
Cekrek (Suara pintu rumah di buka)
"Loh ?" Yeni membulatkan mata. Perempuan itu menganga lebar merasa tidak percaya jika yang berdiri di depan pintu adalah anak dan menantunya. Keysha tersenyum lalu mengulurkan tangan dan segera di sambut oleh Yeni. Ia mencium punggung tangganya dan mengucapkan salam. Begitu pula dengan Sandy, dia mengikuti apa yang Keysha lakukan.
"Kenapa tidak memberi kabar kalau pulang. Bunda kan bisa menyuruh sopir untuk menjemput kalian." Ucap Yeni. Ia meraih koper yang Keysha tarik-tarik sejak tadi.
"Sudah biar Keysha saja." Keysha menepisnya. Ia melarang Yeni membantunya karena dia merasa jika mampu melakukan itu. "Aku dan kak Sandy sengaja tidak memberitahu kalian semua, nanti malah Bunda repot siapin semua."
"Setidaknya, bunda bisa masak makanan kesukaan kalian." Sahut Yeni cepat.
"Itu yang Keysha hindari bun. Keysha tahu bunda sudah repot dengan anak-anak." Ucap Keysha dengan lembut.
"Ya sudah, ayo masuk. Pasti kalian belum makan kan ? Biar mbok Darmi masak untuk kalian." Yeni meraih lengan putrinya.
Mereka masuk ke dalam rumah dengan berjalan beriringan. Yeni memberikan perintah kepada Mbok Darmi untuk menyiapkan minuman untuk Sandy dan Keysha. Begitu juga makanan karena meraka belum mengunyah makanan sedikit pun semenjak pagi.
"Huff...." Sandy menghempaskan tubuhnya di atas sofa di Ruang keluarga. Ia memejamkan mata dan mendongakkan kepala. Menikmati setiap udara kebebasan karena sudah sebulan lebih dia bergulat dengan bau-bau obat di Rumah sakit.
Keysha menggeleng-gelengkan kepala dan mengukir senyum melihat tingkah Sandy. Ia segera menaiki anak tangga dengan pelan, mengangkat koper kecil yang berisi beberapa helai pakaian Sandy.
Keysha segera membereskan semua, ia memilah-milah dan memisahkan antara pakaian kotor dan bersih. Memasukkan kembali ke dalam lemari pada baju yang sama sekali belum di pakai Sandy. Ia juga memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor untuk baju yang sudah Sandy kenakan. Keysha memang perempuan mandiri, dia selalu melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pribadinya seorang diri.
"Gerah sekali." Keysha mengipasi tubuhnya dengan jemari mungilnya. Ah, sudah pasti itu tidak akan mengurangi rasa panas yang membuatnya berkeringat.
"Pantas saja, AC nya belum nyala." Gumamnya seorang diri. Ia segera beranjak dan meraih remote AC. Menekan tombol ON yang tertera di pojok kanan pada bagian benda kecil tersebut.
Keysha melepas jilbabnya, ia memang belum tersentuh air selain saat wudhu semenjak kemarin sore. Tentu saja, ia merasakan tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Terasa lengket dan gerah.
Setelah menyelesaikan semua, Keysha melangkah ke kamar mandi. Berendam dengan air hangat selama beberapa menit, mungkin akan bisa menjadi terapi khusus untuk mengurangi rasa penat yang mendera tubuhnya. Tidak hanya itu, dia benar-benar lelah dengan rutinitas nya akhir-akhir ini. Namun, tentu saja dia melakukan itu dengan senang hati. Bagaimana tidak, suaminya yang divonis dengan umur yang singkat, dengan sisa yang dapat dihitung jari, bahkan seolah ajalnya telah terlihat di depan mata, kini kembali pulih dan sehat seperti sedia kala. Tubuhnya kembali bugar, dan mulai berisi meskipun belum terlalu ideal seperti sebelumnya.
Di dalam bathup mewah dengan genangan air yang menutup rapat seluruh tubuhnya, dengan busa yang turut menghias bagian atasnya, Keysha tersenyum dengan bayangan angan yang berkeliaran.
"Aku tidak pernah menyangka jika hidupku bisa semenarik ini." Keysha terkekeh kecil. Ya, dia senang bercanda dengan dirinya sendiri, menertawakan tangisnya yang terkadang tidaklah harus untuk ditangisi.
"Ini seperti surga bagiku, tinggal bersama orang-orang yang tulus menyayangiku." Keysha tersenyum. Ia menyandarkan kepala pada bagian pinggir bathup, memejamkan mata sekejap ketika kepalanya menantang langit-langit kamar mandi. Sebuah ruangan lebar, di dalam kamar pribadi Keysha dan Sandy yang tertata seunik mungkin, itu sangat membuat Keysha nyaman dan senang berlama-lama di dalamnya.
"Hidupku dulu juga tidak kekurangan jika di lihat dari sebelah mata, tapi aku seperti terkekang di dalam neraka jahanam bersama orang-orang terkutuk yang tidak perlu belas kasihan." Senyuman yang berhias indah di bibir itu lenyap seketika. Rasa kesal yang menguat sedang menguasai seluruh isi hatinya. Mungkin, hari penculikan hingga kemarin dia tidak pernah memikirkan perihal mereka. Iya mereka. Orang-orang dari masa lalunya dan masa lalu suaminya yang sedang bersatu untuk menjatuhkan dirinya, menyusun rencana yang lebih kejam dari jebakan iblis sekalipun. Mereka memang sangat mendambakan kehidupan Keysha jauh dari kata bahagia.
.
.
.
Sandy mendengus, ia merasa kesal dan tidak sabar karena menunggu istrinya terlalu lama. Padahal, perempuan itu hanya mengatakan hendak membersihkan diri sejenak, lalu akan segera turun untuk menemani suaminya makan. Tapi nyatanya sudah satu jam lebih tujuh belas menit tidak juga terdengar telapak kaki nya melangkah menelusuri anak tangga.
"Mungkin Keysha ketiduran San, kamu makan dulu saja." Sudah kelima kali Yeni mengatakan itu, tapi hanya mendapat anggukan lirih dari menantunya. Mulutnya tampak bergerak pelan mengatakan iya tanpa di iringi pergerakan tubuh lainnya.
Yeni menggelengkan kepala, "Dasar anak muda jaman sekarang. Apa-apa maunya berduaan terus." Lirihnya dalam hati.
"Anak-anak belum bangun ya bun ?" Sudah lama laki-laki itu terdiam di atas sofa, tapi kenapa baru mengingat anak-anaknya setelah kejenuhan menyapa dirinya. hem....
"Belum San, ketika kamu datang mereka baru saja tidur. Sudah kebiasaan mereka tidur siang lama, jadi kalau baru sebentar di bangunkan sampai malam pasti rewel." Jawab Yeni santai. Dia sangat tahu kebiasaan kedua cucunya karena memang semenjak bayi, Yeni lah yang sering mengurusnya. Tapi bukan berarti Keysha lepas tanggung jawab. Mereka melakukan bersama-sama, kecuali semenjak Keysha membuka butik dan mulai sibuk dengan pekerjaannya. Hampir seluruh aktivitas siang Allan dan Lena di bawah pengawasan Yeni dan kedua pengasuhnya. Itupun, Keysha tetap memantau melalui sambungan telepon di jam-jam tertentu.
Sandy mengangguk mengerti, tapi kedua bola matanya tetap fokus dengan anak tangga yang terletak di samping ruang keluarga.
"Sandy panggil Keysha dulu ya bun." Ia mengangkat tubuh, rasa bosan dan jenuhnya sudah memuncak. Dia sudah tidak sabar lagi untuk tetap diam di sana menunggu istrinya turun.
"Tidak bun." Jawab Sandy singkat. Dengan santai dan gaya cool nya dia menapaki anak tangga.
Lagi dan lagi, Yeni hanya tersenyum seraya menggelengkan kepala. Ia kemudian kembali fokus dengan sulaman benang yang selalu ia mainkan untuk mengisi waktu kosong.
....
Cekrek ( Suara pintu kamar terbuka)
"Sayang...." Sandy melangkah masuk. Ia melepas hoodie yang ia kenakan sedari tadi lalu melempar asal di atas ranjang.
"Sayang ....Apa kamu masih di dalam ?" Sandy mengetuk pintu kamar mandi.
"Key ? " Panggilnya dengan suara yang terdengar lebih keras. "Kamu masih mandi ?" Ia terus saja melempar kata, bersenandung dengan nada cemas karena istrinya tidak kunjung menyahuti pertanyaan nya.
"Apa iya Keysha ketiduran ?" Gumam Sandy pelan. Ia berinisiatif untuk membuka pintu tanpa izin. "Tidak terkunci." Batinnya ketika pintu mulai terbuka sedikit. Tanpa ragu, ia meneruskan niatnya. Membuka pintu dengan cepat untuk memastikan keadaan istrinya di dalam.
"kak Sandy ?" Keysha terkejut ketika melihat Sandy tengah berdiri di ambang pintu. Tangannya segera merambah ke tepi bathup, meraih hp yang tergeletak di atas meja kaca di samping bathup. Ia menekan tombol stop pada layar ponsel yang memutar musik semenjak tadi.
Pria itu hanya menggeleng-gelengkan kepada seraya menghela nafas ringan, "Aku pikir terjadi sesuatu padamu."
Keysha mengernyitkan dahi, "Kan aku sudah bilang, aku mau mandi."
"Apa kamu lupa waktu, sudah satu jam lewat tiga puluh menit aku menunggu mu di bawah." Sandy memutar bola matanya. Tangannya berkacak pinggang, ia benar-benar merasa kesal dengan istrinya.
"Keysha nyengir, "Maaf, Keysha lupa waktu jika sudah seperti ini." Jawabnya datar.
Sandy masih terdiam, otaknya mulai bekerja dengan pikiran mesumnya. Sekilas, bibir tipis itu tampak menyunggingkan senyum penuh arti.
"Kenapa senyum-senyum ? Keluarlah sebentar. Aku akan menyelesaikan mandi lalu menemani kakak makan." Protes Keysha yang mulai risih dengan tatapan suaminya.
"Baiklah." Jawab Sandy singkat. Ia membalik tubuhnya, tapi tidak untuk melangkah keluar dan menuruti perintah istrinya. Pria itu justru menutup pintu lalu menguncinya dengan rapat.
"Kak Sandy kenapa di tutup?"
"Bukankah kau yang menginginkan ?"
"I-iya ....tapi kenapa kakak di dalam ? "
Sudah tertebak, pria ini pasti sedang memikirkan hal mesum. Mana mungkin melihat tubuhku tanpa sehelai pakaian seperti ini dia bisa tahan. Dasar lelaki !
"Itu sudah tahu." Celetuk Sandy yakin. Ia melucuti pakaiannya tanpa ragu.
Keysha bungkam. Ia terus saja menatap suaminya dengan geram. "Dari mana dia tahu apa yang sedang ku pikirkan." Ucapnya dalam hati.
"Apa kamu sudah siap ?" Sandy menyeringai lebar.
"Kak Sandy ! Apa yang kakak lakukan ?" Keysha mengeraskan suaranya. Untung saja kamar mandi mereka di desain dengan ruangan yang kedap suara. Jadi, mau berteriak sekencang apapun tidak akan ada yang mendengar dari luar. Ya, kalau tidak mungkin suara Keysha barusan sudah mendatangkan masa alias penghuni rumah lainnya. Tentu saja, akan mengundang malu mereka berdua. Bagaimana tidak, siang bolong seperti ini sudah bermain-main dengan tubuh yang tanpa pakaian.
"Apa kamu tidak rindu ?" Sandy sudah bermanja. Kakinya mulai merebak masuk ke dalam bathup.
"Kak ayo...."
"Ayo sayang.." Sandy menghampiri tubuh istrinya, menjamahnya dengan cara yang lembut. Mengabsen anggota tubuh yang selalu memancing gairahnya. Dia selalu merindukan sentuhan-sentuhan hangat yang sudah lama tidak ia lakukan. Dan hebatnya, hanya Keysha yang berhasil menggoda hasratnya.
Apa-apaan ini, aku belum selesai mengatakan nya. Ayo makan maksudku, bukan ayo ....Ah !