Dear Husband

Dear Husband
Tau



Kehebohan seketika terlihat dikediaman utama keluarga Hutama. Bella dan sekretaris Alex begitu antusias menyambut paman dan bibinya yang sudah dianggap orang tua oleh mereka, demikian juga sebaliknya. Pasangan itu Menghidangkan berbagai makanan di meja panjang khusus bagi Teguh dan Frasisc Hutama yang memang jarang pulang ke Indonesia. Apalagi sore nanti Karin akan menyusul pulang ke tanah air bersama suami dan anaknya. Bisa dipastikan rumah itu akan sangat ramai nantinya saat semua anak cucu berkumpul.


Karin tentu tak ingin melewati moment keluarga itu. Apalagi kali ini sang suami, Jose amat mendukung kepulangan mereka karena Helen, putri mereka juga sedang libur musim panas dinegaranya. Jarang sekali suami dan anaknya punya waktu luang seperti sekarang.


"Mama ...!!" pekik gadis kecil berambut pirang yang langsung berlari mendekap tubuh sofia erat. Dokter cantik itu tertawa lebar dan memeluk sang anak penuh kerinduan.


"Elle...bagaimana kabarmu nak? kenapa tidak pulang hmmm??" Sofia menciumi wajah sikecil dan membuat Elle melakukan hal yang sama.


"Bukannya papa bilang aku harus disini hingga dedek bayi bisa duduk sendiri? Papa takut Elle merepotkan mama." jawabnya polos. Sofia menarik nafas panjang. Pantas saja selama ini Elle tak pernah pulang. Ternyata ada peran dan campur tangan suaminya.


"Hmmm...apa Elle kerasan disini?" selidik Sofia, takut jika gadis kecil itu tak mendapat perlakuan semestinya.


"Kerasan ma, ada Aling dan tante Bella yang baik sama aku. Tapi kadang aku ingin tidur bersama mama." rengek Elle manja. Sofia mengelus kepalanya lembut. Dalam hati dia bersyukur karena Bella memperlakukan bocah itu dengan baik. Sofia bisa melihat ketulusan di sorot matanya.


"Boleh aku melihat dedek Rafa ma."


"Tentu saja. Rafa sedang bersama oma. Kau mau kesana?" tawar Sofia yang seketika mendapat anggukan kuat dari Elle. Keduanya bergandengan tangan menuju ruang keluarga yang luas. Disana Frnasisca hutama terlihat masih terus menimang cucu laki-laki pertama di keluarga itu. Ya, semua anak mereka melahirkan bayi perempuan. Dari Nandolah pertama kalinya mereka memperoleh cucu laki-laki.


"Itu dedeknya sedang sama oma. Elle kasi salam sama oma ya sayanng." nasihat Sofia lirih. Elle mengangguk dan mendekati Fransisca


"Selamat siang oma." sapa gadis kecil itu ceria disertai senyum lebar. Dia juga mengulurkan tangannya akan bersalaman pada Fransisca, tapi wanita paruh baya itu mengabaikannya. Wajahnya yang semula ramah dan semringah menjadi mendung dan dingin.


"Tidak apa sayang. Oma sedang sibuk menggendong dedek. Kita dekati yuk. Mau cium dedek tidak?" Sofia yang melihat Elle bersedih menjadi iba. Dia menarik tubuh mungil itu untuk lebih dekat dengan Rafa yang berda dalam gendongan Fransisca.


"Sofia berhenti! jauhkan anak itu dari cucuku." sarkas fransisca seraya beranjak mundur.


"Tapi mom...."


"Suruh dia pergi! dia bukan bagian keluarga ini."


"Tapi aku juga cucunya oma." lirih Elle menahan tangis. Air mata bahkan sudah menggenang dipelupuk matanya.


"Siapa bilang kau cucu oma. Masih bagus kau diakui oleh anakku, jika tidak kau pasti sudah jadi delandangan."


"Mom..tolong hentikan." Bisik Sofia tak enak hati. Berulang kali dia mengelus tubuh kecil itu. Tangis Elle pecah meski tanpa suara. Sofia merengkuhnya penuh kasih sayang.


" Dia harus tau jika dia bukan bagian keluarga ini Sofia."


"Demi putraku, kumohon berhentilah mom. Elle sama sekali tak tau apa-apa. Kami permisi dulu mom." Sofia segera mengajak Elle ke kamarnya. Hatinya begitu nelangsa melihat perlakuan mama mertuanya pada anak itu.


"El, dengarkan mama ya sayang. Maafkan perkataan oma tadi ya. Oma hanya sedang capek karena baru sampai dari perjalanan jauh. Elle maukan memaafkan oma?" Elle hanya mengangguk samar. Tangannya masih sesekali menyeka air mata yang jatuh ke pipinya.