
"Aku..aku ingin menikah dengannya Bel."
Bella dan Sofia saling berpandangan. Senyum tipis timbul disudut bibir keduanya. Mantan pengacara andal dan seorang dokter berintelegensi tinggi sedang berkolaborasi mengaduk-aduk perasaan wanita malang seperti Amanda.
"Sayangnya sudah terlambat Manda." desah Bella dengan mimik penuh penyesalan.
"Apa maksudmu Bel?" Amanda mengguncang bahu Bella keras kala mendengar perkataan ibu satu anak itu. Perasaannya campur aduk.
"Kak Nando sudah menyuruh Alex memulangkan dia ke negara asalnya."
"Australia? Kau..kau punya alamatnya?" buru Amanda terlihat penuh kegelisahan.
"Sayangnya tidak. Kakak hanya mengirimnya sampai bandara. Selebihnya kami tak tau. Kau bisa menyelidiki asal usulnya di data kantor ayahmu bukan?"
"Bagaimana aku bisa melakukannya Bel? Istri ayahku dan anak sahnya pasti akan menghalangiku masuk. Ya Tuhan Seaaannn...." tangis Amanda kembali pecah. Penyesalan yang terlambat. Seketika bayangan Sean melamarnya melintas, membuat kepalanya berdenyut sakit. Sekelilingnya menjadi gelap kala Sofia dan Bella menangkap tubuh yang telah berubah lunglai itu dan membopongnya ke sofa.
"Ada apa dengannya kak?" tanya Bella lirih. Sofia memeriksa denyut nadi Amanda, sayangnya dia tidak membawa peralatan medisnya. Artinya dia hanya bisa mengira-ngira saja.
"Hanya shock ringan. Sebentar lagi juga sadar."
"syukurlah." timpal Bella yang berjalan mengambil minyak kayu putih dan mengoleskannya di bagian tubuh Amanda yang berubah dingin. Dia juga berinisiatif mengambilkan selimut untuk menutupi tubuh Amanda.
Suara langkah terdengar memasuki rumah. Sofia langsung berdiri melihat siapa yang datang siang itu. Sedikit lega kala melihat suaminya masuk diikuti Sean dan Alex.
"Kenapa dia?" tanya Nando mengrenyit heran. Saat dia keluar rumah tadi Amanda masih baik-baik saja.
"Pingsan. Hanya Shock, mengira Sean meninggalkannya." sahut Sofia.
"Bukannya dia bilang tak ingin menikah? lalu kenapa harus pakai acara pingsan?"
" Mas....bisa diam nggak?" sungut Sofia kesal.
"Hmmmm..dimana Rafa?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Dia tau jika dilanjutkan akan berakibat fatal untuk dirinya. Istri cantiknya itu pasti akan memilih tidur memunggunginya lagi.
"Sama kak Karin dikamar."
"Momy dan Dad?"
"Di kamar mereka juga."
"Baiklah...Lex apa kau tak ingin bersantai sejenak?" Alex tersenyum hambar.
"Apa kakak punya rencana bersantai?" Tanya balik sang sekretaris. Jenuh juga dengan berbagai aktifitas mereka.
"Ruang olah raga." balas Nando santai. Dia memang sudah lama tidak berolah raga. Bisa-bisa perutnya jadi buncit nantinya.
"Ide bagus. Sean..apa kau mau ikut?" tawar Alex. Tampaknya akan seru jika tambah satu teman lagi. Tapi sialnya Sean malah menggeleng. Perhatiannya masih terfokus pada Amanda yang belum sadar dari pingsannya.
"Hmmm baiklah. Kami ke belakang dulu." Alex berjalan lebih dulu menuju belakang rumah dimana ruang fitnes berada.
"Sayang, susul aku begitu Amanda baikan oke?" Nando mengecup pipi kiri Sofia, membuat sang istri tersipu malu karenanya. Nando yang gemas mengelus kepalanya lembut. Istrinya ini makin lama makin membuatnya greget dengan pipinya yang selalu bersemu merah saat mendapat perlakuan romantis darinya. Rasanya dia selalu jatuh cinta dan makin cinta setiap harinya.
"Ehm...ehhmm....ciiee yang lagi jatuh cintaaaa..." ledek Bella dengan tawa berderai. Sofia hanya menundukkan wajahnya, mencoba menyembunyikan senyum malu-malunya.
"Ishh..kau ini."
"Rasanya aku harus memberitau kak Karin kalau adik-adiknya sedang butuh bulan madu ke dua." Sofia mencubit lengan Bella hingga mantan pengacara cantik itu mengaduh kesakitan.
"Kakak!!" pekiknya lagi, tawa Sofia berderai kala tangan Bella balik mencubitnya. Hanya seperti gigitan semut, sama sekali tak terasa sakit bagi anak petani berkulit tebal sepertinya. Tawa keduanya berhenti kala menatap wajah tegang Sean.
"Oh Sean maafkan kami." Sofia buru-buru minta maaf kala melihat wajah sedih Sean. Pria itu duduk di kursi kecil yang sengaja dia tarik tadi. Tangannya membelai kepala Amanda penuh kasih sayang.
"Kapan dia akan sadar nyonya?"
Prediksi Sofia benar, Beberapa menit kemudian mata Amanda mengerjab dan terbuka. Netra sembabnya menatap Sofia dan Bella bergantian.
"Sean...." gumamnya lemah. Air mata kembali berderai membasahi pipinya. Sean yang tepat berada di atas kepalanya, terhalang pegangan sofa hendak bersuara, namun urung karena melirik isyarat tangan Bella.
"Sofia dimana Sean??"
"Bella dimana Sean? apa dia sudah benar-benar pergi?" tak ada sahutan. Baik Bella, Sofia maupun Sean hanya mematung dalam diam.
"Seaaaaannn!! Jangan pergi!!..jangan tinggalkan aku Seaaannn!!" teriak Amanda histeris. Tubuhnya bergetar dengan kedua telapak tangan menutupi wajah ayunya.
"Amanda..." Sejenak Amanda menghentikan tangisnya kala mendengar ada yang memanggil namanya. Berlahan dia membuka wajahnya, menatap tak percaya pada pria yang terus dipanggilnya beberapa saat lalu.
"Se..Sean..." desisnya.
"Ya..ini aku Sean!"
"Seaaannn!!" dan Amanda berlari masuk ke dalam pelukan Sean, memeluknya erat seakan tak ingin lepas.
"Sean..jangan pergi." bisiknya dengan bahu terguncang.
"Hey...jangan menangis." hibur Sean seraya membalas pelukan wanita itu dan membelai punggungnya lembut.
"Sean..mari menikah." katanya diantara isakan. Sean melepaskan pelukan mereka, kedua tangannya menangkup wajah Amanda yang berubah lucu dengan hidung yang sudah memerah.
"Aku tidak mau."
"Kau ...." Amanda menatap wajah tampan didepannya putus asa.
"Aku tidak mau menundanya lagi Manda." dan Sean kembali memeluk calon pengantinnya erat dengan senyum mengembang.
"Ayo Bell." Tangan Sofia menarik lengan Bella mengikutinya.
"kemana kak?"
"Kau tak dengar Alex dan mas Nando menyuruh kita menyusul? apa kau mau menyaksikan adegan romatis romeo juliet itu?" omel Sofia membuat Bella tertawa renyah. Dia bergegas berpesan pada asisten rumah tangga yang kebetulan berpapasan dengannya agar membuatkan minuman dan cemilan untuk diantarkan ke ruang olah raga.
"Hubby .." Nando yang sedang berlari diatas treadmill segera menghentikan kegiatannya. Dia bergegas turun dan mengatur nafasnya. Kaos hitamnya terlihat basah oleh keringat. Sofia mengulurkan handuk kecil pada suaminya.
"Apa mereka sudah baikan?"
"Kurasa sudah. Biarkan mereka berdua dulu. Mas mau minum?" Sofia mengulurkan botol air mineral ditangannya pada Nando yang segera menyambutnya. Pria tampan itu meneguknya segera. Mata Sofia menikmati tiap gerakan sang suami layaknya gerakan slow motion. Tubuh itu terlihat gagah dan sempurna dengan gerakan jakun yang maskulin.
"Sayang..apa kau sedang mengagumiku?" kembali wajah sofia merona mendengar pertanyaan itu.
"Jangan-jangan kau merindukan sentuhanku." goda Nando seraya mengelus wajah istri cantiknya.
"Hubby..."
"hmmm..."
"Ahh tidak."
"Katakan ada apa hemm? apa kau ingin mengungkapkan cintamu padaku? Tuturnya penuh percaya diri. Pipi Sofia kembali merona
"Aku bahkan tidak tau sejak kapan aku jatuh cinta padamu hubby. Yang aku tau..setiap hari aku selalu jatuh cinta padamu." Nando mengecup bibir itu mesra. Perasaan yang sama seperti dirinya.
"Aku juga merasakannya istriku. I Love you so Much." bisiknya penuh perasaan.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊ
Hay readers...kisah ini kubikin tamat dulu ya. Seperti novelku yang lain, akan selalu ada ekstra part untuk melanjutkannya. Terimakasih untuk semangat, dukungan, kritik dan saran membangun yang sudah kalian berikan. Tanpa kalian semua, author receh ini bukan apa-apa. Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain, sampai jumpaaaaππππππππππππππ