
Seperti hari sebelumnya, Sandy masih setia mengantar jemput Key. Dengan apapun itu alasan yang Key beri.
"Key itu siapa?" Gilang memergoki Sandy yang baru saja menutup kaca mobilnya. Dia memperhatikan sebegitu detail dari kejauhan. Tidak ada percakapan yang jelas yang terdengar oleh telinga nya. Namun dia melihat kedekatan diantara keduanya. Memang tidak ada yang aneh ataupun mencurigakan. Itu terkesan biasa seperti seseorang yang sedang berpamitan.
"mm.. Itu? Itu mana Lang?" Key gagap.
"yang nganterin kamu" tekan Gilang curiga.
"oh, itu sopir aku" Key mencoba mengelak. Sebisa mungkin dia menutupi kegugupan pada dirinya. Ya, walau semua terbaca oleh Gilang.
"sopir? Segitu dekatnya?" Gilang tak percaya. Ia menyerbu Key dengan berbagai pertanyaan yang menekan Key. Membebani nya bahkan dia benar-benar kewalahan dan hingga bingung harus menjawab apa.
"sudahlah Lang, itu bukan urusan mu!" mata Key membelalak, menatap tajam pada Gilang yang tidak berhenti bertanya.
"OK, Sorry" Gilang memilih mundur dan meninggalkan Key.
Jam berputar sangat lemah, tak kunjung sampai dipuncak waktu sekolah. Materi-materi yang hanya masuk ke telinga kanan dan secepat itu keluar dari telinga kirinya. Tidak ada yang bisa dicerna oleh otaknya. Key masih berlarut dalam pikirannya. Dikepalanya terngiang pertanyaan-pertanyaan Gilang yang terus menghantui. Dia sadar cepat atau lambat semua akan terkuak. Akan ada masa dimana statusnya terbongkar. Entah oleh orang terdekat atau... Orang-orang yang membenci dia sekalipun.
"Key, are you Ok?kok melamun mulu dari tadi" Seusai bel berdering Rania menghampiri sahabatnya. Key memang terkesan semrawut dan tidak konsentrasi dengan pelajaran. Dia fokus, tapi pikirannya berlarian, mengitari gedung sekolah, berkelana mengitari seluruh jagat raya. Begitulah perumpamaan yang digambarkan Rania.
"ngga apa-apa kok. Aku baik-baik saja" Key mengelak.
"kamu yakin?" Rania curiga.
"aku lapar aja. Kamu kaya ngga tau saja kalau aku lagi lapar. Ngantin yuk" Key mencubit gemas pipi Rania. Mencoba menghindari hujaman pertanyaan. Dia takut jika apa yang dia katakan akan memancing ribuan pertanyaan lagi.
------------------------------------------------------------------------
Sandy POV
"Kamu sudah ketemu Cherry?
*****, dia tambah sexy aja sekarang" celetuk Reno sahabat karib Sandy yang sering mendatangi kantornya hanya sekedar untuk mampir.
"San, kamu dengar aku ngga sih?" protes Reno, yang sedari tadi bercerita dan menanyakan tentang Cherry.
"mm...aku dengar kok. Lalu kenapa?" jawabnya masih dengan matanya yang fokus pada laptop.
"****, selera kamu yang kaya gimana sih San?
Nih ya, Cherry itu cantik, tajir, terkenal, banyak rekan bisnis yang sangat bergantung padanya dan yang terpenting dia itu sexy
Apa yang kurang men?" Reno menggeleng, dia benar-benar mengkhawatirkan sahabatnya. Dipikirannya timbul jika Sandy memang tidak tertarik pada lawan jenis.
" tunggu! Kamu masih normal kan San?
kamu.... " belum selesai bicara Sandy memotong ucapannya.
" apa? Jangan bilang kamu mikir aku tidak suka sam wanita? kamu kira aku guy? Jangan pikir sembarangan ya!" Sandy melotot. Tatapannya seolah mau mengiris daging yang duduk di sofa depannya. Reno menyeringai, tangannya ia acungkan dua jari seolah memohon. ampun San, abisnya kamu kaya kagak mau kenal cewek.
Tok.. Tok.. Tok..
Ditengah perdebatan mereka, asisten pribadi Sandy mengetuk pintu dan mengatakan jika Cherry memaksa dan ingin bertemu Sandy. Lelaki itu terlihat bermalas-malasan dan hendak menolak. Namun Reno dengan sigap mengiyakan agar Cherry diperbolehkan langsung masuk keruangan Sandy.
"Hei San..
Ren, lo di sini?" awalnya Cherry sangat antusias. Namun kegirangannya redup saat matanya tertuju pada Reno. Dia seperti sedang membaca situasi dan dengan cepat memahami jika Renolah yang sedang ingin menemui nya.
"San, kamu sudah makan siang? Makan yuk?" Cherry merayu. Dirangkul nya tangan Sandy yang masih sibuk dengan Laptop.
"Ren, kamu tadi yang mengiyakan. Sekarang kamu urusin wanita ini. Kamu tahu kan aku harus meeting" Sandy menutup laptop. Dia segera berdiri dan merapikan pakaian lalu meninggalkan Reno dan Cherry berdua. Tidak di dengarnya rengekan dan teriakan wanita itu yang berulang kali memanggil namanya dengan kesal.
"heh, siapa suruh kegatelan.." batin Sandy sesampai di luar ruangan.
Bersambung...............