
Tiada lagi suara yang menakuti, tiada pula pergerakan yang membayangi. Berdiam dalam kabut yang menutup hati. Keysha masih terpuruk di dalam rasa takut. Tangisnya sayup-sayup masih terdengar, mengharu biru dengan suasana hati yang rapuh.
tap tap tap
Langkah tegap yang terdengar jelas mengayun bebas ke arahnya. Suara yang semakin dekat, semakin terasa pula aromanya.
Mata yang sudah sembab karena tangis yang tidak bisa ditahannya, kini Keysha memejamkan mata. Mengharap Tuhan menolongnya dengan sebuah keajaiban yang hadir tiba-tiba. Tubuhnya semakin bergetar hebat, detak jantung yang terpompa semakin kencang.
Aneh, pria itu masih terpaku tanpa berbicara.. berdiri tegak, tepat di depan tubuh Keysha yang masih beringsut ....
Alunan musik romantis kembali terdengar. Kali ini sangat dekat , seperti tepat di depannya. Matanya terbuka sedikit demi sedikit. Kepalanya yang sudah lelah menunduk terlihat bergerak untuk bangkit, ia mendongak memperhatikan sekeliling yang dengan cepat berubah. Cahaya yang terang, membuat semua pemandangan terlihat jelas oleh indera penglihatan.
Bingung, tempat yang telah di hias indah itu terpampang nyata di depan mata. Seakan ia tidak melihat hal itu sebelumnya. tidak...tidak mungkin tubuhku menghilang dan berpindah sendiri. Atau karena ketakutan yang menutup matanya sehingga tidak melihat suasana sekitar. Ia terlalu sibuk untuk berlindung, menjauhkan diri dari dua pria berbadan kekar yang dari nafasnya saja sudah mengancamnya. Ya, mungkin fokusnya tidak peduli dengan apapun yang telah ia lewati. Tetapi cahaya yang gelap juga bisa menjadi alasan kenapa Keysha tidak melihat itu sebelumnya.
Matanya semakin aktif menatap sekeliling, berakhir pada tubuh pria yang masih mematung di hadapannya. Dengan rasa ragu yang menjadi beban, Key memberanikan diri mengangkat kepala. Melihat dengan jelas wajah seseorang yang menguji adrenalinnya.
Senyuman khas yang tulus itu, membuat Keysha membelalak tak percaya. " Kak Sandy?"
Dengan gerakan cepat, wanita itu bangkit. Memukul kesal badan pria yang terkekeh melihat wajah panik Keysha. Tingkahnya saat ketakutan menjadi hal yang memuaskan tawa Sandy.
"Kamu tega banget sih ! jahat !" Rengek Keysha manja. Ia membuang wajah yang sudah ia atur dengan mode cemberut. Rasa kesal, mulai menjalar di hati. Detak jantungnya mulai normal, namun nafasnya masih memburu karena emosi yang di tahan-tahan nya.
"Jadi, istri aku masih bisa takut sama orang ya ?" Senyumnya memang merekah di sana. Tetapi sangat menyebalkan untuk di lihat. Kata yang halus begitu dalam menggoda, meledek Keysha yang keringat dinginnya masih membasahi pelipis.
"Gimana tidak takut coba. Sudah gelap, setiap lari baliknya ke sini lagi. Sudah kaya di rumah hantu tahu ngga !" Suara keras yang menggema menyapa gendang telinga Sandy. Wanita itu masih belum puas dengan emosi yang tersalur. Segala unek-unek ia lontarkan dengan bebas. Ia menutup wajah dengan kedua jemari sebelum tangisnya kembali terdengar. "Aku ngga suka kaya gini kak." Akhirnya ia menjatuhkan tubuh ke pelukan suaminya.
Ya, Sandy dengan lapang mendekap erat tubuh istrinya. Menggoda dengan kalimat romantis yang bernada lembut. Tawa ringan mencairkan suasana, tangannya sibuk membelai kepala Keysha yang masih menempel di dadanya.
"Kau sangat menyukai ini bukan ?" Sandy menyodorkan rangkaian bunga yang dia bawa-bawa sendiri sedari awal. Satu tangkai mawar merah yang begitu mencolok di tengah-tengah mawar putih yang mengelilingi.
"Ini untukku ?" Kata Keysha meyakinkan. Mulutnya masih menganga, heran dengan sikap Sandy yang lebih romantis.
"Untuk Reno ....." Sandy menimpali dengan candaan.
"Oh, ya sudah." Kata Keysha mulai ketus.
Berpura-pura ngambek adalah cara andalan untuk membuat suaminya semakin memanjakan dirinya ....
"Hahaha"
Sandy kembali menyemburkan tawa yang enak di dengar. Bersaut dengan nyanyian binatang malam yang tidak terusik dengan hadirnya mereka. Seakan menyatu, berbagi alam untuk saling melengkapi. Musik masih setia mengiringi, menambah kesejukan yang telah lama tidak mereka dapatkan.
"Jadi dua pria seram tadi adalah orang-orang mu ?"
Penyatuan antara indera penciuman dan aroma wangi mawar membuat Keysha memejamkan mata, menikmati setiap rasa yang mengembalikan mood nya.
"Bukan ...itu kerjaan Reno. Dia tidak berhenti tertawa saat melihat mu menangis dan berputar-putar di sini." Sandy menuntun kekasih hatinya. Menggenggam erat jemarinya lalu membawa untuk beralih ke sebuah bangku yang juga telah di siapkan. Dua kursi dengan meja bundar yang di lapisi kain putih. Sangat sempurna dengan taburan kelopak mawar merah dan putih di sekitarnya. Nyala lilin turut melengkapi suasana. Hangat, damai menepis segala resah yang sempat berlabuh dan mengusik ketenangan raga, jiwa dan pikiran nya. "Dia juga yang membantu menyiapkan semua ini, untukmu." Sambungnya setelah mereka duduk saling berhadapan. Memadu kasih, dengan saling terbuai dengan tatapan mata.
"Aku sungguh merindukanmu sayang." Suaranya lirih dengan nada mendesah. Sandy memanjakan mata dengan terus menatap pujaan hatinya.
"Aku juga." Keysha membalas ucapan itu. Lirih dan sangat meresap membuat darah mengalir deras ke sekujur tubuh.
Belaian lembut itu kembali menghampiri jemari Keysha, mengangkat lembut dan menggiring tubuh mungil untuk kembali berdiri. Saling mendekap larut dalam iringan musik yang tidak ia ketahui letak para pemainnya.
Keysha memejamkan mata saat bibirnya saling bertautan. Hangat, membuat tubuh panas dingin karena terlena. Sandy tersenyum puas ketika melepaskan tautan bibirnya lalu menyudahi dengan kecupan mesra di ujung kening wanitanya. "Aku akan melanjutkan setelah kita sampai di rumah." Bisik Sandy dengan pikiran mesum yang semakin sulit di kontrol.
Pipi Keysha memerah ketika ia tersipu malu mendengar kalimat suaminya. Ia menggeleng ringan lalu ikut duduk menikmati sajian makan malam yang baru saja di letakkan oleh seorang pelayan. Menu yang selalu menjadi kegemaran Keysha. Tidak ada yang terlewat satupun, semua cukup bisa di terima oleh lidah yang sangat pemilih rasa itu.
Entahlah, siapa yang menjadi koki di makan malam yang berkesan itu. Dia layak di acungi jempol untuk semua menu yang tersaji. Semua tepat pada rasa yang diinginkan....
"Aku sangat menyukai ini. Semua sangat lezat bagi lidahku." Keysha memberi penilaian untuk makanan yang tersedia. Memuji dengan kata yang bisa menjunjung tinggi karir sang koki.
"Kau mau dia memasak untukmu setiap hari ?" Penawaran Sandy tidak main-main. Ia sangat serius dengan kata-kata nya.
"hahaha ...tidak perlu." Keysha terkekeh geli mendengar tanggapan Sandy yang terkesan tidak di pikir ulang. "Cukup puaskan aku dengan menu-menu yang dia sajikan saat kita makan di luar seperti ini." Tambahnya dengan nada bercanda.
"hahaha ..itu mudah." Sandy tersenyum sebelum akhirnya menjawab dengan dua kata angkuh.
Jarum jam terus berputar mengitari porosnya. Merakit hari hingga semakin larut beranjak. Keysha sudah cukup merasa senang dengan kejutan yang sempat membuatnya takut dan menangis sejadi-jadinya. Baiklah, ku rasa kejutan kali ini cukup berhasil membuat hatiku campur aduk tidak karuan.
"Ini hadiah untukmu." Sebuah kotak kecil dengan tali pita berwarna merah mudah Sandy ambil dari balik meja. Keysha tidak menyangka jika suaminya menyiapkan rentetan hadiah yang cukup membawa mimpi indah untuknya hari ini. Ia masih kaku dengan mulut terbuka, sangat terpukau dengan perlakuan suaminya yang semakin memanjakan dia.
"Mau masih menyimpan berapa hadiah lagi untuk ku?" Keysha menggoda.
"Satu lagi dan itu nanti malam." Bisik Sandy dengan desahan yang membuat Keysha bergidik geli.
Dengan sangat hati-hati ia membuka kotak. Di mulai dari ikatan pita yang berbentuk bunga lalu penutup kotak untuk langsung mengetahui benda yang bersembunyi di sana.
Lagi dan lagi Keysha seakan mematung tidak percaya dengan apa yang di dapat. Sebuah dompet yang sangat ia mimpikan. Bentuk yang sederhana dan berkualitas tinggi. Merk yang sangat terkenal di jagat raya. Ia berkedip genit sebelum mengusap lembut penutup dompet.
"Kamu menemukan ini..Ini termasuk benda yang sulit untuk di dapat . Ini tu limited edition karena perusahaan hanya mengeluarkan lima peaces dan bahkan di Indonesia sendiri tidak ada. " Rangkaian kata itu cukup menjadi penjelasan yang masuk akal. Kabar yang terdengar memang sulit untuk memiliki benda ini. Sangat langka, bahkan harganya pun relatif mahal.
"Aku pergi untuk mencari itu. Jadi jangan berpikir yang macam-macam lagi." Kata Sandy memberi kesaksian. Dia memang sedang berbohong, tetapi setidaknya ada rasa lega melihat wanitanya tersenyum bahagia tanpa sebuah paksaan.
"Woi ....sampai kapan aku kau diamkan di sini dan di gigit nyamuk-nyamuk nakal ini ?"
Teriakan kesal Reno karena lelah menunggu di antara rimbunan semak-semak membuat Sandy dan Keysha tertawa bersama.
"Ya sudah, sini gabung. Palingan kamu yang gantian menjadi nyamuk untuk kita." Kata Sandy datar dengan nada meledek.
Keysha terkekeh, bibir tipisnya semakin tidak terlihat ketika senyuman nya semakin melebar. "Sini kak ...."
"Kau tidak berniat menjadi kacang yang lupa kulitnya bukan ?" Reno menggeramkan kalimatnya kemudian menatap Sandy dengan kesal. Wajah yang di lipat dengan cemberut berhasil membuat Keysha dan Sandy terkekeh geli.
"Kau sudah berbohong padaku, lalu membuatku menangis dan ketakutan masih pula kau tertawakan, apa tidak ada keinginan untuk meminta maaf ?"
Benar juga, Reno sudah seperti monster yang kejam, bersikap jail dan sangat keterlaluan...
"Ok, Ok untuk itu aku pribadi minta maaf padamu. Tapi ..."
"Maaf kok pakai tapi ... " Hardik Sandy dengan senyum menggoda.
"Hahaha" Sandy kembali terkekeh. Ia berulang kali memegang perut yang kaku karena terlalu banyak tertawa. Berulang kali pula ia menarik nafas dalam-dalam agar bisa mengendalikan diri. "OK, baiklah. Terima kasih Reno yang sangat baik hati. Untuk kedua kalinya kamu ikut serta melukis sejarah besar dalam rumah tangga ku." Kata-kata nya ia rangkai dengan indah, merundukkan kepala dan berbicara dengan sangat lembut.
Reno dan Keysha saling menatap sebelum akhirnya mereka terkekeh geli dengan tingkah konyol Sandy....
-------------
Malam semakin larut, udara dingin dengan kuat mencengkram tubuh, menyibak dalam hingga terasa ngilu sampai ke tulang. Keysha berulang kali bergidik dan memeluk erat tubuhnya sendiri ketika semilir angin menyapa lembut kulitnya. Pakaian panjang dengan bahan tidak terlalu tebal, tidak bisa memberi rasa hangat yang nyaman.
"Dingin ?" Sandy mengeratkan pelukan dengan menarik pinggang ramping istrinya. Merangkul di bawah sinar rembulan yang ikut merona hadir dalam malam panjang pasangan itu.
Ya, Sandy juga tidak memakai jaket atau apapun itu. Ia hanya mengenakan kaos panjang yang membalut tubuh. Tidaklah mungkin jika ia harus melepas dan memasang di tubuh istrinya. .
"Sudah hampir subuh, lebih baik kita pulang sekarang." Keysha mengalihkan pandangan ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Di amati dengan jeli, karena cahaya remang-remang sangat sulit untuk memfokuskan mata.
"Baiklah. Aku juga sangat merindukan Allan dan Lena." Kata Sandy dengan cepat. Ia meregangkan pelukan sebelum beranjak dari kursi. Mengemasi beberapa benda yang ia letakkan di sampingnya.
Mereka sudah berjalan menelusuri jalan setapak yang saling terhubung sampai ke parkir mobil. Reno sudah pulas di kursi kemudi yang ia turunkan senderan kursinya, menjadi sebuah ranjang darurat di tengah-tengah alam bebas. Begitu pula dengan driver yang mengantar Keysha dan masih setia menunggu tanpa mengeluh. Entah, bagaimana batinnya...
Reno sangat setia. Dia sungguh tulus bahkan merelakan waktunya demi sahabat kentalnya. Mengizinkan nyamuk menjamah seluruh tubuh hanya demi sebuah dukungan untuk malam intim sepasang suami istri yang selalu menjadi prioritas utama nya.....
Sandy tersenyum lekat saat menatap wajah teduh Reno. Semakin yakin jika dia kelak bisa menjaga istri dan anak-anaknya ketika sudah berumah tangga atau bahkan ketika waktu mengatakan jika usia Sandy tiada lagi sisa. Sudah cukup mengitari bumi dan harus kembali, ia bisa merasa tenang selama Tuhan mengizinkan Reno tetap hadir di antara orang-orang yang dia sayangi.
"Ren ...."
Sandy menggoyang tubuh Reno, menepuk pundaknya dengan halus. Tetapi tak kunjung ada pergerakan yang menandakan pria itu sudah terbangun. "Bangun Ren !" Suaranya semakin meninggi, menyulut kesal yang kembali menjalar bebas . "Dasar kebo ! Tidur di tempat seperti ini saja masih bisa pulas." Ocehan khas Sandy menggema keras. Ia menghardik sahabatnya seperti biasa. Pukulannya semakin kencang seirama dengan suara yang menyembur dari mulutnya.
Reno tersentak kaget, jantungnya berdebar kencang saat ia menyadari bahwa tubuhnya bangkit dengan tiba-tiba.
"Sandy ! apa-apaan sih !" Protesnya dengan penuh kesal. Mata merah itu ia kucek dengan tangannya.
"Pulang nggak ? Sudah hampir subuh ."
"Ya sudah. sana duluan."
"Benar ya ? Jangan bilang kacang lupa kulitnya lagi nanti..."
"Iya iya ...ganggu saja."
Entah dengan kesadaran atau tidak Reno berbicara. Ia kembali menghempas tubuhnya ke atas bantalan kursi. Matanya kembali terpejam melanjutkan mimpi yang belum usai.
Sandy hanya menghembuskan nafas lalu beranjak menghampiri Keysha yang sudah menunggu di dalam mobil bersama drivernya.
"Reno sudah pulang ?"
"Dia mau nginep..."
"Hah ?" Keysha tertegun sejenak kemudian menatap wajah Sandy tidak percaya. Kedipan matanya seakan menghardik dan menekan Sandy bahkan penuh dengan tuduhan yang kental.
"Aku sudah mencoba membangunkan dia, tapi setelah itu dia balik tidur lagi." Kata Sandy menjelaskan. Ia mengacungkan jari tengah dan hari telunjuk sebagai bukti keseriusan bicara. Menjadi lambang sumpah yang tidak terucap oleh lisan.
Sebagai ganti dari kata, 'Serius, aku berani sumpah demi itu......'
----------------
brakkk brakkk brakkk
Suara keras menggoncang seluruh mobil yang menjadi ranjang daruratnya semalam penuh, goncangan terasa keras menyibak gendang telinga yang masih tertutup rapat. Bergetar memaksa penghuni di dalam untuk terjaga.
Reno mengerjapkan mata, merasa terganggu dengan gemuruh dari luar mobil. Remang-remang mulai terlihat dengan matanya yang belum seutuhnya terbuka. bahkan nyawanya baru merambat untuk kembali menyatu. Huh, ku pikir ada gempa yang menggoncang bumi...
Dua orang berpakaian seragam rapi dengan tongkat di tangannya mengintip dari celah kaca yang sedikit terbuka. Topi berwarna hijau army turut menunjang penampilan. Matanya memandang Reno dengan geram.
"Maaf tuan, di sini bukan tempat untuk bermalam." Tegur salah seorang pria tersebut dengan nada tegas. Ia mencermati dengan jeli seluruh sudut mobil seolah mencurigai Reno menginapkan seorang perempuan sebelum kembali melanjutkan kalimatnya. "Bisa saya lihat KTP tuan atau tanda pengenal lainnya ?"
"Oh-iya .Maaf saya ketiduran" Kata Reno dengan suara parau. Ia mengusap mata untuk segera menyadarkan diri.
Tangannya meraba sekeliling sambil mengingat letak dompet kecil berwarna coklat yang biasa digunakan untuk menyimpan semua kartu. Di bolak-balik hingga berakhir di dua kartu dan menyerahkan salah satunya terhadap petugas. "ini ...."
Mata petugas yang menerima tanda pengenal itu membelalak, tidak percaya dengan siapa dia berinteraksi. Mobil butut dan sangat berdebu sungguh tidak menunjukkan jika Reno adalah pemilik sebuah perusahaan besar di kotanya. Menempati urutan ketiga pada jajaran orang-orang sukses di usia muda. Namanya sempat menjadi topik hangat dan viral, pebisnis muda yang tidak terlihat bekerja tapi sangat mudah meraih titik sukses yang senantiasa di mimpikan banyak khalayak.
"Perhatikan fotonya baik-baik pak jika masih tidak yakin." Reno membuka telapak tangan dan kakinya telah siap untuk memancal pedal gas. "Saya telah menyewa tempat ini untuk satu malam. Jadi, kembalikan kartu saya." Katanya tegas memperingati.
Mereka berdua saling berinteraksi dengan mata. Melirik untuk berunding, entahlah bahasa apa yang mereka perdebatkan yang jelas Reno sudah tidak sabar untuk lebih lama menanti.
"Tolong kembalikan atau bapak kehilangan pekerjaan bapak untuk selama-lamanya !" Nada angkuh dengan suara yang tertekan melayang di udara . Menyulut keberanian dan membuat yang mendengar bergidik ngeri.
Senyum paksa terurai kaku di bibir tebal mereka. Tangannya bergetar ketika menyerahkan kembali sebuah kartu dari jemarinya. Satu kali bentakan yang ringan, sudah mencucurkan keringat dingin di pelipis mereka. Aroma arogannya terpancar dari alis yang tergambar hitam dan tegas.
Walaupun Reno adalah manusia yang lebih humoris di bandingkan Sandy, tetapi dia juga memiliki aura kejam yang bisa sewaktu-waktu terbakar jika ada yang mengusik ketenangan batinnya....
Dengan cepat mobil telah melaju. Musik memekik keras dengan volume maksimal. Ia sangat menikmati itu sepanjang jalan. Terbuai dengan lirik yang tersirat sungguh sedang meledek nasibnya. Ah sial, siapa yang berani menciptakan lagu seperti ini....
Ia menekan tombol power dengan kasar seketika musik berhenti tanpa aba-aba. AC yang tidak terasa dingin, menambah emosi yang muncul dari balik hati Reno.
Ya seperti itulah manusia, jika sudah kesal dengan suatu perkara sejak pagi, siang dan sorenya pun dia akan larut dalam emosi yang mengusik ...
seakan memberi magnet kuat untuk menunjukkan sisi arogan dari dalam jiwanya .
.
.
.
.
.
.