
"Apa aku pantas mencintaimu tuan Fernando satria Hutama?"
Tak ada sahutan dari bibir Fernando. Bola matanya sudah terkunci pada sorot redup didepannya. Wanitanya. Istrinya. Sofia. Berlahan kedua tangannya terangkat merangkum bahu Sofia dan membawanya kedalam pelukan hangatnya.
"Kenapa kau tanya begitu?" sungguh, wangi tubuh pria ini selalu membuat Sofia menghangat.
"Aku takut." cicit Sofia yang makin berani menyusupkan kepalanya pada dada bidang itu Sambil menikmati elusan tangan sang empunya tubuh yang gagah perkasa.
"Apa yang kau takutkan?" hembusan angin malam yang berubah dingin membuat lidah Sofia kelu. Banyak keraguan yang menumpuk disana.
"Aku hanya wanita biasa, sedang kau..kau punya segalanya. Tampan, kaya, punya segalanya, kau juga....."
" Tapi aku yang sudah memilihmu."
"Karena Elle bukan?"
"Apa kau percaya?" Sofia menganggukkan kepalanya. Siap atau tidak siap dia harus siap. Toh itu kenyataan yang harus dia terima dengan lapang dada. Dia hanya ibu pengganti untuk Elle.
"bodoh." bisik Nando sambil mengigit daun telinganya, membuat Sofia merinding seketika.
"Kau tau Elle bukan putri kandungku. Kenapa aku harus bersusah payah mencarikan ibu buatnya? Diasuh pembantu hingga sebesar itu sudah keberuntungan baginya." Nando menghirup harum rambut Sofia lama. Aroma sama yang membuatnya ingat kenangan lama.
"Lalu....kenapa kau memilihku?" Nando merangkum wajah Sofia yang menengdah padanya. Wajah ingin tau yang membuatnya gemas. Berlahan dia melepaskan pelukannya dari sang wanita, kembali menatap langit yang membuat pikirannya mengembara.
"Apa kau lupa jika delapan tahun lalu kita pernah bertemu?" dahi Sofia mengerut. Bertemu? kapan? kenapa dia sama sekali tidak ingat dengan pria tampan itu? Kembali dia menegadah, menyimak raut wajah suaminya hingga detail sambil mulai mengingat. Hasilnya...dia menggeleng putus asa. Tak mendapat petunjuk apa-apa. Ingatannya buntu, padahal dia wanita yang walau tidak jenius tapi punya kecerdasan diatas rata-rata dan daya ingat yang kuat. Apalagi ini baru delapan tahun. Mustahil dia lupa. Masa kecilnya saja masih terekam sangat jelas diingatannya.
"A..aku...sama sekali tidak ingat." jawabnya terbata. Takut Nando merasa marah atau kecewa. Tapi mau bilang apa? berbohongpun dia takut ketahuan dan malah bikin runyam.
Sofia mengekori langkah Nando yang kembali masuk ke kamar mereka. Tuan muda Hutama itu membuka lemari besar dan menjangkau sebuah kotak kecil dalam lemari. Membuka kotaknya dan mengeluarkan sebuah kalung dan stempel berlambang bintang dengan angka 3 ditengahnya. Ahh...ya Tuhan...tanda itu???
"Apa sekarang kau ingat?" tanya Nando serius.
"Kau...apa kau tuan Edwardo?"
"Hmmmm." Sofia melangkah mundur. Masih tak percaya dengan penglihatannya. Delapan tahun lalu dia memang bertemu dengan pemilik stempel itu. Stempel yang merubah jalan hidupnya. Stempel yang membuatnya harus berjuang siang malam untuk mendapatkannya. Ya....dia satu dari tiga orang yang mendapatkan beasiswa kedokteran gratis dari donatur tetap universitas tempatnya belajar. Mendapatkannya adalah impian setiap mahasiswa kala itu karena jaminan jenjang karier yang sangat bagus. Bukan hanya prestasi, tapi penerimanya harus siap melaksanakan instruksi dari sang pemberi termasuk sangsi dicabutnya beasiswa jika ada penurunan nilai juga kelalaian. Intinya, selama belajar disana, penerima beasiswa itu harus siap diawasi 24 jam dalam hal apapun. Dan hanya ada tiga orang saja yang beruntung mendapatkannya dalam tiap angkatan. Dua dari fakultas ekonomi karena sang pemilik beasiswa akan mengarahkan mereka pada perusahaan yang bernaung dibawahnya dan seorang dari kedokteran yang nantinya akan direkrut pada rumah sakitnya.
"A ..aku...maafkan aku tuan." Sofia berlutut, menjatuhakan diri sambil mengatupkan kedua tangannya di dada. Wajahnya tertunduk menatap lantai dengan tubuh gemetar. Dia seperti pencuri yang ketahuan dan akan diadili. Yah...seperti itu dia kini. Bagaimanapun dia sudah mengingkari janji untuk bekerja pada rumah sakit sang tuan saat lulus. Bukannya datang menepati janji, dia malah menyalahi isi perjanjian dengan kembali kedesa dan mengabdi disana. Ditanah kelahirannya. Dada Sofia sesak seketika.
"Aku...aku bersalah padamu. Pada janjiku padamu. Tapi sungguh, aku hanya mengikuti kata hatiku. Tak ada dokter yang mau bertugas didesa terpencil kami. Mereka...masyarakat kami sangat butuh tenaga medis saat wabah beberapa tahun lalu menyerang desa kami."
"Juga dengan sengaja mendaftar menjadi abdi negara tanpa ijin dariku? Kau sungguh bertindak semaumu. Aku bisa saja menuntutmu atas tuduhan...."
"Tuntut saya jika itu bisa menebus kesalahan saya pada anda tuan Edwardo. Saya tidak akan melawan." potong Sofia cepat. Rasa bersalah sudah merambati hati nuraninya. Dia bukan hanya pengecut, tapi juga manusia tak tau terimakasih.
"Berdiri!" perintah Nando. Berlahan Sofia berdiri, namun tetap menundukkan wajahnya.
"Sofia lihat aku!" Takut...Sofia menengadahkan wajahnya, menatap netra blue ocean dari pria tampan didepannya. Sekarang dia sadar kenapa selalu ada rasa bahagia saat menatap mata itu. Mata yang sama yang membuatnya sangat bahagia saat penyerahan dan penandatanganan surat beasiswanya diruang utama universitas dulu. Saat itu dia merasa menjadi manusia paling beruntung di dunia.
"Maafkan aku tuan Edwardo." desisnya kembali menundukkan wajahnya. Jari telunjuk tangan kiri Fernando meraih dagunya dan menariknya keatas. Memaksa menantang wajah tampannya.
"Namaku Fernando sofia. Edwardo hanya nama samaranku saat menjadi donatur. Aku tetap Fernando satria hutama."
"Anda...bagaimana bisa berubah secepat ini?" tanya Sofia ragu. Edwardo yang dia lihat adalah pria tampan yang tak dia ketahui berapa usianya karena wajahnya tetutup kumis dan jambang yang lebat. Tubuh Edwardo juga terbilang gemuk dengan perut buncit saat itu. Sangat jauh dari tampilan Fernando saat ini. Yang dia ingat hanya hidung mancung dan mata blue ocen teduhnya. Hingga dia menyadari, dia juga lupa pada mata itu walau sudah pernah dekat dengannya. Lagi pula dia hanya beberapa menit bertemu dengan sang donatur karena pria itu sedang banyak urusan dan harus ke kantor secepatnya. Stempel itu adalah satu-satunya yang dia ingat karena beberapa kali surat berstempel senada yang menolong hidupnya.
"Berubah? Aku hanya mencukur kumis, jambang dan sedikit olah raga dan diet. Ditinggalkan orang yang kuharapkan sudah merubahku jadi mengerikan hingga kaupun bisa lupa padaku."
"Saya..maafkan saya tuan."
"Stop bilang saya anda sekarang Sofia. Aku suamimu dan jangan minta maaf lagi padaku."
"Tapi aku...sudah menyalahi perjanjian itu." ujar Sofia lalu mengigit bibir bawahnya yang masih sedikit bergetar.
"Tidak selama kau tau cara membalas budi."
"Maksudmu??"
"Aku hanya minta kau menyerahkan hatimu padaku Sofia. Itupun jika kau rela."
"Aku....."
"Tidak ada paksaan dariku. Kau bebas menjawab. Aku akan melepasmu jika memang kau tak sanggup untuk itu. Aku tau..perasaan tidak bisa dipaksakan. Aku mungkin bisa memenjarakan tubuhmu, tapi tidak hati dan perasaanmu. Mulai malam ini kau kubebaskan dari perjanjian dan hutang budi itu Sofia. Hiduplah sesuai kemauanmu."