I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Rusaknya persahabatan



Hujan biarkan aku tenggelam bersamamu Sekilas, mengguyur, hilang, mengalir....


Rintihan kecil menyirami, entah bersorak atau sedang menangis.


Kuingin melepas semua dalam tarian di bawah setiap rintikmu.


Hujan, semua melemah....


terkulai tak kuasa kutahan dalam rapuhku!


Hujan yang mengguyur masih deras membanjiri. Payung kecil yang meneduhkan kini melayang di atas kepala Keysha. Ditarik nya wajah yang sedari tadi terjatuh dan tertunduk lemah.


"kak Sandy?" Key mengangkat tubuhnya untuk kembali dijatuhkan dalam pelukan sang kekasih.


"apa dengan begini masalahmu akan usai? Kamu hanya akan menyakiti dirimu sendiri Key!" Sandy mendekap. Berusaha menyapu derita dan kesedihan yang menghujam pujaan hatinya.


--


Segelas teh hangat menelusuri seluruh penjuru tubuhnya. Mengahangatkan, atas dinginnya air hujan yang mengguyurnya. Segelas teh hangat, apa bisa merubah dinginnya sikap sahabatnya setelah ini?


Sandy, selalu setia menjadi pendengar dari keluh dan Key suarakan. Dari tangis yang membuatnya terisak dan terdiam. Keysha adalah salah satu nyawa yang membuatnya tegar. Jika dia rapuh Sandy akan merasa hancur.


"tapi tidak dengan menghukum dirimu sendiri Key. Jika Ibnu mencintaimu, apa itu salah sepenuhnya ada pada dirimu? Jika laki-laki ******** itu tidak mempermainkan Rania demi mendekatimu apa semua masalah akan tertimpa padamu seperti ini?" Sandy menghujami Key dengan pertanyaan dan kenyataan. Memang secara garis besar cinta tidak bisa disalahkan. Itu adalah puing dari gesekan hati yang pemiliknya tidak bisa memilih kepada siapa sebuah rasa akan tumbuh. Yang salah hanya hasrat yang tidak bisa menahan demi sebuah ambisi. Ya, Ambisi yang besar untuk memiliki segala apa yang dia inginkan.


Dan kini, waktu sedang menyalahkan Keysha atas segala yang timbul dari sebuah rasa. Rania marah dan tidak menerima kenapa harus Keysha, sahabat aku sendiri!


Setelahnya kita tidak akan bisa mengubah waktu yang sudah berlalu. Bisa jadi Rania berbaik hati dan berusaha melupakan demi komitmen mereka berdua. Atau justru kebalikkannya dia akan bersikap dingin dan melupakan Keysha, sahabatnya.


"Key, ada jawaban dari Rania?" Sandy meletakkan buku lalu meraih segelas minuman cokelat hangat.


Key menggeleng pilu. Matanya tak bisa ditebak atas campur aduknya rasa yang berkecamuk dalam dirinya. Jiwanya bisa saja sedang terguncang.


"Rania apa laki-laki bodoh itu yang bisa membuatmu menjauh dariku setelah sekian tahun kita sahabatan" Keysha putus atas.


Sepanjang perjalanan Key hanya memandangi luar mobil. Pepohonan yang menyapanya lembut mengaminkan setiap bait-bait doa yang dia panjatkan Key kamu harus kuat.


"kamu harus bisa nerima kenyataan setelah ini Key. Hidup mu masih panjang, ngga bisa jika cuma kamu habiskan untuk sedih seperti itu." Sandy mengingatkan san hanya mendapat anggukan dari Keysha yang diiringi secuil senyuman.


"Kak tunggu! Itu mobil Rania." tepat sesaat Key menengok kiri jalan. Salah satu di antara jejeran mobil yang terparkir ditunjuk Key. Dia segera turun dan berlari untuk memastikan. sebentar dia memasuki ruko yang dibuat sebuah restoran.


Langkahnya melambat melihat Rania yang bercengkrama, bercanda, dan tertawa penuh arti dengan wanita yang lebih dewasa darinya.


"Cherry?" key terbata memanggil nama itu.


"Key ngapain kamu disini?". Tanya Rania sinis. Tentu dia masih marah dan kini mendekati wanita yang tidak menyukai Keysha itu.


"Aku...aku lihat mobil kamu di luar... Aku mau bicara Ran." Keysha kembali fokus ke topik semula. Dia mengenyahkan Cherry yang melihatnya sangat sinis.


"Keysha semua sudah jelas! Aku ngga bisa lagi temenan sama kamu!" Rania membuang muka.


"Ran aku mohon. Aku ngga ada hubungan apa-apa sama Ibnu. Itu hanya salah paham Ran. Aku harus kaya gimana biar kamu percaya sama aku?" key memelas. Mengeluarkan suara hati yang tidak bisa dibendungnya. Banyak mata yang mengawasi mereka. Karena memang keadaan siang itu ramai pengunjung.


" Key jika kamu benar-benar sayang sama aku. Aku mohon tinggalkan aku Key. Jangan kamu paksa aku buat mau temenan sama kamu lagi. Jangan paksa aku Key, buat bisa ngelupain semua penghianatan yang telah kamu buat!" Rania menangis. Mungkin dia sama seperti Keysha hancur dengan apa yang terjadi diantara keduanya. Gadis itu memilih pergi meninggalkan Key dan yang lain.


Ada senyum yang terlukis di sudut bibir Cherry. Bagaimana tidak ? melihat secara langsung Key menderita sesuai apa yang dia inginkan.


"sudahlah Key buat apa maksa orang yang udah jijik temenan sama kamu ! Hahaha! Itu hanya akan membuat orang tertawa melihat busuk nya kamu." Cherry merasa menang.


"Aku tahu semua ini ada kaitannya dengan kamu! Ibnu bilang kamu kakaknya. Dan sebelum Rania salah paham aku lihat kamu lagi ngobrol di taman sekolah sama Ibnu" Key mencoba membuka celah, mencari bukti tentang kesalahpahaman yang sengaja Cherry buat.


"hahaha! Key kamu tahu Ibnu adik aku..


Salahnya dimana kalau aku datangi adik aku sendiri di sekolah nya. So, lo kalau ngomong jangan asal tuduh!" Cherry memainkan rambutnya. Dia berbicara pelan di depan wajah Keysha lalu menepuk pelan pundak gadis itu dan keluar.


Bersambung.........