I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Cemas



Sudah dua hari berlalu, tapi waktu seakan melambat. Tidak ada detik yang lebih menyenangkan selain saat bersama Allan dan Lena. Dua hari, berasa lebih lama dari itu. Kian detik kian berat beranjak . Banyak hal yang memang selalu membuat Keysha sibuk, dengan tumpukan pekerjaan, dengan butik dan dengan anak-anak. Tetapi semua tidak membuatnya lupa dengan suami yang entah dimana keberadaannya. Satu kabar yang ia dengar darinya, dengan kalimat bernada ringan , "aku baik-baik saja" tidak menutup rasa cemas yang semakin liar mengetuk pintu hatinya.


"Sayurnya tidak akan terpotong sendiri kalau terus kamu diamkan seperti itu Keysha "


Yeni membuyarkan lamunan Keysha, membuatnya tersentak lalu mendongak melihat arah suara yang bergetar di telinga.


"mm, maaf Bun " Tangannya kembali mengambil beberapa lembar sayuran hijau untuk di potong. Kembali fokus pada pisau dan sayur yang sudah hampir setengah jam ia diamkan. Perempuan itu memang tidak di didik untuk bergantung kepada orang lain semenjak kecil, hingga dia tumbuh menjadi gadis dewasa dan memutuskan menikah. Banyak asisten yang Sandy siapkan untuk meringankan bebannya. Tetapi Keysha, memilih melakukan sendiri dengan tanda kutip, selama dia mampu melakukan itu.


"Kamu mikir apa to Key, Bunda perhatikan selama Sandy tidak pulang kamu banyak melamun." Tanya Yeni menelisik, Menyelidik hal yang terjadi kepada anaknya. Ada kecemasan yang ikut ia rasakan .


"Ah, perasaan Bunda saja kali. Keysha tidak apa-apa bun." pangkasnya menolak tuduhan Yeni, yang memang mengarah bahkan benar-benar sedang ia rasakan.


"terus ?"


"Keysha tidak biasa di tinggal Sandy berhari-hari bun, mungkin karena itu Keysha jadi sedikit beda." Senyumnya mengembang sempurna. Ia berhasil dengan sandiwara yang sedang ia mainkan.


"Telpon saja. Bilang kalau rindu, Sandy pasti mengerti nak." Ucap Yeni menggoda. Membuat Keysha tersipu malu seketika, pipinya memerah, bibir tipis itu tampak merekah menahan senyum.


"Apa sih bun."


"Loh, daripada melamun terus. Masak juga jadi kurang nikmat di makan."


"apa hubungannya coba Bunda ? ada-ada saja."


"Loh, kamu gimana to Key. Masak kalau hati senang pasti enak, tapi kalau hatinya seperti mendung yang tak kunjung turun hujan jadi tidak karuan."


Keysha mengurungkan niat untuk menyalakan kompor, meletakkan kembali alat masak yang sudah siap di genggaman tangannya. Ia menatap Yeni yang sedang menggodanya dengan senyum canda. "Enak ngga enak Bunda tetap mau makan kan ?"


"Lebih tepatnya, kamu bertanya seperti itu kepada nak Sandy. Pasti dia akan mengatakan, jika kamu yang masak tidak ada satu sendok pun yang di tolak oleh lidahku."


"Idih bunda apa sih. " Keysha mengernyit kesal lalu tertawa geli. Matanya berkilat jengah mengungkapkan ketersanjungan dengan kalimat Yeni. Perempuan yang selalu bisa memberi kesejukan di setiap resah yang mendera hidupnya. Ia memang selalu berusaha keras menutup diri, berkilah layak tidak terjadi apapun, tetapi ikatan batin yang kuat antara ibu dan anak selalu menjadi hal yang membuat Yeni memahami situasi. Yeni menyenggol pelan lengan anaknya yang kembali fokus pada sayur yang sudah siap di masak sebelum akhirnya mereka sama-sama tertawa .


"Rasanya sudah lama Keysha tidak masak bareng bunda."


"Sudah waktunya kamu masak sama anak-anak kamu. Dan menjadi mama terhebat untuk masa pertumbuhan mereka."


Tidak ada hal yang lebih Yeni harapkan selain kebahagiaan untuk keluarga anak semata wayangnya. Ia bisa menangis haru ketika melihat Keysha bisa meraih hal yang sering ia mimpikan semenjak kecil.


"Maafkan bunda ya Key. Bunda hanya mampu memberimu doa di masa pertumbuhan kamu, mengirimnya dalam setiap sujud bunda, bahkan yang bunda mampu hanya mengharapkan Tuhan memenuhi semua yang kamu mimpikan " Ucap Yeni lirih, seirama dengan pergerakan tangannya di atas kompor yang mulai melambat. Ia mengenang masa kecil Keysha yang hanya beberapa tahun tumbuh bersamanya. Semua, terjadi begitu saja. Seakan waktu sedang mengajaknya bermain-main kala itu, dengan amarah yang hebat dia bersikeras memegang keputusan untuk bercerai dari Danu. Bukan pilihan atas dasar ego yang besar, melainkan terbongkarnya perselingkuhan yang telah lama Danu lakukan. Ia menjalin hubungan di belakangnya, menggaet wanita yang berprofesi sebagai asisten pribadi di perusahaan miliknya. Entah seberapa lama, tetapi wanita itu telah melahirkan seorang putri yang usianya tidak berbeda jauh dengan Keysha.


Keysha menatap Yeni dengan sedih. Di urutnya dalam setiap garis yang terang-terangan mengungkit masa lalu, masa tersulit dalam hidupnya. Mungkin, semua tidak bertumpu dengan alasan ikhlas atau tidak ikhlas, melainkan sebuah pelajaran besar yang bisa menjadi bekal hidup untuk dirinya, juga putri tunggalnya yang sekarang sudah menempuh hidup yang lebih tinggi. Sedangkan rasa sedih yang selalu terangkai di setiap ada kaca yang kembali memantulkan masa itu, itu hanya angan yang belum seutuhnya bisa lupa.


"Tetap menjadi anak baik, dalam kondisi dan situasi apapun." Celetuk Keysha, ia masih dalam menatap mata Yeni. Senyumnya sangat indah di pandang, seakan menuntun pada satu jalan yang memang seharusnya Yeni kenang. Bukan tentang lara, melainkan masa indah yang menggembirakan.


"Haha, kamu masih ingat itu ?" Yeni terkekeh ringan, ia menyeka air mata yang tanpa sadar sudah penuh membasahi pipinya. Mengalir bebas tanpa sekat yang melarang.


"Itu adalah satu kalimat singkat yang bermakna dalam bagi Keysha. Setiap Keysha rapuh, sedih bahkan ingin membalas apapun yang orang lain lakukan pada diri Keysha, kalimat bunda selalu menjadi malaikat yang bisa seketika membuat Keysha sadar, lalu ikhlas." Ucap Keysha masih dengan senyum tulusnya.


Dia lalu meraih spatula yang sudah terlalu lama di diamkan di tangan Yeni, membantunya mengaduk tumis yang sudah mulai tercium harum khasnya. Ia menyesap asap di atas wajan, memejamkan mata menikmati setiap aroma yang menjalar menusuk rongga hidung.


"Sudah lama Keysha tidak mencium wangi masakan ini." Ia tersenyum simpul, lalu beranjak meraih sendok di laci . Mengambil sedikit kuah yang belum meresap ke dalam sayur, mencicipi lalu mengacungkan jempol ke arah Yeni. "Enak banget bunda. Jelaskan, kalau Keysha tidak sedang bersedih atau apapun yang bunda katakan tadi."


Yeni kembali terkekeh ringan, mengamati tingkah manja putrinya yang sudah beranak dua itu. Kebahagiaan yang tidak bisa lagi di tukar dengan apapun, semua sudah Tuhan berikan di masa tuanya.


"Jangan terlalu sibuk memikirkan kebahagiaan orang lain, pikirkan juga dirimu sendiri !" Yeni menepuk bahu putrinya sebelum mencuci kedua tangannya. Lalu, ia beranjak keluar dari dapur dan menelusuri anak tangga. "Siapkan semuanya Key, bunda akan panggil Allan dan Lena untuk segera makan."


"baiklah." Jawabnya tanpa melihat Yeni. Ia meraih beberapa mangkok dan piring lebar, memindah beberapa lauk pauk dan sayur yang sudah ia masak. Membawanya dengan lincah menuju meja makan.


"Ya Allah non, kok tidak panggil mbok Darmi sih kalau masak segini banyak." Mbok Darmi yang baru saja selesai mencuci pakaian menghampiri Keysha. Dengan tergopoh-gopoh dan beban rasa tidak enak yang mengetuk hati.


"Tidak masalah mbok, Keysha di bantu bunda tadi. Mbok istirahat saja dulu." Jawab Keysha dengan santai. Senyumnya lebar menyapa mbok Darmi yang tampak tertunduk di hadapannya. Tingkahnya yang sopan sebagai seorang bawahan, selalu membuat Keysha risih dan menghormati dia sebagai orang yang lebih tua darinya. Ia tidak memandang apapun profesi mereka, yang jelas anak muda harus mempunyai rasa hormat terhadap mereka yang lebih tua. Begitulah yang senantiasa Keysha terapkan kepada diri sendiri bahkan anak-anak dan suaminya.


Dia kembali fokus dengan apa yang dia lakukan. Menolak dengan sopan bantuan yang di tawarkan oleh mbok Darmi. Ia memang tidak pernah melakukan apapun dengan setengah hati, semua tulus sampai tuntas tanpa tanggung jawab yang memaksa.


"Mama ..." Jerit Lena dari tengah-tengah urutan anak tangga sudah menggema, merembas dan berpencar ke seluruh penjuru ruangan. Suaranya yang keras sangat selaras dengan nada melengking tinggi yang membuat telinga berdenging saat mendengarkan.


"Biasakan mulutmu untuk berbicara dengan lembut Lena ! kau itu perempuan." Sontak jeritan itu menarik komentar pedas dari Allan. Pria kecil yang tinggal beberapa langkah lagi sampai di meja makan itu menoleh ke belakang. Menatap Lena dengan geram, bahkan mata lebarnya semakin terlihat membulat saat dia melotot.


"Sudah-sudah . Jangan mulai berdebatnya. Kita makan dulu ya "


Dengan terburu-buru Keysha menyambarkan suara, memotong gerak mulut Lena yang sudah siap menyemburkan kalimat pamungkas miliknya. Gadis kecil itu menganga, menelan ludah bersama kata yang yang sudah bergerumuh di antara tenggorokan. Mulutnya mengatup kembali sesaat setelah Allan mengangguk dan berjalan ke arah meja .Dengan kaki yang menghentak kuat, ia menuruni tangga penuh rasa kesal yang tidak bisa tersalurkan.


"Jadi, papa belum pulang ma ?"


Keysha mengurungkan niatnya untuk menyendokkan makanan ke mulutnya. Tidak tahan untuk tidak menatap anak gadisnya yang menatapnya dengan lugu. "Kalau kerjaan papa sudah selesai, pasti papa pulang." Jelasnya dengan tegas. Ia menunduk, membuang wajah untuk menenggelamkan lagi rasa yang beberapa jam ke belakang sempat hanyut dari perasaannya.


Entah, seperti alarm pengingat kalimat pendek yang Lena lontarkan sanggup merangkai kembali kepingan-kepingan rasa yang menghilang. Semakin menepi lalu kembali lagi menghantui. Cemas yang ada seolah semakin menjadi, tumbuh dan menjalar hebat ke sekujur tubuh. Tiada satu celah dan organ yang tidak di hinggapi, dan terus di bayangi dengan mimpi-mimpi buruk.


"Jadi masakan bunda hari ini gimana ? enak kan ?" celetuk Yeni memecah keheningan. Semua seperti sangat paham dengan kondisi hati Keysha, yang tiba-tiba kembali rapuh dan berjatuhan. Wanita paruh baya itu, dengan telaten mencoba memungut kepingan rasa yang tersebar tidak pada tempat. Menyimpan rapi, lalu memaku pasti di sebuah sudut yang telah di gariskan sebagai tempatnya. Yaitu sebuah rasa yakin dan percaya .


"Enak sekali. Cuma tetap ada yang kurang karena papa tidak ada."


Rasa rindu memang tidak mudah untuk di lupakan. Niat baik untuk menghidupkan kembali suasana justru berakhir dengan semakin tertekannya jiwa Keysha. Ia hanya mampu tersenyum simpul menanggapi setiap kata-kata yang mengisyaratkan rindu yang kian hebat menjalar. Titik indah yang tidak bisa lagi di gambarkan seolah menghitam menjadi kabut yang tidak menampakkan warna yang nyata.


Tidak hanya Lena, bahkan Allan pun tidak luput menghakimi pemikiran Keysha dengan ragam tanda tanya tentang Sandy. Serangan-serangan yang meraka dorong dengan paksa masuk merobek dalam gendang telinga.


Keysha mulai terusik bahkan tidak nyaman dengan suasana di meja makan. Udara seakan memanas, peluh mulai basah bercucuran di sekitar peningnya. Bukan karena udara, namun berbicara dengan nada biasa seolah tidak menutupi rasa sungguh mencekik dalam di tenggorokannya.


"Selesaikan makan kalian, nanti kita telpon papa kalau papa tidak sibuk."


"Mama selalu mengatakan seperti itu sejak kemarin, tapi akhirnya mama juga akan mengatakan papa sedang sibuk."


"itu karena papamu memang sibuk sayang."


"Papa tidak pernah bilang sibuk saat Lena mau main dengannya. "


"papa juga tidak pernah menolak saat Allan meminta belajar bersamanya."


Keysha menarik nafas dalam, matanya mulai berkilah hingga akhirnya saling terpaut dengan mata Yeni. Tangannya mengetuk ringan meja, kakinya juga tampak gusar di bawah meja. Bergerak, bergoyang dengan ragu yang terus menyelimuti. Bagaimana tidak, sepatah katapun dia sudah tidak sanggup lagi untuk berkata. Tidak ada yang dia ketahui. Dengan perginya Sandy, dengan cemas dan gelisah yang terus menyelundup semakin dalam di balik hatinya. Seperti sebuah misteri yang minta dipecahkan tanpa bekal teka-teki.


"Main sama belajarnya kan bisa sama oma, sama mama atau sus Rina dan sus Dwi." Yeni angkat bicara lagi. Otak dan Logika Keysha sudah mentok, tidak bisa lagi merangkai kata untuk sedikit melegakan anak-anaknya. Bahkan, debaran jantungnya saja dia belum sanggup mengontrol.


Allan dan Lena hanya terpaku setelah menyadari jika Keysha tampak berkaca-kaca. Mereka mengernyit heran lalu saling melempar mata, berpandang seolah saling menyalahkan.


"Kalian selesaikan dulu makannya ya, mama mau sholat dulu."


Tidak lagi menunggu jawaban dari kedua buah hatinya. Secepat kilat ia bergegas. Menginjakkan langkah dengan buas menelusuri tangga. Ia berlari ringan hingga sampai di depan kamar pribadinya.


Sudah tidak ada lagi yang mampu menutupi kesedihannya, isak nya mulai terdengar lirih dari luar kamar. Wajah yang tampak sendu, ia sembunyikan di antara lipatan kaki. Memang, tidak jelas dengan apa yang bisa dia tangisi saat ini. Namun, berondongan pertanyaan dari Lena dan Allan sungguh menusuk di hati.


•Jiwaku seakan melayang-layang bebas di angkasa raya ...


tanpa dasar yang memegangi erat,


tanpa hati yang memaku kuat diantaranya ..


Keterpurukan hati mendera, memaksa jantung berdebar keras tiada asa ...


Raga yang telah terlepas tanpa ku ketahui jejaknya,


tiadakan sedikit rasa yang menepukmu untuk kembali ?


berputar dengan rasa bimbang dan kehilangan yang semakin berat .


"Sandy, ketahuilah rindu itu berat. Dan tidak hanya anak-anak yang tersesat diantaranya. Akupun sangat memahami perasaan mereka."


Keysha semakin larut dalam isak tangisnya. Risau yang menerpa hatinya kian kuat menghakimi. Membelai mesra setiap urat yang mengutamakan cinta. Nadinya ikut melambat seketika, jantung tidak kuat lagi berdetak. Melemah, semakin tidak bisa diatur sesuai keinginan.


Rapuhnya tidak bisa bersembunyi lebih lama jika ada yang menyapa. Termasuk saat kedua bocah itu berkisah dengan ocehan-ocehan panjang yang melelahkan indera pendengaran. Tidak ! Tidak ! Bukan tidak senang mendengar setiap cerita yang riang bersenandung dari balik bibir mereka. Melainkan kisah yang mereka siratkan sungguh dalam menyiksa hati, meronta, menolak kuat yang menghadang.


"Tidak Keysha ! Tidak ada yang membuatmu cemas berlebihan seperti ini. Suamimu sedang bekerja di luar sana. Dia baik-baik saja !" Pekiknya dalam menyambut hati. Wajahnya pias ia sapu bersih dengan kedua jemarinya.


Perempuan itu bangkit dari ujung ruangan, mulai kokoh dengan tegas menolak pikiran-pikiran buruk yang mendera otak dan logikanya. Ia menghapus air mata, lalu segera bergegas keluar dari kamar. Kembali menelusuri anak tangga dan kembali menghampiri Allan, Lena dan Yeni.


---------


"Jadi, bagaimana dok hasil pemeriksaannya ? Semua baik-baik bukan ? "


Sandy yang di temani oleh Reno, menatap dokter dengan tatapan penuh harap. Ada doa yang terus tersirat pasti di balik rasa takut yang mengusiknya beberapa hari terakhir.