Dear Husband

Dear Husband
Mencari tau



Sumpah serapah keluar dari bibir Clara yang mencoba berdiri dari jatuhnya. Berkali-kali dia berteriak meminta pertolongan dari para pelayan dan pengawal disana, namun tak satupun yang mau mendekat dan membantunya. Hal yang paling membuatnya geram adalah Fernando yang malah pergi meninggalkannya dan masuk ke ruang kerjanya lalu mengurung diri disana. Tak ada satu orangpun yang berani menganggu pria itu jika sudah masuk kesana kecuali sekretaris Alex, itupun harus atas ijin Fernando lebih dulu. Clara hanya berteriak kesal lalu berdiri tertatih. Beberapa pelayan turun mengusung koper dan peralatan yang dibawanya ke kamar tamu diruangan depan.


"Hei...lepaskan barang-barangku. Kembalikan ke tempatnya! awas kalian!" teriaknya seperti kesetanan, namum sayangngnya sama sekali tidak diindahkan oleh siapapun.


"Bicara saja pada nyonya kami. Kami hanya menjalankan perintah." Bik Mimi tersenyum menang dan melewati wanita itu. Mau tidak mau Clara mengikuti mereka menuju kamar tamu karena lhawatir jika barang-barangnya hilang. Wanita itu begitu kesal hingga menghentak-hentakkan kakinya.


Sofia yang geram masuk ke kamar utama dan membersihkannya. Dia juga mengganti semua gorden dan barang-barang disana dengan yang baru, menuangkan karbol anti desinfektan dan mengepelnya hingga bersih, mengelap semua kaca dan membersihkan seluruh ruangan. Bau khas karbol wangi menyapu setiap sudut ruangan, menggantikan aroma parfum wanita yang tiba-tiba membuat perutnya mual. Sofia benar-benar mensterilkan kamar itu secara instan.


"Dimana tuan Fernando?" Maria yang baru selesai menata ruangan menoleh pada sang nyonya.


"Tuan ada diruang kerjanya nyonya."


"Lalu Elle?"


"Nona kecil ada dikamarnya nyonya. Dari kemarin dia demam. Nona Clara sudah membohongi tuan dan berkata padanya jika nona kecil baru diperiksa dokter. Padahal dia melarang dokter datang kesini." Adu Maria setengah berbisik karena takut.


"Berani sekali dia menyakiti anakku." geram Sofia sambil berjalan cepat ke kamar Elle yang bersebelahan dengan kamarnya. Maria mengikutinya dari belakang.


"Mamaaaaaaaaa!!!" Elle yang baru membuka mata berteriak senang dan mencoba bangun dari tidurannya. Namun badannya terasa lemah dan hanya bisa pasrah ditempatnya. Sofia segera menghampirinya, mereka berpelukan lama. Ada yang berbunga dihati Sofia. Rindu pada Elle bahkan membuatnya tak kuasa menahan air mata.


"Jangan menangis mama." bocah kecil itu mengelap air mata yang membasahi pipinya. Sofia mencium keningnya dengan perasaan campur aduk.


"Mama periksa keadaan kamu dulu ya sayang?" Elle mengangguk dan kembali berbaring.


"Sejak kapan dia panas Maria?"


"Dua hari lalu nyonya."


"Sudah minum obat apa?”


" Hanya paracetamol. Nona Clara tak memperbolehkan kami keluar membeli obat." Tanpa banyak bicara Sofia menuliskan resep dan menyerahkannya pada Maria. Dia juga memberikan beberapa lembar uang padanya agar membelikannya diapotik terdekat. Elle butuh perawatan intensif karena dehidrasi. Maria segera pergi diantar sopir sedang Sofia pergi ke dapur untuk membuatkan Elle minuman manis. Anak itu terlihat sangat lemas. Sofia terpaksa memberikan suntikan padanya.


"Ada yang bisa saya bantu nyonya?" tanya bi Mimi yang masih berkutat di dapur.


"hmmm iya bik. Tolong buatkan bubur ayam untuk Elle ya. Porsi kecil saja." kata Sofia sambil membuatkan minuman Elle. Bik Mimi segera melakukan perintah sang nyonya.


"Lho bik...ini kenapa kulkas kosong?" Sofia yang biasa melihat isi kulkas yang selalu penuh bahan makanan menjadi kosong melompong menjadi heran. Tidak biasanya rumah besar ini kekurangan stok makanan.


"Itu...anu.."


"Katakan yang sebenarnya bibi." tekan Sofia. Dia melihat keraguan diwajah bi Mimi, sepertinya wanita itu enggan bercerita.


"Lalu uang itu dikemanakan?"


"Untuk...untuk hura-hura dengan teman-temannya nyonya. Dia juga sering mengadakan pesta dirumah saat tuan muda tidak ada."


"Lalu bagaimana dengan makan kalian semua sehari-hari?"


"Kami...kami patungan untuk makan nyonya." Bi Mimi menundukkan wajahnya, takut. Bisa habis dia kalau Clara tau dia sudah mengadu pada Sofia. Namun jauh dilubuk hati wanita itu, dia sangat percaya jika sang nyonya akan melindungi mereka semua dan menyelamatkan mereka dari pemecatan.


"Bi Lani, tolong saya untuk memberikan ini pada Elle ya. Usahakan dia meminumnya. Temani dia sampai Maria datang. Saya akan menemui tuan Nando dulu."


"Baik nyonya. Tapi tuan sedang ada diruang kerjanya. Dia tidak bisa diganggu nyonya." balas Bi Lani dengan wajah khawatir. Dia takut sang nyonya mendapat murka dari tuan mudanya.


"Mas Nando harus terbiasa dengan sikap saya bik." Sofia melenggang pergi ke ruang kerja suaminya.


Beberapa kali mengetuk pintu, namun tak ada sahutan sama sekali. Sofia yang bertambah kesal menggedor pintu itu lebih keras hingga jadi pusat perhatian para pelayan. Mereka menatapnya dengan was-was. Pintu terbuka, menampilkan wajah Fernando yang terlihat marah.


"Berani sekali kau mengangguku!" teriaknya dengan kemarahan tak terkendali. Para pelayan sampai berdiri dengan lutut gemetaran atas aksi nekat Sofia yang walau sudah diperingatkan namun tetap nekat menemui Fernando.


"Kita harus bicara mas." Rahang Fernando mengeras. Giginya bergemletuk menehan marah.


"Tunggu aku selesai bekerja." bentaknya lagi. Bukannya mundur, Sofia malah merangsak masuk menerobo tubuh kekar Nando yang menghalangi pintu. Pria itu terlihat begitu emosi karenanya. Dia melempar pintu hingga tertutup dan menimbulkan suara keras.


"katakan!"


"Aku mau uang!" ucap Sofia tanpa basa-basi. Nando tertawa sumbang.


"Uang? kau mulai tau diman posisimu dan meminta uang padaku. Hebat....orang-orang seperti kalian memang pandai melihat situasi. Oke...ambil berapapun yang kau mau. Kartu yang kuberikan isinya lebih dari cukup untukmu mencukupi keluargamu dikampung sana." katanya dengan nada mengejek. Sofia meradang. Wanita itu maju satu langkah menantang Fernando dengan wajah tengadah.


"Keluargaku bukan pengemis tuan muda. Mulai sekarang hentikan semua dana yang kau kucurkan untuk mereka karena mereka semua tak butuh itu darimu. Dan ya..,berikan aku lima puluh juta cash sekarang juga." Dahi Nando berkerut. Tinggal beberapa bulan dengan Sofia sudah membuatnya hafal kebiasaan dan tingkah laku istrinya itu. Dia wanita yang sangat hemat dan cermat mengatur keuangan. Bukan tipe Sofia juga meminta uang darinya apalagi mendadak seperti sekarang. Bukan masalah nominalnya, tapi lebih pada perubahan pada wanitanya yang jangankan minta uang, memakai kartu kredit yang diberikannya saja tidak pernah kecuali atas paksaan adiknya tempo hari.


"Untuk apa?"


"Membeli persediaan makanan dan mengganti uang para pengawal dan pelayan yang terpaksa patungan makan hanya karena uang belanja dirampas oleh kekasih tak tau malumu itu." jawab Sofia berapi-api. Wajah dingin Nando berlahan mencair.


"Apa kau cemburu?" tanyanya penuh penekanan.


"Untuk apa aku cemburu? jangan bersikap seolah kita pasangan yang saling mencintai. Lagi pula aku bukan saingan yang sepadan dengannya. Kau bebas menjalin hubungan dengan siapapun yang kau mau karena aku hanya istri formalitas bagimu tuan muda." Fernando meradang. Dalam sekali sentak ditariknya tubuh Sofia hingga tak berjarak dengannya. Bibirnya meraup bibir Sofia kasar. Ada kemarahan disana hingga membuat ciuman itu begitu liar dan menuntut. Nando baru melepasnya saat Sofia benar-benar kehabisan nafas dan memukul dadanya kuat.


"Jangan pernah berkata tentang istri formalitas didepanku Sofia. Aku tidak suka itu. Kau istriku, dan aku tidak akan pernah menghianatimu." Sofia masih terpana dalam diam sembari mengusap bibirnya yang membengkak dengan wajah bersemu merah. Ini ciuman mereka yang kesekian kalinya. Tapi kenapa dia masih merasa canggung dan malu?