I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Menghias diri



"Bagaimana Lex ? Apa sudah ada kabar dari Reno ?" Keysha melangkah, mendekati sahabatnya yang duduk di ujung ruangannya. Keysha baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaannya, dan masih melihat gadis itu berdiam diri dengan wajah kusut.


dokter Alexa mendongakkan kepala, ia meletakkan ponselnya kembali di atas meja bundar di sampingnya.


"Belum Key, aku juga sudah mencoba menghubungi nya lagi, tapi tetap saja tidak bisa, " Dokter Alexa menggeleng ringan, ia tampak kembali merunduk. Memainkan ujung-ujung jari tangannya secara bergantian. Mungkin, dia baru saja merasakan penyesalan yang tidak berujung. Andai. Iya, andai saja dia tidak meninggikan cemburunya, yang meninggikan sifat egois, mungkin saja semua tidak seperti ini. Reno, pasti saja akan tetap diam di tempat, walaupun tanpa status yang mengikat.


"Sudah ku coba melacak keberadaannya lewat nomornya, tapi tetap saja tidak bisa, " sahut Audrey yang masih sibuk dengan PC milik Keysha.


"Audrey, jangan pegang-pegang PC sambil makan snack kek gitu sih, " Tegus Keysha .


"Audrey lapar kak, nanti di bersihin, tenang saja, " Gadis tengil seperti Audrey memang terlalu sulit untuk di nasehati secara baik-baik.


"Sama siapa ?" tanya Keysha dengan nada yang seolah-olah kesal dengan sikap adiknya.


"Mbak Nur, " Audrey nyengir keki, memperlihatkan deretan giginya yang berjajar rapi.


"Key, gimana dong kalau Reno benar-benar meninggalkan Jakarta ?" dokter Alexa semakin di rundung pilu, rasa cemas dan takut kehilangan meskipun tidak memiliki seutuhnya kini menyeruak, mendobrak kuat dan menyentak dadanya.


"Tidak mungkin, " Audrey menepisnya, ia beranjak dari bangku tempatnya bersandar semenjak tadi. Semenjak repot dengan mengutak-atik PC.


"Aku dan kak Reno, baru saja memulai bisnis, mana mungkin dia keluar kota. Akan ku bunuh jika sampai senekat itu. Sungut Audrey terdengar sangat serius dengan setiap katanya.


"Bisnis ? " ucap Keysha dan dokter Alexa kompak. Mereka membelalakkan mata, karena tidak ada satupun orang yang tahu perihal itu. Audrey sengaja menyembunyikan itu, bahkan dari Chandra dan Meera sekalipun.


"Kompak bener, " Audrey tertawa, lalu meneguk sisa Orange juice miliknya hingga tetes terakhir.


"Audrey, kau bisnis apa sama Reno ? Apa kau sudah benar-benar mempertimbangkan semua ? Maksudku, kau tidak bertanya dulu kepada kak Sandy, " kata Keysha cemas, topik bicara yang mereka fokuskan kini buyar, tergeser dengan rasa ingin tahu dengan apa yang Audrey rencanakan.


Audrey menarik nafasnya dalam-dalam, ia tetap duduk, hanya saja sedikit berubah dan menegakkan punggungnya, " Baiklah, aku harap rencana ini hanya sampai di telinga kakak dan dokter Alexa, " Ucap Audrey tegas . Sudah seperti seorang boss besar yang memberi instruksi kepada karyawannya. Keysha dan dokter Alexa saling bertatapan, menunggu kata-kata selanjutnya dari bibir tipis Audrey.


"Aku sempat berpikir ingin menjadi seorang pebisnis yang sukses di usia muda, tanpa campur tangan papa dan juga kak Sandy. Aku ingin berdiri dan menopang tubuhku, dengan kakiku sendiri. " Audrey berdiri, ia melipat kedua tangannya lalu membuang pandangan jauh ke luar ruangan. Menatap langit yang mulai petang, berkedip membalas kedipan lintang yang hadir berkelompok mengitari rembulan.


Keysha hanya bungkam, lalu mengangguk ringan seolah mengiyakan apa yang Audrey katakan. Dari Sinar mata yang terpancar, terlihat jelas jika Keysha sangat sependapat dengan pola pikir Audrey yang mendadak dewasa. Aneh, tapi itulah faktanya.


"Karena uang Audrey tidak cukup untuk membeli dan meneruskan proyek yang beberapa bulan terakhir terbengkalai, milik orang tua temanku, jadi aku memutuskan untuk minta tolong sama kak Reno. Itu pun tidak cuma-cuma. 40% dari total modal yang di butuhkan, kak Reno yang membayar nya, jadi aku anggap kita sedang bekerja sama. Sampai nanti pun pembagian hasil ya sesuai modal kita masing-masing. " Ucap Audrey dengan hati-hati. Ia tidak ingin satu katanya yang salah, menimbulkan asumsi yang berbeda di benar kedua wanita yang lebih dewasa satu tahun darinya tersebut.


Keysha tersenyum puas, ia beranjak dari duduknya lalu merangkul tubuh Audrey dari samping.


"Sejak kapan adik ipar kakak dewasa sekali, " Keysha menyentil hitung Audrey.


"Sejak papa dan mama izinkan Audrey sekolah di luar negeri, tentu saja semua mengajari buat Audrey memiliki pola pikir yang dewasa, " Jawab Audrey dengan senyuman manis.


"Lalu, kenapa kalau di rumah tetap saja manja ?" Tanya Keysha.


lagi, lagi Audrey tertawa, " Itu bonus untuk papa dan mama, "


"Ada-ada saja, " Keysha turut tertawa.


*_*


"B a j i n g a n ! Sampai kapan kau akan menganggap ku seperti hewan piaraan mu, hah ?" Teriak Shinta kesal . Ia semakin muak dengan Devino yang memperlakukan dia seenak hatinya. Terkadang, memang melebihi batas normal. Vino selalu saja merendahkan tubuh Vino.


Vino menyeringai puas, ia menatap Shinta dengan pandangan hina. " Jika papaku tidak menyimpan dendam dengan ibu kandungmu, kau tidak akan menderita seperti ini Shinta. Menurut lah, maka kau akan bahagia, "


"Cih, " Shinta sengaja meludah tepat di depan wajah Vino. Dengan segala keberanian yang ia miliki, Shinta mencoba melawan lelaki gila yang sudah puluhan kali meniduri tubuhnya. Menjamah tanpa meninggalkan satu jengkal kulit yang tersisa. "Dasar pengecut !"


Shinta berontak, dengan energi yang ia miliki, Shinta mencoba menepis tangan kekar Vino. Namun, tenaga Vino tetaplah tidak sebanding dengan dengan tenaga ringan Shinta.


"Lepaskan !" Bentak Shinta dengan suara gang tertahan karena tangan Vino masih menghalangi bibirnya bergerak.


Dengan keras, Vino mendorong tubuh Shinta ke atas ranjang.


"Apa salah mama Vino ! Kenapa kau seperti setan merendahkan ku, kenapa kau seperti pengecut yang sama sekali tidak mau mengatakan padaku ?" Rengek Shinta dengan pelan, air matanya kembali mengalir setelah beberapa hari sama sekali tidak menetes. Shinta tersedu, dengan tangannya yang menyangga tubuhnya di atas kasur.


"Layani tamuku hari ini dengan senang hati, aku akan memberitahumu jika kau berhasil membuatnya puas dan datang lagi, " kata Vino memberikan syarat. Pria itu kembali melangkah keluar kamar, menguncinya rapat-rapat agar Shinta tidak berpikir untuk kabur.


Entah sudah hari ke berapa Shinta hanya bergulat dengan ruangan itu. Sebuah kamar apartemen yang tidaklah besar. Di kurung di dalam dengan rasa kesal dan jengah. Ingin sekali ia melarikan diri tanpa sepengetahuan Vino, tapi ruangan yang terletak di lantai atas pada bangunan yang menjulang tinggi, tidaklah mungkin untuk ia lewati jendelanya untuk berlari. Apalagi, dengan keadaan diri yang sangat hina, berpakaian mini dan transparan tanpa penutup lainnya. Itu tentu akan membuat orang-orang melempar kata menjijikkan, dan menatapnya seperti wanita murahan.


"Aku harus tahu, apa kesalahan mama hingga orang itu sangat membencinya, " Gumam Shinta dalam hati.


Ia beranjak dari kasur, menatap diri pada cermin besar yang tertata di sebelah ranjangnya. Jemarinya sibuk membenahkan rambut, lalu pakaiannya. Ah, percuma ! Kain tipis itu tidak bisa menutup kemolekan tubuhnya.


"Rupanya, aku sangat seksi jika berpakaian seperti ini, " Shinta tersenyum sinis. Menjunjung diri dengan nada angkuh. Shinta sibuk memainkan rambutnya, yang sudah beberapa hari tidak ia rawat.


"Pantas saja, Vino sangat ketagihan dengan tubuhku, " Gumamnya lagi. Seperti sudah menyatu dengan aktivitas yang di ajarkan Vino, hal tabu yang mulai biasa ia lakukan.


"Apa yang sedang ku pikirkan ? Aku bukan wanita penghibur, " Shinta mengelak, mengusir pikiran kotor yang menyapu logikanya. Mengusik penolakan yang susah payah ia lakukan, ya walau akhirnya secara tidak sadar ia mulai menikmati setiap permainan yang Vino berikan.


"Shinta ! Bersiaplah, aku akan segera membawamu, " Vino tiba-tiba masuk kembali. Membuka pintu tanpa aba-aba sebelumnya, membuat Shinta terkejut dan salah tingkah karena ia masih terus tersenyum di depan cermin ketika matanya masih mengamati setiap lekuk tubuh moleknya.


"Apa kau akan melepaskan ku setelah ini ?" Shinta berjalan menghampiri Vino, ia meraih pakaian yang tak kalah seksi dari lingerie yang ia kenakan. Mini dress tanpa lengan, dengan warna merah tentu akan menyatu dengan kulitnya dengan pas.


Dengan wajah flat tanpa ekspresi, Shinta mengamati dress tersebut, lalu menarik sebuah tas yang berisi alat-alat make up dari tangan Vino.


"Lakukan saja seperti apa yang setiap hari aku ajarkan padamu, babe " Vino tersenyum nakal. Ia menyentil bagian dada Shinta yang menonjol, membuat perempuan itu meringis karena terkejut.


"Dasar pria mesum !" Dengus Shinta kesal, sesaat setelah Vino melangkah keluar dan menutup kembali pintu kamar.


Shinta segera berbalik untuk mempersiapkan diri, dengan hati yang berat ia membersihkan diri dengan sabun yang beraroma wangi. Membasuh rambutnya dengan shampo yang telah di sediakan Vino.


Shinta memang perempuan yang hobby dengan alat-alat make up, ia tahu betul bagaimana mengaplikasikan berbagai produk kecantikan di kulitnya hingga sampai cantik. Dengan luwes, jemari itu bermain di wajah, berlenggak-lenggok dengan rajin dan tepat.


"Finish, " Shinta tersenyum melihat dirinya sendiri.


Perfect, itulah yang tergambar di angannya ketika selesai memoles wajah. Tanpa membenahi dan membersihkan semua, Shinta langsung beranjak setelah memastikan jika dirinya sudah tampil dengan sempurna.


"Vino apa kau akan tetap mengurungku di dalam sampai bedak ini luntur, " Teriak Shinta kesal, karena pintu itu tidak kunjung terbuka ketika ia menarik gagangnya. Ya, bagaimana bisa terbuka, Vino telah menguncinya dari arah luar.


"Tunggu...." Sahutnya remang-remang. Tidak lama terdengar suara kunci yang terbuka.


Davino mendorong pintu, dan matanya langsung fokus pada perempuan yang duduk di tepi ranjang.


"Shinta, kau cantik sekali, " Seru Vino dengan gemas. Ia menghampiri perempuan itu, menyentuh dagunya lalu mengecup kilas bibir merahnya.


Shinta mendorong kuat tubuh Vino, "Apa kau ingin membuatnya luntur, lalu aku terlihat tidak menarik ? Bukankah kau ingin aku menjadi perempuan penggoda hari ini ?"


Vino terkekeh, "Ok, Baiklah ! Besok berhiaslah yang lebih cantik dari ini. Lihatlah, juniorku sangat senang ketika melihatmu terlihat segar seperti ini, "