
"Ohh ya?? kalau begitu jagalah anak kecilmu itu hingga dia dewasa dan menjadi pelakor."
"Jangan melewati batasanmu Sofia!" sentak Nando dalam nada yang dibuat sepelan mungkin. Bola mata sang tuan muda berkilat. Sofia tersenyum sinis.
"Sebagai istrimu aku tidak punya batasan untuk ikut campur dalam rumah tangga kita. Kecuali jika kau ingin menyebutnya rumah tanggamu saja mas. Tapi baiklah...aku sudah cukup tau batasan mana yang kau maksudkan." Nando ingin membukan mulutnya lagi, namun melihat Rafa yang mulai beranjak memejamkan matanya membuatnya urung melakukannya. Tangannya terulur mengelus kepala putra kesayangannya itu.
"Mari pulang." ajak Nando nyaris seperti perintah seorang atasan.
"Pulanglah, aku juga akan pulang." tukas Sofia sambil memanggil Maria agar membantunya memindahkan Rafa. Tapi Nando segera bertindak cepat meraih putranya dan menggendongnya. Pria itu bahkan sudah melangkah lebih dulu tanpa mengulurkan tangan untuk menggandeng istrinya seperti biasa. Nando sudah berbeda.
"Jika selangkah saja kau bawa Rafa ke rumahmu, maka aku tidak akan segan meminta bantuan momy untuk mengambilnya." ancam Sofia dengan wajah dingin. Nando berbalik dan memindai wajah wanitanya. Bibirnya menyeringai.
"Aku tidak peduli Sofia. Momypun tidak akan sanggup menghentikanku!" desis Nando tak kalah dingin. Pria itu kembali membalikkan tubuhnya.
"Baiklah..bawa Rafa bersamamu, maka semuanya akan menjadi impas. Kau dengan putra sulungmu, dan aku bersama bayi ini." Ucap Sofia lalu melenggang pergi sambil membawa tasnya. Dan Nando...pria itu hanya bisa diam ditempatnya dengan sebuah dilema dihatinya. Apa tadi? Istrinya bahkan sudah berani berbagi buah hati mereka. Dengan anak yang mungkin sama sekali belum terbentuk sempurna. Ya, janin itu masih berada pada trismester pertama. Baru beberapa minggu malah.
"Maria...ikutlah pulang bersama tuan muda. Tolong jaga putraku." pesan Sofia saat dekat dengan baby sitter putranya itu.
"Tapi nyonya..." Sofia sudah kembali melangkah pergi dengan langkah lebar sebelum Maria menyelesaikan kalimatnya. Ditatapnya sang nyonya yang menghentikan taksi yang kebetulan lewat dan pergi dari sana tergesa. Maria hanya bisa menundukkan wajahnya. Sesaat kemudian baby sitter muda itu segera mendekati Fernando dan mengikuti tuannya ke mobilnya, menuju kediaman Fernando.
Air mata Sofia luruh sudah. Tak ada isakan atau wajah sedih. Wanita itu hanya menangis tanpa suara dengan wajah dingin. Luka...pasti dia merasakannya. Cinta tak selalu indah, rumah tangga juga tak selalu bahagia. Tapi kenapa cobaan ini terasa amat menyakitkan baginya? Jemarinya meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
"Mom...aku ingin bertemu denganmu." ucapnya saat panggilan teleponnya tersambung. Dia butuh bahu kuat untuk bersandar, pelukan ibu untuk menumpahkan kesedihan dan tangan sekuat sayap malaikat untuk melindunginya dari luka dunia. Dan Fransisca adalah harapannya.
"Pak, antarkan saya ke restoran King's beberapa blok di depan?" kata Sofia pada sopir taksi itu. Entah karena faktor kebetulan atau kesengajaan, mertuanya itu sedang berada disana, menemui kliennya.
"Baik bu." jawab sopir taksi itu patuh. Pria itu segera menghentikan taksinya tepat di depan resto yang dimaksud Sofia lalu mengucapkan terimaksih kala Sofia memberikan ongkos beserta tipsnya.
"Sofia." panggil Fransisca seraya melambaikan tangannya saat sang menantunya datang. Sofia.segera menghampirinya, memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik diusianya itu erat.
"Sekarang menangislah sepuasmu karena keluarga Hutama tidak boleh menunjukkan kesedihannya pada orang lain." Sofia kembali menghambur dalam pelukan Fransisca, menumpahkan tangisnya disana hingga tiba di depan pintu rumah keluarga Hutama. Sofia turun tanpa diperintah, mengikuti mertuanya masuk ke dalam rumah megah itu tanpa bersuara.
Fransisca menatap nanar menantunya yang terlihat menyedihkan dengan wajah dipenuhi kesedihan. Tak tega rasanya melihat ibu dari cucunya itu begitu terpukul karena perlakuan anak lelakinya. Jemari sang nyonya besar terkepal kuat.
"Yang kau lakukan sudah benar Sofia. Wanita juga punya harga diri dan pendirian yang tegas. Sekarang turuti momy. Pergi dan selesaikan praktik lapanganmu yang tersisa beberapa bulan lagi. Jangan hiraukan anak bodoh itu lagi. Fokus pada hidupmu dan calon anakmu. Soal El, serahkan putramu padaku." ujar Fransisca tegas. Sofia menegakkan tubuhnya.
"Pergi? Mom ingin aku pergi dari kehidupan mas Nando?" lagi...setetes air mata luruh dari iris kecoklatan itu tanpa disuruh.
"Ya. Lebih baik begitu Sofia. Kau juga berhak bahagia. Aku tidak berjanji mengembalikan anak itu seperti semula. Tapi momymu ini berjanji jika tak akan pernah ada perceraian dalam pernikahan kalian. Bersabar saja. Ikuti perkataan momy, anggap kau sedang liburan dan kembalilah sesuai waktu yang ditentukan." Fransisca memeluk menantunya penuh kasih. Air mata menggenang dipelupuk matanya.
"Jangan pernah menyerah Sofia. Menjadi pendamping calon pewaris Hutama memang membutuhkan mental baja. Pergilah! Shandy yang akan mengatur semuanya."
"Pak Shandy?"
"Ya, dia akan mengubah lokasimu menjadi residen ke daerah lain yang tak diketahui Fernando. Percayalah, keluarga ini tak akan pernah melepaskanmu. Kami bertanggung jawab penuh pada hidupmu, juga anak-anakmu nantinya." Dan Sofia segera memeluk tubuh sang mertua sambil berulang kali mengucapkan terimakasih.
"Sekarang kita temui Shandy di bandara."
"Se...secepat itu mom?" tentu saja sofia tergagap karenanya.
"Lebih cepat lebih baik Sofia. Tak usah membawa apapun karena pelayan sudah mengepak semua keperluanmu. Terimalah, kau akan membutuhkannya. Mom akan segera mengunjungimu bersama Bella nanti." bisik Fransisca sambil memasukkan segebok uang tunai berwarna merah pada tas menantunya. Sofia sangat jarang memegang uang tunai karena semua sudah disediakan oleh Nando. Mereka juga tak punya banyak waktu untuk pergi ke atm untuk mengambil uang. Fransisca sangat tak ingin menantunya kenapa-napa.
"Hena....kemari." panggil Fransisca pada pembantu rumah Nando yang sudah mengabdi bertahun-tahun pada keluarga mereka.
"Saya nyonya besar." ujar wanita muda berbadan tegap layaknya pengawal wanita itu patuh.
"Ikut dan jaga menantuku baik-baik." perintah nyonya besar Hutama itu tegas.