Dear Husband

Dear Husband
Menguping



Udara dingin membuat dua insan yang masih saling memeluk dan bergelung dibalik selimut itu menjadi enggan terjaga. Apalagi si pria malah mengeratkan pelukannya hingga membuat wanitanya semakin nyaman tertidur dalam pelukan kokohnya. Ya, Nando kembali meminta haknya sebelum subuh tadi, mandi besar dan sholat jamaah layaknya pasangan bahagia. Pria itu juga memaksa istrinya kembali tidur karena melihat wajah wanitanya yang kelelahan meladeni hasratnya yang seperti tak ada habisnya. Menjadi duda adalah ujian berat bagi seorang Fernando. Walau dia menjaga jarak pada wanita dan enggan menyewa ****** untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, tapi dia juga tetap pria normal yang butuh sentuhan wanita untuk menghangatkan ranjangnya. Entah bagaimana dia melewatkan beberapa tahun ini dalam kesendirian sebelum menemukan Sofia, dokter cantik yang sekarang tidur dan membenamkan kepala didadanya.


"eehhhmm...mas...kau sudah bangun?" Suara lembut Sofia membuatnya membuka mata pelan. Hal yang pertama dia lakukan adalah memberi kecupan dikening Sofia, membuat Sofia kembali memejamkan matanya menikmati setiap perlakuan lembut sang suami. Melihat itu, Nando juga mulai mengecup kedua kelopak mata itu, pipi lalu berakhir di bibir mungil Sofia.


"Apa kau lapar?" Anggukan kecil menjawab pertanyaan Fernando padanya. Pria itu segera mengambil ponselnya dan menelepon layanan hotel. Terang saja dia tau jika saat ini Sofia sedang sangat lapar karena mereka baru terjaga jam 10 siang. Waktu yang sudah terlewat lama untuk sebuah sarapan pagi.


Sofia bangkit lebih dulu lalu membuka jendela, menuju balkon dan menghirup udara segar disana. Panas mentari menyapanya kala Nando menyusulnya kesana. Untung saja dirinya sudah sangat terbiasa dengan cuaca panas karena sering menghabiskan waktu disawah hingga tak begitu terganggu karenanya.


''Apa yang kau pikirkan?" bisik pria itu seraya memeluk pinggangnya dari belakang dan meletakkan kepalanya dipundak sang istri..


"Tidak ada." sahut Sofia pendek. Nando yang gemas malah mencuri ciuman dibibir kala Sofia sedikit menoleh.


Ketukan dipintu menyadarkan mereka. Nando bergegas membuka pintu kala petugas hotel membawa masuk pesanan mereka.


"Sayang, makanlah." panggilnya membuat Sofia mendekat padanya. Rasa lapar membuat keduanya berlomba menyelesaikan makannya dengan cepat.


"Jam berapa kita pulang mas?" Nando menatap Sofia dengan dahi mengerut.


''Apa kau sudah tidak suka disini bersamaku?"


"Bukan...bukan itu maksudku. Aku hanya ingat rumah." melihat tatapan tajam suaminya saja sudah bisa Sofia duga jika pria didepannya itu sudah salah paham padanya dan dia tidak akan membiarkan kesalah pahaman itu berlarut dan menjadi tambah parah mengingat watak keras Fernando dalam menyikapi suatu hal.


Ringtone ponsel Fernando memecah kekakuan keduanya. Pria itu masih mematri Sofia dalam pandangannya saat tangannya meraih benda pipih itu diatas meja lalu menekan tombol hijau.


"Hallo." Entah apa yang mereka bicarakan, yang Sofia tau wajah Nando berubah tegang. Jemari tangannya meremas pinggiran kursi sangat kuat seakan hendak menghancurkannya hingga Sofia ngeri melihatnya.


"Urus semuanya. Untuk sementara aku akan tinggal di apaertemen saja." Nando segera mematikan panggilan dan meletakkan ponselnya.


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Sofia gamang. Nando yang melihat rona ketakutan sang istri beringsut memeluknya dan menyandarkan kepala Sofia di dadanya yang terbuka.


"Tidak, semua akan baik-baik saja."


Ponsel kembali berdering, Sofia sempat melirik jika Alex adalah peneleponnya. Nando berjalan menuju balkon dan menerima panggilannya disana. Batin Sofia bergemuruh. Apa yang sebenarnya terjadi? sepertinya Nando ingin menghindarinya dan tak ingin pembicaraanya dengan Alex dia dengar. Rasa penasaranlah yang menyeret langkahnya mendekat. Sebenarnya menguping pembicaraan orang lain sudah menyalahi privacy tapi bukankah dia sudah menjadi istri seorang Fernando, apa salahnya jika dia ingin tau?


"Biarkan saja mereka melakukan penyitaan. Aku tidak akan melakukan pembelaan apapun. Semua aset sudah diagunkan Lex, jika semua disita bank karena pailit..itu bukan salah mereka."


deg.....penyitaan? pailit?


Apa yang sebenarnya terjadi?


"Sayang apa yang kau lakukan disini?" hampir saja Sofia melonjak kaget karena tiba-tiba Fernando sudah ada di dekatnya. Dia terlalu sibuk berpikir dan bertanya-tanya tentang perkataan Fernando pada Alex.


"Bukannya kau sengaja menguping?" telisik Nando dengan mata tajam yang membuat Sofia sedikit gemetar, rakut ketahuan.


"Sini." Nando mengajaknya duduk kembali disofa panjang.


"Ada masalah dengan rumah kita." Nando membelai kepalanya lembut, membuat Sofia menatapnya aneh.


"Apa kau keberatan jika untuk sementara kita tinggal di apartemen? kita....tidak bisa lagi kembali kesana karena...." Sofia segera memeluk tubuh suaminya erat. Nando yang ganti terperanjat melihat reaksi istrinya.


"Tidak. Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Tanpa kemewahan inipun aku akan tetap disisimu mas."


"Apa kau mendengar pembicaraanku dengan Alex tadi?" Sofia menangguk lemah, tak berani mengangkat wajahnya. Pun Nando terlihat bimbang dan menarik Nafasnya panjang.


"Kau juga sudah tau kalau aku..."


"Ya. Aku tau rumah kita disita bank dan bisnismu sedang dalam masalah." Kali ini Nando menatapnya makin tajam dengan ekspresi aneh. Namun sekejap kemudian mata itu meredup.


"Mulai sekarang aku bukan tuan muda Hutama lagi Sofia. Apartemen itu juga bukan milkkku. Apa kau terima jika punya suami yang miskin dan jauh berbeda dari yang dulu?"


"Apartemen itu ....bukan milikmu?" Kali ini Sofia menyakinkan dengan sungguh-sungguh. Nando hanya mengangguk lemah.


"Kalau begitu tidak usah kesana." putusnya tegas.


"Lalu?"


"Aku....aku punya rumah kecil beberapa blok dari kediaman Bella. Sederhana memang, tapi aku sudah membelinya walau dengan cara kredit. Kita bisa tinggal disana jika mas mau." Nando membulatkan matanya.


" Kau melakukanya tanpa sepengetahuanku Sofia." desisnya.


"Maafkan aku mas. Itu ..itu karena aku yang berpikir bahwa pernikahan ini tidak akan bisa diselamatkan. Aku takut jika kau mengusirku dari rumah. Salah satu sahabatku merekomendasikan rumah itu dan menyarankan aku untuk....."


" Berhutang." putus Nando tak terima. Terlihat sekali kemarahan diwajah tampannya.


"Ya. Aku meminjam uanUg padanya dan memberikan separuh gajiku untuk mencicilnya tiap bulan."


" kenapa tak pakai kartu yang kuberikan. Kau bahkan bisa membeli rumah dikawasan lebih dekat kota dengan cash. Bukan meminjam pada orang lain. Itu sama saja kau mencoreng nama baikku Sofia. Apa kata dunia jika tau istri seorang Fernando meminjam uang hanya untuk beli rumah kecil." ketus Nando. Kemarahan benar-benar menguasai hatinya. Giginya juga sampai bergemletuk menahan amarah. Wajah Sofia memucat. Hampir saja air mata jatuh jika Nando tak segera meraih kembali tubuh semampai itu dan mendekapnya.


"Maaf." bisik Nando ditelinganya. Saat itulah Sofia tak bisa menghentikan tangisnya. Dia tau dirinya bersalah karena mengambil keputusan sepihak tanpa ijin suaminya.


"Ceritakan padaku semuanya." tuntut Nando seraya menyentuh dagunya lembut.