
"kita mau kemana?" Sofia terpaksa bertanya karena perjalanan mereka sudah terlalu jauh dari arah pulang ke rumah. Apalagi Nando mengemudikan sendiri kendaraanya tanpa Alex ataupun sopir. Enggan masih menguasai hatinya untuk sekedar memulai percakapan.
"kesuatu tempat." jawab Nando pendek. Matanya masih fokus kearah jalanan yang padat karena jam pulang kerja.
"Apa tidak sebaiknya kita pulang?"
"Kau takut?" entah ini pertanyaan atau sebuah ejekan karena Nando bicara sambil menarik bibirnya membentuk lengkungan aneh.
"kenapa aku harus takut?"
"Takut jika aku membawamu kesuatu tempat untuk memperkosamu. Itupun kalau kau masih virgin. Tapi aku tidak akan melakukannya. Tubuhmu sama sekali tidak menarik hatiku. Terlalu rata." ejek Nando dengan senyum smirknya. Sofia hanya menghela nafas panjang. Beristighfar. Benar, selain dingin pria itu juga super menyebalkan.
"aku tau." balasnya singkat.
"tau apa?"
"Tau kalau aku tidak menarik."
"Maka itu buatlah aku tertarik." Sofia melemparkan pandangan keluar jendela, menatap tiap ruas jalan yang dilaluinya dalam diam.
"Apa itu harus?" tanya Sofia gamang meski dia tau, bahkan cukup tau apa hak dan kewajiban seorang istri.
"Kenapa? apa kau tidak mau?"
"Aku lelah menghadapimu tuan Fernando." hampir saja Sofia terjungkal kedepan karena Nando yang tiba-tiba mengerem mobilnya hingga mendapatkan klakson keras dari pengguna jalan dibelakangnya. Mungkin juga umpatan. Tapi pria itu tidak peduli dan memilih menepikan kendaraanya kasar. Dicengkeramnya dagu Sofia kuat hingga mau tak mau wanita itu menatapnya. Lelah. Ya...mata itu terlalu lelah hanya untuk berdebat dengan seorang Fernando.
"Menghadapiku....kau boleh lelah, tapi jangan menyerah. Kau mengerti?" Sofia menggeleng lemah. Makin kesini dia makin tidak mengerti arah pikiran Fernando yang kadang baik dan lembut, kadang arogan dan bikin sakit hati. Pria yang sukar ditebak.
" kalau begitu akan kubuat kau mengerti dokter...” dan Nando menyergap bibir mungil itu dan memagut bibir wanitanya sangat lembut hingga Sofia benar-benar terbuai dan menikmatinya untuk beberapa saat sebelum dia mendorong tubuh Nando untuk menjauh.
"Stop. Ini tempat umum. Dan ya...jika aku bukan seleramu, kenapa kita harus bersama? Carilah wanita lain yang kau ingini. Bukannya semua mantanmu adalah selebritis bertubuh seksi? aku ini apa? aku bahkan hanya wanita kampung yang hanya tau belajar dan bekerja."
"Yang jelas aku memilihmu."
"Itu saja tidak cukup."
"lalu?"
"Apa kau pernah mencintaiku sedikit saja?" Nando menggelengkan kepalanya yang lagi-lagi membuat Sofia menarik nafas. Sudah dia duga.
"Baiklah. Aku tidak akan membahasnya lagi." nada putus asa begitu ketara dari tiap kata yang keluar dari bibir Sofia. Wanita itu bahkan mengigit bibirnya agar tak lagi bersuara dan banyak bicara.
"Kita tetap bisa hidup rukun walau tidak saling cinta Sofia." desisnya.
"Maybe." percakapan mereka terhenti kala ponsel Sofia berbunyi nyaring. Bergegas dokter muda itu mengangkatnya.
"Assalamualaikum pak Shandy." sapanya ramah. Nando sampai mengepalkan tangannya saat melirik foto profil yang terpampang disana. Pria tampan berhidung mancung dengan kulit sawo matang yang seksi muncul jelas dilayar ponsel istrinya. Beberapa kali istrinya itu bahkan merona saat menjawab teleponnya. Wajah yang tersipu walau dalam mode serius membuat Nando ingin tau. Pembicaraan yang singkat namun sudah cukup membuat Nando berubah sikap.
"Siapa Shandy?" tanya Nando sambil kembali melajukan kendaraanya. Kali ini lumayan pelan.
"Dosenku dikampus."
"Hanya itu?"
"Lalu apa yang kau harapkan?" Nando mendengus kesal. Sofia berani bertanya balik bahkan dengan nada sinis. Memangnya siapa dia hingga berani membantahnya dan banyak bicara?
"Kau seperti orang yang sedang jatuh cinta saat menerima teleponnya. Menjijikkkan." tak ada tanggapan dari Sofia. Dia sudah cukup kebal mendengarkan mulut pedas Fernando.
"Tidak ada salahnya jika aku jatuh cinta padanya bukan? lagi pula kau tidak tertarik padaku, jadi tidak mungkin kau jatuh cinta padaku. Sah-sah saja jika aku tertarik padanya.”
"Tapi kau istriku." bantah Nando tegas.
"Aku tau."
"Kalau begitu jangan jatuh cinta pada orang lain selain aku."
"Aku tidak bisa berjanji. Maaf, aku hanya wanita biasa yang juga punya hati dan perasaan." Nando kembali mengerem kendaraannya kasar lalu berbalik arah. Tak dia pedulikan bunyi klakson dan caci maki sesama pengendara. Dia melajukan kendaraannya diatas ambang rata-rata kecepatan hingga Sofia ketakutan dan menutup matanya. Disampingnya, Nando dengan wajah merah padam menahan amarah menatap lurus kedepan tanpa suara.
"hey...kenapa dia marah?" batin Sofia dalam ketakutan. Berulang kali dia melafazkan doa selamat. Sungguh, dia belum ingin mati sia-sia.
Mereka tiba di rumah mewah Fernando. Hal pertama yang dilakukan pria itu adalah menarik tangan Sofia kuat agar mengikutinya masuk ke dalam setelah memarkirkan kendaraannya asal. Tidak ada satu pengawal atau pelayanpun yang berani menyapanya karena melihat aura kemarahan dari sang tuan muda. Nando bahkan terus menyeret istrinya tanpa belas kasih hingga ke kamarnya. Pria itu membanting pintunya kasar dan meghempaskan tubuh Sofia keatas ranjang mereka.
"apa? kau mau apa?" Nando terus melucuti pakaiannya hingga tersisa boxer yang membalut tubuh bawahnya. Pandangannya lekat menatap Sofia yang akan bangkit dari ranjang. Pria itu lalu menyerangnya kasar.
"Aku sudah terlalu lama bersabar untuk tidak mengambil hakku Sofia. Aku mengingkamu...sekarang!" katanya penuh intimidasi.