
"Dokter Liem ?"
"Ya, Nyonya Keysha ? Apa ada yang sakit ?"
"Ah tidak....Aku sudah baik-baik saja sekarang. Tapi...ada masalah apa sampai-sampai aku harus pindah kamar dan di jaga ketat oleh beberapa orang ?"
"Bukankah kamar ini sangat nyaman Nyonya ? Maksud saya, ruang ini di desain khusus untuk Nyonya agar tidak jenuh menghadapi beberapa hari tinggal di sini." Dokter Liem menatap Keysha dengan jeli.
"Ya, kurasa seperti itu, tapi di ruangan sebelumnya pun, itu tidak akan menjadi masalah bagiku." Tanya Keysha penuh selidik. Perempuan itu masih heran, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi, bahkan dengan perpindahan tubuh yang tidak ia sadari.
"Nikmatilah Nyonya. Suamimu dan kakak angkat mu ingin membuat anda nyaman selama menjalani proses pemulihan," Ucap Dokter Liem seraya membuka map hasil pemeriksaan yang baru di berikan oleh seorang perawat di sampingnya. Ia mengamati itu dengan teliti, lalu mengangguk-anggukkan kepala merasa puas dengan kondisi yang semakin hari semakin membaik.
"Kakak angkat ?" Setelah menyadari ada kata yang aneh dari ucapan Dokter Liem, Keysha mengulang kata itu untuk meyakinkan.
"Ya, tuan Reno. Bukankah dia kakak angkat mu ?" Dokter Liem menautkan kedua alisnya.
Senyuman Keysha bertumpu di sudut bibir, ia lalu membawa wajahnya bersembunyi dan terbenam di balik kerudungnya, "Apakah dia mengatakan hal demikian?"
"Ya. Aku sempat berpikir dia adalah suami anda, karena waktu awal mendengar anda terluka tampak sekali wajah paniknya," Jawab Dokter Liem jujur. Ia berkata sesuai fakta yang ada, melontarkan sepenggal rasa penasaran yang kembali redup karena tidak kunjung mendapat perhatian khusus dari dirinya. Ia telah berhenti menyelediki hal gila yang bukan menjadi urusannya. Menutup lembaran yang semakin membakar rasa ingin tahu dan penasaran yang mendalam.
"Dia sahabat suami saya, sudah lebih dari saudara angkat bagi saya." Keysha menjelaskan agar tiada lagi kesalahpahaman yang merajalela. Membuatnya terusik, lalu menggores luka batin bagi suaminya.
"Apa dia yang membawa ku ke sini Dok ? " Keysha mencoba mengingat-ingat, tapi selalu terpatahkan dengan rasa pusing yang tiba-tiba mendesak kepalanya.
"Jangan di paksa mengingat Nyonya ! Anda datang dengan keadaan tidak sadarkan diri, ku rasa saat anda di temukan pun anda sudah tidak sadar, sehingga anda tidak bisa mengingat siapa yang membantu anda sampai ke rumah sakit ini," Jawab Dokter Liem dengan cepat. Ia memotong pikiran Keysha yang kalut dan tidak bisa ia atur sesuai kemauannya. Hanya remang-remang bayangan seseorang yang turun dari mobil,lalu....lalu dia sudah tidak bisa lagi melanjutkan bayangan yang ada. Ya, hanya sampai di situ dia bisa mengingat segalanya.
"Benarkah ?" Tanya Keysha ragu.
Dokter Liem mengangguk, "Seorang perempuan cantik yang membawa anda ke sini. Ku rasa, dia begitu dekat dengan anda karena dia terus menangis dan sangat histeris."
"Perempuan ?" Keysha mengulang kata meyakinkan. Ia memutar ingatan tentang seseorang yang sedang dekat dengannya.
"Apa dia lebih tua dariku ?" Tanya Keysha penuh selidik.
"Ah tidak ! Dia seumuran denganmu." Jawab Dokter Liem yakin.
---------
Dokter Alexa mengangkat kedua bahunya, ia menatap Reno dengan wajah sendu yang tidak meyakinkan, "Semakin memburuk."
Du kata yang terdorong dari balik bibir Dokter Alexa mampu mendebarkan jantung Reno. Memacu detak menjadi sebuah alarm tanpa kendali. Pria itu terduduk lesu, dan kembali bertumpu pada ubin rumah sakit yang semenjak tadi menemani. Air matanya mulai bebas mengalir, dan baru kali ini Reno terlihat sebagai sosok yang benar-benar rapuh dan tidak berdaya.
"Apa tidak ada jalan lain ?" Suara Reno melemah, ia tidak mampu mengangkat kepala walau hanya sekedar mendongak untuk menemui sepasang mata yang sedang memperhatikannya.
Dokter Alexa menggelengkan kepala lemah, lalu turut berjongkok untuk menyeimbangkan wajah dengan Reno, "Seperti yang sudah ku katakan padamu sebelumnya, itu adalah satu-satunya cara yang bisa kita ambil. Dan, itupun ada dua kemungkinan yang akan terjadi....."
Reno semakin tersedu, ia lupa diri dan membiarkan rasa malu serta gengsinya melepas diri. Tidak peduli dengan seorang wanita cantik di depannya terus menatapnya haru. Ia juga tidak menyadari jika ada Rania dan Ibnu yang menguping pembicaraan itu dari jarak yang tidak jauh darinya.
Untuk mencari seorang pendonor hati tidaklah sulit bagi Reno. Seberapapun biaya yang di minta, pasti akan dia berikan dengan sukarela. Tetapi, untuk mencari yang benar-benar cocok dengan hati Sandy tidaklah mudah. Ia telah berkeliling di penjuru kota, bahkan hingga menyebar beberapa anak buah untuk mempercepat prosesnya. Sayang, dari ratusan daftar nama yang telah di periksa, tidak ada satupun yang sesuai dengan apa yang di butuhkan oleh Sandy.
"Jangan menyerah ! Tuan Sandy hanya berharap penuh padamu." Tepukkan di bahu yang di lakukan oleh Dokter Alexa barusan membuat Reno sadar dari lamunannya, mimpi buruk yang menyapa tanpa permisi.
Seolah menjadi suntikan energi, Reno bangkit dari keterpurukannya. Ia menyeka pipi untuk menghapus air mata yang hanya melemahkan pertahanannya. Pria itu menghela nafas pelan, menepis derita yang berbondong-bondong hadir dalam dirinya.
**
Sandy masih tenang di dalam sana, pulas dalam tidur panjang yang tidak di harapkan olehnya. Ia tengah terjerat dalam suatu ruang yang menyesatkan, lorong panjang tanpa sebuah titik penerangan. Keadaan gulita kian mencengkram, suara sepi dan hening yang bersarang di gendang telinga. Itu menyakitkan baginya, membuatnya semakin jenuh dan mendorong keinginan untuk segera menyerah. Ia berjalan dan terus berjalan, meraba pada dinding yang tak kunjung bertepi, merayap dengan jalan yang lambat tanpa arah yang tepat. Ah, tidak ada petunjuk selain suara-suara perempuan yang sangat ia kenali. Suara itu bersenandung kecil menyebut namanya, berteriak keras memintanya kembali.
**
"Aku tidak akan menyerah. Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk menyelamatkan Sandy." Sorot mata Reno bersinar dengan arogan.
Dokter Alexa tersenyum tipis, menggebrak rasa ragu yang sempat membayangi. Perempuan itu tengah melanjutkan langkah kaki menapaki lorong dan kembali ke ruang pribadinya untuk tugas selanjutnya.
Rania dan Ibnu telah berlalu dari posisinya, beranjak dan mengamankan diri dari mata jeli Reno yang bisa saja melihatnya sewaktu-waktu.
Rania tengah terdiam dan terduduk lemas di bangku taman. Ia menanti suaminya membelikan sebuah minuman untuk sedikit membuatnya tenang, bangkit dari keterpurukan yang hanya akan menjadi beban. Semilir angin menyibak helai rambutnya, berdesir mesra di balik telinga.
"Apa kau memiliki rencana untuk meringankan beban Keysha ? Maksudku membantu Sandy sama dengan membantu Keysha bukan ?" Ibnu merevisi kalimatnya. Memperbaiki kalimat yang salah dan ia sadari akan melukai hati Rania. Ia menyerahkan sebotol teh kepada perempuan yang tidak kunjung menanggapi kalimatnya.
Rania meraih minuman itu, membukanya lalu meneguk hingga habis setengah botol.
Ibnu tidak lagi bersuara, ia sedang menyalahkan lidahnya yang berkata tanpa memikirkannya dengan matang terlebih dahulu. Padahal, Rania sendiri tidak peduli dengan itu, perempuan itu justru menyibukkan pikiran dengan mengatur ragam cara untuk menolong sahabatnya.