Dear Husband

Dear Husband
Makan Malam



"Hey...mau kemana kau!" satu tarikan keras memaksa Sofia kembali duduk ditempatnya. Tampaknya tenaga wanita muda itu terlalu kuat untuk ukuran wanita normal pada umumnya.


"Duduk!" perintah sang wanita paruh baya. Tapi kali ini Sofia sudah lelah mengalah, bosan dicaci, dan muak dengan urusan tak berarti yang tentu saja akan menyita waktu istirahatnya.


"Saya mau pulang!" jawabnya berani lalu beranjak pergi.


"Berhenti kataku Sofia Hutama! Ibu mertuamu ingin kau tetap disini!" teriak wanita paruh baya tadi lantang. Tubuh Sofia membeku sering langkahnya yang berhenti bak patung batu. Ibu mertua?? seketika tubuhnya berbalik. Wanita itu tetap duduk anggun ditempatnya.


"Kemari." perintahnya. Sofia yang ragu masih diam ditempatnya. Takut terjebak.


"Lihat, apa aku berbohong?" ujarnya lagi sambil menarik foto keluarga yang berada ditangannya. Bingkai mahal menghiasinya. Disana ada foto wanita tadi, seorang pria paruh baya dan wanita muda itu dibelakangnya bersama suaminya, Fernando.


"Apa kau tidak ingin menyapa mama mertuamu kak?" Bella, dia hafal betul suara yang ada tepat dibelakang tubuhnya itu. Saat dia berbalik, Bella sudah berdiri dengan senyum mengembang.


"Dia mama Fransisca, mamamu juga. Dan dia kak Karina......" tanpa menunggu kelanjutan penjelasan Bella, Sofia sudah berlari kearah Fransisca dan berlutut dipangkuannya.


"Mama maafkan aku." katanya penuh penyesalan. Tangan lembut Fransisca mengusap kepalanya.


"Bangun dan sapa juga kakakmu. Sepertinya dia masih penasaran denganmu." katanya bijak dengan mata teduh, jauh berbeda dari yang tadi. Setelahnya dia berdiri dan berjalan ragu ke arah Karina yang masih memasang tampang juteknya.


"Kakak maaf, aku tidak tau itu kau."


"Tentu saja kau tidak tau. Suami nakalmu itu sudah ingkar janji untuk membawamu ke London. Dia tak ada inisiatif mengenalkan kau pada kami secara langsung. Kau membuat kami yang lebih tua ini terlalu lama menunggu. Kau tau, kau harus dihukum." kata Karina marah. Sofia hanya diam, lebih baik begitu bukan? bagaimanapun mereka orang tua dan kakak suaminya. Terlepas dari sikap Nando padanya, dia tetap wajib menghormati keduanya.


"Sini!" Karin menarik tangannya menuju sofa dan menyuruh Sofia duduk diapit oleh Bella dan dirinya.


"Mulai sekarang kau ikuti skenario kami. Buat suami bodohmu itu tau jika kau berarti untuknya. Jadilah aktris yang pandai karena jika kau gagal maka kami tidak akan mengampunimu." katanya tegas.


"Tapi kak..."


"Tapi apa? tadi kau bilang mau bertahankan? kau harus berjuang Sofia, bukan diam saja dan mengharapkan dia menyatakan cinta. Ingat, ada kami. Kami tidak akan membiarkanmu jadi janda you know?"


"Bel, panggil dia kemari." suruh mama Siska pada Bella yang masih dalam mode bahagianya. Tanpa disuruh dua kalipun istri Alex itu sudah bergerak cepat keruangan lain dan kembali bersama seorang pria tampan dibelakangnya.


"Pak Shandy...." desisnya tak percaya.


"Kenapa bapak disini?" tanya Sofia gamang. Dan Shandy memilih duduk di dekat mama Fransisca.


"Dia keponakan papa Teguh, sama seperti Bella, dia juga sepupu suamimu." jelas mama Sisca.


"Tentu saja dia tidak tau. Masa kecilnya dihabiskan di London. Dia baru ada disini setelah menikah dengan Emma."


"Jangankan Nando, saya juga tidak tau jika kami sepupuan jika kita tidak bertemu tempo hari, Tan. Padahal kami sudah beberapa kali bertemu dan berakhir ribut. Kalau kebablasan mungkin saja menantu tante ini bisa saya rebut juga." sela Shandy dan mendapat pelototan dari semua mata yang ada disana.


"Kau jangan macam-macam Shan. Masih banyak wanita lain diluar sana selain istri saudaramu. Nanti tante carikan bule cantik biar bundamu seneng." marah mama Sisca membuat shandy menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Lalu kami mesti bagaimana ini?" tanyanya kembali ingin tau.


"Ya kalian dekat saja kayak kemarin-kemarin. Kami yang akan mengaturnya. Kalian tinggal acting sesuai arahan kami."


"Mama saya tidak bisa." keluh Sofia lemah. Jangankan acting, dia saja tidak pintar berbohong.


"Kau harus bisa Sofia! ini demi masa depan kalian!" tegas mama Sisca kemudian.


"Sebentar lagi si bodoh itu pulang. Ayo tunggu dia di meja makan." ajak Karin dan disetujui yang lain. Mereka bergegas kemeja makan dengan posisi Shandy yang duduk disamping Sofia. Ada Bella disamping kirinya hingga otomatis Nando hanya bisa duduk di depannya nanti.


Benar, beberapa menit kemuadian suara sepatu yang berjalan teratur mendekati ruang makan dimana mereka semua berada. Sebentar kemudian sosok Nando muncul dengan wajah kaget yang buru-buru dia tutupi dengan wajah datarnya yang tanpa ekspresi. Jelas sekali dia terperanjat. Ada Sofia dan Shandy disana. Sosok yang sangat dia benci. Oohh ...ternyata ini yang mama dan kakaknya bilang makan malam spesial untuk merayakan pertemuan mereka dengan sepupunya? dan ternyata Shandy brengsek itu yang jadi sepupunya. Tiba-tiba tangannya terkepal erat.


"Selamat malam semua." suara bariton yang sangat dirindukan Sofia, wajah yang selalu dia impikan itu sudah duduk persis di depannya tanpa mau menatap wajahnya.


"Kau terlambat 15 menit anak nakal!" serang Karin garang.


"Jalanan macet kak. Ini Jakarta, bukan London." balasnya telak. Makan malampun dimulai, hanya detingan piring dan sendok saja yang terdengar, selebihnya hanya diam tanpa suara. Shandy yang mendapat kode dari Bella menyendok steak dan meletakkannya dipiring Sofia.


"Makanlah. Akhir-akhir ini kau sangat lelah, butuh asupan gizi yang baik." katanya lembut. Tak hanya sampai disitu, pria itu juga memotongkan stik itu jadi beberapa bagian agar Sofia mudah memakannya.


"Terimakasih mas." dan hampir saja sendok ditangan Fernando jatuh kala Sofia memanggil Shandy demikian. Semua saling melempar senyuman melihat reaksi Nando yang tiba-tiba.


"Shan, bundamu bilang kau akan ke luar pulau untuk misi kemanusiaan." tanya mama sisca membuka pembicaraan.


"Ya, sama Sofia juga."


"Lho kok..sama dia. Ada yang lain?"


"Sementara hanya kami berdua dulu tan, nanti yang lain menyusul." tiba-tiba bunyi nyaring dari piring Nando memotong pembicaraan mereka. Pria itu bangkit dan meninggalkan meja makan.