Dear Husband

Dear Husband
Lupa



Nando memasuki rumah dengan wajah cemberutnya. Aldi sudah pulang ke Surabaya sejak pagi tadi karena mengikuti penerbangan pertama. Banyak oleh-oleh yang dibawakan istri tercintanya untuk adik dan mertunya disana. Tak ada masalah, Nando bahkan sangat menyukai ide Sofia. Dia juga yang memaksa istrinya menggunakan blackcard miliknya untuk berbelanja. Dua tahun lebih menjadi istrinya sama sekali tak membuat wanita muda itu gila belanja dan menghabiskan uangnya meski tiap bulan Nando pasti mentransfer sejumlah uang dengan nominal besar ke rekeningnya. Wanitanya itu selalu berhemat meski tak bisa dikatakan pelit. Buktinya semua pelayan dan pekerja di rumah megah itu tak henti memujinya juga berbagai kebijakan baru yang diterapkannya.


Sofia yang sekarang hanya berubah cashing saja. Dari dokter sederhana dari pelosok sana menjadi nyonya muda Hutama dengan penampilan menarik dan bersahajanya. Bukan barang branded...wanitanya lebih menyukai buatan lokal saja walau dengan harga diatas rata-rata, tapi tentu tak semahal brand ternama. Anehnya dia hanya berbelanja seperlunya saja seolah kesederhanaan sudah mendarah daging dalam hati dan pikirannya. Tapi jangan tanya bagaimana dia memperlakukan orang-orang disekitarnya. Dia nyonya muda yang amat peduli pada siapapun dan jadi idola para pekerja yang amat menghormatinya.


"Apa nyonya sudah pulang, Maria?" tanya Nando pada Maria yang barusan menutup pintu kamar Rafael yang terletak bersisihan dengan kamar besar orang tuanya.


"Belum tuan muda." jawab Maria pendek.


"Semalam ini??" sentak Nando kesal. Istrinya itu benar-benar keterlaluan. Baru beranjak maghrib memang, tapi tak biasanya dia pulang jam segini. Rasanya dia akan terus dibuat kesal hingga program spesialisnya usai. Sungguh Nando merasa amat diabaikan mulai kemarin. Dihari biasa mungkin dia bisa terima dan cukup mengerti kesibukan istrinya. Tapi sekarang adalah hari ulang tahunnya. Jangankaj ucapan selamat, rasa-rasanya istrinya itu tidak akan ingat hari bersejarah dalam hidupnya itu lantaran terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Maria hanya mengangguk lalu menundukkan kepalanya hingga Nando menghilang di balik pintu kamar Rafa. Tak lengkap rasanya jika tak melihat putra tampannya lebih dulu.


Deru mobil memasuki halaman rumah, menyita perhatian Nando yang baru saja keluar dari kamar Rafa setelah sejak tadi membersihkan diri dan menunggui putranya. Nando hanya mendekati tangga dan bersedekap disana, menunggu Sofia naik ke kamar mereka.


"Asalamualaikum..mas, maaf aku terlambat." ucapnya manis sambil meraih tangan Nando dan menciumnya takzim. Nando tersenyum getir. Benar...istrinya sudah lupa hari ulang tahunnya.


"Hmmmmm..." dehem Nando berusaha menghilangkan rasa kecewa dalam dirinya. Besar harapannya untuk mendapat kejutan dari istri tercintanya itu. Tapi harapan tinggal harapan...Sofia bahkan tak ingat apa-apa.


"Aku ke kamar dulu ya mas...habis itu kita makan malam." Nando hanya terdiam. Rasa kecewa membuatnya menuruni tangga dan masuk ke ruang kerjanya. Mungkin disana perasaannya akan lebih baik.


Ketukan dipintu membuatnya menegakkan tubuhnya sebelum pintu benar-benar terbuka. Sofia masuk kesana, membuat Nando enggan menatap padanya.


"Makanlah dulu Sofia. Aku sedang tidak lapar." Senyum lebar menghiasi wajah Sofia. Suaminya pasti sedang merajuk karena langsung memanggil namanya saja tanpa embel-embel sayang seperti biasanya. Sang nyonya muda mendekat, memeluk tubuh kekar suaminya dari belakang kursi yang di dudukinya.


"Selamat ulang tahun Hubby...semoga Allah memberkahi kehidupanmu dengan segala kebaikan dan keberhasilan. Tetaplah jadi suami dan ayah yang baik bagi kami." bisiknya mesra ditelinga kiri suaminya. Tubuh Nando menegang. Berbagai bunga bermekaran dihatinya. Sofianya..istrinya...wanita yang paling dicintainya ingat hari ulang tahunnya. Berlahan jemarinya mengenggam erat tangan Sofia, menarik tubuh wanitanya agar mendekat dan duduk dipangkuannya.


"Maafkan aku karena pulang terlambat tadi. Ini hadiah untukmu. Sekali lagi selamat ulang tahun Hubby." bisiknya lalu mengecup bibir lelakinya penuh perasaan. Sofia menyerahkan kotak kecil ditangannya pada Fernando yang terus tersenyum lebar kearahnya.


"Sayang...kau tak perlu memberiku hadiah. Bagiku kehadiranmu dan Rafa adalah hadiah terbaik sepanjang hidupku." lirih Nando amat mesra. Wajah Sofia merona saat suami tampannya terus menatapnya penuh cinta.


"Tapi kau harus membukannya hubby. Aku sudah bersusah payah mendapatkannya hingga pulang terlambat." kata Sofis sedikit memaksa. Nando mengrenyitkan dahinya.


"Apa yang membuatmu demikian sayang. Kau bahkan bisa mendapatkan apapun tanpa harus begitu." tukas Nando sedikit kesal. Mendengar kata susah payah dari bibir istrinya seolah membuatnya jadi suami yang gagal.


"Tapi tidak dengan yang ini hubby. Bukalah." pinta Sofia lagi. Nando mengambil alih kotak kecil itu lalu membukanya. Kedua netra blue ocean itu terbelalak kaget kala melihat isinya. Sebuah testpack bergaris dua, foto hasil USG dan surat keterangan dokter yang langsung dibaca oleh Fernando.


"Sa..sayang...kau..kau hamil??" tanyanya tidak percaya. Sofia mengangguk. Nando menghambur memeluknya, setitik air mata turun di pipinya.


"Kau akan kembali menjadi seorang ayah hubby." Lirih Sofia dalam dekapan hangat penuh rasa haru suami tercintanya.