
"Dia kemana?" lirih Nando terdengar bergumam. Pandangannya langsung tertuju ke depan. Ya, pasti Sofia pulang. Istrinya itu akan lebih sering berada di rumah jika ada masalah. Baginya mungkin rumah adalah tempat paling nyaman untuk kembali saat jiwa terasa lelah. Tapi....bukannya dia sudah meninggalkan rumah dan pindah ke apartemen mamanya??
Sigap Fernando menelepon pak Mun agar segera bersiap di bawah. Dia ingin segera ke apartemen menemui istrinya. Pria tampan rupawan itu segera masuk ke dalam mobilnya saat pak Mun membuka pintunya.
"Ke apartemen istriku." perintahnya singkat. Pak Mun segera paham maksudnya karena pria itulah yang sejak kemarin mondar-mandir mengantar Sofia beserta barang bawaannya. Mobil segera melaju membelah keramaian kota yang hari itu tak begitu ramai karena masih berada dalam jam kerja.
Kembali langkah lebar tuan muda Hutama itu menapaki lantai apartemen yang jaraknya hanya beberapa blok saja dari rumah sakit elit milik keluarganya. Jika mau jujur, seluruh apartemen itu juga milik keluarga Hutama seutuhnya. Fransisca memang sengaja membuat satu unit berukuran paling besar disana untuk keluarga yang membutuhkan tempat kala urgent.
Dua kali Nando menekan bel. Tak ada sahutan ataupun tanda-tanda adanya orang di dalam sana. Dua pengawal momynya yanh ditugaskam untuk mengawal istrinya juga tak nampak batang hidungnya. Beberapa kali menelepon juga tak diangkat. Atau mungkin Sofia memang sengaja tak mau membukakan pintu untuk dirinya?
"Selamat siang tuan muda." sapa seorang pria berambut cepak yang tiba-tiba berdiri di belakangnya tanpa suara. Atau Nando yang sibuk dalam pikirannya hingga tak mendengar kedatangannya? entahlah. Yang Nando tau dia adalah pengawal momynya.
"Dimana istriku?"
"Nyonya muda sedang berada di taman bermain bersama tuan kecil dan pengasuhnya. Saya kembali untuk mengambilkan mainan tuan kecil yang tertinggal."
"Cepat ambil dan ikut aku." perintah Nando penuh wibawa. Sang pengawal segera masuk dan mengambil mainan putra majikannya yang tertinggal hingga membuatnya menangis.
"Mainan apa yang diinginkan putraku?" Sang pengawal lalu menunjukkan sebuah miniatur mobil lamborgini yang dilengkapi remote, hadiah ulang tahunnya yang kedua. Ya, Rafa memang sangat senang mengendalikan mobil-mobilan itu sambil duduk atau berlari kecil mengejarnya. Mengingat senyum sang putra sudah membuat Nando merasa berdosa.
"Ayo." katanya sambil berjalan cepat mendahului sang pengawal karena tak sabar bertemu putranya.
Taman bermain yang dituju Sofia adalah taman luas dipinggir kota dengan pemandangan asri. Entah kenapa istrinya itu mengajak Rafa kesana di jam kerja. Biasanya dokter cantik itu selalu disiplin dengan pekerjaan dan kuliahnya. Sangat jarang bersantai atau sekedar jalan-jalan di jam kerja. Sofia sudah berubah dalam sehari saja.
Nando tersenyum lebar saat melihat putra tercintanya berlari mengejar momynya yang sengaja menggodanya dengan gerakan tiba-tiba berhenti lalu berjalan lagi. Giginya yang baru tumbuh beberapa bahkan sudah membuatnya jadi anak yang menggemaskan. Lihatlah, Nando juga melihat tawa lepas Sofia kala merangkul putranya yang hampir terjatuh lalu mengangkatnya tinggi-tinggi keudara hingga Rafa memekik kecil sambil menepuk pipi momynya. Keduanya tertawa bersama.
"Rafael.." panggil Nando sontak membuat si kecil menoleh dan menjulurkan tangan padanya.
"Da...dy..." ejanya dengan nada lucu. Nando segera mendekat lalu meraih putranya, menciuminya penuh kerinduan. Baru sehari saja dia sudah rindu, bagaimana jika lama?
"Anak pintar. Kangen dady ya?" Rafa mengangukkan kepalanya dengan ekspresi lucu. Jangan lupakan gerakan tiba-tibanya mencium dadynya gemas yang membuat Nando tergelak.
"Mau main dengan dady?" tawar Nando. Tentu saja Rafa girang, segera turun dari pangkuan dadynya lalu mulai berlari meminta dikejar dari belakang. Sejenak bocah itu lupa pada mainannya. Fernando memang mengejar dan bermain dengan Rafa, tapi ujung matanya tetap melirik istrinya yang malah fokus pada buku tebalnya. Sebuah kaca mata bertengger manis diwajah ayunya. Terlihat smart dan elegan. Sayangnya wanita itu sama sekali tak menganggap kehadirannya seolah dia makhluk astral yang tak terlihat.
Setengah jam bermain sudah membuat Rafa tersengal dengan keringat bercucuran. Tapi anehnya anak itu sama sekali tak terlihat lelah. Nando yang tak tega menggendongnya mendekati momynya yang duduk dibawah pohon rindang dan membentangkan tikar dengan beberapa minuman dan kotak makan layaknya sedang berlibur.
"Maafkan aku..." kata Nando dengan suara tercekat. Sofia tersenyum samar, menatapnya teduh.
"Kau tak bersalah mas." sahutnya tanpa beban.
"Jangan bersikap seolah tak ada masalah diantara kita Sofia. Kau membuatku sangat merasa bersalah." protes Nando lirih.
"Kita memang tidak ada masalahkan mas?"
"Kalau tak ada masalah kenapa tak pulang ke rumah?"
"Karena aku tidak ingin."
"Apa semua karena Elle,?"
"Ya." jawab Sofia tanpa basa-basi. Nando menarik nafas dalam. Wanitanya ini tetaplah sama. Tegas, lugas dan apa adanya. Dia akan bilang suka jika memang suka atau berkata tidak jika memang bukan itu yang terjadi. Benar-benar sifat terbuka yang luar biasa.
"Kau salah paham Sofia."
"Kau yang tak mau mengaku salah dan membenarkan tindakan yang salah dengan berpikir irrasional."
"Salah? bagian mana yang salah?" Sofia menarik sudut bibirnya, membentuk lengkungan manis namun sinis.
"Kau seorang muslim yang memegang teguh Qur'an dan hadist. Tapi kau lupa jika islam melarang seseorang mengangkat anak yang tak ada hubungan darah dengannya terutama perempuan menjadi binti dirinya karena itu akan mengubah nasabnya. Bagaimana nanti jika dia menikah? nikahnya akan menjadi tidak sah dan anak-anaknya akan menjadi anak....haram. Baik ya baik saja, tak usah mengangkatnya sebagai anak karena itu melanggar ajaran rosullulah. Tapi kau membenarkannya dengan alasan janji. Sebuah janji bisa jadi gugur jika banyak mengandung mudharat dari pada manfaatnya. Dan mengangkat Elle menjadi anakmu mengandung banyak mudharat yang menjurus pada dosa." ceramah Sofia panjang lebar. Sebenarnya wanita ini berhati amat lembut dan selalu merasa tidak tega pada orang lain. Empatinya sangat tinggi. Tapi wanita tipe seperti ini akan jadi mengerikan jika dikecewakan.
"Kau tak pernah berkata begitu sebelumnya. Kau juga menerima Elle tanpa masalah selama jadi istriku. Jangan percaya pendapat orang lain Sofia. Mereka tidak tau apa-apa."
"Aku menerimanya sebelum tau watak aslinya. Maaf...aku tak mau berbagi hati dengan siapapun mas."
"Elle hanya anak kecil Sofia."
"Ohh ya?? Kalau begitu jagalah anak kecilmu itu hingga dia dewasa dan menjadi pelakor."