pa?"


." Sayang, dia bukan mamamu. Dia hanya wanita yang papa bayar untuk menjadi ibumu saat mama Emma tidak ada. Kita akan menemui mama Emma setelah ini ya. Kita akan ajak mama pulang." bujuk Nando sembari mengelus pipi Elle lembut.


"Kemana papa akan menjemput mama?"


"Tentu saja ke rumah sakit sayang. Mungkin mama sudah selesai dengan terapinya. Dia akan berkumpul kembali bersama kita."


"Elle tau mama Emma sudah meninggal." Hati Nando berdenyut sakit kala mendengar Elle mengatakan kebenaran itu. Bagaimanapun dia masih sangat mencintai Emma. Cinta pertamanya sejak masa kuliah. Hanya Emma yang bisa mencairkan gunung es pada dirinya. Hanya Emma yang bisa membuat dia ingin menikah dan berumah tangga, juga hanya Emma yang membuat dia bertindak gila dan rela dibuang keluarganya. Ya, keluarga Hutama sama sekali tidak menyetujui pernikahannya dengan Emma. Hal itu yang membuat Nando nekat keluar dari rumah besar keluarga Hutama dan membeli rumah megah itu walau tidak mendapatkan kalimat usiran dari kedua orang tuanya. Sekali lagi, dia adalah satu-satunya anak lelaki dalam keluarga itu. Orang tuanya tidak akan tega mengusirnya walau tidak setuju pada pernikahannya, karena sebagai seorang anak dia sudah melakukan kewajibannya. Satu-satunya kesalahannya adalah menikahi Emma.


"Dari mana kau tau Elle? apa wanita itu yang sudah memberitahumu semuanya?" Nafas Nando memburu, menahan amarah yang siap meledak dalam dadanya.


"Mama Sofia tidak pernah mengatakan apapun padaku, pa."


"lalu?"


"Kemarin saat kami pergi ke mall, kami bertemu Lena yang menyapa mama dengan nama dokter Sofia. Aku yang begitu marah karena merasa dibohongi langsung marah pada mama dan membentaknya pa." jelas Elle sambil menangis sesengukan. Nando menarik putri kecilnya dalam pelukan hangatnya hingga tangis Elle sedikit mereda.


"Saat aku tidak sengaja membuka pintu balkon, aku mendengar beberapa penjaga yang membicarakan tentang kematian mama."


"Jadi mereka penyebabnya. Aku akan memecat mereka tanpa sisa!" teriak Fernando, rahangnya mengeras seketika.


"Jangan papa!"


"El, mereka membuatmu sedih. Sudah seharusnya papa menghukum mereka!" lagi-lagi Nando mengeram kesal.


"No papa! tanpa mereka beri taupun aku sudah tau kalau mama sudah meninggal. Mama selalu datang dalam mimpiku. Berulang kali mama minta maaf padaku dan mengatakan jika dia sudah berada i tempat yang jauh. Saat akan menghilang, mama berpesan agar aku jadi anak yang kuat." Nando mengusap sudut matanya yang berkaca. Bayangan akan Emma kembali merajaik kepalanya. Andai malam laknat itu tidak terjadi, pasti Emma akan sangat menyayangi Elle dan kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi.


"Kau harus sabar nak, semua sudah takdir Allah. Doakan saja agar mama mendapat tempat terbaik disisi Allah. Kita tidak membutuhkan siapapun lagi El, cukup papa dan kamu saja." Nando menurunkan suaranya, mengapai batas kewarasannya dan mencoba menasihati Elle.


"Tapi Elle mau mama Sofia, pa." rengek sang nona kecil.


"Elle, dia bukan mama kandungmu. Apa kau lupa itu? bahkan dia juga mengakuinya bukan? jadi kau tidak perlu bergantung padanya. Ada papa yang akan selalu merawat dan menyayangimu Elle."


"Tapi Elle mau mama Sofia, pa.” Ulang Elle lebih keras. Nando bisa melihat kekecewaan diwajah putrinya, tiba-tiba dia sudah merasa menjadi ayah yang gagal. Ada sesal dihatinya. Harusnya dia tidak mendatangkan Sofia dalam kehidupan mereka dengan menyamar sebagai Emma tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi dikemudian hari. Tujuan awalnya hanya untuk kebahagiaan Elle sementara waktu dan akan melepaskan wanita itu dikemudian hari. Tapi dia sudah terlanjur berjanji untuk tetap bersamanya walau apapun yang terjadi nanti. Nando pria yang sangat menepati janji yang dibuatnya sendiri. Sekarang, saat Elle tau semua kebenarannya dan mulai menyukai Sofia, bukankah seharusnya dia senang karena bisa menepati janjinya pada Sofia? tapi kenapa sekarang hatinya menjadi gundah?


"Pa, apa mama akan marah pada perkataan Elle tadi?" melihat putrinya tertunduk sedih, rasa tidak tega mulai menguasai benak Nando. Kembali diusapnya kepala Elle. Putri kecilnya itu tipe anak introvert yang susah menyukai keberadaan orang lain. Tapi saat dia mulai tertarik dan menyukainya, maka akan susah baginya untuk melupakan atau membencinya.


"Mama Sofia wanita yang sabar Elle, dia tidak seperti mama Emma yang akan memarahimu jika kau berbuat salah. Kau harus minta maaf saat mama Sofia pulang nanti ya."


"Apa papa sibuk?" tanya balik Elle.


"jika papa tidak sibuk aku ingin papa mengantarku kerumah sakit menemui mama." Nando terhenyak. Dia hafal betul watak Elle yang tidak akan pernah menunda sesuatu. Apalagi jika putrinya itu merasa bersalah. Tapi sayangnya dia tidak bisa mengabulkan permintaan Elle kali ini. Dia harus lebih dulu menemui Sofia dan bicara empat mata dengannya.


"Sayang,papa ada meeting pagi ini. Nanti papa akan ke rumah sakit untuk menjemput mama ya." Elle terlihat sedih, namun tak urung tetap menganggukkan kepalanya.


"Apa mama Sofia cantik, pa?" tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari bibir mungilnya.


"Apa maksudmu El?"


"Apa dia lebih cantik dari mama Emma?" Nando menarik nafas panjang. Bayangan Emma kembali melintas dan berputar dikepalanya.


"Tidak ada wanita yang melebihi kecantikan Emma. Dia ciptaan Tuhan yang mendekati sempurna El. Mamamu adalah pujaan semua pria. Dia juga wanita yang sangat baik." kenang Nando dengan mata menerawang.


"Tapi mama tak selembut mama Sofia.” Tak ada batahan dari bibir Nando. Yang dikatakan Elle benar. Emma cenderung manja, glamour dan sangat kontras dari Sofia yang apa adanya,mandiri dan tegas.


" Bagaimanapun dia tetap mama kandungmu sayang. Apalagi mama sudah berada disisi Tuhan. Jangan pernah mengungkapkan keburukannya atau membandingkan dia dengan orang lain."


"Tapi mama Sofia benar-benar sayang padaku pa."


"papa tau sayang. Dia juga mamamu,baik sekarang ataupun hingga nanti karena papa sudah menikah dengan mama Sofia. Kau taukan jika papa tidak suka perpisahan?"


"sungguh?"


"Ya, apa papa terdengar bercanda?" Elle tau papanya tipe pria yang serius dan sangat tegas. Yang dia katakan adalah yang akan dia lakukan.


"Elle percaya pada papa." pungkasnya kemudian. Senyum terbit diwajah kuyunya. Nando memeluknya sangat erat.


"El sayang papa." bisiknya.


"Papa juga sangat sayang pada Elle. Sekarang papa berangkat ke kantor ya."


"Baik papa."


"Baik-baik dirumah sayang, assalamualaikum."


"Walaikumsalam pa."


"Maria, jaga putri saya."


"baik tuan." Nando berbalik menuju pintu dan keluar dari sana. Dia harus bergegas menemui Sofia.