
"Selamat malam nyonya. Tampaknya anda terlalu bersemangat hingga terlambat pulang." Suara Alex yang sudah menungggunya di depan pintu menahan langkah Sofia. Sekarang Sofia bagai anak kecil yang ketahuan bapaknya karena pulang telat usai lupa waktu karena asyik bermain. Sofia hanya tersenyum pahit.
"Maafkan aku." sahutnya pendek. Dalam kondisi sekarang dia hanya harus rajin minta maaf. Bukankah dia hanya orang yang numpang hidup disana? Seorang tamu harus menjaga adab dan sopan santunnya bukan?
"Kenapa anda minta maaf kesaya?" Alex mengerutkan keningnya. Dari bahasanya dia tau jika malam itu Alex masih dalam jam kerja karena menggunakan bahasa formal.
"Aku hanya ingin minta maaf saja." dingin, walau tak ada kata-kata kasar seperti yang selalu Emma sebutkan saat marah, tapi Alex merasa sang nyonya mencemooh dirinya. Tidak ada makian, tapi terasa menohok hati Alex.
"Anda harus minta maaf pada tuan muda."
"Baik, sampaikan padanya aku minta maaf. Kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi sekretaris Alex." ....tentu saja tidak akan terulang karena besok dia akan pergi dari rumah ini. Dia hanya harus menata hati dan menghapus ingatan akan pernikahan dan rumah ini. Anggap saja mimpi lalu.
kali ini Alex benar-benar tercekat. Dimana Sofia yang biasanya frontal dan gigih mempertahankan harga dirinya? apa Sofia sudah benar-benar lelah dan ingin menyerah?
"Apa anda baik-baik saja nyonya?" tanyanya menyelidik. Sekretaris gagah itu hingga harus memincingkan matanya.
"Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja sekretaris Alex."
"Tapi anda terlihat berbeda."
"Mungkin hanya perasaanmu saja. Maaf, aku harus keatas."
"Silahkan nyonya. Nikmati istirahat anda." Alex melebarkan pintu agar Sofia bisa masuk. Dia juga menguncinya kembali setelah Sofia menutup pintu kamarnya.
"Selamat malam tuan muda." sapanya ketika sambungan telepon diangkat orang diseberang sana.
"Apa istriku sudah pulang?"
"Nyonya baru saja pulang diantar dokter Maya tuan. Dia juga langsung istirahat dikamarnya."
"Apa dia baik-baik saja?"
"Sepertinya nyonya banyak berubah hari ini tuan."
"Biarkan saja. Terus awasi istriku dan pastikan dia baik-baik saja. Alex, maaf karena aku menyusahkanmu hingga semalam ini."
"Tidak masalah tuan muda. Kalau begitu saya permisi."
"hmmm...terimakasih." hanya itu. Lalu Alex berjalan ke mobilnya dan meninggalkan rumah itu.
Sofia memutuskan mandi lalu merebahkan dirinya. Sialnya, dia merasa lapar karena lupa makan malam tadi. Ahh ...mau tidak mau dia turun ke dapur.
"Ssttt...kudengar dari Maria, tuan ternyata pergi ke Inggris untuk menemui nona Clara, pacar pertamanya. Tuan pria yang sangat beruntung bukan? walau tidak jadi menikah dengan nona Clara yang penyanyi terkenal itu, tapi dia berhasil menikahi nyonya Emma. Sekarang malah tuan mau balikan dengan nona Clara." Sofia mendekati asal suara dengan langkah pelan. Dia sengaja tidak menghidupkan lampu agar bisa melihat dengan jelas siapa yang sedang bergosip disana.
"Aku juga kaget saat tuan secara tiba-tiba menikahi nyonya baru kita yang bahkan tidak ada apa-apanya dibanding istri dan pacarnya. Ya wajar saja jika tuan berpaling. Istrinya walau di dandani model apa juga nggak bakalan secantik para wanitanya. Itik buruk rupa yang bermimpi menjadi burung merak yang cantik jelita.Mungkin malah aku lebih cantik dari padanya." tawa keduanya berderai saat sebuah tangan menepuk bahu Sofia yang menatap nanar mereka.
"Bibi Mimi." desisnya halus. Tadi hampir saja dia berteriak karena terkejut, tapi penguasaan diri Sofia memang tergolong bagus. Dengan telunjuk dibibirnya, dia memberi isyarat bi Mimi agar diam.
"Yaa...dia hanya beruntung karena punya gelar dokter. Sayangnya hanya dokter umum. Tuan benar-benar sial karena menikahi wanita sial sepertinya. Pasti dia pakai guna-guna untuk memikat tuan dan nona kecil. Dasar rubah betina." Sofia mencekal lengan bi Mimi yang hendak keluar dari persembunyian mereka. Panas telinga dan hati wanita itu mendengar cemoohan dua pelayan yang sedang berbincang di teras dapur itu. Bagaimanapun dia kepala pelayan disana. Dia tidak ingin kehidupan keluarga tuan mudanya menjadi perbincangan orang lain, apalagi para pelayan. Sofia...walau yang jadi cemoohan mereka adalah Sofia, tapi dia adalah istri Fernando. Menjelekkan Sofia sama saja dengan menghina Fernando. Dasar pelayan tidak tau diri.
"ehm...ehmmmm!" deheman Sofia membuat kedua pelayan itu berjingkat kaget seiring saklar lampu yang dihidupkan bi Mimi. Kontan wajah keduanya menjadi pucat pasi.
"Sudah cukup menggosipkan saya hmmm." Sofia melipat kedua tangannya di dada dan menyandarkan tubuhnya di dinding. Dua pelayan tadi berdiri gemetaran ditempatnya.
" Ma..maafkan kami nyonya." sahut keduanya berbarengan.
"Sofia...panggil aku Sofia saja." tegas Sofia.
"Ka..kami tidak berani nyonya."
"Kenapa? bukannya aku hanya wanita beruntung yang dinikahi tuan kalian? Bahkan aku ini itik buruk rupa yang bermimpi menjadi merak yang cantik bukan? kalian tau betapa tidak pintarnya pikiran kalian itu? merak betina malah sama sekali tidak tampil cantik. Yang kalian lihat cantik itu adalah merak jantan yang ingin menarik perhatian betinanya. "
"ma...maafkan kami nyonya."
"Satu lagi....walau aku tidak secantik Emma atau Clara, tapi kenyataanya aku adalah nyonya rumah ini. Istri sah Fernando satria hutama yang punya kewenangan memberhentikan kalian."
"Hukum saja kami nyonya. Tapi tolong jangan pecat kami." keduanya makin ketakutan. Mau kerja apa mereka jika sang nyonya memecat mereka. Mana ada kerja biasa saja tapi digaji setara 3x gaji pembantu ditempat lain? bayangan berbagai kesulitan diluar sana membuat mereka ketakutan dan bersimpuh di depan Sofia yang menarik mundur tubuhnya.
"Kami mohon jangan pecat kami nyonya. Kami sungguh menyesal nyonya. Huku saja kami, tapi tolong jangan pecat kami."
"Berdirilah. Jangan pernah bersimpuh atau bersujud didepan siapapun karena yang berhak menerima sujud kalian adalah Allah, Tuhan seru sekalian alam. Berdiri dan pergilah dari sini."
"A...apa nyonya sudah memaafkan kami,?" salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya.
"Aku bukan pendendam." lalu Sofia berlalu dari sana diikuti bibi Mimi. Wanita paruh baya itu sangat kagum pada sang nyonya. Andai tadi yang ada diposisinya adalah Emma, maka seisi rumah itu akan pecah karena kemarahannya. Tapi sang nyonya baru malah marah dengan gaya yang sangat elegan. Sofia menuju meja makan lalu duduk santai disana.