
Rumah sakit besar milik pemerintah yang dimasuki Sofia terlihat ramai. Banyak orang berlalu - lalang disana. Langkah Sofia berhenti di depan ruang kepegawaian untuk melaporkan lebih dulu kedatangannya dan mencari tau posisinya saat ini disana.
Sofia disambut wajah - wajah bersahabat dan diarahkan ke poli umum, karena mulai hari ini dia akan bertugas disana dari pagi hingga jam pelayanan tutup sesuai jadwal.
Sama seperti tadi, Sofia juga disambut baik dan ramah oleh seisi poli yang tengah bersiap untuk memeriksa pasien pertama mereka. Melihat reaksi mereka membuat Sofia tau jika kedatangannya memang sudah diinfokan dari awal.
" Selamat pagi dokter, saya Ina yang akan membantu anda." ujar seorang perawat cantik dengan rambut pendek yang memberi kesan fresh diwajahnya yang putih. Bergantian dua perawat yang ada disana memperkenalkan diri mereka. Setelah cukup berbasa - basi, Sofia segera mengarahkan mereka membuka poli agar bisa segera memberikan pelayanan pada para pasien yang sudah mengantri sedari tadi diluar ruangan.
Beberapa pasien sudah ditangani saat ponsel Sofia bergetar. Matanya mengerjap saat membaca nama yang tertera disana.
"My beloved husband." desisnya tidak percaya. Ada foto Fernando dengan pose duduk serius dibelakang meja kerjanya dengan pandangan tajam disana.
" Suaminya ya dok? kok nggak diangkat sih dok?" tanya seorang perawat yang tiba-tiba muncul dibelakangnya dan mencuri pandang dari sana. Sofia terkaget karenanya. Dia terlalu banyak berpikir dalam gamang hingga tidak menyadari kedatangan perawat tadi.
" ehhh iya sus." jawabnya singkat tanpa berniat menjawab panggilan itu.
'ting' suara pesan masuk menggantikan suara panggilan diaplikasi warna hijau tersebut.
'pulang jam berapa?'
Nando mengirimkan pesan.
'jam 1 nanti.' Balas Sofia singkat. Tak ada lagi balasan.Hanya centang biru disana yang membuatnya tau jika Nando sudah membaca pesannya. Sofia memutuskan meletakkan ponselnya di meja dan meneruskan pekerjaannya.
Setengah hari berlalu. Sofia meregangkan ototnya untuk mengurangi rasa lelah begitu pasien terakhir berhasil ditangani.Poli tempatnya bekerja terlihat lengang setelah tadi terlihat menumpuk karena hari senin memang hari melelahkan. Pengalamannya menjadi dokter di ICU rumah sakit dahulu memang sediki berguna saat ini karena dia dituntut bekerja dengan cepat. Beberapa tahun menjadi kepala puskesmas didaerahnya dulu juga membawa pengaruh baik,dengan begitu dia bisa bersikap sopan dan mendengarkan keluh kesah pasiennya. Kembali dia memeriksa ponselnya untuk mengecek pesan masuk dan membuka sebentar jejering sosial miliknya.
" Dokter, kami permisi dulu ya. Sampai jumpa besok." pamit Ina yang melenggang lebih dulu diikuti rekanya setelah usai merapikan berkas pasien di rak kiri. Sofia mengangguk seraya tersenyum tanda mengiyakan.
Ponselnya bergetar.......
'my beloved husband calling.’ Kali ini dia tidak punya alasan lain selain mengangkatnya.Berpura-pura sibuk tentu tidak bisa dia lakukan karena sudah terlanjur memberi tau Nando jadwal berakhirnya waktu praktinknya. Itu sama saja dengan membodohi Nando. Akibatnya bisa lebih fatal nantinya.
" Hallo asalamualaikum." sapanya lembut,
" Walaikumsalam.Aku menunggumu di t empat parkir." Suara bariton di ujung sana lebih dulu menjawab cepat sebelum waktunya,lalu langsung mematikan panggilannya tanpa berkata apa-apa lagi.Sofia menggelengkan kepalanya tidak percaya. Apa Fernando itu pria kurang kerjaan yang hanya mengantar jemput istrinya yang pergi bekerja?
Sofia bergegas mengambil tas kerjanya lalu menuju parkiran. Dia tidak ingin berdebat lagi dengan Nando karena dia tau itu hanya akan merusak moodnya yang sudah tertata apik dalam pikirannya. Langkahnya terhenti begitu melihat tubuh Alex yang berdiri mematung dipintu keluar, menunggunya.
" Selamat siang nyonya. Tuan sudah menunggu anda di mobil." ucapnya seraya menundukkan kepalanya hormat. Postur Alex yang tinggi besar dengan tampilan perlente dan wajah lumayan tampan menyita perhatian banyak orang yang ada disekeliling mereka. Apalagi sikap Alex yang penuh hormat pada Sofia saat itu, membuat mereka bertanya-tanya, siapa wanita yang ada di depan tangan kanan sang CEO muda kerajaan bisnia Hutama tersebut.
"Silahkan nyonya." Alex membuka pintu mobil. Sofia menarik nafas panjang saat melihat Nando sudah duduk manis disana. Dia bergegas masuk dan menempati kursi kosong disamping suami anehnya.
"Seharusnya kau tidak usah repot-repot menjemputku tuan muda." katanya lemah. Nando melengos.
"Aku melakukannya demi Elle, jadi sebaiknya kau buang jauh-jauh rasa besar kepalamu itu. Kalau aku tidak menjemputmu, bagaimana kau bisa memenuhi janjimu untuk membelikannya martabak? yang ada kau malah akan mengecewakan dirinya."
"Siapa yang besar kepala? bukanya tadi pagi kau bilang agar aku menyuruh sopir saja? apa kau lupa tuan muda? dan lagi aku bukan anak kecil yang tidak mengerti arahkan?kau tinggal memberikan alamatnya dan aku akan mencari tempatnya." sarkas Sofia tidak terima.
"Tidak. Aku ingat apapun yang kukatakan Sofia. Apa ada larangan bagiku untuk datang menjemputmu?" Nando balik bertanya dengan wajah datar yang membuat Sofia jengah karena sorot mata elang itu serasa mengintimidasi dirinya.
"Terserah kau saja." pungkas Sofia kemudian. Lagi-lagi dia tidak ingin membuang tenaga sia-sia hanya untuk berdebat tentang hal yang tidak perlu.
"Jalan Lex." Perintah Nando kemudian. Alex mulai menjalankan mobilnya berlahan meninggalkan area parkir rumah sakit itu.
Tepat dipertigaan besar, mobil berhenti di kios besar yang menjual aneka martabak dan terang bulan. Suasana terlihat ramai karena banyak pengunjung yang sengaja makan sambil minum kopi atau sekedar menenggak soft drink di ruko yang dibentuk seperti kafe itu.
"Cepatlah!" kali ini Sofia menurut. Tanpa kata dia mengikuti langkah sang suami.
"Sudah berapa kali kubilang, berjalanlah disampingku dan tegakkan kepalamu Sofia! kau nyonya muda Hutama, jangan bersikap seperti pembantu." hardik Nando. Merasa tersinggung, Sofia nekat menggandeng lengan Nando setengah menariknya masuk. Tuan muda Hutama itu terkesiap. Tidak biasanya dia diam saat ada orang yang menyentuh tubuhnya, siapapun orangnya. Tapi kali ini dia hanya diam bagai kucing kecil yang penurut.
" Selamat siang tuan Fernando, ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita paruh baya yang merupakan pemilik tempat itu. Dia sangat hafal pada Nando karena merupakan pelanggan istimewanya.
"Lena,Berikan paket kesukaan Elle dan kau...ingin pesan apa sayang?" Sofia gelagapan saat Nando bertanya padanya. Pipinya memerah. Seumur-umur baru kali ini dia dipanggil ’sayang' di tempat umum tanpa rasa malu.
"Samakan saja dengan Elle mas." jawabnya lirih.
"Dia....." wanita yang dipanggil Lena itu menatap mereka berdua bingung seraya menggantung ucapannya.
"Dia istriku Lena, namanya Sofia."
"Ohh ya Tuhan....kau manis sekali nyonya. Selamat atas pernikahan kalian. Aku turut berbahagia." ujarnya sumringah
"Terimakasih bu." balas Sofia sopan.
"Panggil aku Lena saja nyonya,sama seperti tuan muda memanggil saya."
"hmmmm...baiklah. Senang berjumpa denganmu Lena." mereka saling berjabat tangan lalu mengobrol sejenak sambil menunggu pesanan mereka datang.