Dear Husband

Dear Husband
Serius



Seorang wanita muda berseragam pegawai negeri sipil memasuki area rumah sakit khusus penderita Jantung dengan langkah anggun. Jilbab modern yang dipakainya melambai ditiup angin pagi kota Jogjakarta nan sejuk. Ya, dia Sofia aulia rahman yang bahkan tak dikenal siapapun dikota itu. Dia hanya dikenal sebagai dokter Aulia, dokter magang yang hari itu tepat dua bulan dirinya atas prakarsa profesor Shandy dan campur tangan orang dalam dipindahkan ke rumah sakit itu untuk beberapa bulan ke depan hingga masa residennya selesai.


"Selamat pagi dokter." sapa beberapa perawat yang berpapasan dengannya. Sofia tersenyum ramah dan membalas sapaan para perawat ataupun rekan sejawatnya hingga berbelok pada ruangan besar tempatnya bertugas sebagai dokter pembantu spesialis disana. Selain dia, ada juga dokter magang yang turut membantu kinerja dokter Agung, sang spesialis.


"Selamat pagi dokter Reni." sapanya pada dokter magang yang sudah lebih dulu datang dan duduk manis di kursinya. Dokter Reni segera membalas sapaan Sofia. Untuk beberapa lama mereka bercakap-cakap hingga dokter Agung datang. Siapa yang menyangka jika dokter spesialis yang satu ruangan dengan mereka adalah pria awal empat puluhan yang masih terlihat gagah dan tampan dengan aksen Jawa yang kental. Kulit kuning langsat, kumis tipis dan badan tegapnya adalah pesona eksotis yang amat bertolak belakang dengan seorang Fernando yang kebulean.


"Mbak Aulia sama mbak Reni sudah siap? kalau sudah kita mulai sekarang." kata dokter Agung sopan tanpa basa-basi. Dokter itu memang sangat irit bicara meski selalu sopan dan ramah pada siapapun.


"Kami siap dokter." kata kedua wanita yang usianya hampir sama itu bersamaan tanpa janjian lebih dulu. Reni bergerak cepat menyuruh perawat memanggil pasien pertama poli mereka hari itu.


Rutinitas tugas yang melelahkan membuat Sofia lupa waktu hingga melewatkan makan siangnya. Dia yang tengah berbadan dua tentu saja langsung lemas. Hari itu pasien datang bak ombak lautan yang pergi datang lagi secara terus menerus sepanjang hari, membuatnya juga tak sempat istirahat. Dokter Reni yang melihat kondisi Sofia segera mendekat. Sebenarnya diapun sama-sama lelah tapi Sofia jauh lebih lelah darinya.


"Dokter Aulia, apa kau baik-baik saja? mau kubelikan sesuatu?" tanya Arni cemas. Mendengar perkataan Arni, dokter Agung sontak mengamati mereka berdua.


"Ada apa dokter?" tanyanya sambil mendekat.


"Mungkin dokter Aulia kecapekan dok, dia sedang hamil muda." terang Arni sambil menyuruh seorang perawat membelikan teh hangat keluar. Dokter Agung melangkah mendekat, netranya memindai perut Sofia yang tersembunyi di balik jas putihnya. Satu ruangan selama dua bulan bahkan tak membuatnya terlalu perhatian pada Sofia.


Memang, hanya beberapa orang dirumah sakit itu yang mengetahui kehamilannya karena Sofia selalu menyembunyikannya, atau lebih tepatnya menutupinya dengan jasnya. Dia tak ingij diperlakukan istimewa, apalagi dia masuk kesana dengan bantuan momy dan Shandy yang memang punya banyak relasi seputar profesinya.


"Sebaiknya dokter pulang saja." perintah dokter Agung yang memang melihat wajah Sofia yang lelah.


"Tapi dok...'


"Tinggal satu jam lagi, saya dan dokter Reni akan mengatasinya. Atau dokter ingin dibawa ke spesialis kandungan?" tawar dokter senior itu lagi. Sofia segera menggeleng. Tak enak hati rasanya membuat rekan dan seniornya sibuk mengurusinya.


"Tidak usah dok, nanti saya akan kesana dengan mbak Hena saja. Kalau begitu saya permisi pulang dulu dok, terimakasih sudah mengijinkan saya pulang lebih dulu." ucap Sofia santun. Seluruh penghuni ruangan segera menjawab salam sang dokter sebelum pergi dengan tasnya.


Hena sudah menghampiri majikannya begitu Sofia keluar dari ruang praktiknya. Ya, semua rekan kerjanya tau siapa Hena. Sosok pengawal cantik yang selalu mengikuti dan menunggui Sofia selama dua bulan ini. Wanita muda itu juga dengan siaga melayani kebutuhan sang nyonya. Tak heran, Sofia merasa sangat terbantu karena kehadirannya.


.....tringgg.....


Bunyi notifikasi ponsel Sofia mengalihkan pandangannya dari kaca mobil. Wanita muda itu memindi benda pipih dalam genggamannya hingga bola matanya membulat sempurna. Sontak dia mendial nomer seseorang.


"Hallo, asalamualaikum mama....." sapanya begitu panggilan tersambung. Fransisca adalah orang yang dia hubungi.


"Walaikumsalam sayang, bagaimana kabarmu?" tanya Fransisca dengan nada gembiranya.


"Alhamdulilah baik ma, apa...mama tak salah mengirimkan uang sebanyak itu padaku? yang kemarin saja masih belum habis ma." Ya, Fransisca mengirimkan uang dalam jumlah besar ke rekeningnya selama dua bulan ini. Bulan ini malah nominalnya lebih besar lagi. Mertuanya itu benar-benar menyuruhnya bersenang-senang sembari bekerja dan menjaga cucu keduanya.


"Tidak Sofia, Itu untukmu. Hmmm...rencananya besok momy dan Bella akan menjengukmu." Sofia tentu saja bahagia mendengar niat Fransisca. Setiap bulan ibu mertuanya itu selalu menyempatkan diri datang ke Jogja. Wanita paruh baya itu juga meninggalkan bisnisnya untuk sementara dan menetap di Indonesia hanya untuk memastikan anak-anaknya baik-baik saja.


"Wah...senangnya...mama mau jalan-jalan kemana lagi?" Sofia tidak lupa jika mertuanya itu sangat suka travelling. Dia tidak akan melewatkan waktunya ke Jogja begitu saja.


"Momy mau dirumah saja." balanya membuat Sofia terkejut karenannya. Tumben.


"Hmmm...baiklah, aku akan masakkan momy....."


"Putramu akan ikut Sofia." lirih Fransisca membuat jantung Sofia bertalu. El...dua bulan tak bertemu putranya membuatnya amat rindu tak terkira. Air mata berjatuhan dari sudut matanya.


"Mama tak sedang bercandakan?" ulang Sofia memastikan jika mertunya tak sendang bergurau. Dia cukup tau jika Fernando tak akan melepas El begitu saja mengingat pertengkaran terakhir mereka.


"No, momy serius, sangat serius Sofia." tegas Fransisca dengan menakan setiap kata-kata yang keluar dari bibirnya.


"Mama...terimakasih." balas Sofia dengan isakan yang lebih mendominasi dari pada perkataannya. Rasa haru begitu membekas dalam dadanya. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Kesempatan yang bahkan dia nantikan setiap detik dalam hidupnya, bertemu putranya.