
Dua pasang mata itu bertemu. Nando mengangkat tangannya untuk mengusap pipi mulus Sofia. Wanita muda itu menundukkan wajahnya.
"Apa kau ingin makan atau minum sesuatu?" Tanya Nando lirih. Sofia masih diam, menikmati tiap sentuhan tangan suaminya.
"Tidak." sahutnya kemudian.
"Bik Lani sudah mengambilkan baju untukmu. Pakailah." Nando meletakkan baju rumahan dan baju dalam warna pink disamping tubuh berselimut Sofia. Sang dokter buru-buru meraihnya lalu menyembunyikannya dibalik selimut. Wajahnya lagi-lagi merona. Bisa-bisanya bi Lani menyerahkan baju dalamnya pada Nando tanpa pembungkus. Bukan salah asisten rumah tangga mereka sebenarnya jika berbuat itu. Mereka pasti mengira Nando dan dirinya adalah pasangan suami istri yang sudah terbiasa melihat baju dalam satu sama lain.
"Kenapa kau malu-malu? tanpa melihat baju dalammu aku bahkan sudah hafal ukuranmu. Sekarang pakailah, aku akan mengecek beberapa berkas disana." Nando kemudia keluar dari ruang tidurnya menuju meja kerjanya dan memindai beberapa berkas. Hal yang biasa dia lakukan sebelum berangkat kerja.
Didalam sana, Sofia mencoba bangun dan memakai pakaiannya walau rasa pusing dan masih mengusainya. Sejurus kemudian, rasa dingin menyerangnyah yang kembali berlindung dibawah selimut tebal itu. Lama dia meringkuk disana hingga merasa putus asa, dingin itu makin menyerangnya hingga dia tah bahwa yang dia lakukan adalah sia-sia. Tak ingin menyerah, dia meraih remote dan mematikan AC. Namun itu tetap tak banyak membantunya.
"engg.....m...mas..."
"hmmmmm." Nando tak bergeming dari tempatnya. Pria itu tetap duduk membelakangi Sofia yang memanggilnya dengan tubuh gemetar dan bibir yang kembali membiru.
"Tolong." satu kata saja sudah cukup membuat sang tuan muda Hutama itu menoleh.
"Astaga, kau kenapa?" lalu si pria mendekat dengan tergesa.
"Dingin....." Nando segera menekan remote untuk menambah suhu ruangan. Diluar...hujan kembali turun memagut bumi.
Pintu diketuk dari luar, tak berapa lama bi Mimi datang dengan segelas jahe panas diatas nampannya. Wanita paruh baya itu langsung mendekati mereka dan mengulurkan isi nampan.
"Saya permisi tuan muda." pamitnya sopan lalu undur diri dari sana.
"Minumlah agar kau lebih baik." Gerakan lembut Nando membuatnya berbunga. Pria itu membelai tengkuknya dan menyuruhnya minum.
Rasa hangat menjalar disekujur tubuhnya membuatnya lebih baik. Apalagi Nando dengan cekatan kembali mengoleskan minyak kayu putih dibagian-bagian tertentu tubuhnya tanpa bisa dia cegah. Sentuhan lembut itu menjadi terasa erotis baginya.
" Maukah kau....memelukku." kata Sofia ragu sambil mengigit bibir bawahnya. Sungguh dia amat malu, tapi pelukan hangat Nandolah yang kini mendominasi pikirannya.
"hmmmm...tidak jadi. Maaf." buru-buru berkata demikian karena tak ada balasan atau gerakan dari Nando selama beberapa detik menunggu. Salah tingkah. Itu yang dirasakan Sofia kini. Takut dikira perempuan agresif yang kurang belaian walau itu juga bukan salahnya. Nando tak pernah menyentuhnya atau sekedar memeluknya sejak awal pernikahan mereka.
........srreeeppp.......
Sadar jika cinta memang tidak bisa dipaksa, perasaan tidak bisa ditipu dan kebersamaan juga tak bisa diatur. Bersikap egois bukan yang terbaik dalam sebuah hubungan...apalagi itu ikatan pernikahan. Nando mencengkeram lembut tangan Sofia yang menelusuri dadanya yang bidang berotot. Gejolak itu serasa muncul saat sang wanita seakan membelai dan menggodanya.
"Jangan menggodaku dokter...." bisiknya pelan seraya menahan nafas tak beraturan. Tiba-tiba suhu tubuhnya meningkat.
"Apa aku salah melakukannya pada suamiku?" bola mata polos itu seakan mengulitinya. Membuatnya gemas, apalagi bibir mungil tanpa sentuhan lipstik itu sedikit terbuka menggodanya. Yang bisa Nando lakukan hanya menuruti naluri kelelakiannya. Entah siapa yang memulai duluan, bibir mereka bertemu dan saling ******* penuh tuntutan. Nando bahkan sudah memegang tengkuk Sofia untuk memperdalam ciumannya. Suara kecapan pertemua lidah yang saling sesap itu menggema diseluruh ruangan yang tenang itu.
"Selamat pagi tuan muda. Oohh....maafkan saya." Sontak keduanya terkejut dan saling melepaskan. Di dekat daun pintu yang sudah tertutup, sekretaris Alex berdiri salah tingkah karena terlanjur masuk dan melihat adegan mesra dipagi yang terhitung dingin itu.
"Maafkan saya tuan muda, tapi saya sudah mengetuk pintu tadi." Sesal Alex seraya hendak keluar lagi. Sungguh perasaanya tidak enak saat itu. Dia malah jadi penganggu kemesraan tuan mudanya sepagi itu. Tapi memang sudah kebiasaanya mengetuk pintu lalu masuk pada hitungan ketiga. Selama bekerja dengan Nando, baru kali ini sang tuan membawa wanita masuk ke ruang kerjanya walau sudah menjadi istrinya. Aturan rumah itu terlalu ketat untuk dilawan. Hanya sekretaris Alex dan orang yang sudah disuruh saja yang bisa masuk kesana. Mana Alex tau jika pagi ini Nando malah bermesraan disana.
"tunggu." Alex mengurungkan diri membuka pintu mendengar seruan Nando.
"Maaf tuan, apa perlu saya kosongkan jadwal anda hari ini?"
"Tidak. Siapkan segala sesuatunya dan tunggu aku dibawah. Kita akan sedikit terlambat hari ini, Lex. Aku akan segera siap nanti."
"Baik tuan muda ,saya permisi." Langkah seribu, mungkin adalah gambaran tepat untuk Alex yang tergesa keluar dari sana dan menutup pintunya rapat.
"Sebaiknya kau lekas mandi mas. Aku akan keatas menyiapkan keperluanmu." Sofia yang sudah berdiri dari ranjang juga bersiap pergi dari sana diikuti Nando yang akan mandi dan ganti pakaian dikamar utama.
Memasangkan dasi adalah hal yang dibenci Sofia karena membuatnya merasa canggung. Bagaimana tidak? aroma mint yang keluar dari hidung sang tuan muda membuat dia yang memang belum mandi menjadi minder.
"Ahh sudah selesai." gumannya lirih, namun tangan kokoh itu malah merangkum kedua tangannya untuk mendekat dan mencium pipinya lembut.
"Aku ingin jawabannya sekarang." bisik Nando ditelinga kirinya.
"ehh...eng ..itu ..aku..." Sofia memaki dirinya sendiri dalam hati. Dia selalu saja menjadi gagap dan tegang saat merasa tertekan.
"Aku tau...dan aku tidak akan memaksamu tinggal. Alex akan segera mengurus perpisahan kita nanti. Aku juga sudah menyiapkan.....ehmmmpptt." kalimat yang tak selesai. Bibir Sofia sudah lebih dulu menghentikan perkataan tuan muda Hutama itu, membuat sang empunya bibir membelalakkan mata tanpa niat membalas ciuman dalam dan nakal itu.
"Aku tidak mau dan tidak akan berpisah darimu suamiku. Biarkan aku tetap disisimu." kata Sofia tegas dengan mata nanar. Sebuah senyum terbit dibibir sang tuan muda.
"Siapkan dirimu untuk malam pertama kita karena malam ini aku akan meminta hakku Sofia."