
"Bunda dengar kalian teriak-teriak, ada apa Key ?" tanya Yeni penuh selidik.
"Ada tante jahat Oma, " ungkap Lena dengan wajah yang bersungut-sungut.
"Tante jahat ?" tanya Yeni lagi. Ia bergidik heran ? Tak mengerti siapa yang Allena maksud. Selama ini, Keysha tidak pernah berkisah tentang sosok jahat yang di sebut-sebut oleh cucunya. Keysha juga tidak pernah mengatakan jika ia memiliki musuh.
Bukankah, Keysha selalu di kelilingi oleh orang-orang yang baik ? Dia sangat lah baik hati dan suka menolong, bagaimana ada orang yang berniat jahat kepadanya ? gumam Yeni dalam hati. Ia terus bercengkrama dengan dirinya sendiri, mencari-cari tahu tanpa menyemburkan kalimat tanya yang sudah bergerumuh di kepalanya.
"Ha ha ha ..." Keysha terkekeh kecil mendengar ucapan Lena, yang di tanggapi dengan wajah serius oleh Yeni. "Maksud Lena, kita tadi main penjahat dan polisi bun. Jadi, dia masih terbawa sama suasana tadi. " Jelas Keysha penuh yakin. Entahlah, apakah kedua anaknya bisa di ajaknya berbohong untuk kebaikan. Atau akan menentang kalimatnya dengan mengatakan bahwa kita tidak boleh berbohong.
Keysha mengedipkan mata kepada Allan, karena dialah yang sangat mudah menangkap keadaan. Ia cerdas, dan begitu gampang untuk di ajak berdiskusi dalam segala hal.
"Iya Oma, tadi Allan jadi polisinya. Terus, aku tembak-tembakan deh pakai senjata yang mama buatkan. Dorr...." Imbuh Allan dengan mengacungkan jemarinya, dan memasang gaya layaknya seseorang yang telah lihai memainkan pistol.
Yeni dan Keysha terkekeh melihat ekspresi wajah Allan yang arogan. Sementara Lena, ia hanya mengernyit kebingungan, karena tidak mengerti arah percakapan yang sengaja Keysha rubah alurnya. Kisah yang terjadi, tidaklah sama persis dengan cerita indah mereka. Semua hanyalah ilusi, dan tedeng aling-aling untuk menutupi rasa takut mereka sendiri. Wajah lugu dan polos Allan ketika bercerita, cukup menutupi ke khawatiran Yeni. Ia tidak lagi berpikir buruk dengan kejanggalan yang ada. Seolah-olah sirna, lenyap bersama tawa yang sengaja Allandra ciptakan.
"Mama tidak kerja ?" tanya Lena memutus tawa mereka bertiga. Allan yang masih memeragakan caranya memegang pistol, dengan tatapan kecewa mulai menurunkan tangannya. Pertanyaan Lena seperti badai, menggelegar layaknya petir. Allan tidak menginginkan itu, yang ia mau hanya tawa yang tak akan berlalu di sela hari mereka. Dan itu, hanya dengan adanya Keysha di tengah mereka yang akan mampu mewujudkan dengan sempurna.
Keysha bergantian memandangi wajah lugu putra putrinya. Sorot mata bening, yang tak berhenti merangkai asa itu, sedang menatapnya penuh dengan permohonan.
Keysha merunduk, lalu duduk bersimpuh di depan Allan dan Lena. Merangkul kedua bocah itu, lalu mengusap lembut jemari mungilnya. "Untuk beberapa hari ke depan, mama akan diam di rumah untuk kalian. " Hanya itu. Iya, hanya itu yang bisa Keysha janjikan. Ia tak tahu, bagaimana nasib boutique tanpa adanya dia. Banyak orang yang bergantung hidup di sana, banyak orang yang hanya mengharapkan dari upah tips yang Keysha berikan. Tetapi, jika ia harus berhenti, apa yang harus ia katakan ? Boutique berdiri dengan namanya, besar dan sukses atas kinerjanya. Rania memang tak kalah hebat dari Keysha, tetapi tak sedikit customer yang bersikukuh meminta Keysha sendiri yang melayani, ketika mereka hendak memesan gaun ataupun gamis.
"Jadi, mama akan tetap bekerja ?" Deg ! Ini adalah bagian yang menyakitkan dari darinya. Melebihi perihnya tertimpa reruntuhan bangunan, melebih pahitnya getir kehidupan tanpa kesuksesan. Allan dan Lena sudah tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, tidak heran jika mereka selalu ingin bersama dengan kedua orang tuanya, layaknya anak-anak seusia dengannya.
"Sayang, bagaimana mama harus jelaskan ke kalian ? Banyak sekali orang yang hidupnya bergantung di boutique mama, mereka kebanyakan orang-orang yang hidupnya kurang beruntung, dan harus menanggung beban keluarga yang cukup banyak. Entah kalian sudah mengerti atau belum, tapi kalau mama berhenti, boutique juga akan sepi nak. " Keysha mengusap kepala Allan dan Lena bergantian. Entahlah, angin apa yang tiba-tiba membuat kedua anak ini berani menuntut waktu lebih kepadanya. Ini kali pertama, ia mengeluarkan unek-unek yang mungkin telah lama di tahan olehnya.
"Kenapa dulu mama tidak bikin boutique di rumah ? Mama bisa bangun di halaman rumah ? Bukankah rumah ini sangat luas ma ? " tanya Allan, menuntut penjelasan yang lebih.
"Tidak semudah itu sayang, " Sahut Keysha. Matanya mulai berbinar, ia tampak berkaca-kaca hendak meneteskan air mata yang masih berusaha di tahan oleh dirinya.
"Kenapa tidak bisa ma ?" tanya Allan mengintrogasi.
"Papamu tidak suka keramaian sayang. Allan kan sudah besar, Allan tahu kan bagaimana cara menghormati orang tua ?" Sahut Yeni, turut angkat bicara. Ia memang memaklumi aksi protes yang di layangkan oleh Allan. Itu adalah hal yang lumrah dan wajar, yang di lakukan setiap anak yang mendambakan kasih yang lebih oleh ibunya.
"Tapi Allan juga tidak suka mama pergi-pergi terus Oma . Dulu, mama suka antar Allan dan Lena sekolah, mama selalu pulang sore dan masih punya waktu untuk bermain dengan kita. Tapi, saat Allan dan Lena mulai besar, kenapa mama semakin menjauh ? Mama tidak lagi mengantar kita sekolah. Mama tidak lagi menemani kita sebelum tidur. " Allan memukulkan tangannya ke atas sofa. Ia benar-benar menaruh kecewa yang lebih kepada Keysha. Apa yang di katakan itu memang benar. Keysha lebih sibuk dengan urusan pekerjaan nya sekarang. Meskipun ia menyempatkan diri untuk menghindari kedua anaknya setiap saat, tetapi tidak menutup kemungkinan jika Allan merasa itu tidaklah benar.
Keysha tidak lagi menjawab, meskipun hanya sepatah kata. Ia hanya merunduk merasakan kepedihan yang menyayat hati. Jiwanya hancur, terlebur bersama langkah Allan yang berlari meninggalkan nya. Tangisnya mulai pecah, luluh lantah menusuk dalam kalbunya.
Allena masih sulit mengerti, ia hanya bisa memeluk Keysha dengan erat. Dekapan yang ia berikan, wujud jika ia masih belum bisa menuntut kasih yang lebih seperti yang Allan tunjukkan.
Jemari mungilnya, ia tuntun untuk membasuh wajah Keysha. Mengusap air mata yang telah mengalir tak bertepi. Ia menangis sejadi-jadinya, bersama dengan Yeni yang begitu mengerti perasaan Keysha. Yeni pernah merasakan perpisahan yang lebih menyedihkan, tapi baiknya tidak ada kebencian yang bersarang. Seburuk apapun yang Keysha dengan dulu tentang Yeni, sekejam apapun kepahitan yang Lita ceritakan kepadanya dulu, tidak sedikitpun menggores di hati Keysha. Baginya, Yeni adalah malaikat terbaik yang Tuhan kirim kan untuk masa-masa indahnya.
Beda dengan Allan, ia memiliki pola pikir yang persis dengan Sandy. Ia selalu berusaha memberontak ketika mendapati sesuatu yang tak sejalan dengan kemauan nya. Ia akan berusaha kuat, menyuarakan isi hatinya. Apapun langkah yang di ambil, ia akan mempertahankan jati dirinya.
"Kamu mau kemana Key ?" tanya Yeni, ketika melihat Keysha hendak bangkit.
"Aku harus menemui Allan bun, aku harus membuatnya mengerti. " jawab Keysha dengan pilu.
"Biar bunda saja ! Tentu kau sangat ingat bagaimana sikapnya jika marah bukan ? "
Yeni beranjak dari atas sofa, ia melangkah dan menelusuri anak tangga dengan perlahan. Sejatinya, kakinya mengeluh harus naik tangga untuk membujuk Allan, tapi demi putrinya, demi kedamaian anak dan ibu, ia tak menghiraukan itu. Ia tetap berusaha menguatkan kaki, mendaki dengan wajah tenang agar tiada yang merasa kasihan melihatnya.
Yeni langsung menuju kamar Allan dan Lena. Berdiri di depan pintu dan mengetuknya dengan lembut. Namun, Allan memilih diam. Ia tetap bungkam menghiraukan suara Yeni yang memanggil namanya.
"Allan, ini Oma sayang. "
Entah sudah ke berapa kalinya Yeni menyebut nama Allan. Hingga akhirnya, ia memberanikan diri membuka pintu tanpa izin yang Allan berikan. Ia Menerobos masuk begitu saja.
"Sayang..."
Yeni duduk di tepi ranjang. Sementara Allan sedang menangis sesenggukan di sampingnya. Ia tampak kecewa berat, dan merasakan kesedihan yang mendalam dengan keputusan yang Keysha ambil. Hatinya sangat sensitif, meskipun ia terlihat galak dan dingin.
"Oma, kenapa sih mama lebih sayang sama orang lain dari pada sama Allan dan Lena ?" tanya Allan di sela tangisnya. Suara yang keluar dari bibir polos bocah itu terdengar begitu pilu.
"Eh, kata siapa ?" sahut Yeni. Ia membenarkan duduk Allan, agar lebih mudah untuk bertatap muka dengannya. Berbicara tanpa bahasa mata yang mendukung, lebih sulit untuk di mengerti oleh anak laki-laki itu. Yeni merangkul kedua pundak lemah Allan, menepuk-nepuk nya dengan ringan guna menghapus semua kerapuhan yang bersarang di sana.
"Sejak kapan mama tidak sayang sama Allan ?" Yeni memulai bicaranya. Allan terlihat sangat serius mendengarkan. " Mama sedih kalau Allan seperti ini, bagaimana pun nak, kita tidak selamanya bisa hidup sendiri. Setiap pulang kerja, mama sekali sempatkan untuk bertemu dengan kalian, tapi mama tidak pernah membangunkan kalian. " tutur Yeni dengan lembut.
Nada yang tak di buat-buat. Cerita yang memang benar adanya. Kata yang sejatinya tak perlu di ungkapkan, tetapi memang waktu mendesak agar Allan mengetahui kenyataan.
Titik sukses yang Keysha ambil berangkat dari langkah yang menemui izin dari Allan dan Lena. Berawal dari garis rendah, dan kini telah berkembang pesat dan menjadi boutique terkenal di pusat kota.
Tidak hanya kalangan atas saja yang tergiur dengan desain Keysha, tak jarang dari mereka yang ternyata adalah orang-orang dari golongan bawah. Harga yang Keysha tawarkan cukup beragam, jadi ia benar-benar ingin membantu sebagian besar orang yang membutuhkan jasanya. Dan itulah yang menjadi petaka, semakin ramai boutique yang ia bangun, semakin hilang pula waktunya untuk bermain dengan kedua anaknya. Semakin terkikis jam luang yang ia berikan untuk keduanya. Semakin berubah pula perjanjian antara Keysha dan kedua buah hatinya.
"Allan kenapa jadi seperti ini ? Allan suka kalau mama terus di rumah, dan di luar sana banyak orang yang kelaparan karena kehilangan pekerjaan ? " imbuh Yeni. Ia tak mengalihkan pandangan matanya. Terus ia arahkan tepat pada bola mata polos yang sedang berusaha memikirkan semuanya.
"Maaf Oma, " hanya dua patah kata yang mampu Allan ucapkan. Entah karena apa. Mengerti, atau justru enggan untuk berdebat lebih lama lagi hanya karena hal sepele. Tapi yang jelas, anak laki-laki itu kini meloncat dari atas ranjangnya dan bergegas keluar kamar.
"Maafkan Allan ma..." ucap Allan penuh permohonan. Ia mendaratkan ciuman hangat di kedua pipi Keysha, berputar dan terhenti di dahi Keysha. Ia juga merangkul Lena, bersamaan dengan rangkulannya kepada Keysha.
Yeni hanya tersenyum getir ketika melihat dari lantai atas. Hatinya teriris merasakan kasihan dengan Allan, tetapi tak bisa memaksa Keysha untuk tetap tinggal di rumah.
"Jadi mama sama Allan akur nih ? Sudah tidak berantem kan ?" tanya Lena polos.
Keysha tersenyum simpul, " mama sama Allan tidak pernah berantem sayang. Tadi cuma salah paham..." jawab Keysha yang kemudian kembali membenamkan kepalanya di antara Allan dan Lena.
Jam sudah cepat berputar, mengganti pagi menjadi senja. Keysha dan Yeni sudah sibuk memasak di dapur, sesekali menghampiri Allan dan Lena yang sedang belajar di ruang keluarga. Kedua bocah itu sedang asyik mencoret-coret buku gambar. Melukis sesuai imajinasi mereka. Menggabungkan titik-titik menjadi gambar yang sempurna. Mencetuskan gambaran wajah yang mereka berikan nama sesuai nama keluarganya.
Sandy pulang lebih cepat dari biasanya. Yang pertama ia sapa, adalah kedua anaknya. Ia segera bergegas mandi dan berganti pakaian sebelum akhirnya kembali turun untuk menyantap makan malam.
Mereka sibuk dengan makanan masing-masing. Hanya sesekali saja terdengar sahutan canda tawa untuk mengisi kejenuhan di antaranya. Allan dan Lena juga sering berebut lauk sebelum akhirnya Keysha sudahi dengan memotongnya menjadi dua bagian.
Setelah selesai makan, Sandy, Allan dan Lena menonton televisi. Sedangkan Keysha dan Yeni masih sibuk membersihkan meja makan dan dapur. Keysha tidak pernah jijik jika hanya membereskan bekas makan keluarganya. Ia juga tampak lihai mencuci piring untuk meringankan beban mbok Darmi.
"Sudah sana, temani anak-anak mu ! Nanti ada yang ngambek lagi. " sentil Yeni seraya tertawa kecil.
Keysha hanya tersenyum, lalu mengangguk mengiyakan apa yang Yeni pintakan. Ia segera menyelesaikan pekerjaannya, lalu melangkah cepat menghampiri Sandy dan kedua anaknya.
"Ma, lihat gambar Allan" Allan menyodorkan sebuah gambar yang ia lukis kan sore tadi, ketika melihat Keysha berjalan ke arahnya. "Ini papa, ini mama, ini Allan, ini Lena, ini Oma. " sambungnya seraya menunjuk satu persatu gambar yang di pegang nya.
"Bagus sekali. Allan yang gambar ? " Tanya Keysha antusias.
"Iya dong. Allan pintar kan ma ?" seru Allan dengan binar mata terang yang mengamati Keysha.
"Tentu. Anak mama semuanya pintar-pintar. " sahut Keysha memuji Allan.
"Kalau gambar Lena mana ?" tanya Keysha, ketika menghampiri Lena yang fokus menonton televisi bersama Sandy.
"Lena tadi mewarnai ini ma, " tunjuk Lena.
"Bagus, sudah rapi " Seru Keysha.
Setelah selesai menonton televisi dan membereskan buku-buku yang berserakan di lantai, Allan, Lena , Keysha dan Sandy bergegas menuju ke lantai atas. Gelak tawa dan candaan ringan terdengar harmonis di sela-sela langkahnya dalam menelusuri anak tangga. Mereka sama-sama menuju kamar anak, menyempatkan waktu sebentar untuk membaca sebuah dongeng sebelum akhirnya terlelap bersama di atas ranjang yang berbeda. Allan bersama Keysha, sementara Sandy bersama dengan Lena.
Yeni mengintip dari depan pintu kamar ketika suara tawa sudah tidak lagi terdengar. Ia tersenyum lebar, dengan kehangatan yang kembali terjalin dalam keluarga kecil putrinya. Anak-anaknya, tampak lebih gembira dengan waktu lebih yang mereka dapatkan. Tidak ada lagi aksi protes yang berlebih, apalagi rengekan karena merasa di kecewakan dengan kesibukan Keysha dan Sandy.
*****
Dokter Alexa mengendap-endap ketika memasuki halaman rumah. Ia membuka pintu, dan sedikit tercengang ketika mendapati pintu tak lagi di kunci. Padahal lampu sudah tidak ada yang menyala, bagaimana bisa mama lupa mengunci pintu ? pekik dokter Alexa dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul 23:46, sudah terlalu larut untuk seorang perempuan yang tidak lagi bekerja dengan shift yang dibagi, pulang ke rumahnya. Dokter Alexa masih mengendap-endap, ia juga melepas sepatunya agar tak bersuara ketika melangkah.
Lap ( Lampu rumah tiba-tiba menyala dengan terang )
Dokter Alexa membelalakkan matanya, ia mematung dengan tubuh sedikit merunduk. Firasatnya sudah buruk dari awal, pasti akan ada hal mengejutkan yang di terimanya malam itu.
"Kenapa tidak pulang besok pagi sekalian ?"
Rupanya, Febi masih duduk termenung di sofa ruang tengah. Ia sengaja mematikan lampu, agar Dokter Alexa tidak merasa ragu untuk pulang. Sudah beberapa hari, semenjak kejadian buruk yang menimpa hubungan nya dengan Reno, ia selalu pulang larut. Bahkan, sering tidak pulang ke rumah. Buruknya lagi, ia sering pergi tanpa pamit. Dokter Alexa benar-benar berubah, ia jauh dari sosok yang baik. Sering sekali berdebat dengan Naura, adik kecilnya hanya karena masalah sepele. Terkadang, barang yang di pinjam adiknya saja bisa menjadi pemicu kepergian nya dari rumah.
"Ada kerjaan ma ...." jawab dokter Alexa ketus. Ia berdiri tegak, tanpa menatap sang mama.
"Kerjaan ? Kenapa kamu sekarang sangat senang membohongi mama Lexa ?" Nada bicara Febi mulai meninggi. Ia tak peduli keadaan yang sudah larut. Baginya, dokter Alexa sudah kelewat batas wajar.
"Alexa tidak bohong ma ! Kenapa sih mama sekarang tidak percaya sama Alexa ?" Gertak dokter Alexa.
Keduanya beradu pandangan tajam. Bersikeras menyuarakan ego masing-masing. Tiada yang mau mengalah untuk menyudahi perdebatan. Semua semakin memanas, semakin memanjang dengan gejolak nafsu masing-masing.
"Sebenarnya kau sudah lama tidak bekerja di Rumah sakit kan Alexa ?" Febi menekankan kalimatnya. Ia sudah mengetahui itu, kebohongan yang telah berbulan-bulan dokter Alexa tutup-tutupi.
Dokter Alexa tidak bisa berkata apapun. Ia menyurutkan tatapannya. Melangkah mundur, lalu berlari menuju kamarnya. Kristal-kristal bening yang sudah ia tahan semenjak tadi akhirnya lolos juga. Mengalir bebas membasahi kedua pipi ranumnya.
Sekarang, ia merasa sendiri. Tidak ada lagi telinga yang dengan suka rela mendengar keluh kesahnya. Tidak ada sosok yang bisa mengerti kemelut di dalam jiwanya. Ia harus berusaha kuat menopang kelemahan diri, kesedihan yang tak juga bertepi, kekecewaan yang tak kunjung menghilang.
"Tuhan, kenapa tidak ada lagi yang peduli denganku...." Tangisnya semakin pecah. Membelah keheningan malam yang menegangkan. Sunyi yang bernyanyi di telinganya, seolah-olah sedang bersorak gembira dan menertawakan nasib buruknya.
Kepada siapa lagi ia harus mengadu jika mamanya sendiri tak ingin memahami prosesnya. Luapan dari rasa yang menggantung dalam diri.
Dokter Alexa menghapus air matanya, ia segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu. Segera menggelar sajadah dan mengenakan mukena putih dengan motif bunga itu dengan rapi.
Air matanya tak berhenti menetes ketika ia melaksanakan sholat taubat. Terus mengalir dan semakin deras mengingatkan kesalahan diri. Dosa-dosanya yang seakan-akan sengaja di ingatkan kembali. Setelah selesai, ia memohon ampunan. Berdoa kepada sang Illahi meminta ketenangan diri. Memohon perlindungan dan kekuatan untuk dirinya sendiri. Terakhir, ia melakukan sujud. Membenamkan wajah di atas sajadah dengan khusyuk, hingga ia makin terlena dan nyenyak di dalam sujud nya.