
"Kak...sini!" Sofia menuju meja diujung ruangan tempat Bella melambaikan tangan dan bangkit dari duduknya. Wajah ayu adik iparnya itu langsung mencuri perhatian banyak orang disana. Siapa sangka jika wanita muda itu seorang mantan pengacara terkenal karena mode babyface andalannya.
"Sudah lama menunggu?" tanya Sofia mengambil tempat duduk didepannya.
"Lumayan. Tidak biasanya kau terlambat."
"Dipanggil dosen."
"untuk?" rupanya Bella tipe kepo juga jika menyangkut dirinya.
"Aku dipilih ikut program keshatan jantung depkes."
"Waahh...berita bagus kak. Kau hebat karena mendapatkannya di awal semester."
"Berkat pak Shandy."
"Shandy?"
"ohhh...ehh...dia dosenku. Aku terpilih karena rekomendasi darinya." jelas Sofia sambil memesan minuman dan menu seperti milik Bella.
"Tapi....kenapa wajahmu merah begitu?"
"Merah?" Sofia langsung salah tingkah dan meraba pipinya. Dalam hati dia menggerutu pada pipinya yang selalu sulit diajak kompromi.
"Itu....."
"jangan bilang kau ada rasa padanya." goda Bella dengan senyum nakal. Tangannya meraih potongan stik kentang lalu mengunyahnya.
"Kau lupa jika aku sudah bersuami? dan dia adalah kakakmu." sahutnya menutupi debaran jantungnya yang kembali bertalu.
"Aku bukan anak kecil yang bisa kau tipu." Sofia hanya menunduk menyembunyikan wajahnya. Dia baru sadar jika Bella dibekali insting pengacara yang sangat kuat. Dia bahkan pembaca ekspresi terbaik yang pernah dia temui.
"Kuharap kau segera membunuh rasa itu. Kak Nando tidak akan mengampunimu jika tau ada orang lain dihatimu."
"Dia juga punya orang lain dihatinya." jawab Sofia pelan.
"Clara maksudmu?" Sofia mengangguk. Bella mengaduk minumannya.
"Apa kak Nando bilang sesuatu?"
"maksudmu?"
" Tentang Clara." Kali ini Sofia menggelengkan kepalanya. Fernando memang tidak bilang apa-apa tentang diri Clara selain sebagai mantan pacar yang tidak bisa dia tinggalkan.
"Dia hanya bilang jika aku harus menyingkirkan debu jika mulai mengotori mataku." pelan saja suara Sofia. Terdengar seperti putus asa. Bella meraih tangannya dan mengenggamnya hangat.
"Artinya kak Nando memilihmu." Dagu Sofia terangkat menatap wajah Bella tak mengerti.
"Kakakku bukan pria romantis yang bisa mengucapkan banyak hal. Clara hanya masa lalu yang datang padanya untuk meminta pertolongan dan kak Nando tidak bisa mengabaikannya karena faktor hutang budi. Keluarga Clara pernah menolong dan menampungnya saat dad mengusirnya dari rumah. Bagaimanapun kak Nando bukan orang yang tidak tau berterimakasih."
"Lalu apa yang harus kulakukan? mas Nando bahkan hanya memberiku waktu 24 jam. Sedang aku tidak tau harus bagaimana menghadapi Clara yang terlihat semakin ingin bertahan disana." kali ini keluhan panjang yang diutarakan Sofia.
"Darimana kau tau?"
"Kau tak perlu tau. Hubungi nomer ini dan suruh dia menjemput Clara." Bella mengulurkan kartu nama dari dalam tasnya.
"Jose? siapa dia?"
"pria yang menghamili Clara."
"Hamil? aahhh..ya Tuhan..apa..apa semua ini akurat?" mata Sofia membulat sempurna menatap Bella yang juga menatapnya sangat serius.
"Apa aku harus menyebut nama Alex sebagai informanku agar kau percaya?" Sofia meneguk ludahnya. Alex tidak mungkin berbohong. Pria itu pasti sudah menyelidiki semua hal dan membuktikan kebenaranya sebelum membuat laporan. Suami Bella itu akan bertindak sangat hati-hati jika menyangkut pekerjaan dan Nando.
"Jadi Jose tidak tau jika Clara ada disini? lalu kenapa mas Nando tidak menghubunginya agar menjemput Clara? kenapa dia malah terkesan melindunginya?"
"Karena kak Nando sudah berjanji pada Clara agar tutup mulut. Dia juga punya janji pada almarhum ayah Clara untuk menikahinya jika Nanti Clara sudah sebatang kara."
"Apa itu alasan mas Nando ingin poligami?"
"Apa kak Nando bilang begitu?" Sofia menggeleng. Kemarin dia sudah memotong perkataan Fernando dengan emosi membara meski pria itu belum selesai berkata.
"Dia tidak mungkin melakukannya. Kakakku pria setia. Hhmmm..,sudah saatnya aku menjemput Ling-ling kak. Lakukan apa yag seharusnya kau lakukan karena aku yakin kak Nando sangat berharap padamu." dan Bella sudah melangkah pergi setelah membayar billnya, bahkan sebelum Sofia sadar dari kemelut hatinya.
"Aku harus segera menghubungi Jose." gumamnya lalu berlalu dari sana.
🍒🍒🍒🍒🍒
"Nyonya tolong....nona Clara pingsan dikamar mandinya." teriak bi Mimi keras dari depan pintu kamar tamu. Sofia segera berlari masuk. Disana, Clara pingsan berlumuran darah. Roknya bahkan sudah basah.
Sigap, Sofia memanggil dua penjaga dan menyuruh mereka mengangkat tubuh lemah Clara keluar kamar dan ditidurkan dibangku panjang. Bi Mimi bahkan bergidik ngeri melihat darah terus menetes dipangkal paha Clara.
"Panggil ambulans bik. cepat!" kata Sofia sambil berlari kekamarnya. Mengambil alat suntik dan obat cair. Dia harus melakukan pertolongan pertama sebelum Clara dibawa kerumah sakit.
"Ya Tuhan...apa yang kau lakukan Clara." berang Sofia sambil menyuntikkan obat anti pendarahan padanya. Dia melepas paksa obat penggugur kandungan yang berada ditangan Clara. Berulang kali dia memeriksa perut Clara untuk memastikan jika janin dalam perutnya bisa diselamatkan. Infus sudah terpasang sempurna untuk membantu Clara bertahan hingga dibawa kerumah sakit nantinya.
Ambulan datang setengah jam kemudian. Dua perawat pria turun mengangkat tubuh Clara kedalam mobil.
"Anda...ikut kami dokter?" tanya perawat pria itu pada Sofia yang bersiap naik kedalam mobil.
"Ya, aku takut Clara butuh aku dijalan."
"Baik..silahkan dokter." para perawat itu sangat mengenal Sofia sebagai dokter di ICU yang punya tingkat kepedulian yang tinggi.
Mereka tiba dirumah sakit saat Clara mulai sadar dan samar-samar melihat Sofia yang mondar-mandir mengurusinya dan mengatakan pada dokter kandungan yang memeriksanya jika dia salah minum obat. Sang dokter yang tadinya uring-uringan karena tidak suka pada tindakan aborsi ilegal menjadi diam dan mulai mengobatinya. Tak berapa lama dia mulai dipindahkan keruang perawatan dengan Sofia yang tetap setia duduk menungguinya.
"Kenapa kau melakukanny Clara? bayi dalam rahimmu berhak hidup." tanya Sofia lembut sambil menyentuh tangannya. Belum sempat menjawab, pintu ruang perawatan terbuka menampilkan sosok pria rupawan dalam balutan jas biru dongkernya yang sangat pas ditubuhnya. Fernando. Pria itu mendekati ranjang dan hanya bisa pasrah saat Clara bangkit dari tidurnya dan memeluk lehernya erat sambil menangis pilu.
"Aku tidak ingin bayi ini Fer...aku ingin kau menikahiku." katanya dengan tangisan panjang. Ada yang bergejolak dalam hati Sofia, nafasnya seketika sesak. Apa ini yang dia bilang siap mundur dan kehilangan? rasanya sakit...sangat sakit hingga dia tak kuasa menahan air mata yang berlinang dikedua netra coklatnya. Dia akan melangkah pergi saat Nando menggenggam jemarinya kuat dan memaksanya tetap tinggal disana.
"Maaf, aku tidak bisa Cla. Aku sudah menikah dan aku mencintai istriku."