Dear Husband

Dear Husband
Operasi



Siang itu Elle akan dioperasi tepat 2 jam setelah pasien leukimia yang akan mendonorkan matanya meninggal sesuai prediksi. Dia, anak dari yayasan pengidap kanker yang memang di danai perusahaan Hutama. Tidak ada paksaan dari siapapun. Orang tua pendonor sendiri yang mengikhlaskan mata putrinya untuk di donorkan karena merasa berhutang budi yang besar pada keluarga Hutama. Merekalah yang membiayai kemo dan pengobatan putrinya hingga betahan selama ini.


Nando yang tidak mau ambil resiko tentang kegagalan oprasi memutuskan mengundang dokter mata dari singapura, bukan karena memandang rendah Edward yang lulusan Amerika, tapi lebih pada kenyamanan dirinya yang takut oprasi putrinya tidak berjalan lancar. Edward sendiri yang merekomendasikan dokter Albert karena mereka satu kampus saat di Amerika dulu.


Detik demi detik, menit demi menit berlalu.Hampir satu jam mereka di dalam. Nando yang merasa gelisah berjalan mondar-mandir di koridor. Beberapa kali orang tua, kakak dan adik angkatnya menelepon, tapi tidak mengurangi rasa panik Nando.


"Ponsel anda berbunyi tuan." Alex yang sejak tadi mengambil duduk di depan pintu ruang oprasi memberitahunya. Seketika Nando meraba ponselnya.


.....Sofia calling....


segera diusapnya layar ponsel, lalu mengucap salam yang dibalas Sofia dengan suara tak terbaca.


"Apa oprasinya berjalan lancar mas?"


"Aku belum tau.Para dokter itu masih di dalam.Entah apa yang mereka kerjakan.”


" Bersabarlah..." belum sempat Sofia melanjutkan kalimatnya, pintu ruang oprasi terbuka. Dokter Edward dan Albert muncul disana. Tanpa menutup panggilannya, Nando setengah berlari pada mereka.


"Bagaimana keadaan Elle dokter?"


" Oprasinya berjalan lancar. Kita lihat hasilnya besok tuan muda.Hari ini biar Elle dirawat disini. Masih banyak yang harus dilakukan pasca oprasi." jelas dokter Edward sedikit menenagkan Nando yang dilanda kepanikan.


"Alhamdulilaahh." katanya berbarengan dengan Sofia yang masih setia mendengarkan percakapan disana. Perasaan lega menghampiri keduanya. Saat dokter Edward memberikan pengarahan hingga Elle dipindahkan ke ruang perawatan, tidak sekalipun Sofia melewatkan moment-moment itu. Dia baru menutup teleponnya saat Elle benar-benar sudah tenang dikamarnya dan memastikan Maria selalu ada di dekatnya.


Nando yang sangat menyayangi Elle memilih tidak kembali ke kantor. Dia dan Alex mengerjakan semua pekerjaan disana sambil menunggui Elle. Lelah, itu yang dia rasakan. Pria blasteran itu menengok ranjang Elle. Nona kecilnya masih tertidur pulas disana. Alex berpamitan keluar untuk sholat isya. Malam itu hanya mereka yang menunggui Elle karena Maria diijinkan pulang dan kembali esok hari.


'Kapan kau pulang?'


Sebuah pesan singkat dia kirimkan pada Sofia nun jauh disana. Ada kegundahan iika dia tidak mengirim pesan atau meneleponnya. Centang menjadi biru hingga sesaat kemudian Sofia dalam mode mengetik...


'Mungkin minggu depan.'


Mulai lagi, dia membalas pesan pendeknya dengan kalimat pendek juga.


'Aku ingin besok kau pulang. Lusa perban Elle dilepas. Dia ingin melihatmu.'


'Tidak bisa begitu mas. Aku ini abdi negara. Harus ikut peraturan yang ada.'


'Tidak ada tapi. Besok Alex akan menjemputmu!'


Balas Nando bersikeras. Tak ada lagi balasan dari Sofia.


"Apa dia pikir aku tidak bisa membuat dia pulang? kita lihat saja besok Sofia. Kau atau aku yang menang." gumamnya pelan.


" Lex." panggil Nando pada Alex yang baru masuk kesana dengan rambut basahnya.


"Ya tuan."


"Cari tau dimana Sofia ditempatkan. Besok jemput dan bawa dia kesini."


"Baik tuan muda." Alex yang sudah terbiasa mendapatkan perintah dadakan dari majikannya bergerak cepat menghubungi anak buahnya untuk mendatangi rumah sakit tempat Sofia bertugas. Dia juga memesan tiket penerbangan VIP untuk mereka nanti.


"Semua sudah siap tuan muda." lapornya beberapa menit kemudian. Tak ada yang sulit bagi Fernando. Dengan kekuasaan dan nama besarnya dia pasti bisa menemukan Sofia dilubang semut sekalipun.


" Apa istriku bertugas dipedalaman?"


"Tidak tuan. Hanya berada di daerah perbatasan."


"Yakin tuan."


"Bagus. Sekarang istrirahatlah. Besok kupercayakan penjemputan istriku padamu."


" Baik tuan. Permisi." Alex membungkukkan badannya lalu keluar. Sejenak dia memberi pengarahan pada dua orang bodyguard yang dia tugaskan menjaga Fernando diluar ruangan. Pria berambut cepak itu berlalu, kembali ke apartemennya. Tuannya benar, dia butuh istirahat sebelum ikut penerbangan pagi buta dan menempuh medan sulit hingga ke perbatasan nantinya.


**********


Keesokan harinya....


Disebuah rumah sakit pemerintah yang sudah dipugar sedemikian rupa hingga bisa disebut mewah didaerah itu, seorang wanita cantik dengan jas putihnya memasuki ruang UGD bersama beberapa dokter dan perawat yang bertugas disana. Angin segar bagi para tenaga medis yang sudah bekerja semalaman. Artinya ada pergantian shift. Mereka bisa istirahat sejenak di mess atau sekedar menghilangkan penat dengan bersantai hingga shift mereka kembali.


Keadaan memang sudah berangsur membaik. Pertambahan pasien juga tak sebanyak dulu saat Sofia pertama kali datang. Mereka juga tinggal menunggu masa pemulihan saat itu. Namun masih belum ada penarikan tenaga medis dari sana karena menjaga terjadinya gelombang kedua nantinya. Untuk itu mereka masih bertahan disana hingga minggu depan dan dipastikan keadaan benar-benar stabil.


Sofia memasang masker medis dan sarung tangannya sebelum memeriksa kondisi beberapa pasien pagi itu. Harus ada persetujuannya dan dokter jaga lain sebelum pasien dipindahkan keruang rawat inap.


"Selamat pagi dokter, tumben tidak telepon rumah." sapa dokter Agung yang pagi ini kebagian shift bersamanya. Dokter tampan itu tau kebiasaan Sofia yang selalu menelepon Elle setiap pagi dan istirahat siang.


"Pagi juga dokter. Saya mau periksa mereka dulu baru telepon rumah."


"Apa oprasi putri anda sudah berjalan lancar?"


"Alhmdulilah sudah dok. Besok dokter Edward akan membuka perbannya."


"Saya turut gembira. Selamat ya."


"Terimakasih. Mari.." Sofia membuka pintu lalu menuju para pasiennya diikuti seorang perawat jaga.


Keinginan Sofia untuk menelepon Elle setelah memeriksa pasien urung. Ada kunjungan dari pejabat pemda setempat untuk peninjauan para pasien. Rumah sakit disibukkan dengan para tamu dadakan itu hingga Sofia lupa. Jam satu siang dia baru bisa duduk manis dikursinya dan melepaskan peralatan medisnya. Dia harus segera sholat dhuhur dan makan siang.


"Dok, ada tamu ingin bertemu anda." ujar perawat yang menemaninya tadi. Dahi Sofia berkerut. Dia tidak kenal siapapun disini selain para tenaga medis. Aneh saja kalau mereka mencarinya dan harus meminta ijin dulu. Para tenaga medis bebas keluar masuk ruangan itu.


"Siapa mbak?"


"Enggak tau dok. Orangnya tampan banget."


"hehh???"


"siapa?"


"enggak tau dok, sebaiknya dokter temuin saja. Siapa tau dokter berminat." ujar sang perawat seraya tersenyum menggoda.


"Hussstt..saya sudah punya suami."


"owwhh iya saya lupa. Suami dokter sangat tampan."


"Terimakasih atas pujiannya ya mbak." sofia ikut membalas perkataan sang suster dengan genit juga. Suster itu juga para tenaga medis yang bertugas bersamanya memang selalu mencuri pandang saat Sofia melakukan video call, maka itu dia tau wajah Fernando dan Elle.


Bergegas Sofia keluar dari ruangan itu. Di depannya tampak seorang pria bertubuh jangkung berdiri membelakanginya setelah usai menelepon seseorang.


"Sekertaris Alex.Kau....."


"Iya saya nyonya. Tuan memerintahkan anda pulang sekarang!"