Dear Husband

Dear Husband
Berita Maya



Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Sofia yang mulai kerasan tinggal ditempat barunya seperti menemukan sisi bahagia yang lain dalam dirinya. Disana dia mulai menyibukkan diri dengan berbagai macam bakti sosial dan sosialisasi masyarakan seperti kebanyakan puskesmas di daerah. Berangsur-angsur dia melupakan masa lalu.


Pada Elle dia mengatakan jika banyak tugas pemerintah yang harus dia emban karena munculnya virus menular yang sedang mewabah saat ini yang variannya selalu berubah-ubah seperti rasa indomie yang terus mengeksplorasi diri. Dan untunglah anak itu mengerti. Dari Elle pula dia tau jika ada aunty Clara dirumah mereka. Rupannya wanita itu benar-benar tinggal disana.


Sofia menepis segala resah, prasangka dan sakit disisi hatinya. Dia juga memperbanyak bersujud dan berdoa pada sang pencipta agar diberikan jalan terbaik dalam kehidupannya. Pernikahannya dengan Fernanndo yang tiba-tiba tanpa mengenal satu sama lain memang rentan terjadi pertikaian yang berakhir pada perceraian.


Cerai? bahkan menyebut kata itu saja sudah membuatnya sakit. Bukan karena takut meninggalkan seorang Fernanndo dengan berjuta pesona dan kekayaannya, tapi lebih pada angan-angan yang selama ini dibangunnya. Menikah sekali seumur hidup. Perceraian memang dihalalkam tapi dibenci oleh Allah. Sofia sungguh tidak ingin melakukakan apapun yang dibenci Allah dan rosulnya. Tapi dia hanya manusia biasa. Waniata biasa. yang punya hati dan perasaan. Dia hanya memutuskan menjauh dari kehidupan Fernando dan menata hatinya agar jika sewaktu-waktu pria itu meningalkannya dia tidak terpuruk dalam nestapa.


Sofia tidak lupa pada janji Fernando untuk tidak meninggalkannya dan tidak akan ada perceraian diantara mereka. Tapi apa kata-kata itu bisa dia percaya jika Nando saja tak bisa menjaga hatinya? membawa wanita lain untuk masuk ke rumahnya walau apapun alasannya tetaplah salah. Dia memang bukan pemilik rumah itu, tapi diatas kertas Sofia adalah istrinya. Wajib bagi Nando untuk minta ijin atau sekedar memberitahunya. Luka kecil itu menjadi sayatan lebar dalam jiwanya yang sedang terluka entah untuk alasan apa.


Dering hp memecah lamunannya yang akan beranjak pulang. Jam pelayanan puskesmas sudah berakhir setengah jam lalu. Lelah yang memaksanya duduk sedikit lebih lama diruang kerjanya.


'Maya' ....batinnya. Segera dia mengangatknya.


"Hay dokter..bagaimana kabarmu?" sapa Maya diujung sana berkelakar. Sebenarnya sudah lama mereka meninggalkan bahasa formal itu. Bahkan aku kamu dan curhat pendek biasa mengisi hari mereka.


"Hay May...aku baik. Bagaimana denganmu?"


"Yang sebenarnya aku kelewat baik hingga minggu depan aku sudah bisa menggantikamu bertugas disana. Kau bisa pulang dan berkumpul kembali dengan suami tampanmu juga putri kecilmu yang sangat cantik itu." suara Maya terdengar gembira, berbanding terbalik dengan Sofia yang pias dan lesu. Kenapa waktu begitu cepat berlalu? jika Maya kembali kemari, artinya dia harus kembali ke rumah sakit besar dan itu artinya dia akan tinggal satu kota dengan Nando. Walau Jakarta luas, tapi kesempatan bertemu mereka juga lebih banyak.


"Sofia......kau baik- baik saja bukan?" Maya yang khawatir dengan mode diam Sofia segera menyalakan kamera dan melakukan video call. Mau tak mau Sofia mengangkatnya.


"Fia..kenapa kau diam?"


"Aku hanya sedikit lelah May." jawabnya beralasan.


"Fia, aku tau kau sedang tidak baik-baik saja. Tidak apa-apa jika kau tak mau berbagi denganku. Mungkin ini menyangkut privacymu. Hmmm baiklah..aku ada berita baik.Tidak tau apa kau tertarik atau tidak. Secara kau banyak uang ha..ha.." kata Maya bercanda.


" Dokter Bram, ahli jantung rumah sakit kita akan pensiun 4 tahun lagi. Kementrian kesehatan membuka pendaftaran bagi para dokter untuk program pendidikan dokter spesialis jantung untuk menggantikan dokter Bram. Kau taukan sekarang banyak sekali rumah sakit yang memerlukan dokter ahli jantung karena kekurangan kuota?"


"Dokter spesialis jantung?" kata Sofia membeo. Memang rumah sakit besar itu hanya punya satu dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, itupun sudah berusia senja dan memasuki masa pensiun, sedang sampai saat ini belum ada pengganti yang tepat walaupun beberapa kali dibuka kuota dokter bedah untuk jadi PNS di daerah itu. Dokter Bram terpaksa bekerja sendiri dibantu para stafnya. Jika berhalangan hadir, maka rumah sakit terpaksa menuda pelayanan hingga sang dokter kembali masuk bekerja. Padahal sakit jantung adalah momok pembunuh terbesar di dunia.


"Fia, maaf ya. Aku hanya memberi info, bukan bermaksud menghina keluarga Hutama yang kaya raya dengan menawarkan beasiswa.Aku....."


"Apa? beasiswa? ahh ya Tuhan...aku mau May." Wajah Sofia yang mendung seketika cerah. Bukankah dengan mendapat beasiswa dia tidak akan mengeluarkan banyak biaya? tak masalah jika dia harus belajar keras, yang penting bisa segera lulus.


" Kau seriua Fi..." Maya masih ragu. Makin kesini dia makin yakin jika sahabat barunya itu memang sedang ada masalah. Bukan apa-apa, dia hanya tidak ingin Sofia merasa sendiri diperantauan.


"Tentu saja. Dua rius malah.Aku benar-benar berminat May."


"ohh...oke..oke...aku akan kirim link pendaftaran onlinennya. Kau bisa mengurus semuanya dari sana. Aku akan membantumu sebisaku." Maya yang melihat Sofia yang bersemangat seperti tersetrum alirannya, jadi ikut bersemangat, berapi-api seperti kompor gas keluaran terbaru.


Sedetik kemudian link itu sampai pada Sofia. Rupanya Maya benar-benar gerak cepat.


"Fi, apa kau sudah minta ijin suamimu? kau taukan program spesialis itu berat dan butuh ketelatenan? bukanya aku meragukan kemampuanmu, tapi kau kan sudah bersuami, ada baiknya kau bicarakan dulu dengan suamimu." nasihat Maya bijak.


"Nggak perlu May. Dari awal mas Nando tidak pernah membatasi diriku soal belajar atau bekerja. Kau tenang saja." Sofia selalu begitu. Menutupi banyak hal dari orang lain. Yang sebenarnya, Nando memang tak pernah membatasinya, lebih tepatnya tidak peduli padanya. Karena dia hanya istri pura-pura. Yang Nando butuhkan darinya hanyalah mencari ibu untuk Elle, bukan pendamping untuk dirinya. Mengingatnya saja sudah membuat nyeri dadanya.


"Hmmm syukurlah Fi, sekarang aku tenang. Jangan pernah merasa sungkan jika kau memerlukan bantuanku. Aku selalu siap untukmu nyonya Hutama." Maya terkikik pelan.


"Bay the way...terimakasih infonya ya May. Doakan aku ketrima."


"Tentu saja Fi. Aku yakin kamu diterima. Secara kau lulus cepat waktu kuliah S1. sainganmu juga hanya para dokter PNS saja. Jadi presentase ketrima lebih besar. Apalagi kuota yang dibutuhkan juga banyak. Pokoknya kamu harus semangatt!" tuh kan jadi Maya yang berorasi seperti ketua demonstrasi. Sofia hanya tertawa, sesekali menimpali candaan-candaan Maya. Ternyata dokter yang dulunya dia anggap senior di UGD itu lucu dan friendly juga.