Dear Husband

Dear Husband
Negosiasi



Nando berjalan beriringan dengan Aldi yang melangkah lebar menuju atasannya. Sang jendral tampaknya sedang membahas hal yang serius bersama entah siapa, Nando belum begitu tau karena orang itu duduk membelakangi dirinya.


"Ijin jendral, kakak saya ingin bertemu." kata Aldi tegas setelah memberi hormat tadi. Seketika sang jendral mengalihkan pandangannya pada keduanya.


"Tuan Fernando?? Oh ..lama tidak bertemu, bagaimana kabar anda? tanyanya sambil lekas berdiri dan menyalami Nando.


"Saya baik tuan Raga. Ehmm maksud saya jendral Raga tentunya." balas Nando santai. Tak hanya jendral Raga, rekannya tadi juga berdiri menyalaminya.


"Rupanya ada tuan Galang juga." lanjut Nando tersenyum tipis. Orang yang dipanggil Galang itu segera berpamitan setelah bersalaman tadi. Tersisalah dua pria bertubuh sama-sama tegap, sama-sama gagah, hanya beda profesi saja.


"Bagus Renaldi ini adik anda rupanya." kata Jendral Raga sambil menepuk bahu anak buahnya yang tetap diam dengan sikap sempurnanya. Lagi-lagi Fernando tersenyum smirk.


"Ya. Dia adik istri saya. Saya datang menemui anda untuk meminta libur bagi Aldi."


"Libur? dia bahkan baru tiga bulan jadi ajudan saya. Belum ada hari libur yang diagendakan untuknya karena satu ajudan saya belum selesai liburan. Dengan kata lain, saya masih butuh dia tuan Fernando."


"Di, bisa tinggalkan kami berdua saja?"


"Baik kak." dan Aldi segera berlalu, memberi jarak pada keduanya berbincang.


"Setahu saya ada jatah libur setiap bulannya dari kesatuan." tukas Nando melanjutkan percakapan mereka yang terbengkalai.


"Tapi dia ajudan, bekerja untuk saya, bukan dikesatuan." jawab Raga mulai meninggi. Nando hanya terkekeh.


"Bekerja untuk anda tapi digaji dari uang negara." sindirnya telak.


"Artinya Bagus Renaldi tetap berhak punya jatah libur. Saya tidak minta banyak tuan Raga. Dua hari saja." lanjutnya dengan nada lebih rendah tapi tak mengurangi wibawa dirinya. Percakapan dua pria penuh intrik, terlihat santai namun menguras emosi.


"Dua hari? Itu terlalu lama."


"Baik, satu hari saja." putus Nando kemudian. Satu hari saja bersama adiknya mungkin bisa sedikit mengurai rindu istri tercintanya pada saudara lelakinya.


"Berapa nominal yang bisa anda berikan sebagai kompensasi pada pengajuan libur dadakan ini?" Nando kembali terkekeh dengan tatapan yang berubah tajam. Dia sudah menduganya. Berhadapan dengan jendral seperti Raga haruslah menyebut dan berurusan dengan nominal. Jendral satu ini....masih muda tapi punya jiwa bisnis yang cukup dominan jika menyangkut uang.


"Sebutkan berapa yang anda mau." balas Nando membuat Aldi ataupun Raga terkaget. Siapa yang tak kenal Fernando satria hutama? Pria dihadapannya ini lebih dari mampu untuk membayar dirinya. Pria di depannya ini juga pernah mengerahkan ratusan tenaga keamanan untuk tiap even yang digelarnya diberbagai kota. Dia sadar jika Aldi pasti sangat berati hingga dia berani neegosiasi dengannya demi bawahannya itu.


"Seratus juta perhari." putusnya tegas. Tentu saja dengan kesombongan yang patut diapresiasi. Bernegosiasi dengan seorang jendral dipagi hari dengan background alam terbuka memang sesuatu yang lain. Tapi demi Sofia, apapun akan Nando lakukan.


Melihat diamnya seorang Fernando, orang pasti mengira tuan muda Hutama itu akan setuju. Uang sebegitu sama sekali tak ada artinya untuknya. Tapi Nando malah menyeringai dalam diam.


"Bagaimana tuan muda Hutama?" tanya Raga dengan senyum senang. Penawaran yang baik bukan?


"Saya setuju tuan Raga. Tapi....."


"Bagaimana jika kasus pemasokan senjata bagi kaum sparatis dinegara ini terbongkar? kira-kira hukuman apa yang akan didapat pemasoknya ya? padahal dia tangan kanan seorang petinggi militer negara. Apa nasibnya akan seperti jendral yang disana? saya yakin akan ada banyak bintang yang berjatuhan demi anda. Apa anda harus juga mempertaruhkan kehormatan istri anda dengan berdalih diperkosa seperti yang disana? padahal jelas bukan itu motif sesungguhnya. Apa anda siap bertanggung jawab untuk semua itu?" raut wajah sang jendral langsung berubah menakutkan. Namun Fernando sama sekali tidak gentar. Dia tetap berdiri disana, mengibarkan bendera perang.


"Anda mencoba mengancam saya tuan?" tanyanya menahan emosi. Nando kembali terkekeh.


"Bukan ancaman..saya hanya mengingatkan saja tuan Raga. Ohh ya...jangan lupakan juga kasus suap tambang ilegal dan penghancuran perusahaan properti dipenghujung tahun tempo hari. Saya yakin anda tau pasti perusahaan dan lahan usaha siapa yang sudah anda hancurkan." terang saja Raga terperanjat. Dia tau pasti jika perusahaan properti itu milik perusahaan Hutama grup. Tambang ilegal itu juga bernaung dibawah perusahaan sengketa antara Hutama grup dengan lawan bisnisnya. Terang saja Fernando tahu dan memegang kartu as nya. Beruntung Nando tak meleporkan dirinya meski sudah mendapatkan banyak bukti soal kejahatannya. Padahal dia tau Nando lebih dari sanggup untuk membuatnya kehilangan segalanya. Kali ini dia benar-benar dihadapkan pada sosok singa yang sesungguhnya. Diam, namun mematikan.


"Baiklah, satu minggu libur tanpa kompensasi apa-apa." putus sang jendral tegas.


"Saya hanya minta dua hari jendral. Tidak lebih. Any way...rahasia anda akan tetap aman bersama saya. Terimakasih atas kebaikan anda." balas Fernando rendah hati. Dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang jendral yang sudah terlihat gelisah karenanya.


"Saya hanya menjalankan tugas atasan saya tuan Fernando. Harap anda tau itu." kata Raga begitu pelan pada akhirnya. Nando tersenyum.


"Saya cukup tau itu tuan Raga. Ada seseorang yang lebih bertanggung jawab dalam kasus ini selain anda. Saya hanya titip Bagus renaldi pada anda saja." tentu saja Raga merasa lega. Akan sulit baginya untuk melawan seorang Fernando karena semua bukti memang mengarah padanya. Lebih baik mengalah, minta pengertian dan mulai bertindak bijak dalam institusi yang membesarkan namanya.


"Baiklah, saya permisi jendral. Aldi akan kembali lusa dijam kerja langsung ke kediaman anda." Dan tanpa basa-basi Nando menghampiri Aldi yang masih berdiri menunggu dalam jarak 5 meter dari mereka untuk kembali ke mobil.


"Mas, lama sekali. Kalian dari mana saja sih?" gerutu Sofia kesal. Tak kesal bagaimana? Sepeninggal Nando tadi Rafa terus menangis meminta menyusul dadynya yang pergi entah kemana.


"Menemui atasan Aldi. Dia bisa liburan dua hari di rumah kita." jawab Nando lembut, mempersilahkan Aldi duduk disamping pak Mun lalu dia duduk disamping istrinya, meminta Rafa agar bisa duduk dipahanya. Sang baby langsung tersenyum bahagia karenanya.


"Liburan? beneran mas?"


"Hmmmm." balas Nando berdeham mengiyakan.


"Semua karena kak Nando. Kalau saja kak Nando tak bicara langsung dengan jendral Raga, maka dipastikan aku tidak bisa libur kak." timpal Aldi serius. Sofia menghela nafas mendengarnya. Lagi-lagi dia harus melihat betapa berkuasanya seorang tuan muda Hutama.


"Terimakasih hubby." katanya sambil mengenggam jemari halus Fernando.


"Apapun untukmu sayang." balasnya sambil mengecup singkat pipi Sofia.


🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓🍓


*Hai readers....


Bagaimana kabar kalian hari ini? semoga sehat selalu ya. Hari ini ceritanya author receh ini ingin buka sesi curhat. Boleh ya...☺


Dari awal saya bikin novel , saya selalu terbuka dan membaca tiap kritik dan saran dari kalian semua untuk kemajuan dan kebaikan saya sebagai author dimasa yang akan datang. Maka itu, hal yang pertama kali saya lihat pada tiap notif adalah kolom komentar walau saya tidak membalasnya satu persatu. Tapi anehnya ada seseorang yang entah apa maksudnya langsung memberikan rating satu tanpa alasan yang otomatis menurunkan rating karya saya. Bukan apa-apa...tapi saya mohon berikan rating baik untuk menghargai karya seseorang. Jika tak suka tolong tidak usah dibaca. Jika suka tapi kurang berkenan, silahkan beri masukan dikolom komentar jadi saya bisa memperbaikinya.


Bagi kalian yang sudah sangat mendukung dan menyemangati karya saya, hanya ungkapan terimakasih dan doa tulus untuk kebaikan dan keberkahan untuk kalian semua. I Love U all...😍😍😍😍😍*