I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Nostalgia



Malam mencengkram berlalu, semilir angin pagi menyibak di setiap kelambu yang bergoyang dengan riang. Sinar mentari pagi tampak menganga, mengintip di balik celah mengganggu mata.


Setiap pasang mata tengah memulai aktivitasnya. Tak sedikit yang berlomba dari mereka untuk lebih pagi bangun dan berangkat mencari nafkah. Seolah berlomba mencari jalan untuk membuat perut kenyang.


Sandy membuka matanya dengan perlahan, ia tampak mengerjap beberapa kali menekankan keyakinan bahwa mentari telah menyambutnya di pagi itu. Sorak riang yang menyapa, beramai-ramai menyambut dengan salam selamat pagi.


Pria itu keluar kamar dan menelusuri anak tangga dengan pelan. Yang pertama di tuju olehnya adalah dapur dan meja makan. Tentu ia akan bergegas mencari istrinya ketika perempuan itu sudah tidak ada di sampingnya ketika matanya terbuka.


"Pagi kak," Secangkir cappucino hangat Keysha sajikan di atas meja. Ia melukis senyuman manis di kedua sudut bibirnya.


"Pagi sayang, " Sandy membalas senyuman itu. "Terima kasih."


"Apa kak Sandy yakin akan pergi ke kantor hari ini ?" Keysha menarik kursi di samping Sandy, ia lalu mendudukkan tubuhnya di sana. Dengan jeli ia mengamati Sandy yang sedang menyesap capuccino dengan tenang.


"Iya sayang," Jawab Sandy, ia meletakkan cangkir di atas meja, dan beralih menatap Keysha dengan lekat.


"Apa kau tidak percaya padaku ? Aku sudah sangat sehat dan kuat untuk kembali bekerja, " Sandy berkacak pinggang. Ia membusungkan dada dengan yakin, bahkan sesekali ia menunjukkan otot-otot keras di kedua lengannya.


Keysha terkekeh geli dengan tingkah lucu suaminya, ini bukan lelucon tapi pria itu cukup pandai dalam menghibur hati.


"Baiklah, ku harap kakak baik-baik saja dan jaga diri dengan baik juga, " Imbuh Keysha. Ia beranjak dari kursi dan berlalu pergi meninggalkan Sandy. Ada banyak tugas yang belum usai ia kerjakan. Menu sarapan dan bekal yang wajib Allan dan Lena belut seutuhnya tertata dan siap untuk di bawa.


Dengan cekatan Keysha melakukan semua, dari memasak makanan ringan dan membawanya ke meja makan. Hanya sebuah sarapan sederhana, tapi selalu membuat orang-orang yang pernah menginap rindu. Semua tersaji dengan sempurna, lengkap dengan buih-buih cinta dan kasih yang tulus. Keysha selalu melakukan itu dengan bangga dan senang hati, jadi makanan se simple apapun akan sangat melekat bahkan memiliki tempat tersendiri di hati setiap lidah yang mencicipi.


Selesai menyantap sarapan pagi, Keysha bergegas mengantar Allan dan Lena ke sekolah. Tidak ada Sandy di sana, mereka berangkat bersama sopir pribadi.


"Nyonya apa kita langsung ke butik ?" Tanya pak sopir dengan ramah. Ia menoleh ke belakang untuk lebih mudah memperhatikan raut wajah majikannya.


"Kita ke rumah Rania dulu ya pak," Sahut Keysha. Ia tersenyum lebar tanpa rasa yang di tutup-tutupi.


"Nyonya Keysha sudah yakin ?" Ada rasa takut yang menyibak hati pak sopir. Tentu saja, pengalaman masa lalu Keysha dan Rania menyimpan kekhawatiran yang tinggi bagi setiap orang yang sangat menyayangi Keysha dengan tulus .


"Rania tidak akan macam-macam pak, kali ini Keysha berani menjamin semuanya." Tutur Keysha dengan ramah. Ia menerangkan dengan jelas, bahkan sempat mengatakan perihal pendonoran hati yang di lakukan Rania dengan sukarela. Laki-laki itu sesekali mengangguk, mengiyakan dan yakin dengan apa yang Keysha ucapkan.


Mobil sudah melesat dengan cepatnya, suara yang terdengar hanya desiran AC dan deru lembut mesin kendaraan. Tidak ada canda tawa di dalamnya, bahkan ucapan-ucapan lirih tidak bergerumuh di atasnya.


Dua puluh menit, Keysha telah sampai di halaman rumah Rania. Ia tertegun memandang bebas ke seluruh penjuru rumah.


"huff..." Keysha menghela nafasnya lega. Ingin sekali segera berlari, merajut asa dan memulihkan masa yang terlewat sia-sia. Dendam yang membara ingin segera di lebur dengan cerita indah yang tertera. Ah, betapa bahagianya dunia, ketika kita saling erat menggenggam, mendaki, menuruni dan berdiam diri di segala masa yang akan terjadi.


Tok....tok....tok...(Suara pintu di ketuk)


"Assalamualaikum..." Ucap Keysha ramah. Ia tersenyum lebar ketika seorang pria membuka pintu dan menyambutnya dengan senyum sumringah.


"Wa'alaikum salam...Key ? Kamu sama siapa ?" Pria itu memandangi sekitar, mencari-cari keberadaan seseorang ke segala penjuru yang dapat di tangkap oleh pandangan matanya.


"Tuh sama sopir," Ujar Keysha santai. Ia menunjuk pada titik tempat mobilnya terparkir.


"Sandy ? "


"Dia minta maaf belum bisa datang menemui kamu dan Rania. " Jawab Keysha yakin. "Apa kau akan membiarkanku terus berdiri di sini ?" Imbuhnya. Ia menautkan kedua alis dan tersenyum masam, dengan nada sindiran.


"O...maaf maaf .." Jawab Ibnu, ia memukul ringan keningnya lalu terkekeh kecil. Ibnu mempersilahkan Keysha masuk dan langsung di iyakan begitu saja oleh perempuan itu.


"Pagi Key...." Suara perempuan itu menyapa dengan sangat ceria di telinga Keysha. Sontak, Keysha segera menoleh dan menghampirinya. Sebuah dekapan erat terlontar tanpa permisi.


"Pagi Rania...Maaf, semenjak kamu pulang dari rumah sakit, aku baru sekarang bisa menemui mu." Gumam Keysha pelan, ia menggenggam kedua jemari Rania dengan erat.


"Ah...tidak apa-apa Key. Aku tidak memikirkan hal itu, bagaimana kabarmu dan keluargamu ?" Rania berjalan menuju sofa dengan menopang badannya dengan sebuah tongkat.


"Alhamdulillah...kami sehat." Jawab Keysha. Ia mengikuti mendampingi Rania, merangkul lengannya dan membantunya untuk duduk di atas sofa.


"Rania, kau memajang foto itu ?" Keysha terbuai pada sebuah gambar dua wanita dengan seragam SMA. Semenjak memasuki ruang tamu, ia sudah melihatnya tapi enggan untuk bertanya pada Ibnu.


"Aku memasang itu semenjak pulang dari rumah sakit. Maaf Keysha, sekejam apapun sikapku dulu kepadamu, aku tidak pernah membuang barang-barang milik kita berdua, termasuk foto-foto alay kita pada jaman itu." Rania meraba jemari Keysha, kemudian ia menggenggamnya dengan erat. Senyuman ringan hingga suara tawa menyelinap dengan tulus di sela kata-kata mereka berdua.


"Terima kasih Rania, aku juga masih menyimpannya dengan rapi." Keysha membalasnya dengan pelukan hangat.


Di sela canda tawa dan nostalgia mereka, tiba-tiba pintu di ketuk dengan keras. Entah, siapa yang berbuat onar di rumah orang lain di jam yang masih cukup pagi seperti saat itu.


"Biar aku saja." Kata Ibnu dengan cepat. Ia segera beranjak mendahului Rania yang mulai meraba tongkat hendak membuka pintu.


"Lama sekali ! Apa kau tidak mendengar aku sudah mengetuk pintu sedari tadi ?" Gertak seseorang di depan pintu. Keysha yang merasa canggung dan tidak senang dengan caranya bicara berdiri dan mengambil sikap. Rasa ingin tahu yang bergejolak memaksanya untuk turut hadir dan melontarkan suara untuk menghentikan tingkah anarkis perempuan di depan pintu.


"Kamu bisa kan bertamu dengan lebih sopan ?" Gertak Keysha begitu sampai di ambang pintu. Sontak, ia tercengang dan melongo begitu melihat siapa yang datang di sana. "Cherry ? Untuk apa kau datang kemari ?"


Cherry juga terlihat kaget begitu melihat Keysha. Ia membelalakkan mata tak percaya dan berusaha mengumpat dengan kalimat yang semakin membuatnya salah arah.


"Ka...ka...kamu ngapain di sini ?" Tanya Cherry dengan suara terbata.


"Rania adalah temanku ! Apa masih perlu aku menjawab alasanku datang kemari ?" Seru Keysha, ia bersungut-sungut dan menatap Cherry dengan sinis.


Rania yang datang di antara mereka, datang untuk mempersilakan kakak iparnya masuk. Ia tetap berusaha ramah dan bersahabat dengan perempuan penjerumus itu.


"Dia tetaplah seseorang yang membuat Ibnu mau menikahi ku." Gumam Rania dalam hati.


"Ya, walau Keysha yang berhasil membuat Ibnu mencintaiku, tapi Kak Cherry tetaplah orang pertama yang membuat takdir itu nyata untukku," Gumamnya kembali.


"Key, aku mau bicara denganmu, " Dengan seluruh sisa-sisa keberanian, Cherry menyuarakan kata yang menekan dadanya dengan berat.


"Bicara saja. Aku pasti mendengarnya." Tidak ada pergerakan yang Keysha lakukan, selain terus menimpali setiap ucapan Cherry dengan sinis.


"Tapi tidak di sini..."


"Kenapa ? Apa yang membuat aku harus menurut padamu ?"


"Karena ini penting bagiku." Cherry terus memaksa Keysha, tapi anehnya dia terus menunduk pilu dan tidak meninggikan suara seperti hari-hari sebelumnya.


"Tapi tidak untukku." Tolak Keysha dengan nada geram.


Rania dan Ibnu memberi celah mereka berdua untuk berbicara, Ibnu membantu istrinya untuk bangkit. Ia menopang tubuhnya dan terus menggandeng lengannya dengan kuat.


"Katakan apa yang ingin kau bicarakan ? Mereka sudah tidak ada di sini ?" Setelah Ibnu membawa Rania berlalu pergi meninggalkan mereka berdua, Keysha menekankan katanya agar Cherry berkata dengan cepat, tanpa basa-basi yang memperpanjang persoalan.