I'M Sorry! I Love You!

I'M Sorry! I Love You!
Kabar gembira



Semilir angin menyibak kerinduan, menyapa hati, membawa ingatan untuk kembali menghadirkan dia yang tak kunjung sadarkan diri. Keysha tertegun, menikmati hembusan angin lembut, yang mempermainkan segala macam rasa. Ada banyak luka, yang tak bisa di balut dengan segera. Apalagi perihal duka, yang hanya sebatas kata, tak mampu bergerak menyingkirkan segala rasa. Ah, benar-benar sedang di ujung tanduk, di penghujung nestapa yang menetapkan derita di segala penjuru.


Reno berjalan tegak ke arah Keysha, perempuan yang tertegun, menikmati alam memanjakan dirinya. Laki-laki itu melangkah dengan membawa dua botol minuman kemasan di jemarinya. Dengan sopan, ia menyodorkan salah satunya kepada Keysha.


"Aku tidak sedang haus..." Tolak Keysha pelan. Ia menunduk, tak ingin lebih lama menatap Reno karena sudah pasti wajah tampan itu akan membawa ingatannya dengan Sandy.


"Tubuhmu membutuhkan ini..." Paksa Sandy datar. Tangannya tak juga menyerah, ia tetap bersikeras, berdiri dengan tangan yang terarah di depan wajah cantik Keysha.


Sekilas, Keysha memberanikan diri mendongak, meraih minuman itu lalu dengan payah ia memutar tutup botol nya yang masih tersegel.


"Susah ya ?" Tanya Reno pelan, ia hendak meraih kembali botol minuman itu, tapi segera di tepis oleh tangan lembut Keysha.


"Aku bisa." Ucapnya yakin. Namun, ia masih berusaha keras memutar-mutar tutupnya. Meringis, mengerahkan tenaga tapi hanya semakin melukai kulit tangannya.


Reno menatap lurus ke depan, sesekali ia menyesap secangkir kopi yang juga baru di bawa.


"Jangan di paksa." Reno merebutnya dengan cepat. Mencoba membantu dengan cara memaksa.


Aku tahu, caraku yang lembut akan membuatmu kembali bersedih karena teringat suamimu. Maaf Keysha, jika aku sedikit kasar untuk menawarkan bantuan padamu...


Keysha menghela nafas pasrah, ia kembali menunduk memainkan jemari di atas pangkuan kakinya.


"Minumlah ...." Perintah Reno seraya menyerahkan kembali botol minuman itu.


Keysha hanya bungkam, tidak sepatah katapun terlontar dari balik bibir manisnya. Ia menyesap minuman dengan perlahan, sedikit demi sedikit, lalu mengulangnya hingga beberapa kali.


"Kau lapar ?" Tanya Reno datar.


Keysha menggeleng pelan, lalu menatap Reno heran. 'Tidak biasanya Reno bertingkah begitu ketus kepadaku' pekik Keysha dalam hati.


"Baiklah, aku ada perlu sebentar, jika kau membutuhkan ku telepon saja aku." Reno beranjak, ia meninggalkan Keysha di bangku taman seorang diri. Membiarkannya menata hati yang rapuh dengan cara yang ia kehendaki.


"Ren ?" Panggil Keysha, dalam beberapa kali ayunan langkah Reno.


"Ya ?"


"Terima kasih"


Reno menatap Keysha dengan sendu. Ah, hampir saja dia jatuh pada rasa yang salah.


"Kau istri Sandy, berarti kau adalah saudara yang Sandy berikan untukku. Aku akan membantu siapapun yang bersangkutan dengan Sandy." Ucap Reno dengan yakin. Pria itu kembali mengayun langkahnya, melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda karena panggilan yang Keysha senandungkan.


Tidak ada pergerakan yang lebih berarti, ia segera mengalihkan pandangan mata pada sisi yang berbeda. Menghibur mata, dengan lalu lalang orang-orang yang melintas. Sekiranya, di rumah sakit ini, bukan hanya Keysha yang sedang larut dalam kesedihan. Bukan hanya dia yang menderita karena merasa takut kehilangan. Jadi, masih ada alasan untuk ia kembali bangkit, menggebrak diri dengan kata-kata penuh semangat yang akan membakar kekuatan dari dalam jiwanya.


"Itu .....Ibnu ?" Keysha mengusap mata. Ia mengamati dengan teliti seseorang yang juga tampak sedang frustasi di bangku taman, pada sudut yang berbeda dengan tempatnya.


"Untuk apa dia di sini ? Apa Rania sakit ? Atau Angeline ?" Keysha menerka-nerka. Mencoba menduga di awal penglihatan. Ia kemudian segera beranjak, berniat menghampiri pria itu untuk sekedar basa-basi.


"Nyonya Keysha ?" Seorang perawat memanggil namanya, membuat Keysha menoleh dan menghentikan langkah kakinya.


"Ya ?" Jawabnya pelan, ia kembali berputar dan menghadap pada perawat itu. Wajahnya tampak berbinar, seakan-akan memang sedang membawa kabar gembira yang selalu di nantikan. "Ada apa sus ?"


"Dokter Alexa ingin anda menemuinya sekarang." Jawabnya ramah. Senyuman manis mengembang di sudut bibirnya.


"Sekarang ?" Keysha mengulang kata-kata perawat tersebut untuk sekedar meyakinkan.


"Iya, ada hal penting yang akan beliau bicarakan dengan anda." Pungkasnya cepat, melengkapi kalimat sebelumnya yang belum sepenuhnya terucap.


"Baik. Saya akan segera ke sana." Percuma jika terus membiarkan lidah bercengkrama dengan perempuan itu, dia tidak akan tahu . Toh, dia hanya di perintah menyampaikan undangan, bukan menyampaikan berita baik atau buruk kepada Keysha.


Setelah perawat itu berpamitan untuk kembali bekerja, angan Keysha kembali menuntunnya pada sosok lelaki yang ia lihat sebelumnya. Keysha segera memutar mata, mengalihkan titik fokus kembali pada sudutnya berada.


"Ibnu kemana ?" Keysha mengernyitkan dahi, memutar pandangan untuk mengelilingi lingkungan sekitar.


"Ah, mana mungkin aku halusinasi ? Aku benar-benar melihat dia tadi. Tapi....tapi kenapa dia pergi secepat itu ?" Keysha berbicara seorang diri. Memperdebatkan seseorang yang sudah musnah dari pandangan matanya.


"Sudahlah....Lebih baik aku segera temui Dokter Alexa." Ujar Keysha seraya melangkahkan kaki mantap. Menelusuri lorong, melewati ruang demi ruang untuk sampai di ruang pribadi Dokter Alexa.


"Permisi Dok, Dokter Alexa memanggilku ?" Sapa Keysha dengan ramah.


"Nyonya Keysha ? Silahkan duduk !" Dokter Alexa memutar kursinya. Senyuman khasnya yang sangat menggoda selalu ia tunjukkan ketika menemui seseorang. Terhadap siapapun, perempuan ataupun laki-laki. Bahkan, tidak sedikit keluarga pasien yang terbawa perasaan dan merasa percaya diri dengan caranya menyambut.


"Ada apa Dok ? Apa ada masalah dengan kesehatan suami saya ?" Tanya Keysha ragu-ragu. Ya, dari cara bicaranya terlihat jelas jika dia sangat takut ketika harus mendengar berita buruk. Mungkin, raganya lebih bisa menerima, tapi soal hati ? dia sangat hancur berkeping-keping walau bisa menampakkan senyum.


"Nyonya Keysha...." Dokter Alexa menatap Keysha yakin. Ia menggenggam jemari Keysha dengan kuat, lalu kembali melanjutkan kalimatnya , "Selamat ya, hari ini tuan Sandy akan menjalani operasi cangkok hati. Kita sudah menemukan pendonor yang sesuai."


"Operasi ? Dokter tidak sedang bercanda kan dok ? " Keysha mengeratkan genggaman tangannya. Matanya berbinar, ada senang yang bercampur haru yang meliputi. Namun, ras tidak percaya itu turut mewarnai.


"Tidak Nyonya....aku serius dengan apa yang ku katakan. Para perawat sedang membantuku menyiapkan beberapa keperluan sekarang, setelah ini kita akan memulai tindakan. " Ucapnya menjelaskan, tawanya sungguh sumringah. Entahlah, apa yang membuat dia begitu nyaman dan turut merasakan setiap titik perasaan yang menghantam hati Keysha. Seperti seseorang yang sudah mengenal lama, caranya berinteraksi melebihi dengan pasiennya yang lain.


"Berdoalah, semoga semua berjalan dengan lancar." Dokter Alexa beranjak dari bangkunya, ia berputar ke sisi kursi Keysha lalu mendekap tubuh perempuan itu dengan erat.


"Terima kasih Dokter Alexa....Aku sungguh berhutang budi padamu."


"Itu sudah menjadi kewajiban ku Nyonya Keysha. Jangan berbicara seperti itu. Tuhan yang sedang membantumu, aku hanyalah perantara kecil darinya."