
Elle mengenggam erat tangan Sofia yang duduk disampingnya.Sedangkan disisi yang lain sang papa sibuk menelepon relasi bisnisnya.Dengan sangat hati-hati gadis kecil itu menyandarkan kepalanya di lengan Sofia.Sontak Sofia membawanya kedalam pelukannya dan mengelus rambut sebahunya yang diberi bando hello kitty,kartun kesayanganya.
"Elle mengantuk?" tanya Sofia lembut.
"Elle kangen mama."
"Sekarangkan mama sudah bersama Elle lagi sayang." Elle hanya diam.Tapi senyum diwajahnya tetap terkembang.
"Elle ingin selamanya mama baik dan lembut seperti sekarang ma.Elle takut kalau mama marah-marah dan tidak mau mengakuiku seperti dulu.Sekarang Elle sudah tidak bisa melihat lagi,Elle takut mama malu punya anak sepertiku.Padahal Elle sangat sayang mama." hati Sofia seperti tercubit.Seperti apa sebenarnya ibu kandung Elle.Kenapa dia setega itu pada putri kecilnya?
"Sayang maafkan mama ya.Apapun yang terjadi di masa lalu...mama minta maaf.Sebagai gantinya,mama janji akan selalu bersikap baik pada Elle.Mama akan menjaga Elle."
"Tapi Elle buta ma.Apa kata teman-teman mama nanti?"
"Elle dengarkan mama..mama tidak butuh perkataan dan pendapat orang lain.Mama hanya ingin Elle bahagia untuk menebus semua kesalahan mama yang dulu.Dan tentang masalah mata,papa dan mama akan segera mencarikan donor mata untuk Elle agar bisa melihat lagi.Jadi jangan sedih ya..putri mama harus selalu tersenyum dan bahagia." Helena kecil bergerak cepat memeluk tubuh Sofia dan menangis haru dipelukannya.
"lho..kok malah nangis?Elle kan sudah janji pada mama untuk selalu tersenyum?"
"Elle bersyukur buta seperti sekarang ma.Walau tidak bisa melihat,Elle bisa merasakan kasih sayang yang tidak Elle dapatkan saat Elle bisa melihat dulu."
"Elle,jangan bicara begitu nak...bisa melihat atau tidak,mama akan selalu menyayangi Elle.Jadi mulai sekarang Elle harus banyak berdoa agar bisa melihat lagi ya." gadis kecil itu mengangguk namun tetap mengeratkan pelukannya di tubuh Sofia.Wanita muda itu membalasnya sambil sesekali menyusut air mata yang jatuh dipipinya.Sisi hatinya begitu tersentuh.Bagaiman bisa anak usia taman kanak-kanak berkata seperti itu,juga berpikir terlalu dewasa diusianya yang seharusnya bahagia bersama teman-teman sepermainana atau keluarganya.Bagaimana putri keluarga konglomerat seperti keluarga Hutama punya cucu yang hidup sangat memprihatinkan?
Disisi yang lain,diam-diam Nando menyimak obrolan dua wanita beda generasi tersebut.Ada yang terasa sakit dihatinya.Dia bisa memberikan kelebihan materi pada putri semata wayangnya,tapi tidak kasih sayang orang tua padanya.Dia dan Emma sama-sama sibuk diluar rumah.
Sudut bibir Nando terangkat saat melihat keduanya berpelukan erat.Andai Emma seperti Sofia,pasti Elle akan sangat bahagia.Namun jika Ella bahagia bersama Emma,bukankah sulit baginya untuk membuat gadis kecilnya itu hidup tanpa mamanya.Tuhan memang sudah menata segal hal dengan sangat tepat.Dia yang maha kuasa, menciptakan,menulis takdir dan membolak-balikkan hati manusia.
Pintu gerbang terbuka saat Alex membunyikan klaksonnya.Mobil terus berjalan membelah halaman luas khas kediaman orang kaya lalu berhenti di depan teras mewah.Dua orang pembantu rumah tangga menyambut kedatangan mereka lalu serentak memberi hormat saat Nando turun terlebih dulu.
"Kita sudah sampai sayang,ayo turun." bisik Sofia sambil membantu menegakkan tubuh mungil Elle.
"Benarkah?aku sangat kangen rumah dan kamarku mama." pekik Elle girang.Segera dia meraba-raba sekitarnya,berusaha cepat menemukan pintu masuk rumahnya.Sofia mengenggam tangannya lalu menuntunnya masuk.
"Baiklah Elle,ayo masuk." semua pelayan memberi hormat dibalas senyum kikuk Sofia yang tidak terbiasa dengan pola hidup kalangan atas.
"dimana Maria ma?" tanya Elle antusias.Sofia menghentikan langkahnya lalu berlutut agar tingginya sejajar dengan tubuh mungil Elle.Dia membelai kepalanya lembut.
"Bukanya mama sendiri yang bilang kalau kita boleh memanggil pekerja rumah kita dengan namanya saja?" Sofia terhenyak.Kenapa Emma malah mengajarkan hal yang tidak baik pada putrinya?seperti apa ibu Elle itu sebenarnya?Sejurus kemudian Sofia tersadar dari lamunanya dan tersenyum.
"Mulai sekarang jangan melakukannya lagi Elle.Panggil dia mbak Maria ya.Pada yang lain juga,panggil bibi atau mbak saja." ujar Sofia lembut namun langsung diangguki oleh Elle.
"Gadis pintar."
"Ma,mana mbak Maria?aku ingin mandi bersamanya."
"kenapa mesti dengan mbak Maria?mandinya sama mama saja sayang."
"ma...ma....mau mandiin Elle?" tanyanya ragu.
"ya.apa Elle keberatan?" seketika gadis kecil itu tertawa riang.
"Tentu tidak ma,terimakasih sudah mau memandikan aku." Sofia tersentuh.Elle benar-benar merindukan kasih sayang seorang ibu.
"mari saya antar ke kamar non." ajak Maria.Sofia mengangguk,kembali menggandeng tangan mungil Elle agar mengikutinya menaiki tangga dan menuju kamarnya yang ternyata bersebelahan dengan kamar Nando,namun dibatasi ruang kerja sang papa.
Semuanya tak luput dari perhatian Fernando yang tiba-tiba merasakan hatinya menghangat saat melihat kedektan mereka berdua.Dia yang merasa lelah mengikuti mereka naik ke tangga dan memasuki kamarnya sendiri agar bisa cepat membersihkan dirinya.
Pintu kamar diketuk sesaat setelah Nando berpakaian.Bergegas dia menuju pintu dan membukanya.
"Kau tidak perlu mengetuk pintu seperti pelayan Sofia.Ini kamarmu juga.Kau sungguh meepotkan," kata Nando meggerutu.Dia lalu berbalik dan mendudukkan dirinya di sofa.
"Kau hanya tingga bilang 'masuk' maka aku akan membuka pintunya sendiri tanpa merepotkanmu tuan Fernando." balas Sofia tegas.Nando terkekeh mendengarnya.
"kau pikir semudah itu Sofia?berteriak sampai matipun kau tidak akan mendengarnya,karena kamar ini kedap suara.Hanya pelayan dan pekerja rumah saja yang akan mengetuk pintu kamarku.Bukan kau dan Elle." jawabnya lugas.Sofia lagi-lagi melongo.Apa orang kaya memang begitu?terlalu banyak uang hingga kamarpun dibuat kedap suara.Benar-benar menakjubkan.
"Baiklah,terserah kau saja." balas Sofia,berlalu ke kamar mandi setelah lebih dulu mengambil pakaian ganti.Dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali.
Hanya beberapa menit saja,Sofia sudah menyelesikan mandinya.Dengan mengenakan dress selututnya dan mengikat rambutnya asal dia keluar dari kamar mandi.Tanpa melihat ke arah Nando,Sofia menuju meja rias dan merapikan penampilannya.
Nando yang sibuk dengan ponselnya mengangkat kepalanya saat mencium aroma mawar yang menggoda indra penciumannya.Bersamaan dengan itu,Sofia secara tidak sengaja juga meliriknya dari pantulan cermin di depannya.Mata mereka bertemu.