
Rosa menepati janjinya menjemput Sofia. Seminggu telah berlalu namun sahabatnya itu tetap mengantar jemput dirinya walau Sofia sudah beberapa kali menolak karena merasa sungkan. Apalagi Rosa dalam keadaan hamil triwulan pertama. Dia juga sering lemas dan mual berlebihan karena selalu memuntahkan makanannya. Tapi moodnya selalu berubah lebih baik saat bertemu Sofia. Tak jarang mereka mampir ketempat-tempat ramai untuk sekedar makan, nonton atau jalan-jalan saja. Menghilangkan jenuh dan stress yang menumpuk memang kadang kala membutuhkan suasana ramai agar kita tidak merasa sendirian.
Mendung hitam yang bergelayut dilangit senja seiring dengan hujan yang turun makin deras membasahi bumi. Sofia masih termangu di teras depan kampus fakultas kedokteran. Sejam lalu Rosa sudah ijin pulang lebih dulu karena kelelahan dan hampir pingsan hingga terpaksa dijemput oleh suaminya. Bisa dibilang dia tipe bumil yang cukup bandel hingga cukup menyusahkan orang-orang disekitarnya, termasuk sang suami. Dia juga masih sempat mengirim pesan berisi permintaan maaf pada Sofia karena tidak bisa mengantar pulang. Sofia sudah mengatakan jika dia bisa pulang sendiri dan baik-baik saja, tapi Rosa tetap menganggapnya anak kecil yang harus diperhatikan ekstra padahal dia sendiri butuh perhatian. Dia juga yang memaksa suaminya untuk minta tolong pada Shandy untuk mengantar Sofia pulang.
"Ayo!" Suara maskulin Shandy membuyarkan lamunannya. Pria tegap berambut cepak itu mengulurkan payung pada Sofia yang masih termangu menatapnya. Merasa tak ada respon, dia merentangkannya lalu berjalan lebih dulu.
"Anda mau ikut atau tetap disini?" tanyanya lagi.
"ehmmm pak...maaf, bapak duluan saja. Saya bisa pulang sendiri." kata Sofia tak enak hati. Bagaimanapun dia pria bersuami. Berdiri berhimpitan dalam satu payung bersama lelaki lain tentu tidak dibenarkan.
"Saya sudah terlajur janji pada Arga untuk mengantarmu pulang. Pantang bagi seorang prajurit untuk mengingkari janji. Apa saya terlihat sebagai seorang pria jahat?"
"Bukan begitu tapi..."
" Hari semakin gelap. Kampus sudah sepi. Mau pulang atau tidak?" Sofia mengedarkan pandangan berkeliling. Pria didepannya benar, dalam keadaan seperti ini kampus terlihat mencekam. Dia juga tidak mungkin terus bertahan disana. Memesan ojek online juga tidak mungkin.
"Hmmm baiklah. Mari." Sofia merapatkan tubuhnya agar tidak terkena hujan lalu mereka berjalan ke parkiran yang tak jauh dari sana. Jangankan memandang Shandy, melihat kedepan saja Sofia tak berani. Dia malah sibuk menundukkan kepalanya. Malu.
"Selamat sore nyonya." Hampir saja Sofia berjingkat. Kepalanya spontan mendogak,netra coklatnya menangkap sesosok pria berjas hitam bertubuh tegap berdiri membawa sebuah payung hitam ditangannya. Dikanan kirinya, dua pria berdandanan mirip dirinya juga berdiri menjulang disana.
"Sekretaris Alex? kenapa anda disini?”
" Tuan menyuruh saya menjemput anda." Setelah memberi hormat pria itu menjawab.
"Maaf, saya masih sibuk sekarang. Katakan pada tuan, saya belum bisa pulang." tegas Sofia. Dia sudah bertekad untuk tidak pulang terlebih dahulu. Dia belum siap bertemu Fernando.
"Tapi ini perintah nyonya. Anda harus ikut kami baik anda setuju atau tidak."
"Saya bilang, saya tidak mau!"
"Jangan membuat kami bertindak tidak sopan nyonya."
"Hentikan! dia akan pulang bersama saya." Sofia melirik wajah dingin Shandy yang berdiri disebelahnya. Pria itu berkata sangat lantang dan langsung membuka pintu mobil, menyuruh Sofia masuk.
"Saya asisten suaminya pak. Harap anda tau itu." Alex masih kukuh menjalankan perintah sang tuan.
"Anda dengar sendiri jika dia tidak mau. Jangan halangi saya atau anda akan berurusan dengan hukum nantinya. Posisi anda dan saya sama tuan. Hanya menjalankan perintah. Saya tidak akan mengalah kecuali suaminya sendiri yang datang menjemputnya." Alex terdiam. Dia tau pria di depannya ini bukan lelaki sembarangan. Mengalah lebih baik dari pada membuat keributan.
"Baiklah. Tuan saya sendiri yang akan menjemputnya nanti." Tak ada sahutan. Shandy bersikap tidak peduli dan bergegas memutari mobil dan naik keruang kemudi, menjalankan mobilnya pelan keluar dari area kampus.
"Maafkan atas kejadian tadi pak Shandy." Sofia meremas kedua tangannya, merasa gugup. Entah sejak kapan di begitu salah tingkah jika berada di dekat Shandy.
"Ya."
"Apa hubungan anda dengan tuan Hutama?"
"Anda tau dari mana?” Shandy terkekeh. Lalu menoleh sekilas pada Sofia.
" Alex adalah sekretaris sekaligus kepala bodyguard keluarga Hutama. Saya tau pasti itu." Siapa yang tak kenal Alex. Kiprah pria itu dalam dunia bodyaguard dan pengawalan benar-benar cemerlang. Apalagi yang dia kawal adalah konglomerat ternama. Tentu saja Shandy tau karena Alexlah yang menyelesaikan tiap masalah yang menyangkut hukum bagi keluarga Hutama.
"Saya .....saya menantu tuan Hutama." kelu. Leher Sofia terasa tercekat karena mengatakannya. Menantu? bahkan dia tak punya bukti pernikahannya dengan Fernando ditambah tak ada orang yang tau tentang pernikahan dadakan mereka.
"Anda istri tuan Fernando?"
"ya." hanya jawaban-jawaban pendek yang bisa dia katakan. Lagi-lagi lidahnya kelu. Satu yang pasti, dia ingin segera sampai kerumah dan menghilang dari hadapan pria bermata teduh itu.
"Anda kenal suami saya pak Yusuf?"
"Hanya sekedar tau saja. Apa keluarga Hutama sekejam itu hingga membiarkan menantunya hidup sendiran di dunia luar?" senyum sinis menghiasi bibir tipis itu.
"Bukan...bukan begitu."
"Apanya yang bukan begitu? bukti kongkrit sudah ada. Berapa lama anda bertugas di daerah lalu pindah kerumah dokter Maya? sama sekali bukan sifat keluarga Hutama. Kecuali..." Shandy menggantun kalimatnya seraya melirik Sofia yang duduk resah disebelahnya, menunggu kalimatnya yang terjeda.
"Apa maksud anda pak? kecuali apa?"
"Kecuali jika anda adalah menantu yang tidak diharapkan atau hanya diatas kertas saja." Seketika wajah Sofia merah padam. Meski yang dikatakan Shandy adalah sebuah kebenaran yang nyata, namun ego dan harga dirinya seakan terinjak.
"Jangan bersikap seolah anda tau segalanya pak Yusuf. Saya istri sah Fernando satria hutama. Semua yang anda katakan tidak benar sama sekali."
"Benarkah? tapi setahu saya, keluarga Hutama adalah keluarga posesif yang tidak ingin menantunya bekerja diluar rumah karena citra dan nama baik mereka yang dipertaruhkan. Maaf jika saya salah. Syukurlah jika semua sudah banyak berubah." suara pria itu melemah, seperti ada luka yang tersembunyi disana. Berlahan juga Sofia menarik nafas. Dia terlalu terbawa emosi karena termakan perkataan Shandy tadi. Tak sopan rasanya dia berkata dengan nada tinggi seperti tadi. Bagaimanpun Shandy adalah dosennya dikampus.
"Maaf." Shandy menoleh sekilas. Senyum tipis terulas dibibirnya.
"Never mind." Shandy menghentikan mobilnya di depan rumah Maya yang ditempati Sofia. Tak terasa mereka sudah sampai. Dokter cantik itu berterimakasih dan berbasa-basi sebentar lalu turun. Dia mencium bau yang sangat familiar saat akan menutup pintu mobil. Ekor matanya juga menangkap sebuah payung besar yang melindunginya dari hujan yang masih turun walau tak sederas tadi. Dia akan berbalik saat tubuh semampainya menabrak dada seseorang.
"m...mmm..mas Nando." desisnya pelan.
"hmmmm....sudah cukup main-mainnya, pulang sekarang!" ekspresi datar dan aura dingin yang keluar dari Fernando mau tak mau membuat Sofia sedikit berdebar takut. Pria itu dengan cepat menutup pintu mobil dan menarik Sofia dalam pelukannya.