Dear Husband

Dear Husband
Ketulusan Maya



Sofia menerima surat penugasan sementara di pinggiran kota yang seharusnya dipegang dokter Maya. Dia yang akan sementara waktu menggantikan Maya untuk menjadi kepala puskesmas di daerah itu. Pada awalnya, maya yang mengajukan kepindahan karena ingin kembali ke kampung halamannya, namun tiba-tiba suaminya kecelakaan dan mengharuskannya operasi dan menjalani berbagai terapi. Letak rumahnya yang berada di pinggiran kota malah akan mempersulit langkahnya. Maka itu dia mohon penangguhan hingga suaminya pulih dan bisa bertugas di daerahnya.


Riwayat kerja Sofia yang penah beberapa tahun menjadi kepala puskesmas membuatnya terpilih menjadi kandidat pengganti. Sayangnya, dua dokter lain yang sudah direkomendasikan menolak mutasi sementara. Awalnya, dokter Maya maupun kepala rumah sakit itu pesimis jika Sofia mau menerima tawaran itu karena tau jika dia adalah istri Fernando, menantu keluarga Hutama yang punya banyak perusahaan dan rumah sakit disana, namun Maya membulatkan tekadnya. Dia nekat menawarkan hal itu pada Sofia walau prosentase penolakannya adalah 99%. Tapi apa daya, tidak semua hal terjadi sesuai prediksi manusia bukan? masih ada kemungkinan walau hanya 1% saja. Dan sekarang terbukti, jika 1% pun bisa jadi pemenangnya bila Tuhan menghendakinya.


"Terimakasih dokter Sofia. Saya tidak tau bagaimana harus berterimakasih pada anda.Sampai kapanpun saya tidak akan lupa kebaikan anda. Semoga Allah memberkahi kehidupan keluarga kalian dan menggantikan semua pertolongan anda pada keluarga saya dengan anugerah yang tidak ada putusnya." Dokter Maya memeluk erat Sofia karena terlalu gembira.


"Lho..kita mau kemana dok?" tanya Sofia karena Maya sudah menarik tangannya kearah lain.


"Dokter belum makan siangkan?"


"Nanti saya ke kantin." sahut Sofia mengulas senyum manisnya.


" Kalau begitu, mari ikut saya. Di dekat sini ada resto masakan sunda yang sangat enak. Saya yang traktir dok. Anggap saja ungkapan terimakasih saya karena dokter sudah menolong saya."


"Ehh itu tidak perlu mbak ehh dok.."


"Mbak? wah...wah...sepertinya asyik juga kalau kita manggilnya nama saja ya. Biar terlihat akrab."


"Tapi kok saya jadi tak enak hati ya dok." sanggah Sofia cepat.


"ya nggak papa lho dok. Lagian umur kita juga nggak jauh beda. Panggil Sofia aja ya."


"Ehh ya."


"Sekarang panggil aku Maya saja. Hmmm bagaimana kalau nanti sore aku antar kamu ke puskesmas tempat sementaramu. Kapan hari aku sudah suruh orang untuk membersihkan rumah dinasnya. Kamu lihat-lihat saja dulu. Siapa tau ada yang mau dibenahi, mumpung masih ada waktu. Baru lusa kan mau pindah? Tugas resminya kan baru hari kamis." Maya yang ramah memang langsung beradaptasi dengan baik. Mengganti bahasa formalnya menjadi bahasa santai seolah mereka sepasang sahabat lama.


"Sepertinya besok aku sudah mulai pindah." Maya menghentikan langkahnya. Terkejut.


"Kenapa secepat itu sih?"


" Entahlah, sepertinya aku butuh suasana baru."


"Via..jangan bilang kau sedang ada masalah sekarang." tanya Maya dengan wajah menelisik.


Semua berjalan lancar hingga waktu pergantian piket tiba. Maya segera menggandeng Sofia keluar. Senja yang sudah kehilangan warna tak menyurutkan langkah keduanya untuk ke puskesmas tujuan. Sofia sudah memberitau pak Mun, sopirnya agar tidak menjemput karena dia ada janji dengan dokter Maya dan akan pulang agak malam.


Mobil yang dikendarai Maya dan Sofia membelah kepadatan jalanan kota Jakarta menuju pinggiran kota. Dua jam perjalanan mereka berakhir disebuah puskesmas yang cukup besar, setidaknya tidak seterpencil seperti daerah asal Sofia. Suasana disana lumayan ramai. Maya menunjukkan letak rumah puskesmasnya, lalu mengantarkan Sofia perumahan dokter yang terletak sekitar 50 meter dari sana.


"Ini tempatnya. Ayo turun." Sofia turun lebih dulu di depan bangunan minimalis berukuran 6x8 meter. Rumah itu terbagi dia sekat. Tampaknya, sisi yang lain digunakan sebagai tempat praktik oleh dokter terdahulu. Memang kebanyakan dokter puskesmas selalu buka praktik dirumah.


"Bagaimana? kau suka Via?" tanya Maya setelah mereka masuk dalam. Cat putih bersih yang dikombinasikan warna abu-abu yang menjadi ciri khas desain rumah minimalis adalah pilihan tepat. Rumah itu terlihat bersih dan simpel. Selera seorang Sofia.


" Aku suka. Ngomong-ngomong maukah kau mengantarku membeli barang-barang keperluanku ditoko dekat sini? kurasa aku butuh kasur, meja kursi, lemari dan peralatan masak. Kau lihatkan? disini tidak ada apapun kecuali ranjang pasien dan meja praktik?" Maya menepuk kepalanya pelan. Dia terlalu sibuk mencari pengganti dirinya hingga lupa jika rumah itu kosong melompong. Harusnya dia membantu menyediakan semuanya.


"Maafkan aku Via. Tentu saja aku akan mengantarmu. Kita pesan saja dulu, biar besok mereka mengantar kesini jika kau sudah sampai."


"Tidak masalah. Soal yang lain aku bisa belanja sendiri jika sudah berada disini."


"Oh ya..aku hampir lupa. Ada iventaris sepeda motor dari dinas kesehatan untukmu. Lumayan bisa kamu gunakan kemana-mana dari pada....ehh...aku hampir lupa juga. Suamimu kan kaya raya , kau pasti tidak butuh motor." kata Maya salah tingkah. Dia takut dikira menghina Sofia. Tapi dokter cantik itu malah memukul pelan tangannya.


"Aku butuh motor itu." sahutnya riang. Maya sampai tercengang dibuatnya. Wanita didepannya ini benar-benar tipe low profile. Dia tidak pernah terlihat sombong atau neko-neko. Sofia cenderung diam, penurut, rajin dan ramah. Tidak seperti wanita kelas atas yang begitu menyebalkan.


"Sofia , aku sangat kagum padamu. Kau sungguh membuatku terkesan." puji Maya tulus. Sesaat Sofia menatapnya lekat.


"Yang kau lihat belum tentu sebuah kebenaran May." balasnya datar sambil menatap malam penuh bintang diluar jendela. Maya menghampirinya seraya mengelus punggungnya.


"Apa kau sedang ada masalah dengan suami atau keluargamu Via?" dari awal Maya sudah curiga jika ada yang tidak beres pada diri Sofia. Tidak mungkin menantu keluarga kaya mau ditugaskan dilokasi yang jauh dari rumah jika tidak ada apa-apa.


"Aku baik-baik saja May."


"Aku tidak yakin. Tapi baiklah, aku tidak ingin mencampuri urusan pribadimu. Satu yang harus kau ingat Via, aku selalu ada jika kau butuhkan. Datanglah padaku kapanpun kau butuh bantuan." lagi, Maya berkata sangat tulus hingga Sofia tersentuh dan memeluknya erat.


"Terimakasih May."


"hmmm...rumah keluargaku ada didekat sini. Nanti kita mampir sebentar sekalian ngenalin kamu ke ibu dan adikku ya." Maya melepaskan pelukannya lalu mengajak Sofia berkeliling rumah.