
"Jadi momy akan benar-benar kembali ke London besok?" tanya Nando saat mama Sisc baru saja menutup teleponnya pada Teguh Hutama, sang suami. Sisca yang melihat putra bungsunya menoleh dan lekas menjewer telinganya gemas.
"Lepas mom...sakiittt." rintih Nando tanpa berani melawan mamanya yang berubah galak.
"Suruh siapa kau menguping heehh?? apa mom pernah mengajarkanmu hal memalukan itu?" kata sisca keras. Dia sudah hafal kebiasaan putranya itu dari kecil. Menguping. Betapa memalukannya hal itu. Sisca bahkan sudah berulang kali memperingatkan dan menghukum Nando, tapi nyatanya kebiasaan buruk itu tidak bisa hilang hingga kini.
"Aku tidak sengaja mom." bela Fernando diantara ringisannya. Ingin melepaskan diri, tapi tidak berani. Dia juga heran kenapa ibunya selalu menjewer seperti pada anak kecil. Bukannya dia sudah dewasa dan sebentar lagi menjadi calon ayah?
"Mana Sofia?"
"Tadi dia tidur dikamarnya."
"Apa? tidur dikamarnya?!!!" Nando langsung menutup kedua telinganya karena teriakan kencang macan betina itu membuatnya nyaris tuli seketika.
"Ya. Dia tidak enak badan. Apanya yang salah? mom tidak perlu berteriak seperti tadi." protes Nando. Bukannya diam, sang mama malah terlihat berang.
"Kau bilang akan mencintainya? bagaimana kau bisa mencintai dan menjaganya jika dia tetap tidur dikamar tamu, sedang kau enak-enakan tidur dikamar mewahmu itu. Kau pikir menantuku tamu dirumah ini? kau ini keterlaluan sekali! Kalau kau tak bisa menjaganya biar momymu ini membawanya ke London." Nando hanya diam mendengar ceramah momynya yang makin berapi-api.
"Tidak! Sofia akan tetap disini bersamaku momy. Kau tidak bisa membawanya kemanapun."
"Kalau begitu buktikan ucapan dan janjimu." Belum sempat Nando menjawab, bel berbunyi. Mama Sisca memberi isyarat agar seorang ART membukakan pintu sedang dirinya dan Nando berdiri menanti kedatangan tamu mereka hari ini.
"Kau......" seketika Sisca mengepalkan tangannya erat. Matanya memerah menahan amarah kala dua orang pria beda bangsa masuk ke kediamannya. Senyuman entah apa artinya terbit dibibir pria berkulit putih layaknya dirinya.
"Selamat siang nyonya besar Hutama...senang melihat anda dalam kondisi sehat. Padahal sejujurnya saya menginginkan keadaan yang kontras saat berjumpa dengan anda." sapa sang pria seraya mengulurkan tangan, tapi Sisca mengacuhkannya hingga tangan itu tetap menggantung ke udara sebelum ditarik lirih pemiliknya.
"Untuk apa kalian kemari manusia durjana?" tanyanya tanpa ekspresi.
"Tenanglah nyonya..anda sudah tua, jika selalu cepat marah dan emosian saya tidak yakin perempuan tua seperti anda bisa bertahan hidup lebih lama." sinis sang pria kemudian.
"Dan aku juga tidak yakin kau bisa keluar dengan selamat dari kediaman Hutama jika sekali lagi kau menghina pemilknya Andreas Marseden." ketus Nando seraya berdiri sejajar dengan mamanya yang memang terlihat sangat emosi karena kehadiran Andreas yang tiba-tiba. Bayangan kejadian bertahun lalu kembali menorehkan luka pada hatinya yang sama terlukanya dengan sang putra. Karena kelaurga Marsedenlah keluarganya nyaris kehiangan nama baik.
"Begitukah? ha...haa...ternyata kau dan ibumu paket sepadan Fernando. "
"hmmmm...ada apa kalian kemari?"
"Tamu hanya orang yang kami anggap baik, sedang kau...Hutama tidak suka menyambut musuh yang serupa dengan musang berbulu babi."
''Babi? sejak kapan peribahasa itu berubah tuan Fernando?"
"Aku tak suka membahas masalah babi dengan manusia berotak babi."
"Bagaimanapun kau pernah menjadi adik iparku tuan muda." kali ini Nando benar-benar dibuat emosi dengan tawa sumbang yang sangat mengejek dari Andreas.
"Itu dulu...sebelum aku tau jika yang kunikahi bukan manusia, tapi binatang!" Nando yang sudah dilingkupi emosi bergerak mencengkeram krah baju Andreas dan memberinya sebuah pukulan kuat hingga hidungnya berdarah. Tak sulit baginya menghajar manusia setan didepannya itu, apalagi menghabisinya.
"Mas..lepaskan!" entah darimana datangnya, tangan lembut Sofia sudah memeluk lengannya yang akan memukul Andreas lagi dan lagi. Suara merdu itu membuatnya melemah dan melepaskan Andreas begitu saja.
"Jangan kotori tanganmu dengan menyentuh sampah." katanya lembut. Sontak saja Andreas terkejut mendengar perkataan Sofia yang walau lembut tapi begitu menyakitkan. Apa dia bilang tadi? sampah? suatu penghinaan terbesar saat pewaris tunggal kekayaan Marseden disebut sampah oleh seorang wanita. Kali ini Andreas mengatupkan giginya hingga bergemletuk menahan amarah.
"Berarti kau juga menikah dengan tempat sampah karena dia juga pernah tergila-gila dan meniduri Emma dokter." katanya memamerkan seringai licik yang juga terlihat mencemooh.
"Begitukah? bukannya tempat sampah itu lebih terhormat tuan Andreas? Dia bahkan mau menampung sampah tak berguna dan membiarkan dia mejadi kotor, tapi apa kau ingat...saat dibersihkan dengan sabun dia akan tetap bersih dan dibutuhkan banyak orang. Jadi intinya aku tidak menyesal menikahi sebuah tempat sampah karena aku juga yang akan mencucinya dari debu dan sampah dunia macam kalian."
"Kau terlalu percaya diri dokter. Suami yang kau banggakan itu bahkan tidak pernah mencintaimu karena hanya Emma, Emma dan Emma yang ada dihatinya. Kau sama sekali tak punya tempat disana kau tau kenapa? karena dia sudah berjanji pada Emmaku untuk selalu mencintainya meski dalam wujud Elle sekalipun. Bocah itu nanti yang akan dinikahinya jika dewasa karena dia adalah perwujutan Emma." hampir saja Fernando melepaskan pukulan susulan pada Andreas jika Sofia tidak mencegahnya. Sesaat Nando menangkap mendung diwajah itu.
"Kau gila!!" teriak Sisca shock. Andreas menyeringai.
"Kau harus tau itu wanita tua. Anakmu adalah pedhofilia terbaik yang bersembunyi dalam kedok seorang ayah.Itu pula alasannya tidak mau menyerahkan Elle padaku."
"Apa itu alasanmu datang kemari tuan Andreas? jika iya maka aku sebagai nyonya muda Hutama akan memberikan jawabannya. Baik aku ataupun suamiku tidak akan pernah menyerahkan Elle pada kalian. Jangan kau pikir aku tidak tau ada hubungan incest diantara keluarga kalian. Kami kelaurga normal yang tau adab. Bukan keluarga jahanam semacam kalian." teriak sofia akhirnya. Lama-lama dia muak melihat wajah Andreas yang menyebalkan. Pantas saja Fernando geram karenanya.
"Tutup mulutmu Sofia!" hampir saja sebuah tamparan melayang ke pipi mulus Sofia jika Nando tak segera menghentikan tangan Andreas dan memelintirnya hingga terendar bunyi patah. Ya ...Nando sudah mematahkan tangannya dengan sadis lalu menginjak kakinya tanpa perasaan pula. Sudah cukup dia bersabar dari tadi.
"Pengawal...keluarkan sampah ini dari rumahku!!!" teriaknya memberi perintah. Tanpa menyuruh dua kali, dua orang bertubuh tegap menyeret keduanya keluar.
"Aku akan membuatmu membusuk dipenjara Fernando keparat!!!" teriak Andreas penuh dendam. Namun Nando tak menghiraukannya sama sekali.