Dear Husband

Dear Husband
Berdarah



Enam jam tertidur dibawah pengaruh obat membuat Fernando merasa sedikit segar. Berlahan dia membuka mata. Hal pertama yang dia temui hanyalah kesunyian. Ya, sunyi yang menyakitkan. Lampu kamarnya yang menyala terangpun tak sanggup menerangkan hatinya yang kelam bak malam diluar sana. Dia sudah kehilangan semuanya. Hanya ratapan dan nestapa yang mengendap dihatinya. Cukup sudah dia jatuh cinta. Pria sepertinya memang tak layak dicintai.


"Arrgghh..." teriaknya tertahan saat mencabut selang infus dari tangannya. Darah mengucur keluar, tapi tak dihiraukannya. Dia tak butuh alat itu. Sembuhpun tak ada gunanya. Biar saja racun itu menggerogoti raganya. Mati lebih cepatpun lebih baik baginya. Berlahan pria itu bangkit dari tidurnya, bersamaan denga pintu kamar yang terbuka. Pasti suster yang menjaganya. Tidak sopan sekali, masuk kamar tanpa mengetuk pintu gerutunya.


"Ketuk pintu dulu saat mau masuk ke kamar orang lain. Apa ibumu tak pernah mengajarimu sopan santun?" hardik Fernando keras tanpa menoleh. Anehnya pintu kembali tertutup. Suara ketukan lemah terdengar lalu pintu itu kembali terbuka. Fernando hampir menghardiknya lagi sebelum...


"Momy...lihat dady berdarah!!!" teriakan bocah kecil itu sontak membuat sang tuan muda menoleh. Mata itu kembali berkaca saat melihat putranya berteriak panik tanpa berani masuk ke kamarnya. Tangannya melambai, memberi isyarat agar pria kecil yang amat mirip dirinya itu mendekat. Ragu, bocah itu mendekatinya.


"Kau masih disini??"


"Tangan dady...." tunjuknya pada tangan Fernando yang terus mengeluarkan darah. Nando tak menghiaraukannya. Yang dia lakukan hanya meraih bocah itu dan memeluknya.


"Peluk dady sayang. Setelahnya, pergilah dengan momymu. Kelak, jaga dia baik-baik dan jangan pernah menyakitinya seperti yang dady lakukan padanya." bisik Fernando menahan sesak di dadanya.


"Pergi? tapi aku mau disini dengan dady." rengek Rafa sambil terus memeluk erat dady tampannya. Anak itu sangat menyayangi ayahnya hingga tak mau pisah lagi.


"Sayang, dady tak akan bisa merawatmu seperti momymu. Dady akan tetap mengunjungimu nanti." Nasihat Nando sambil membelai punggung Rafa lembut. Kesedihan masih merambati sukmanya.


"Tapi aku mau tetap bersama dady..." tangis Rafa mulai pecah. Bocah itu bahkan meronta dalam pelukan dadynya hingga Fernando harus terus membujuknya. Bukannya diam, Rafa malah makin gaduh dalam tangisannya.


"Rafa lepaskan dadymu...kau akan menyakiti dady nanti." pekik lirih Sofia yang datang membawa segelas teh hangat.


"Tidak mau...aku mau sama dady mom..jangan ajak aku pergi." Sofia mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengingat kebersamaannya dengan Rafa. Tak sekalipun dia menyinggung soal membawanya pergi.


"Apa yang kau katakan nak?"


"Aku...aku yang menyuruhnya pergi bersamamu. Aku berpesan agar dia menjagamu saat aku tak ada disisi kalian nantinya." ucap Fernando getir. Dia sama sekali tak ingin menatap istrinya yang masih berdiri di depannya.


"Jadi kau menyuruh kami pergi?" Seketika Fernando mendongakkan kepalanya.


"Aku hanya ingin kau dan anak-anak bahagia Sofia. Aku harus memulai segalanya dari nol lagi karena Hutama grup sedang diambang kehancuran. Biarkan aku sendiri yang berjuang, aku tak ingin kalian hidup susah bersamaku. Kelak, jika aku sudah bisa mengembalikan Hutama grup seperti dulu, aku akan menjemput kalian."


"Ahh Ya Tuhan..apa yang terjadi? kau mencabut infusnya. Rafa pergilah duduk di sisi dady. Momy harus memasangnya lagi." Sofia meletakkan gelas itu di atas nakas tergesa.


"Tidak mau. Aku mau sama dady. Aku tidak mau pergi dari dady mom." tolak Rafa sambil terus memeluk dadynya.


"Rafa dengarkan momy. Tidak ada yang akan pergi dari sini. Sekarang menyingkirlah. Dady harus segera diobati." Rafa menyeka air matanya lalu beringsut turun dari pangkuan Fernando.


"Biarkan begini. Aku baik-baik saja." Tolak Fernando saat Sofia akan memasang kembali infusnya.


"Kau mau mati? keadaanmu belum stabil. Kau masih harus di obati." Kata Sofia dengan kesal. Dokter cantik itu menarik paksa tangan Fernando.


"Sudah kubilang aku tak mau Sofia." tarik menarik terjadi antara suami istri itu hingga beberapa waktu. Tak ada yang mau mengalah.


"Mom..dad...apa yang kalian lakukan?" pertanyaan polos Rafa menghentikan aksi keduanya. Sadar telah bertindak kekanakan mereka melapaskan diri satu sama lain. Tapi sekejap kemudian Sofia kembali mencekal tangan Fernando.


"Terserah apa maumu. Tapi aku tak ingin menjadi janda, anak ini juga harus tau siapa ayahnya." kataya tegas sambil kembali memasang infus di tangan sang tuan muda yang hanya terbengong mendengar perkataan istrinya.


"Satu lagi, jangan pernah berpikir aku menikah denganmu demi hartamu lalu meninggalkanmu saat sedang ditimpa musibah. Jadi jangan suruh aku atau anak-anakmu untuk pergi dari sini karena ini juga rumah kami. Sekarang minumlah. Kau harus cepat sehat karena calon anakmu juga butuh biaya persalinan yang tidak sedikit. Aku juga butuh shoping seperti wanita lain. Gaji pembantu juga harus dibayar...bla..bla...blaa..." Fernando sama sekali tak mendengar kelanjutan kata-kata istrinya yang terus mengeluh ini itu padanya. Dia amat tau Sofia hanya ingin menyemangatinya karena sejatinya uang yang berada di rekening istrinya lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan rumah tangga mereka. Ahh..lihat, betapa cantiknya si ibu hamil itu jika terus mengomel padanya. Hampir lima tahun menikah, baru sekarang dia melihat istrinya itu berkata panjang lebar padanya. Mata Fernando hingga tak berkedip menatap ke arahnya yang masih sibuk dengan pengaturan botol infus yang sempat berhenti menetes sambil terus mengomel bak emak-emak berdaster diluar sana.


"Sekarang berbaringlah. Kau butuh banyak istirahat." Sofia menekan punggung suaminya agar kembali rebahan. Fernando yang awalnya enggan menjadi bersemangat saat melihat Rafa sudah mengambil tempat di sisinya. Sang putra langsung memeluk lengannya saat dia ikut berbaring.


"Mom..kau mau kemana? Tidurlah disini." tanya Rafa saat Sofia berdiri. Bocah itu menepuk sisi kirinya yang kosong agar sang momy tidur disana.


"Hmmm...momy akan mengambil makanan untuk dady dulu."


"Sofia aku tidak lapar..." tatapan tajam Sofia membuat Nando menghentikan kalimatnya. Dia amat tau Sofia tak suka dibantah saat ini. Walau tak tersurat, tapi dia tau ibu anak-anaknya itu amat memperhatikan dirinya. Sekarang lihat, betapa beruntungnya dia memiliko istri seperti Sofia. Rasanya dia tak akan menyesal jika harus jatuh miskin sekalipun asal wanita itu berada di sisinya.


"Sudah kubilang aku tidak mau jadi janda mas. Apa perlu kuulangi lagi kalimat itu hingga kau tau artinya?" ujarnya kesal lalu menghilang dibalik pintu. Sebuah senyum tipis tergurat di ujung bibir sang tuan muda.