
zona xxx ya..yang belum cukup umur harap mundur๐๐๐
Nando merapatkan tubuhnya dengan menarik pinggang ramping Sofia kuat agar tubuh wanitanya menempel sempurna padanya. Entah kemana arah tangan sang tuan muda Hutama itu saat ada di dalam lift yang akan membawa mereka kelantai atas, kamar VViP yang dipesan Alex atas permintaan Nando tadi.
" Mas, lepaskan. Bagaimana kalau ada yang lihat." Sofia berusaha menepis tangan kanan Nando yang sudah meremas sebelah bukit kembarnya. Namun bukannya menjauh, Nando malah mencium bibirnya berulang kali.
" kau harus dihukum." tegas pria itu saat sudah menghentikan aktifitasnya karena lift sudah sampai kelantai teratas itu.
"Aku tidak salah apa-apa." protes Sofia berani. Bukannya menanggapi, Nando malah menariknya menjauhi lift menuju kamar yang sudah dia pesan. Didepan pintu, sekretaris Alex berdiri tegap seraya menyerahkan kunci pintu pada tuan mudanya.
"Kosongkan jadwalku besok. Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?" tanya Nando saat akan menutup pintu kamar itu.
"ya tuan muda. Selamat malam." dan tanpa basa basi sang sekretaris berlalu dari sana. Diujung lorong, dia bertemu dua pria berbadan tegap berambut cepak yang sudah menunggunya.
"Awasi tuan dan nyonya muda. Pastikan tidak ada yang akan menganggu mereka. Telepon aku segera jika ada apa-apa." perintahnya yang langsung diangguki keduanya. Rupanya Alex sudah menempatkan beberapa orang untuk menjaga Nando selama berada disana.
Didalam kamar.........
"Kenapa kita kesini mas?"
"Untuk menepati janjiku dan menagih kewajibanmu Sofia." desis Nando yang terus memburu sang istri yang terus beringsut mundur menjauhinya. Gemas, pria itu menjangkau pinggang ramping istrinya hingga tubuh mereka menempel sempurna.
"Jangan jauh-jauh."
"m..ma...mas ...kenapa tidak pulang saja. Kudengar engg..ehh..." Nandon sudah lebih dulu melepas hijab istrinya dan menyerang leher jenjangnya hingga Sofia menggelinjang geli. Mula-mula hanya kecupan ringan, lama-lama menjadi makin intens hingga meninggalkan jejak kemerahan disana karena Nando yang menghisap kulit mulus itu kuat.
"Ini semua salahmu karena menggodaku dengan kecantikanmu Sofia..lain kali jangan berdandan terlalu cantik didepan siapapun." bisiknya dengan suara parau. Tangan kekar itu juga tak tinggal diam, bergerilya disekujur tubuh sang wanita.
"mmmaaaasss. ...." desah Sofia tertahan saat Nando mulai mengusap inti tubuhnya dan meremasnya pelan dari luar ****** ***** warna pink yang dikenakannya sebelum benar-benar melepasnya dan melemparkannya asal. Tanpa Sofia sadari, pria tampan itu sudah bermain disana, menjulurkan lidahnya dengan permainan panas yang hampir menbuatnya meledak.
"mas ..minggir...aku..aku..." erang Sofia saat merasakan sesuatu seakan mau meledak dari tubuhnya. Bukannya berhenti, Nando malah semakin menggerakkan lidahnya semakin cepat sambil sesekali menggigit kecil hingga akhirnya Sofia mendapatkan pelepasan pertamanya. Nafas dokter muda itupun tersengal. Nando yang mengetahuinya tersenyum simpul sambil beringsut menyejajarkan tubuhnya dengan Sofia. Berganti memagut bibirnya, membiarkan istri cantiknya itu mengatur nafas setelah orgasme pertamanya.
"Sayang, sentuh disini." pinta Nando mesra sambil mengarahkan telapak tangan halus Sofia pada kejantananya yang sudah berdiri tegak. Hampir saja Sofia memekik saat menyentuh benda keras berotot dalam genggamannya itu. Nando segera menurunkan boxernya dan mengajari istri polosnya itu untuk mengurut lembut miliknya yang juga mulai mengeluarkan cairan bening hingga membuatnya mendesis dan memejamkan kedua matanya. Merasa tak tahan, sang tuan muda mulai memposisikan miliknya untuk memasuki inti tubuh Sofia
"Sayang apa ini yang pertama bagimu?" bisiknya. Tentu saja Sofia merona, malu menjawabnya. Seumur-umur baru kali ini dia telanjang bulat didepan laki-laki yang juga sama polosnya dengan dirinya. Matanya yang awas tanpa sengaja melirik sesuatu dalam genggamannya.
"Ahhh ya Tuhan...mas...ke...kenapa sebesar ini?" desisnya entah kaget, bahagia atau ngeri melihat batang dengan ukuran jumbo itu. Perkataan Bella tadi siang kembali menyelinap dalam pikirannya. Jika Nando itu berdarah bule yang pastinya ukurannya akan lebih besar dari produk lokal yang sering dilihat ditempat praktik dan banyak dimiliki para pasien Sofia. Tapi sungguh, sang dokter tidak menyangka milik suaminya akan sebesar dan sekeras itu. Membayangkannya saja sudah membuatnya bergidik ngeri.
"Jangan takut Sofia, dia akan memuaskanmu nantinya. Kau akan sangat ketagihan sayang." bisiknya lagi, lebih erotis dengan memasukkan lidah nakalnya di telinga Sofia dan memutarnya lembut.
"Pe...pelan mas..." rengeknya seraya mengikuti isyarat suaminya untuk melebarkan pahanya. Malu yang tak tertahan membuatnya semakin merona dan Nando sangat suka berlama-lama menatapnya. Sofia terlihat sangat menggemaskan saat demikian.
"Aku tau sayang. Maaf jika sedikit menyakitimu." tak ingin menunggu lama, tongkat sakti itu sudah mulai bergerak menembus kewanitaan sang istri. Percobaan pertama yang gagal, demikian pula usaha keduanya juga berakhir dalam kegagalan. Nando tidak ingin gagal untuk ketiga kalinya. Dengan sepenuh tenaga dia merangsak masuk, menyisakan pekikan sakit Sofia yang dibarengi dengan linangan air mata sang istri yang langsung dia kecup lembut.
"Apa ini sakit?" Sofia mengangguk. Tidak sakit amat sih, tapi terasa nyeri disana. Dia juga menahan tubuh Nando yang akan menyudahi sesi percintaan mereka karena tongkat sakti itu sudah masuk separuhnya. Kepalang tanggung, pikirnya.
Nando yang iba pada sang istri mencoba menagatur ritme permainanya sembari melakukan cumbuan panas agar Sofia kembali terbuai dan melupakan rasa sakitnya. Usaha yang tak sia-sia. Tak berapa lama dia mendengarkan ******* dan reaksi panas dari wanitanya itu, membuatnya makin semangat bergerak dan menjebol pertahanan Sofia yang hanya bisa melengguh nikmat dan menjambak rambutny saat getaran-getaran itu kembali hadir. Orgasme keduanya yang diikuti teriakan tertahan sang suami yang menekan kejantanannya hingga menyetuh dinding rahimnya dan menyemburkan benih cinta dirahimnya.
Nafas keduanya tersengal, menikmati sisa-sisa kenikmatan yang barusan direguk berdua. Nando menjatuhkan tubuhnya disamping istri tercintanya, memeluknya mesra sambil mencium pucuk kepalanya mesra tanpa berniat melepas tautan inti tubunnya yang tetap menegang walau sudah sempat keluar tadi.
"Terimakasih sudah menjaganya untukku sayang." Terlihat sekali senyum puas dibibir tuan muda Hutama itu. Kali ini dia benar-benar menjadi yang pertama dan sangat puas pada jepitan milik Sofia yang memabukkan.
Sofia hanya mengangguk, tubuhnya terasa lemas walau hanya untuk membalas perkataan Fernando. Pria gagah itu dengan lembut menggendongnya kekamar mandi untuk bersih-bersih.