
Entah karena cuaca dingin karena hujan turun semalaman atau karena rasa nyaman berkepanjangan, sepasang anak manusia itu tertidur lelap hingga hampir subuh. Sofia yang lebih dulu terjaga mencoba mengurai pelukan Nando pada tubuhnya. Bukannya melepas tubuh Sofia, Nando malah mengeratkan pelukannya.
"Mas...lepas. Aku harus melihat keadaan Elle dulu." bisik Sofia. Nando baru sadar dan segera melepaskan tangannya. Benar saja, semalaman mereka sudah mengabaikan Elle yang sedang dalam perawatan.
Sofia menyibakkan selimut mereka lalu masuk ke kamar tidurnya. Disana Elle masih tertidur pulas. Infus yang semalam juga hanya sisa sedikit saja, untung tidak sampai habis dan membuat tangannya bengkak. Dokter cantik itu segera mengganti botol infus dengan yang baru dan menyuntikkan cairan obat disana.
Sebenarnya suhu tubuh Elle sudah turun. Namun tanda-tanda sakit tipes seperti dugaannya membuatnya ragu. Bisa saja panas mode pelana kudu membuat trombosit dalam tubuhnya turun dan mengarah ke DB. Elle harus segera periksa darah karena papanya bilang dia sudah panas dari dua hari lalu namun selalu menolak diperiksa siapapun kecuali mama Sofia.
" Bagaimana?" tanya Nando seraya duduk diranjang Elle. Tangannya membelai lembut kepala Elle.
"Panasnya sudah turun. Nanti aku akan mengambil sampel darahnya dan memeriksannya di laboratorium."
"Ini hari minggu Sofia." Nando mencoba mengingatkan.
"Aku tau. Nanti aku telepon petugasnya dan minta tolong padanya. Aku takut terjadi sesuatu pada Elle." Nando menatap Sofia lekat hingga wanita itu salah tingkah.
"Kenapa melihatku seperti itu?"
"hmmmm...Aku hanya berpikir jika aku tidak salah memilihmu menjadi mama Elle." Sofia hanya bergumam lirih.
"Sudah adzan, sebaiknya mas cepat mandi lalu sholat."
"Lalu kau?"
"aku juga akan mandi. Karena kau tamu..maka aku mempersilahkanmu mandi lebih dulu." Wajah Nando mengeras. Dalam sekali gerak dia sudah mengunci tubuh Sofia didinding dan membuatnya tidak bisa bergerak.
"Aku ini suamimu dokter...bukan tamu. Dan satu lagi....kenapa kita tidak mandi bersama saja? bukankah itu bisa menghemat waktu?" desisnya pelan hingga membuat pipi Sofia merona.
"kau gila." kata Sofia sambil berusaha mendorong tubuh Nando walau berakhir sia-sia. Pria itu bahkan lebih kuat dari perkiraannya.
"Mama!!" keduanya menoleh bersamaan disisi ranjang. ot mcNando juga langsung melepas kungkungannya pada Sofia. Disana, mata lucu Elle mengerjab lucu walau terlihat memerah karena bangun tidur.
"Ya sayang...apa kau butuh sesuatu?" Sofie mendekatinya.
"Mama aku haus." Sofia segera mengambilkan air mineral dan memberikannya pada Elle. Nando sudah membantunya duduk dan minum.
"Apa yang kau rasakan?"
"Hanya sedikit pusing dan tubuhku sakit semua, ma."
"Kalau begitu istirahatlah lagi, biar papa mandi dan sholat dulu ya. Gantian sama mama." Nando segera keluar dan membersihkan diri. Dia harus cepat agar Sofia tidak ketinggalan ibadah subuh karena dirinya.
"Nah sayang, tidak apa-apa kan kalau mama tinggal ke dapur untuk membuatkanmu bubur? dapurya dekat sini, kau tinggal panggil mama kalau ada apa-apa." Elle mengangguk. Dia memang anak yang penurut dan manis. Toh sebentar lagi papanya datang menemani. Sofia beranjak meninggalkan putri angkatnya yang masih asyik meneliti tiap sudut kamarnya. Tak banyak perabotan disana. Yang dia tempati adalah kamar rumah dinas yang tak berapa luas. Hanya ada ranjang, lemari plastik dan meja tempat menaruh barang-barangnya.
"Apa yang kau lakukan?" terlalu asyik di dapur membuat Sofia tak menyadari jika Nando sudah ada dibelakangnya. Pria itu bahkan bisa mencium aroma sabun dari tubuhnya yang memang baru selesai mandi. Dia juga belum sempat menyisir rambut dan hanya menggulungnya asal karena buru-buru membuatkan bubur ayam untuk sarapan.
"Membuat bubur." jawabnya pendek.
"Banyak sekali."
"kita?"
"ya."
"Tapi aku tidak sakit."
"Tidak semua yang makan bubur itu orang sakit mas. Orang sehat juga boleh makan bubur. Lagian ini rasanya enak. Aku biasa sarapan bubur waktu kuliah di Surabaya." terang Sofia. Nando masih menatap benda berwarna putih yang diaduk Sofia didalam panci. Tak hanya itu, istrinya juga membuat bawang goreng, irisan seledri, ayam suwir, dan kacang goreng untuk pelengkap. Bedanya tidak ada kuetiauw disana. Wanita muda itu juga dengan cekatan menatanya pada tiga buah mangkok dengan porsi berbeda.
"Mau bantu aku membawanya kedalam?" Nando mengiyakan dan lekas meraih mangkok dan membawanya masuk. Sofia membuatkan minuman hangat untuk mereka lalu menyusul Nando masuk.
"Mas makan saja dulu."
"Nanti saja. Masih panas."
"Kalau begitu aku suapi Elle dulu."
Elle yang mencium aroma gurih dari bubur yang dibawa mamanya segera menegakkan tubuhnya. Perut kecilnya menjadi lapar.
"Apa itu ma?"
"Bubur ayam. Ayo mama suapi kamu. Kalau sakit kau harus banyak makan dan minum agar segera pulih El. Walau rasanya terasa pahit dilidah, usahakan makanan tetap masuk agar kau punya tenaga dan tidak dehidrasi." nasihat Sofia sambil mulai menyuapi Elle. Awalnya dia mengira Elle hanya akan memakan beberapa suap saja, tapi nyatanya anak itu tidak berhenti hingga isi mangkok habis tidak tersisa. Sofia tersenyum lega. Dia bergerak membuka korden kamar yang menampilkan pagar pembatas rumah yang sudah disulap menjadi taman kecil dengan aneka tumbuhan disana.Jendela kamar yang menghadap ke timur sesuai letak rumah itu juga membuat penghuninya bisa menikmati sinar matahari pagi yang baru saja muncul menggantikan malam.
"Sebentar lagi minum obatnya ya sayang."
"Iya ma, tapi aku masih kenyang."
"ya, nanti saja."
"Mama tidak makan?"
"ehhmmm...mama akan makan dengan papa disana." sahut Nando cepat sambil menarik lengan Sofia.
"Mas...isshh...apaan sih?" protesnya. Elle tertawa kecil.
"Paling papa minta disuapi seperti aku tadi ma." kata Elle mengolok sang papa.
"Elle benar.Ayo!" dan pecahlah tawa Elle melihat papanya yang begitu bersemangat mengajak mamanya keluar.
"Mas, kenapa mesti mengajakku. Kau bisa makan sendirikan?"
"Aku ...tidak tau cara makannya." kata Nando polos. Hampir saja Sofia terbahak melihat ekpresi suami pura-puranya itu. Tanpa banyak kata dia duduk didepan Nando yang sudah lebih dulu mengambil tempat. Dia mengambil mangkoknya lalu menuangkan kecap dan sambal. Sofia memakannya pelan. Nando juga mulai melakukan hal yang sama.
"Kenapa mas? tidak enak? aku akan menggantinya." Nando menahan tangan Sofia yang akan menarik mangkoknya.
"Jangan."
"Ada roti dikulkas. Aku akan mengoles selai untuk sarapanmu.” Sofia sangat tidak enak hati melihat Nando yang langsung berhenti mengunyah. Tapi tak dinyana, pria itu malah kembali menguyah dan menghabiskan seluruh makanannya. Sofia hanya menatapnya aneh. Anak dan bapak yang punya watak yang sama.