Dear Husband

Dear Husband
Suami Aneh



Ponsel dalam saku jas Nando berdering kala mobil yang membawanya hanya tinggal beberapa blok dari rumah sakit tempat Sofia bertugas. Nando mengeluarkan benda pipih itu lalu menekan tombol hijau.


"Ada apa Lex?" tanyanya seraya kembali menghempaskan tubuhnya di jok belakang. Suara diseberang sana, alex sang sekretaris yang biasanya menjemputnya di pagi hari tapi tidak hari ini karena Nando yang memintanya melakukan pengecekan awal di kantor.


"Maaf tuan muda, Mr.Hyun mau meeting dimajukan setengah jam lagi karena dia harus segera kembali ke Korea karena suatu hal. Anda harus segera datang ke kantor karena beliau juga dalam perjalanan kemari." papar Alex dari seberang sana. Dahi Nando mengerut. Setahunya Hyun adalah CEO yang on time dan sangat disiplin. Jika saat ini dia minta meeting dipercepat maka mendadak ada hal penting yang memang tidak bisa dia tinggalkan.


"Apa tidak bisa kau wakili saja. Saya harus bertemu Sofia karena ini menyangkut Elle."


" Maafkan saya tuan muda. Tapi sekretaris tuan Hyun sudah mewanti-wanti agar anda sendiri yang melakukan meeting karena proyek ini benilai milyaran." Kembali Nando dihadapkan pada pilihan sulit. Disatu sisi dia butuh bertemu Sofia untuk bicara empat mata, namun disisi yang lain dia juga wajib bertemu tuan Hyun, relasi lama keluarga mereka.


"Baik. Aku segera datang." putusnya kemudian. Alex mengakhiri panggilannya setelah menjawab salam dari tuan mudanya.


"Pak, putar balik. Kita ke kantor dulu."


"Baik tuan muda." Jawab sopir keluarga yang sudah mengabdi padanya bertahun-tahun itu. Mobil meluncur membelah jalanan yang macet khas ibu kota.


Nando yang lebih memilih datang ke kantor masih memikirkan masalahnya. Nanti setelah meeting itu usai, dia akan langsung menghubungi Sofia dan menjemputnya makan siang. Semua masalah itu harus diluruskan. Dia tidak ingin dianggap sebagai lelaki brengsek yang mengorbankan perasaan seorang wanita yang berstatus istrinya dengan alasan membahagiakan putrinya. Andai Sofia tau apa yang terjadi pada keluarganya...


Hanya butuh setengah jam untuk sampai ke kantornya yang luas dan megah. Nando turun dan mendapati Alex yang sudah berdiri menunggunya. Tradisi keluarga Hutama yang memang menyuruh sekretaris pribadi CEO menunggu di depan pintu saat tuannya datang.


Alex mengikuti langkah panjang Nando hingga ke lift khusus bagi petinggi perusahaan. Tuan mudanya itu beberapa kali berpapasan dengan para karyawan yang menyapa mereka dengan ramah, namun Nando hanya mengangguk tanpa mau tersenyum. Watak lama yang sudah diketahui semua karyawan disana. Fernando yang dingin dan tak pernah tersenyum.


" jadwal anda hari ini adalah meeting dengan tuan Hyun setengah jam lagi, dilanjutkan meeting kedua dengan star food hingga tengah hari, jam satu anda akan meninjau proyek baru kita, lalu jam tiga anda harus menghadiri acara amal Hutama persada hingga usai tuan muda." ujar Alex sambil menutup benda pipih ditangannya. Kembali Nando menarik nafas panjang. Dia tau tidak ada satupun acara hari ini yang bisa dicancel. Semua membutuhkan kehadirannya sebagai CEO perusahaan karena papanya, Teguh hutama tidak ada ditempat. Itu artinya, kesempatannya untuk bertemu dengan Sofia menjadi tidak ada.


Jika dilihat dari jadwal yang tadi dibacakan Alex, Nando baru pulang selepas maghrib. Sedangkan Sofia akan pulang kerumah sesuai jadwalnya jika bertuga di ICU sekitar jam 4 sore. Tak terasa sebuah keluhan keluar dari bibirnya.


"Hubungi nyonya muda dan katakan aku akan mengajaknya ke acara amal itu." Mengajak Sofia bukan pilihan buruk. Sudah saatnya semua tau jika Sofia adalah istrinya mengingat pernikahan mereka dilakukan tertutup dan tergesa-gesa. Disana dia juga bisa mengajak Sofia berbincang tentang Elle. Mungkin juga dia bisa membujuk Sofia agar kembali bersikap normal pada Elle agar dia merasa nyaman. Nando bukannya tidak tau kalau Sofia sangat ingin lepas darinya, wanita muda itu ingin kebebasannya. Entah karena dia sudah punya kekasih atau hanya sekedar ingin menikmati kehidupannya atau apapun , Nando sama sekali tidak mau tau. Prioritas dalam kehidupannya adalah kebahagiaan Elle. Biarlah dia dianggap egois, namun sebisa mungkin dia harus menahan Sofia agar tetap tinggal demi Elle.


"ingat Lex, jangan biarkan nyonya pulang ke rumah. Kita akan langsung datang begitu dia keluar dari rumah sakit."


"Baik tuan muda." jawab Alex yang tetap mengekor dibelakangnya. Nando memasuki ruang meeting yang bernuansa putih bersih dan segera duduk dikursinya seraya mempelajari berkas yang dibawa Alex untuknya. Sebenarnya dia tidak perlu melakukannya karena sudah cukup menguasai semuanya. Nando juga cukup merasa percaya diri karena sudah berulang kali terlibat kerja sama dengan Hyun companny.


Tak berapa lama, tuan Hyun dan sekretarisnya memasuki ruangan. Nando menjabat tangan pria paruh baya itu hangat. Mereka memang seperti keluarga. Acara meeting pagi itu berjalan lancar dan hangat serasa pertemuan anggota keluarga.


Nando benar-benar seperti tidak punya waktu untuk istirahat hari itu. Kegundahan hatinya akan masalah Sofia dan Elle tersingkirkan karena tumpukan pekerjaan dan kesibuknnya. Hampir setengah empat sore saat dia kembali ke ruangannya dan meluruskan kaki di sofa, pria itu baru teringat Sofia bersamaan dengan suara ketukan pintu.


"masuk!" Pintu terbuka. Sekretaris Alex masuk membawa berkas untuk ditanda tangani.


"Letakkan saja disitu. Kita ke rumah sakit menjemput istriku." Perintah Nando seraya berdiri menuju pintu. Alex kembali mengikutinya dari belakang.


"Belum tuan muda. Pesan saya hanya centang satu, ponselnya juga tidak bisa saya hubungi." Alex melaporkan sesuai fakta. Sejak pagi, pesan itu memang tidak sampai pada Sofia, entah apa penyebabnya. Dia juga tidak berani mencari tau keadaan sang nyonya tanpa perintah tuannya, takut terjadi kesalah pahaman. Belum lagi jadwal mereka hari itu yang sangat padat hingga sedikit mengesampingkan Sofia dan Elle sekaligus.


"Apa kau sudah cari tau?" Alex tau pasti pertanyaan itu yang akan keluar dari bibir tuan mudanya.


"Belum tuan muda."


"Kita langsung kesana. Nanti kau bisa keruangannya sekaligus memberi tau padanya."


"Baik tuan muda." Alex segera melangkah lebih dulu menuju basement khusus dan mengambil mobil yang Nando gunakan. Nando yang biasanya menunggu di pintu keluar, malah mengikutinya. Mau tidak mau sekretaris Alex mengerutkan keningnya. Sigap dibukanya pintu belakang dan mempersilahkan sang tuan masuk, lalu berputar ke pintu kemudi.


"Kenapa bukan tuan saja yang menghubungi nyonya?"


"Aku tidak punya nomernya."


"Apa??!!!" Alex yang kaget meninggikan suaranya. Mana ada seorang suami yang hampir tiga bulan menikah, tinggal serumah, tidur satu kamar malah tidak tau nomer ponsel istrinya?


"Jangan berteriak padaku Alex!" sarkas Nando dengan nada kesal. Dia yang dalam kondisi lelah dan banyak pikiran malah serasa dibentak oleh sekretarisnya. Alex langsung menggelengkan kepalanya.


" Maafkan saya tuan muda. Saya hanya merasa kaget saja. Anda...." Alex menggantung kalimatnya, merasa sedikit ragu untuk melanjutkannya. Takut sang tuan marah dan berakhir memotong gajinya seperti beberapa tahun lalu.


"Apa?" sentak Nando mulai terusik. Matanya melotot tajam, apalagi melihat kediaman Alex yang makin membuatnyan kesal.


"Anda suami yang aneh." balas Alex pendek lalu menjalankan mobilnya keluar dari basement.


"Aneh? dari sudut pandang mana kau mengatakan aku aneh?" Nando masih memburu dengan perasaan ingin tau yang makin besar.


"Anda bahkan tidak punya nomer ponsel nyonya. Lalu nomer siapa yang anda simpan di ponsel anda tuan?" jawab Nando dengan nada mengejek. Ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak melihat reaksi Nando yang terlihat bingung. Lulusan universitas luar negeri yang sangat cerdas tapi kadang juga bodoh dalam menyikapi kehidupan. Bisa dikatakan Nando ini bentukan pria yang polos selain masalah pekerjaan.


"Hanya nomermu."


"what??!!"


"jangan meneriaki aku lagi atau gajimu akan kupotong!!” kali ini Alex langsung mengatupkan bibirnya rapat. Takut ancaman sang tuan yang tidak main-main.


" Maafkan saya tuan."


"Memangnya untuk apa aku membayarmu jika harus menghubungi mereka sendirian. Aku cukup memerintahmu dan semua akan terlaksana. Mudah bukan?" dalam hati Alex meruntuk kesal. Nando ternyata jauh lebih pintar dari prediksinya. Tipe majikan diktator yang akan selalu menyulitkan urusannya.