Dear Husband

Dear Husband
RSS



Hampir satu jam menikmati sesi panas percintaan pengantin baru yang tertunda, dua insan manusia itu masih saling berpelukan diatas ranjang mereka. Untung saja Sofia sudah lebih dulu membeli tempat tidur ukuran standart yang tentu saja sangat kecil menurut Nando yang terbiasa tidur dengan ranjang king size khas orang kaya. Pada akhirnya sang tuan muda harus membiasakan diri hidup seperti orang biasa dengan perabotan dan rumah yang lazim dipakai khalayak umum.


Ketukan pintu terdengar. Sofia segera bangkit, namun dicegah oleh Nando yang melarangnya turun karena melihat sang istri yang masih terlihat lelah. Pria blasteran itu bangkit, meraih kemeja dan celananya lalu memakainya dengan cepat.


"Selamat siang tuan muda." sekretaris Alex memberi hormat padanya. Dibelakangnya, dua orang pria membawa dua koper besar dan kardus berisi beberapa keperluan inti. Ada juga beberapa plastik putih berlogo swalayan terkenal berisi kebutuhan dapur yang diusung ke ruang tamu. Dua pria tadi bergegas pergi tanpa suara karena perintah Alex. Pria itu membisikkan sesuatu pada Nando saat Sofia muncul dari pintu kamar dan menghampiri mereka.


"ehmm..mas, kenapa tak menyuruh sekretaris ehh..Alex masuk? mari duduklah disini. Akan kubikinkan teh." Alex yang awalnya menolak berubah menurut dan masuk saat Nando mengerlingkan matanya dan memberi isyarat agar dia masuk.


"Ahh ...ya Tuhann...apa ini? mas, kenapa membeli barang sebanyak ini? kita harus berhemat bukan? belanja dipasar tradisional saja agar lebih murah. Kenapa kau suka sekali menghamburkan uangmu?" gerutu Sofia saat matanya menatap deretan plastik itu dan meneliti isinya. Sedang Nando membawa koper mereka ke kamar.


"engg...itu ...." Nando salah tingkah mendapat pertanyaan dan omelan beruntun dari istri cantiknya itu.


"Itu hadiah dari Bella kak. Dia minta maaf karena belum bisa kesini." potong Alex cepat. Dia tau Nando tak pintar berbohong. Lelaki itu sangat konsisten dan jujur. Jangan tanya ketegasan dan kebenciannya pada seorang pembohong. Nando tidak suka kebohongan tapi terlibat dengan kebohongan tanpa dia sadari.


"Bella? tapi kenapa mesti sebanyak ini? katakan pada Bella agar tak mengulanginya lagi. Kedepannya kalian juga butuh uang, hematlah. Kau juga ....ah...sudahlah!" Sofia sudah tak sanggup meneruskan ucapannya karena takut menyinggung perasaan Alex nantinya.


"Kalau yang kakak pikirkan adalah masalah pekerjaanku, maka jangan khawatir karena mulai besok aku dan tuan muda ehhh maksudku kak Nando akan bekerja dikantor papa Hutama."


"hmmm...benarkah? secepat itu? sesimpel itu?" tanya Sofia menyelidik. Bukan apa-apa, tapi dokter cantik itu merasa janggal saja karena dalam pikirannya, Nando akan ada dirumah dulu, menata hatinya serta kepercayaan dirinya sebelum kembali ke dunia bisnis. Bagaimanapun kebangkrutan adalah momok terbesar bagi seorang pengusaha.


"Ya tentu saja. Meski kak Nando bukan sebagai CEO tapi papa sudah memberikan tempat bekerja disana."


"Posisi apa? perusahaan yang mana? bukannya tiap perusahaan papa sudah ada CEO dan pengurusnya?" wanita muda itu tau dari Bella jika papa mereka punya banyak cabang usaha yang dikelola oleh Fernando sebagai ahli warisnya yang tinggal di Asia. Sedang yang ada di Eropa sudah dikelola oleh Karin dan suaminya. Fernando suaminya juga membawahi anak cabang mereka diluar negeri. Hanya usaha pertambangan dan minyak saja yang masih dikelola Hutama sendiri karena memang dari sanalah pundi-pundi kekayaanya berasal. Dari pertambangan pula dia bisa membuka berbagai usaha dan melebarkan sayap didunia bisnis.


"Hanya manager keuangan. Dan aku akan menjadi stafnya."


" Kalian berdua lagi? aneh sekali. Bisa-bisanya papa melakukan nepotisme sepeti itu." kata Sofia tajam hingga membuat Alex membeku dalam kelu.


"Apanya yang aneh? itu milik orang tuaku. Aku berhak bekerja disana kapanpun aku mau,bahkan mendepak Rio jika aku mau." tegas Fernando jumawa. Sofia langsung melirik tidak suka padanya.


"Harusnya kau malu pada papa mas. Beliau sudah mempercayakan bisnisnya padamu yang akhirnya juga hancur ditanganmu. Masih untung papa tidak menghukummu, jadi jangan bersikap arogan lagi. Syukuri saja. Manager juga posisi yang baik. Jangan kufur nikmat mas." omel Sofia lalu menuju dapur, menjerang air dan membuat teh hangat untuk suami dan iparnya.


Dua cangkir teh terhidang dimeja saat dua pria itu masih sibuk dengan ponselnya masing-masing.


"Maaf merepotkanmu kak." jawab Alex sungkan.


"Cuma air. Tolong sampaikan pada Bella rasa terimakasihku. Dan Elle....."


" Dia akan tetap dirumah papa bersama Bella dan Alex hingga kondisi ekonomi kita membaik." potong Nando cepat tak terbantah. Sofia hanya diam, tak menahut.


"Baiklah..itu terserah kamu mas. Tapi aku benar-benar tak keberatan jika Elle disini bersama kita."


"Jarak rumah Bella dan kompleks ini tak terlalu jauh, kau bisa menengoknya kapanpun Sofia." Hanya anggukan yang menjawab perkataan Nando. Sofia tau maksud suaminya. Dia pasti tak ingin Elle yang biasa tinggal dirumah besar dan mewah jadi shock dan susah beradaptasi dalam kekurangan. Elle masih kecil.


"Ini kontak mobilnya kak." Nando menyerahkan kunci mobil yang dia tumpangi pada Nando yang menatapnya tidak percaya.


"Kami bisa naik taksi." Sofia yang tidak enak hati hendak menolak halus mobil itu. Yang dia tau mobil itu adalah milik pribadi Alex. Sungguh Sofia sungkan merepotkan orang lain apalagi mereka dalam kesusahan seperti sekarang. Mobil adalah barang mahal yang ada diluar jangkauan mereka.


"Kak, tolong hargai niat baik kami. Aku dan Bella membelinya juga karena kak Nando. Jadi apa salahnya jika kami meminjamkannya pada kalian hingga bisa membeli yang baru. Bukannya sesama saudara harus saling membantu?" Sofia terdiam. Yang dia pikirkan kini adalah Nando. Dia mungkin sudah biasa hidup sederhana tapi bagaimana dengan Nando yang terbiasa hidup dalam kemewahan?


"Baiklah." putusnya kemudian. Nando hanya menatap sekilas interaksi keduanya. Cuek. Sofia segera berpamitan ke dapur untuk memasak makan siang, meninggalkan dua pria itu disana. Untung ini hari minggu, dia masih punya waktu untuk menata rumah dan memasak.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan muda. Nikmati liburan anda dan selamat siang." pamit Alex saat teh dalam cangkirnya sudah habis tak bersisa. Dia juga ingin menikmati hari minggunya dirumah. Jarang-jarang moment seperti ini dia dapatkan.


"Lho...mana Alex mas?" tanya Sofia kaget. Dia baru saja akan mengajak makan siang setelah memasak tadi.


"Bella sudah menyuruh sopir menjemputnya."


"Owwh..kalau begitu kita makan siang saja dulu."


"Ide bagus. Kau masak apa hari ini?" Nando antusias menuju meja makan modern minimalis di dekat dapur. Dapur yang simpel dengan penerangan yang cukup karena dilengkapi jendela besar disekelilingnya untuk sirkulasi udara yang membuat nyaman.


"sup, ayam goreng dan perkedel kentang."


"Baunya wangi sekali." lirih Nando yang bukannya mulai makan, tapi malah melingkarkan tangan kekarnya dipinggang Sofia, menyingkap jilbabnya dan menghirup leher jenjang sang istri.