Dear Husband

Dear Husband
Harus



Sofia meraba sisi tempat tidurnya dengan kedua mata yang masih terpejam. Kantuk masih sangat menguasai dirinya karena semalaman harus bolak-balik terjaga untuk mengecek kondisi Fernando yang baru saja dia lepas infusnya. Bukannya tanpa alasan, kondisi suaminya itu memang sudah berangsur membaik setelah memakan makanan yang dia inginkan. Tuan muda Hutama itu juga tak kesulitan meminum obat oral hingga Sofia menuruti keinginannya melepas infusnya.


Lepas infus bukannya membuatnya bisa tidur nyenyak. Fernando malah kembali membuatnya resah dengan berulang kali bergerak gelisah. Saat Sofia menanyai alasannya, suami tampannya itu malah merengek agar dia tidur disisinya, hal yang dihindari Sofia karena takut khilaf. Padahal jika mereka khilafpun tak ada salahnya karena mereka masih terikat permikahan secara sah. Tapi Sofia tak ingin suaminya itu terlalu mudah mendapatkan maafnya. Namun siapa yang tega melihat dia terus merengek tak bisa tidur bila tak memeluknya? apa mungkin enam bulan ini dia tidak tidur dengan benar hingga tubuhnya sekurus dn sepucat sekarang? pertahanan Sofia runtuh juga. Dia memutuskan segera berbaring di pelukan Nando sesuai keinginannya.


Pria yang hampir enam tahun menikahinya itu berulang kali mengumamkan kata maaf hingga tertidur hanya dalam beberapa menit setelah memeluknya. Tidur yang amat nyenyak dengan sebelah tangannya yang diletakkan di perut besar Sofia. Sepertinya bayi mereka amat merindukan dadynya hingga tak pernah berhenti bergerak walau taj sampai menendang momynya. Sofia bisa merasakan jika calon anaknya juga telelap dalam elusan dadynya.


Pintu kamar mandi terbuka saat Sofia menegakkan tubuhnya. Alangkah terkejutnya wanita muda itu saat melihat Nando keluar dari sana dengan rambut basahnya. Lelakinya sudah mandi tanpa memberitahunya? padahal ini masih sangat pagi. Nando juga harusnya masih beristirahat.


"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Apa kau mau mandi sekarang?" tanya Nando sambil berjalan lambat ke arahnya. Bukannya seharusnya dia yang menyiapkan keperluan Nando? siapa yang terlihat sakit sekarang?


"Ehmmm ya..terimakasih." jawab Sofia lalu beranjak ke kamar mandi. Mandi kilat selalu dipilih Sofia di pagi hari karena takut subuh segera usai. Hanya dalam beberapa menit dia sudah keluar dalam keadaan segar.


"Lho...belum sholat mas?" tanyanya saat melihat Nando masih duduk anteng diatas sajadahnya.


"Menunggumu. Sudah lama tidak sholat bersama. Aku rindu jadi imammu Sofia." ucapnya membuat Sofia tersenyum samar, segera meraih mukena dan memakainya lalu memposisikan diri jadi makmumnya. Pun sholat yang disaksikan para malaikat itu berlangsung khusuk hingga usai. Sofia meraih tangan sang suami dan menciumnya. Hatinya benar-benar bergetar saat lelaki yang amat dicintainya itu mengecup keningnya lama setelahnya. Kerinduan itu benar-benar nyata. Setelah sekian lama....dia kembali merasakan kehangatan itu menyingkirkan kehampaan dalam jiwanya.


"Mas mau sarapan apa? biar kusiapkan." Sofia selalu tak lupa menanyakan apa yang diinginkan suaminya saat sarapan. Kebiasaan yang tak bisa dia hilangkan begitu saja walau dia ingin.


"Tidak usah sayang, biar Sarla saja yang menyiapkannya." Untuk kali ini saja Sofia serasa kembali ke masa lalu saat Nando memanggilnya sayang untuk pertama kali. Rasanya masih sama. Perutnya terasa tergelitik dengan hidung mengembang. Sungguh hatinya berbunga kala itu. Tapi Sofia mencoba menyembunyikannya dengan berjalan menyimpan mukenannya.


"Sayang, apa sarapanku sudah siap?" Sofia dan Sarla yang sedang berkutat di dapur dibuat kaget oleh Nando yang berpakaian rapi di ujung tangga. Lihatlah ..pria itu terlihat amat tampan dengan stelan formal dan rambut yang disisir rapi, janggut dan kumis yang juga baru saja dicukur bersih. Sarla lah yang paling bahagia melihat majikannya sudah mulai akur dengan kemesraan mereka. Selebihnya hanya Sofia yang menatap bingung pada sang suami.


"Mau kemana mas?" tanyanya masih dalam mode bingung. Dia bahkan baru selesai mengaduk susu jahe untuknya.


"Ke kantor." Sofia segera menuju meja makan tempat suaminya duduk menunggu lalu duduk disampingnya. Sarla bergegas menyiapkan sarapan sang tuan muda.


"Kenapa harus ke kantor mas? kamu baru saja sembuh, masih butuh istirahat. Kerja dari rumah saja ya." bujuk Sofia yang masih khawatir pada sang suami yang walau terihat lebih segar tapi tetap saja membuatnya tak tega.


"Sayang dengar...bukannya kau bilang aku harus mencari uang untuk biaya persalinanmu, menggaji pekerja rumah, dana shoppingmu, biaya sekolah Rafa, bayar listrik, asuransi dan entah apa lagi kemarin. Aku harus giat agar kau cepat memaafkan aku bukan? kau tau rasanya jika terus begini? hatiku sakit Sofia. Aku ingin kau kembali seperti dulu."


"Sama seperti aku yang menginginkan kau juga kembali seperti dulu mas." batin Sofia dalam diam. Kedua matanya berkaca. Kelak walau harus memulai segalanya dari nol dan menemani sang suami dalam segala keterbatasan, dia akan sangat rela dan senang hati melakukannya.


"Jangan menangis sayang...doakan saja semuanya akan baik-baik saja." bisik Nando yang malah membuat air matanya kembali menetes.


"Kau harus membuatnya baik-baik saja karena aku belum pernah kau ajak jalan-jalan ke luar negeri, berbelanja barang mahal, masuk ke salon dan....."


"Sssttt ..jangan lagi membohongiku nyonya muda Hutama. Andai aku jadi kaya raya kembalipun kau tak akan pernah melakukannya. Aku mengenalmu seperti aku mengenal bayanganku sendiri Sofia." dan sebuah kecupan mesra dikening Sofia benar-benar membuatnya larut hingga memejamkan matanya. Sekilas Nando melirik bibir basah istrinya. Bibir yang sangat ingin dia kecup walau sebentar. Tapi dia cukup tau diri untuk melakukannya. Nanti...nanti dia akan menciumnya dengan segenap jiwa saat Sofia sudah memaafkannya.