Dear Husband

Dear Husband
Tak sengaja



Beberapa menit berkonsultasi dan mendapat tanda tangan pembimbingnya, Sofia segera berpamitan. Tak enak rasanya berlama-lama diruangan itu bersama Shandy. Bukan karena apa-apa karena ruangan itu penuh jendela hingga interaksi mereka bisa dilihat dari luar, tapi lebih karena pria di depannya itu terlihat sangat serius dan kaku. Ciri khas dunia militer.


"Anda mau langsung pulang?"


"Tidak prof, saya harus ke rumah sakit hingga sore nanti." jawab Sofia sambil berdiri.


"Sama-sama saja. Saya akan ke rumah sakit juga. Ada beberapa hal yang akan saya bereskan disana." mana bisa Sofia menolaknya? Shandy bahkan sudah berbaik hati mau malakukan konsultsi walau tidak di kampus. Dosen tampan itu bahkan memberi beberapa tips dan masukan berharga untuknya. Terlihat sekali pria itu begitu smart dalam tiap kalimatnya. Pantas saja sudah jadi profesor diusianya yang masih terbilang muda.


"Baik pak." balasnya singkat. Shandy meraih kunci mobil dan tasnya lalu berjalan beriringan dengan Sofia. Beberapa kali dia membalas sapaan rekan sejawat atau anak buahnya yang memberi hormat padanya.


"Maaf ndan, calon istrinya?" tanya seorang perwira muda diujung lorong dengan senyum lebar. Shandy menepuk pundaknya dan berlalu.


"Hai calon kakak ipar...datanglah ke rumah lusa ya. Bunda kami berkunjung besok."


"Ken!!" teriak Shandy mengintimidasi. Membuat pria tadi berdiri sempurna dan memberi hormat tapi dengan tetap tersenyum saat Shandy menarik tangan Sofia menjauh.


"Pak...pemuda tadi..."


"Jangan dengarkan Kenzo."


"Dia...."


"Adik saya." diam atau lebih tepatnya terdiam. Sofia memilih mengunci bibirnya.


Kemudian hanya kebisuan yang mereka lakukan selama dalam perjalan ke rumah sakit. Lampu merah perempatan besar menghentikan perjalanan mereka diantara mobil-mobil lain yang berhenti berjajar disana. Tiba-tiba ponsel ditangannya terjatuh, Sofia secara spontan menundukkan tubuhnya, bergerak meraba-raba karena ponselnya terjepit ditempat yang sulit dijangkau, tepatnya dibawah Shandy yang juga sudah berusaha memberi ruang gerak untuknya mengambil ponsel hingga seolah-olah dia membungkuk dipaha Shady. Nafas lega terhembus saat ponsel itu sudah kembali berada ditangannya. Wajahnya yang merah padam menahan malu sengaja dia miringkan menatap jendela disebelahnya dengan menghembuskan nafas panjang. Namun, jantung wanita itu seolah berhenti berdetak saat sebuah mobil mewah dari brand terkenal dunia menurunkan kaca hitam pekatnya berlahan, menampilkan sosok pria yang sangat dia kenal. Nando!


Hanya tatapan tajam dengan bibir terkatup rapat yang terukir disana. Bersamaan dengan itu, lidah Sofia juga berubah kelu. Seperti dejavu, kejadian di depan rumah Maya kembali terulang padanya. Spontan dia membuka kunci ponsel dan mencoba menelepon Nando karena amat sangat tidak sopan jika dia berteriak dari dalam mobil Shandy. Begitu panggilan terhubung, Nando yang terlihat kesal malah membanting ponselnya dijalanan hingga hancur berkeping-keping.


"Tidak tau malu!!" desisnya, namun masih bisa di dengar Sofia karena jarak mobil mereka yang berdekatan. Shandy yang mengetahui ada yang janggal segera menoleh. Netra hitam pekatnya menangkap sosok suami dari wanita yang kini bersamanya. Seperti tau diri, sang dosen memberi kode agar mereka berhenti di depan sana, namun diacuhkan oleh Nando dengan langsung menutup kaca mobilnya.


Benar dugaan Shandy, Nando tidak akan mau bertemu dengannya. Mobil yang dia kendarai berbelok ke kiri dengan tiba-tiba dan melaju kencang menyalip beberapa kendaraan diantara padatnya lalu lintas. Shandy menggelengkan kepalanya pelan, lalu mengambil jalan pintas dengan kecepatan tinggi pula. Jika hitungannya benar, maka dia akan sampai satu menit lebih awal dari Nando di ujung jalan sana.


Instingnya sebagai prajurit memang patut diacungi jempol. Mobilnya melintang lurus persis didepan mobil Nando yang hanya berjarak 3 meter darinya hingga membuat Alex yang saat itu mengemudikan mobil mewah itu terpaksa menginjak rem secara tiba-tiba.


Nando turun lebih dulu dari pada Sofia, mengetuk pintu belakang dan membuat sang empunya mobil membuka pintu itu dengan sedikit kasar.


"Ada apa?" sarkasnya galak.


"Tuan muda Hutama, saya hanya ingin mengatakan jika hari ini istri anda...."


"Jangan buang waktuku hanya untuk urusan wanita. Dia...kau bisa mengambilnya jika kau suka." Mata Sofia membelalak kaget mendengar perkataan Nando.


"Mas....." desisnya tertahan dengan linangan air mata disudut matanya yang hampir jatuh. Wanita mana yang tidak sakit hati saat mendengar suaminya malah menyuruh orang lain yang sudah jelas adalah dosennya dikampus untuk mengambil dirinya seolah dia sebuah barang bekas tak berharga. Nando kembali menatapnya sangat tajam.


"Kau...jangan berpikir jika kau sangat berarti dihidupku Sofia. Diluar sana, ratusan wanita sepertimu bersedia melemparkan tubuhnya secara cuma-cuma padaku. Dasar ****** murahan!" makinya membuat dada Sofia terasa sangat sesak dengan tangis tak tertahannya. Shandy yang melihat semuanya menjadi naik pintam dan mendekati Nando yang berdiri angkud di dekat mobilnya dan mencengkeram krah kemeja putihnya. Matanya berkilat marah.


"Jaga mulutmu! apa ayah ibumu tidak pernah mengajarimu menghormati wanita?" katanya keras dengan tangan kanan siap memukul rahang Fernando. Tapi pria tampan itu menatap sinis tanpa rasa takut padanya.


" Apa orang tuamu juga pernah mengajarimu untuk tidak berduaan dengan istri orang lain di dalam mobil dan berbuat mesum disana?" katanya terkekeh.


"Mas..kau salah paham."


"diam! dan kau tuan Shandy yusuf hanggara, lepaskan peganganmu atau aku akan melaporkanmu karena tuduhan melakukan ancaman kekerasan dan perbuatan tidak menyenangkan."


"Kau pikir aku takut? mereka para polisi bahkan masih harus mengurus kejadian pembunuhan seorang brigadir jika masih ingin mendapatkan citra yang baik dari masyarakat. Dan lagi aku punya banyak saksi disini." pungkanya tanpa membuang rasa takutnya.


"Oohh yaa?? apa kau lupa jika uang itu berkuasa diatas segalanya? aku bahkan bisa membuat seolah-olah kau sudah melakukan pelecehan pada istriku dan membuat diriku sendiri menjadi pihak yang disakiti. Saksi? ha...ha...saksi juga bisa jadi tersangka."kekehnya namun terdengar menakutkan. Sesaat kemudia tangannya meremas tangan Shandy dan mengehentakkannya kasar. Tanpa berkata lagi dia membuka pintu mobil, masuk dan memerintahkan Alex membawanya pergi dari sana.